Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
perasaan dika


__ADS_3

Aska dan Endy berada dipemakaman, memberikan penghormatan terakhir pada Aldy. Ketua geng pemuda tanpa masa depan yang sangat berjasa dalam hidup Aska dan selalu melindungi Aska. kini tak ada lagi lantunan ungkapan perasaan dari Aldy, walaupun selama ini bait nadanya yang ia gaungkan selalu membuat pendengarnya kesal namun itu adalah kenyataan dari perasaan mereka, Aldy hanya mencoba menyanyikan lewat lagu. Selamat jalan Aldy.


Dika berada didalam ruang rumah sakit menjaga Nayla yang masih kritis dan tak punya harapan hidup, Dika duduk dipinggir ranjang masih menangis sesugukkan, seperti anak kecil melihat adik tersayangnya dalam kondisi mengenaskan air matanya terus mengalir sambil mengutuki kebodohannya dan kegagalannya menjaga adiknya ia merasa tak berguna, semua mimpi indah pernikahan yang ia rancang untuk adiknya hancur sekarang adiknya tak menjadi apa-apa malah berakhir diranjang dirumah sakit.


Dika menatap wajah adiknya lembut, mengelus puncak kepalanya dan memenggang tangannya.


"Nay bangun sayang. Jangan pergi, jangan tinggalkan kakak sendiri disini, kakak hanya punya kamu didunia ini" Ucap Dika nada suaranya seperti membujuk terdengar sangat menyedihkan baru kali ini ia menangis lagi setelah orang tuanya meninggal.


Dika berdiri dan menyeka air matanya dengan punggung tangan duduk dipinggir ranjang Nayla


"Kamu ngak boleh pergi " Peluk Dika erat seolah menghalangi Nayla bergerak ia menahan tubuh mungil itu agar tidak pergi padahal ia tahu bukan tubuhnya yang akan pergi namun jiwa.


"Jangan pergi, jika kamu bertemu ibu


kamu pasti mengadu macam-macam pada ibu kitakan, kamu bilang kalau aku ngak menjaga kamu, kakak tumbuh menjadi anak yang yang tak berguna ...hiks ..hiks" Isak Dika menempelkan kepalanya di dada adiknya.


"Kamu akan mengaduh pada ibu, jika kakak menjadi anak yang bandel, suka mabuk-mabukkan" Dika mendongkan kepalanya melihat wajah Nayla yang pucat dan matanya masih tertutup rapat.


Kemudian kembali memeluk Nayla menempelkan kepalanya didada Nayla.


"Nay... kakak kesepian kakak butuh keluarga yang hangat seperti dulu ketika ayah ibu masih hidup semua begitu hangat, rumah penuh kebahagiaan,mereka tega Nay, mereka pergi bersamaan meninggalkan kita, membuat hati kakak hancur dan menanggung semuanya menggantikan posisi ayah dan ibu untukmu" Ungkap Dika meluapkan semua perasaannya yang ia simpan sendiri tak pernah ia bagi dengan Nayla betapa ia sangat kehilangan sosok orang tua yang pergi begitu mendadak, hingga ia selalu mencari kedamaian dengan hura-hura bersama sahabatnya yang juga sama sepertinya. Tidak memiliki orang tua membuat sikapnya tak terkendali tak ada yang mengarahkan menuju jalan yang baik hanya adiknya yang selalu mengingatkannya.


"Kamu ngak akan seperti mereka kan Nay? kamu ngak akan tega ninggalin kakak sendiri disini kan Nay? sama yang dilakukan ayah ibu kita?" Tanya Dika lirih, kristal bening lagi-lagi lolos dari matanya, membuat baju Nayla basah.


Dika kembali mendongak melihat wajah Nayla yang tak ada reaksi dengan kata-katanya.

__ADS_1


"Kamu juga pasti mengadukan kakak tentang sahabat kakak pada ibu, kamukan dari dulu kesal dengan sahabat kakak, karena kami selalu menyusahkanmu, mengurus kami" Ucap Dika mengajak Nayla berbicara seolah Nayla bangun ia menjelaskan semua pada Nayla yang selalu salah paham pada mereka.


Dika kembali mengeratkan pelukannya


"Kamu tahu Nay, kita itu sama seperti mereka, anak yatim yang kurang kasih sayang, hubungan kakak dengan mereka sangat kuat, bahkan jika kamu menyuruhku untuk memilih mereka atau kamu, jujur kakak ngak bisa memilih, kalian itu sangat penting untuk kakak." Dika menjelaskan semuanya dalam pelukan Nayla. Ia ingin adiknya itu mengerti lalu membuka matanya, hari ini ia akan mengungkapkan segala isi hatinya pada Nayla agar adiknya iba dan tak meninggalkannya


Dika melepaskan pelukkannya melihat wajah Nayla ia berharap mata itu terbuka namun ia kecewa Nayla sama sekali tak bergerak wajah Dika menyiratkan keputusasaan, ingin rasanya ia histeris melihat Nayla namun ia masih menahan dirinya.


"Nay ini adalah kesalahan besar kakak,kamu pasti mengadu pada ibu jika kakak menikahkamu diusia muda dan menghancurkan mimpimu" Ucap Dika suaranya bergetar.


"Aku juga ngak berdaya Nay, satu sisi kebebasan masa mudamu, satu sisi lagi aska sahabat kakak dia sangat mencintaimu dia rela menunggumu bertahun-tahun, kamu tahu bagaimana aku dan Endy mencoba membuat hatinya goyah untuk menunggumu, namun ia sama sekali tidak menyerah dan goyah sedikit pun untuk mencari gadis lain, ia tetap menunggumu, ia sangat tulus, cintanya sangat besar untukmu, kakak fikir menikah dengan lelaki sebaik dia apalagi yang kamu butuhkan, dia memiliki semua kriteria, ia tampan, kaya, baik dan selalu berusaha membuatmu bahagia, ia tulus padamu" Jelas Dika dengan lembut dan suara terendah.


"Ia sangat baik kan dan kau juga sudah mulai mencintainya, kakak sudah melihat cintamu untuknya. kakak ngak salahkan nay?"


"Bangun dan tunjukakan jika keputusan kakak itu tidak salah untukmu, dia memang pantas untumu, jika kau pergi kakak akan merasa bersalah padamu, akan menyesal seumur hidup untukmu......buka matamu ......jangan menyalahkan kakak..........jangan hukum aku seperti ini" Dika meninggikan suara memegang bahu Nayla lalu mengoyang goyangkan tubuh adiknya namun adiknya masih diam, membisu tak ada satupun kata-kata dibalas oleh Nayla,ia semakin sedih frustasi


itu karena ketika kamu masuk dalam kehidupan Aska itu berarti kamu dalam bahaya, seperti saat ini, tapi sumpah Nay kami tak pernah sedikit pun membayangkan ini terjadi padamu, sebisa mungkin kami menyembunyikanmu, kau tak boleh keluar rumah namun kamu tetap saja ketahuan oleh pamannya," Dika terdiam sejenak menunggu Nayla bergerak.


"Nay tolong kamu mengertilah tanpa bersusah payah kamu telah memiliki semuanya, kekayaan, martabat, kehoramatan, itu semua akan kamu dapatkan setelah menjadi istri Aska dia akan memberikan semuanya padamu apapun keinginanmu akan ia kabulkan"


"Tapi setelah ini kau akan bahagia dengannya, kamu bisa hidup normal sekarang, kau ingin bebaskan, kau ingin kuliah, kau ingin ke Jerman atau kamu mau jalan ke Mall tiap hari, kamu bebas pergi kemanapun, kakak sudah membunuhnya untukmu." Dika menjanjikan semua yang sangat nayla inginkan


Bangun, Jangan pergi. Jangan bertemu ibu dulu, kamu belum jadi apa-apa jalanmu masih panjang akan banyak kebahagian yang akan kamu raih nanti, maafkan kakak, kakak gagal menjagamu, jangan tinggalkan kakak sendiri disini" Ratap Dika kembali menangis ini.


"Kakak belum menikah, tugasmu carikan kakak jodoh untukku, kakak sudah mencarikan kamu jodoh sekarang giliranmu carikan jodoh untuk kakak"

__ADS_1


"Nay, buka matamu "Dika terus memeluk adiknya hingga terdengar suara detak jantung yang melemah lewat alat yang terpasang. Dika melihat layar kecil yang berada disampingnya, ia melihat garis yang sudah hampir lurus.


"Nay bangun jangan pergi" Dika menangis ia sangat frustasi ia mengoyang goyangkan tubuh adiknya


"Dokter....dokter" Teriak Dika panik kemudian memencet tombol panggilan


Tak beberapa lama kemudian dokter datang memeriksa keadaan Nayla yang kondisinya semakin menurun.


Endy dan Aska baru saja datang dari pemakaman wajahnya sangat cemas dan ketakutan melihat kondisi Nayla, mereka kembali meneteskan air mata dan telah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan mereka lihat Nayla akan pergi meninggalkan mereka selamanya


Dika mundur ikut bergabung dengan sahabatnya mereka bertiga berkumpul dari jauh menatap Nayla yang sedang berjuang air mata mereka meleleh.


"Maaf tolong kalian keluar kami akan melakukan tindakan" Ucap suster


Dika beranjak keluar ia tak mampu berada didalam melihat Nayla ,Endy menyusul Dika mencoba menenangkannya.


Sedangkan Aska ia tak ingin keluar.


"Tidak dokter aku akan tetap berada disisinya" Aska tetap ingin melihat Nayla berjuang untuk hidup.


.


.


.

__ADS_1


huy guys jangan lupa like coment dan votenya ya


__ADS_2