
Aska membawa tubuh istrinya kekamar membaringkannya di tempat tidur mencoba membuat Nayla siuman, sebenarnya ia sudah ingin membawa Nayla ke dokter namun Dika menyuruh untuk tetap tenang dan menerima tawaran dari adik iparnya untuk memeriksa Nayla. Adit sedang menimbah ilmu didunia kedokteran jadi sedikit tahu untuk memeriksa keadaan Nayla lebih dulu, karena menurut mereka gadis cantik ini hanya kelelahan.
Adit mengeluarkan peralatan medis yang memang ia bawah untuk mengerjakan tugas bersama temannya. Saat ini Adit akan memeriksa Nayla yang terbaring ditempat tidur dan kepalanya berada di pangkuan Aska, lelaki hobi gombal ini mulai memeriksa tekanan darahnya.
"Hei jangan pegang" bentak Aska saat melihat Adit memegang tangan istrinya melindungi tubuh orang ia cintai dengan posesif, ia tahu perasaan
Adit pada Nayla kerena itulah ia kesal jika Adit menyentuhnya.
Dika dan Endy menarik nafas berat melihat sikap sahabatnya yang masih cemburu disaat genting.
"Ngak apa-apa kok kak tinggi, gimana mau diperiksa kalau ngak dipegang" ucap Adit tak kalah kesal pada Aska yang masih mengajaknya bertengkar.
"Aska tenangkah, biarkan saja" bisik Dika pada sahabatnya. Aulia yang berdiri disebelah Dika menatap heran pada pada lelaki tinggi ini mengapa ia begitu menghawatirkan Nayla sedangkan Dika sang kakak saja tak secemas itu.
Aska pasrah lalu kembali menatap wajah pucat istrinya, dipundak Aska tergantung tangan Dika mencegah Aska untuk marah pada Adit yang memeriksa Nayla.
"Hei pegangnya jangan lama-lama" ucap Aska ketus melihat Adit mengarahkan stetoskopnya pada dada kemudian perut istrinya.
"Aska tenang" Dika menekan pundak Asak.
Adit terdiam tak menghiraukan ucapan Aska. ia sedang fokus dengan hasil pemeriksaan, cukup lama ia memeriksa Nayla berulang-ulang.
"Hei kau ini, bisa periksa ngak sih, kau hanya mengambil kesempatan," hardik Aska yang melihat Adit memeriksa berulang-ulang.
"Aska " Dika menggertakkan giginya pada Aska sangat gemas melihat lelaki ini tak bisa tenang.
Akhirnya setelah beberapa saat Adit membuka stetoskopnya. Raut wajahnya menunjukkan jika ini tak baik-baik saja. Mereka semua menatap wajah Adit yang berubah sendu seperti menyiratkan jika orang yang ia periksa ini sedang sakit parah saja.
"Adit kenapa dia?" Tanya Dika pada Adit yang mengarahkan tubuhnya ke hadapan Dika dan kakaknya tertunduk lesu.
"Adit jawab kenapa Nayla." Kali ini Aulia yang bertanya sendiri pada adiknya.
Seluruh orang di ruangan ini menatap Adit, menunggu jawaban tentang sakit apa yang diderita bule Jerman, tak ada lagi raut wajah ceria Adit setelah memeriksa Nayla.
"hei katakan cepat, sakit apa dia" Aska meninggikan suara, sudah sangat penasaran, ia khawatir dengan keadaan istri tercintanya, ia memang tak setuju jika Nayla diperiksa oleh Adit niatnya memang ingin membawa Nayla kerumah sakit.
"Dia" Adit terbata tertunduk. "menurut pemeriksaanku dia..."
Suara Adit tercekat rasanya ia tak mampu mengeluarkannya.
"Dia hamil" ucap Adit cepat dengan satu tarikan nafas lalu terdiam.
"Hamil" Kompak mereka tersentak kaget wajah mereka yang tadinya cemas berubah menjadi datar, Aulia yang mendengar adiknya mengatakan Nayla hamil menjadi sangat terkejut, ia mengira adiknya telah salah memeriksa.
Dika, Endy dan Aska hanya saling tatap, bingung dengan pemeriksaan Adit, apa pemuda gombal itu benar atau dia salah mendiagnosa. mereka belum mau terlalu berharap bagi mereka masalah kehamilan yang gagal adalah kesedihan.
" Adit ini tidak mungkin kan, kau salah periksa dengan benar" Sambar Aulia memastikan pemeriksaan adiknya.dia meragukan kemampuan adiknya yang sangat cerdas dan selalu berprestasi.
"Tidak kak dia hamil" jelas Adit tertunduk pelan. Keyakinan Adit membuat Aulia menjadi tak enak hati pada suaminya, ia merasa malu karena Adit seperti menuduh adik Dika wanita yang tidak benar sebab hamil tanpa suami.
Aulia tidak tahu tentang Nayla yang telah menikah, yang ia tahu gadis kecil yang ia kenal ini sangat pintar dan memiliki cita-cita yang tinggi tak mungkin hamil diusia muda, dan tanpa suami pula. setahunya Nayla gadis baik-baik.
"Ngak mungkin, kak Dika maafkan Adit ia hanya salah periksa" Aulia mencoba untuk menjelaskan pada Dika tak mau suaminya ini tersinggung dengan ucapan Adit, namum Dika hanya diam memasang wajah datar tak bisa ditebak.
" Kak aku benar dihamil" Adit meyakinkan kakaknya jika ia benar, sebenarnya hatinya juga hancur gadis yang ia sukai telah hamil, hati kecilnya juga berharap ia salah dalam pemeriksaanya.
"Adit" bentak Aulia pada adiknya tak ingin meneruskannya.
"Apa benar kau yakin dia hamil?" tanya Dika pada Adit, agar lebih menyakinkan.
"Ya" ucap Adit.
Mendengar ucapan Adit, Aska lalu berdiri menggendong tubuh Nayla keluar dari kamar. Ia ingin memastikkan diagnosa lelaki perayu itu apa benar Nayla hamil. Di ikuti oleh Endy yang juga ikut dibelakang Aska, melihat Aska membawa Nayla keluar Aulia semakin merasa bersalah ia menyakini jika mereka juga sama sepertinya meragukan hasil pemeriksaan Adit. Dika akan juga akan melangkahkan kakinya.
"Kak Dika, maafkan Adit, dia sudah lancang mengatakan Nayla hamil" Aulia memegang lengan Dika menghentikan langkah suaminya yang akan ikut pergi bersama mereka.
"Tunggu aku disini" ucap Dika lalu pergi meninggalkan istrinya yang berwajah pias.
Dika pun keluar kamar menyusul Aska dan Endy. Aulia terdiam bersama adiknya. Aulia sangat sedih karena mengira Dika pasti marah padanya, setelah mendengar pernyataan Adit tentang Adik kesayangannya yang hamil tanpa suami.
***
Mereka telah berada didalam mobil. Aska membaringkan tubuh Nayla menjadikan pahanya sebagai bantal. Dika dan Endy duduk didepan.
" Endy lebih cepat" Titah Aska pada Endy yang sedang duduk dikursi kemudi.
" Ia sabar" Endy fokus melihat jalan yang ada didepan.
"Ia ndy, cepat aku sudah tak sabar apa benar Nayla hamil lagi," timpal Dika ia berharap diagnosa Adik iparnya itu benar dan sudah tak sabar untuk memeriksanya
"Semoga ucapan situkang gombal itu benar, jika memang Nayla benar hamil, aku akan memberinyq hadiah akan kubiayai sekolahnya hingga keluar negeri" jelas Aska sangat berharap kabar bahagia itu benar namun mereka tak mau senang dulu takut mereka akan patah hati.
"Semoga saja bule Jerman itu benar-benar hamil" harap Endy.
Endy memacu kendaraan menuju rumah sakit, mereka akan memeriksakan kondisi Nayla.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Nayla berbaring diranjang rumah sakit, dokter sedang memeriksa keadaanya. tiga lelaki, berdiri sejajar memperhatikan dokter wanita itu memeriksa gadis kesayangan mereka, wajah mereka penuh harap dokter memberikan kabar baik pada mereka.
Dokter yang memeriksa Nayla telah menggantungkan stetoskopnya dileher tanda jika ia telah selesai dengan semua pemeriksaanya.
"Dokter istri saya sakit apa dokter?" Sambar Aska mendekat pada dokter wanita ingin mendengar kabar baik dan berharap semoga hasil pemeriksaanya sama seperti Adit.
Dokter itu tersenyum melihat 3 lelaki tampan berwajah cemas melihat satu gadis kecil yang tak sadarkan diri.
"Dia tidak apa-apa kondisinya lemah karena ia sedang hamil" jelas dokter mengarahkan pandangan pada 3 lelaki tampan itu.
"Selamat ya pak istri anda hamil" Dokter mengucapkan selamat pada Aska.
"Hamil" Kompak mereka berteriak kali ini mereka percaya ucapan dokter terbaik yang ada dirumah sakit ini, tidak seperti tadi saat Adit yang mengatakannya, mereka tak yakin karena pemuda itu masih menimbah ilmu dunia kedokteran.
"Hamil" kembali mereka berteriak keras hingga suara mereka memenuhi rumah sakit.
Dokter yang melihat mereka menatap aneh, pada lelaki yang begitu bahagia, melihat gadis kecil ini hamil di usia muda. Dokter meninggalkan mereka tanpa permisi sebab tak ada yang menghiraukannya lagi.
"Hebat, aku akan menjadi ayah, terima kasih tuhan" ucap Aska bersyukur akan anugrah terindah yang tuhan berikan lagi padanya.
"Kita akan jadi paman lagi, kita akan punya bule Jerman junior" Endy dan Dika berpegangan tangan melompat-lompat girang seperti anak kecil setiap Nayla hamil mereka akan berubah seperti anak-anak.
"Hamil...hamil ..hamil" mereka bersenandung.
"Kali ini kita ngak boleh gagal menjadi paman"jelas Dika teringat saat dulu mereka pernah merasakan kesedihan saat Nayla keguguran.
"Ia kita akan menjaganya bersama" ucap Endy yang juga sangat bahagia.
"Ia semoga kali ini, seorang anak hadir di dalam keluarga kita" harap Aska.
Mereka sangat bahagia akan kehamilan Nayla, kesedihan karena penyerang yang lalu akan sedikit mengurangi penyesalan mereka akan gagalnya menjaga kehamilam Nayla dari penyerangan waktu itu.
Suara teriakan kebahagian mereka membuat Nayla mulai menggeliat dengan setengah sadar ia mulai mengerjap.
Mereka mendekat pada Nayla. yang mulai sadar tak sabar menyampaikan kabar bahagia ini pada bule Jerman kesayangan mereka.
"Sayang...sayang, kamu sudah sadar" Aska duduk dipinggir ranjang rumah sakit.
Nayla membuka matanya memperhatikan seluruh ruangan, yang tampak asing baginya, dilihatnya 3 lelaki tersenyum padanya, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Sayang apa yang kamu rasakan? mana yang sakit?" tanya Aska namun Nayla hanya diam masih mencerna semua.
"Kamu ngak apa-apa kan Nay?" tanya Dika.
"Ini dimana?" Tanya Nayla seperti orang linglung.
"ini rumah sakit sayang" jelas Aska.
Dika dan Endy keluar dari ruangan memberi kesempatan Aska untuk bicara berdua dengan istrinya tentang kabar baik ini.
Aska meraih tangan Nayla mengecupnya lalu mempelkan dipipi, akan memberitahukan kabar bahagia ini.
"Sayang kamu tadi pingsan," Aska tersenyum melihat wajah Nayla yang datar dan terlihat pucat. aska terdiam sejenak lalu kembali menberitahukan istrinya.
"Kata dokter kita akan menjadi orang tua," jelas Aska.
Nayla mengernyitkan dahinya belum mengerti ucapan Aska.
"Sayang selamat, kamu akan jadi ibu,kamu hamil" Jelas Aska lalu mengecup tangan istrinya.menatap raut wajah Nayla tentang kabar baik ini.
Nayla terdiam mendengar ucapan Aska tentang dirinya yang akan diberikan kesempatan untuk mengandung lagi. Seketika air matanya lolos menetes, ia sangat bahagia kali ini ia akan menjadi ibu.
"Benarkah?" tanyanya menyakinkan.
Aska mengangguk tanda ia, air matanya semakin deras keluar semakin terisak.ia tak bisa mengucapkan kata berapa senang dia.
"Jangan menangis" Aska menangkup wajah istrinya, menghapus airmata bahagia itu menempelkan keningnya
"Aku akan menjadi ibu lagi" Nayla sangat terharu dulu ia sempat hancur bahkan hampir gila karena gagal menjadi ibu ,sekarang tuhan memberikan kesempatan kedua untuk menjadi ibu, sungguh kebahagian tak terhingga untuknya.
Aska memeluk tubuhnya Nayla dengan erat. melepaskan semua kegembiran setelah semua yang terjadi penantian, pengorbanan, kepahitan telah berakhir, mereka akan menjalani hidup baru memiliki keluarga kecil bahagia. pewaris bagi keluar Dirga.
"Kakak janji akan menjagamu dan anak kita lebih baik,dan kita akan punya keluarga kecil. aku mencintaimu Nay, terimah kasih atas kebahagian ini" ucap Aska terharu, berjanji ia akan menjaga kandungan Nayla dengan sebaik-baiknya.
***
Dokter ahli kandungan masuk kedalam ruangan diikuti perawat dan peralatan untuk memeriksa kehamilan Nayla, Dika dan Endy juga ikut masuk ke dalam ingin melihat dokter memeriksa kandungan Nayla.
"Nay selamat ya, kami akan menjadi paman" Dika mendekat pada Nayla
lalu mengecup kening adiknya dengan sayang. Nayla hanya tersenyum.
"Selamat ya..Nay, akhirnya kita akan memiliki bule Jerman junior." ucap Endy yang juga sangat bahagia.
Beberapa saat kemudian peralatan telah lengkap terpasang, mereka duduk berjajar didepan dokter yang akan melakukan usg, untuk kandung wajah mereka sangat penasaran. Nayla menarik sudut bibirnya melihat 3 lelaki itu. Kali ini ia sudah bisa Nayla menebak mereka pasti akan terus berdebat masalah anak dalam kandungannya dan menjadi konyol seperti anak kecil jika menyangkut kehamilan. Hidupnya akan semakin ramai melihat persaingan 3 lelaki ini.
"Kita mulai ya pak.." jelas Dokter mulai melakukan usg menjelaskan sesuatu didepan layar. jika dilihat dari posisi duduk mereka yang bejajar. Mereka lebih mirip anak sekolah yang sedang sibuk memperhatikan ibu guru yang sedang menjelaskan pelajaran.
__ADS_1
Dokter mulai melakukan tugasnya, mereka menatap layar dengan lekat walau tak mengerti apa yang mereka lihat, dilayar hanya gambar gelap.
"ini janinya, usianya sekitar 8 minggu" jelas dokter. Jelas dokter kehamilan Nayla sedikit lama terungkap pasalnya gadis ini tak mengalami muntah.
Mata mereka menatap kagum melihat calon Bule jerman mereka, dokter terus menjelaskan hingga hati Endy menjadi penasaran ada sesuatu yang mengganjal dihatinya ia pun tergelitik untuk bertanya.
"Dokter isinya berapa?" Tanyanya dengan polos terus menatap layar
Aska dan Dika mengarahkan pandanganya pada Endy yang bertanya pada dokter hal tak jelas.
"Hai Endy pertanyaan apa itu, kau fikir diperut Nayla bakpau isian" protes Aska. lalu mendorong kepala Endy dengan telunjuk.
" Aku kan hanya bertanya, siapa tahu Nayla mengandung anak kembar, apalagi langsung 3, hebatkan, langsung kita bagi aja tuh" jelas Endy santai. ia sangat mendambakan anak kecil mengisi kehidupan persahabatan mereka.
"Hei kau fikir adikku kucing,sekali hamil banyak" Hardik Dika ikut mendorong kepala Endy telunjuk.
Nayla menepuk jidatnya melihat lelaki itu telah memulai perdebatannya, ini tidak akan mudah sepanjang hari mereka akan terus berdebat masalah anak, belum lagi nama, pakaian, baru pemeriksaan dokter saja sudah mulai persaingannya siapa yang terbaik
Dokter tersenyum melihat tiga lelaki ini sangat antusian.
"Janinnya hanya satu" jawab dokter lucu dengan perdebatan lelaki itu.
Dokter kembali menjelaskan, dan kembali Endy tergelitik untuk bertanya.
"Dokter kakinya yang mana?udah bisa nendang belum" tanya Endy yang benar-benar tak tahu dunia kehamilan.
Dokter tertawa lucu di ikuti oleh Nayla. Dokter lalu menjawab.
"Kakinya belum terbentuk pak, ini masih 8 minggu" jelas dokter.
"Makanya ndy, kalau sekolah itu jangan sampai gerbang doang, jadi ngak tahu deh kamu masalah kehamilan, pertanyaan kamu ngak jelas banget sih" Dika lagi-lagi mendorong kepala Endy dengan telunjuk, meremehkan pemgetahuan Endy.
Dokter kembali menjelaskan. masalah kehamilan
Dika pun tertarik untuk bertanya. kini gilirannya yang dengan keren dan bijaknya dia bertanya, pertanyaan yang sering dilayang kan calon orangtua kebanyakan.
"Dokter jenis kelaminya laki-laki atau perempuan" tanya Dika dengan percaya diri penuh keyakinan jika pertanyaan benar.
Dokter tertawa mendengar pertanyaan dika ,Nayla pun cekikikan mendengarkan kakaknya bersikap konyol. lalu dokter menjawab.
"Ini baru janin pak belum berbentuk."Jelas Dokter
Hahahahahha .....tawa Endy pecah mendengar jawaban dokter atas pertanya Dika, ternyata dia juga salah, sama saja tak tahu masalah kehamilan.
"Makanya Dika kalau sekolah itu, dengarin tuh guru menjelaskan jangan tidur" kini gilaran Endy mengejek Dika lalu mendorong kepala Dika dengan telunjuknya membalas perbuatan sahabatnya.
"Ah sial" umpat Dika kesal
Nayla tersenyum melihat tingkah konyol mereka, Aska hanya diam menatap layar mengernyitkan .Sepertinya pertanyaan besar yang difikirannya, yang mengganjal dihatinya.namun ia ragu untuk bertanya.
"Ada lagi yang mau ditanyakan pak" tanya dokter yang akan menyudahi pemeriksaanya. Akhirnya dengan keragun Aska memberanikan diri untuk bertanya, kali ini Aska yang bertanya seputar kehamilan.
"Anu dok.." ucap Aska terbata dan ragu-ragu kini gilarannya bertanya.
"Ia pak mau bertanya apa?"
"Begini dok," Aska menatap dua sahabatnya yang telah memandangnya lekat penasaran pertanyaan apa yang akan ditanya Aska seputar kehamilan.
"emmm .Begini dok"
"Hei cepat katakan kau mau bertanya apa?" gemas Dika dari tadi melihat Aska bertanya dengan ragu-ragu. sedangkan mereka sudah penasaran pertanyaan apa yang akan Aska tanyakan.
"Begini dok, berhubungan suami istri, boleh ngak saat kehamilan?" tanya Aska tersenyum kaku pada sahabatnya.
"Ya" Kompak Endy dan Dika meraup wajah masing-masing
Dika dan Endy yang dari tadi penasaran dengan pertanya Aska dengan kompak memasang wajah jengah sedangkan Nayla yang mendengar wajahnya tiba-tiba memerah karena malu.
"Dasar otak mesum" Umpat Dika melipat tangan Didada
"Otak kotor, fikiranmu cuma gituan Aja" umpat Endy memutar bola mata jengah.
Dokter tersenyum lalu menjawab.
"Boleh pak, tapi harus juga perhatikan kandungannya."jelas Dokter.
Merekapun berhenti bertanya.
Itulah yang terjadi diruang pemeriksaan keheboan 3 lelaki yang akan menyambut bule jerman junior.
Dika terdiam duduk didalam kamar rumah sakit ia memikirkan, Aulia yang sedang menunggunya dirumah menanti penjelasan, hatinya bimbang Nayla telah hamil dan kebohongan ini tak lama lagi terbongkar, akankah dia mengaku pada Aulia. ia terdiam sejenak menggambil keputusan yang terbaik dan ternyata setelah berfikir ia akan jujur pada Aulia menceritakan semua misteri tentang kehidupan mereka. Dika tak akan menyimpan lagi rahasia ini, mengenai kehamilan Nayla, pernikahan, adiknya hingga siapa suaminya dan tentang pekerjaannya. semua akan ia ungkap hari ini pada Aulia saat ia pulang nanti ,ia tak mau ada kebohongan lagi dalam rumah tangga mereka.
.
.
.
__ADS_1
.
Like,coment,vote.....