
Dika berada diruang keluarga, duduk santai menikmati minuman dan camilan sore sambil menonton berita di tv, tak lama kemudian Endy datang memegang sebuah amplop berwarna coklat lalu duduk disamping Dika, ia meraih minuman kaleng bersoda lalu menengakknya wajahnya tampak lesu tak bersemangat.
"Bagaimana sudah kau atur semua?" Tanya Dika dengan wajah penasaran menghadapkan tubuhnya pada Endy yang sedang minum
"Ia " Ucap Endy lirih wajahnya terlihat sendu lalu memberikan amplop coklat itu pada Dika.
Dika menyambut amplop itu dengan antusias lalu membukannya terlihat banyak lembaran kertas, serta berkas yang dika perlukan.
"Apa kau yakin akan pergi?" Tanya Endy tertunduk lesu ia kembali memastikan rencana sahabatnya, ia sungguh tak rela berpisah dengan sahabatnya.
"Ia, aku dan nayla akan pergi dari kota ini" Ucap Dika kembali memasukkan isi ke dalam amplop.
"Aku sudah mengurus semuanya untukmu, aku sudah mengatur keberangkatanmu besok, tempat tinggal untuk kalian nanti, semuanya telah aku atur untuk kalian" Jelas Endy mengalihkan pandangannganya ia tak ingin kesedihannya terlihat oleh Dika
"Bagaimana dengan Aska? ia pasti tak ingin kalian pergi "Tanya Endy
"Aku akan bicara padanya, aku tahu ia pasti tak setuju, tapi kami harus pergi, ini demi kebaikan Nayla" Alibi Dika rencana yang ia atur untuk Nayla tak boleh gagal.
"Besok kau dan Nayla akan pergi kami pasti akan kesepian dan Aska pasti akan marah besar kau pergi tak memberi tahunya"Jelas Endy.
"Biarkan saja kita semua butuh waktu, aku akan kembali saat semuannya baik-baik saja."
"Aku pasti merindukanmu sobat, jangan lupa terus hubungi aku" Endy memeluk Dika sahabatnya. Ia sangat sedih berpisah dengan Dika, selama ini mereka bertiga selalu bersama tapi kali ini dika akan pergi jauh membawa adiknya.
"Jangan beritahu Aska kemana aku akan pergi" Pinta Dika ia tahu jika Aska tahu kemana ia akan pergi, dia pasti menyusulnya dan akan membuat rencananya gagal.
"Baikalah ....Kau cepatlah pulang" Menatap Dika dengan tatapan sendu.
Waktu itu saat Nayla meraung dan akhirnya pingsan dirumah sakit akibat terpukul dengan kabar kematian Aldy dan kehilangan calon bayinya, lalu pada saat ia sadar Nayla sudah tidak pernah bicara pada mereka ia hanya terdiam hanya air matanya yang terus mengalir ia begitu sedih dan hancur, kesedihan mengelayuti jiwanya ia memang hidup namun jiwanya mati, sekarang ia seperti mayat hidup yang tak pernah bicara hanya diam dengan tatapan kosong, membuat hati yang melihat teriris. Dika tak sanggup melihat adiknya yang selalu ceria terus larut dalam kesedihan, ia berniat mengeluarkan adiknya dari keterpurukkannya dengan membawanya ke tempat dan suasana baru. Ia tak tega melihat penderiataan adiknya yang masih muda dan masih banyak mimpi yang harus ia kejar, hidupnya masih panjang, ia tak ingin adiknya terus memikirkan kesedihannya dan ia memutuskan untuk membawa adiknya pergi untuk sementara.
Suara mobil berhenti terdengar dari luar rumah, mereka sudah menduga itu pasti Aska dengan cepat Dika berdiri dari duduknya kemudian beranjak menuju kamar ia ingin menyembunyikan amplop coklat itu.
__ADS_1
Aska berjalan masuk kedalam rumah membawa seikat bunga serta boneka beruang lucu untuk Nayla seperti biasa sebelum ia bertemu Nayla ia akan bergabung dengan sahabatnya.
Aska mendudukkan tubuhnya disamping Endy
"Kau membawa bunga lagi " Tanya Endy berwajah datar
"Tentu saja buat Nayla tersayang " Ucapnya bangga menaikkan kedua alisnya menatap Endy.
"Cih.....aku bilang dia tidak akan menerimannya, berikan padaku saja, akan kuberikan pada olivia dan oh ia ....Aku lupa ....Aku tak pernah memberikannya pada Serena" Pinta Endy mencoba merebut dari tangan Aska ketika ia mengingat nama Serena.
Aska mengangkat tinggi tangannya mencegah Endy mengambil bunganya.
"Enak saja, dasar, kau playboy ngak bermodal ...Kau ingin kuhajar lagi memberikan pemberianku untuk gadis-gadis bodoh itu" Hardik Aska meninju lengan Endy
"Aw.....Aku hanya menyelamatkan bunga itu jangan sampai ia berakhir ditempat sampah, lebih baik untuk gadis-gadis itu lumayan buat menambah daftra koleksi calon pacar" Ujar Endy mengelus lengan yang mendapatkan tinjuan Aska
Aska berdecak kemudian melengos mendengar ucapan Endy.Tak beberapa lama Dika terlihat keluar dari kamarnya, ia mendekati sahabatnya lalu duduk disamping Aska sekarang mereka duduk berjajar disofa, Dika menggeleng-gelengkan kepala melihat aska membawa bunga dan boneka lagi padahal ia tahu Nayla tak akan menerima barang itu.
"Sudah aku bilang jangan bawa barang-barang lagi, kamar Nayla sudah penuh dengan banyak barang karena hadiahmu" Ujar Dika memasang wajah malas.
"Aska ada yang ingin aku bicarakan padamu" Wajah Dika berubah tegang menatap Aska dia tahu hal yang akan disampaikannya ini pasti membuat sahabatnya marah.
"Ada apa " Tanya Aska penasaran mengernyitkan dahinya melihat wajah Dika yang terlihat ragu.
Dika melihat kearah Endy dan lelaki itu mengangguk perlahan tanda ia harus bicara pada Aska, susah rasanya ia sampaikan pada Aska ia lalu menarik nafas dalam.
"Aska aku dan Nayla akan pergi dari kota ini" Ujar Dika mantap dan terus memperhatikan wajah Aska lekat.
Aska bagai tersengat listrik jutaan volt mendengar ucapan Dika, tubuhnya memantung namun dengan cepat ia tersadar.
"Pergi "ucapnya dengan lirih ia masih tak percaya dengan hal yang baru ia dengar.
__ADS_1
"Tidak... Aku tidak akan membiarkan kalian pergi kemanapun" Suaranya mulai meninggi dan mulai tak tenang. Endy yang berada didekatnya memegang bahunya agar Aska tenang.
"Aku akan membawa Nayla untuk menyembuhkan luka hatinya, ia butuh suasana baru berada ditempat ini membuatnya tak bisa menghilangkan semua kenangan buruk yang ia alami " Jelas Dika mantap ia tak akan merubah keputusannya.
"Aku yakin Nayla pasti sembuh, dia pasti bisa keluar dari kesedihannya ia hanya perlu waktu" Ucap Aska meyakinkan Dika bahwa semua baik-baik saja .
"Aska ini sudah lama dan belum juga ada kemajuan, kita sudah mendatangkan beberapa psikiater terbaik untuk menyembuhkannya tapi semua tak berguna, aku akan membawanya mencari suasana baru untuknya" Kekeh Dika ia tak mau mundur dari rencananya walau bagaimanapun Aska menghalanginya.
"Jangan pergi aku mohon ...Aku tidak ingin berpisah dengannya apapun keadaanya aku akan menerimannya dan tetap akan mencintainya apapun terjadi padanya" Dengan suara terendah Aska memelas pada Dika.
"Aku tak pernah meragukan sedikitpun cintamu pada Nayla, aku tahu apapun keadaan Nayla kau akan menerimanya, baik Nayla kehilangan kaki, kehilangan matanya, tangannya, cintamu tak akan berkurang, tapi situasi ini beda adikku masih muda hidupnya masih panjang, aku tak ingin dia seperti ini, lihat dia seperti patung aku ingin adikku kembali, ceria seperti dulu, bermanja seperti dulu" Dika memberi pengertian pada Aska dengan suara yang bergetar.
"Aska biarkan Dika membawa Nayla pergi, dia
akan kembali hanya sebentar saja, sampai Nayla sembuh dan ceria seperti dulu" Endy membujuk Aska menenangkannya bahwa semua akan baik baik saja
"Kalian tidak mengerti.......Pokoknya aku tidak setuju kalian pergi, Nayla akan tetap disini" Aska beranjak dari duduknya meninggalkan dua sahabatnya menuju kamar Nayla.
Aska masuk kedalam kamar Nayla tatapannya langsung menuju kearah jendela kamar karena tempat itulah Nayla duduk melamun didepan jendela yang terbuka lebar memandang dengan tatapan kosong, sesekali air matanya menetes
Aska mendekati Nayla tak terasa air matanya menetes ucapan Dika benar melukai hatinya, Aska duduk bersimpuh didepan Nayla yang duduk dikursi ia meletakkan kepalanya dipangkuan nayla" Aku tahu kau marah padaku, aku penyebab kau hidup dalam keadaan seperti ini, tapi aku mohon berikan aku kesempatan, merawat luka hatimu, aku mencintaimu, tolong jangan pergi jauh dariku, aku tak bisa berpisah denganmu."
Aska mengeluarkan seluruh keluh kesahnya dipangkuan Nayla tak terasa air mata istrinya itu lolos dari ekor matanya menetes membasahi pipinya jatuh mengenai pipi Aska
Aska mendongak lalu menegakkan tubuhnya ia menangkup wajah nayla yang basah dengan kedua tangannya lalu ia menyeka air mata kesedihan itu Aska mendekatkan wajahnya mengecup kening Nayla lembut dan lama, menatap wajah nayla lekat " Aku sangat mencintaimu Nay" Aska kemudian mengecup bibir Nayla lembut kemudian ia kembali membuang kepalanya di pangkuan Nayla.
"Aku mohon marahlah dan tamparlah aku, karena aku telah menyentuhmu" Ucap Aska lirih semua upaya yang ia lakukan gagal membuat Nayla bereaksi.
.
.
__ADS_1
.
.huy readers jangan lupa like, coment dan vote ya .