
Malam telah menyambut langit terang bertabur jutaan bintang. Mereka duduk berkumpul dimeja makan sedang menikmati makan malam. semua tidak seperti biasa. Suasana hening tak ada canda tawa dan obrolan seru. Kebisuaan terjadi akibat kejadiaan dramatis yaitu datangnya sang mantan pacar meminta izin untuk mengejar sahabatnya sendiri. Dika hanya mengacak-acak makanannya dengan sendok tak bersemangat begitu pula Endy, wajahnya pucat menandakan lelaki ini tidak baik-baik saja. Nayla terus menatap dua lelaki yang ada didepannya saling bergantian. Ia pun tak berselara makan melihat dua sahabat itu tak saling bicara.
"Nay suap...." Pinta Aska membuka mulutnya masih bermanja disaat yang tidak tepat dan suasana sedang tegang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Nayla menyendok makanan dipiringnya lalu megarahkan kemulut lelaki manja yang berada disampinya."aaa"
Endy dan Dika hanya melengos melihat pemandangan itu suasana hati yang buruk ditambah lagi melihat pasangan bermesraan tak tahu tempat ini semakin menyebalkan bagi mereka.
"Kak Endy kepalanya masih pusing" Tanya Nayla memecah kesunyian, teringat jika tadi saat jalan-jalan kondisi kesehatan lelaki ini menurun.
"Masih Nay"
"Kita ke dokter ya atau kita panggil dokter" Tawar Nayla.
"Ngak perlu Nay, istirahat sebentar juga nanti sembuh" Tolak Endy dengan cepat lalu tersenyum paling menawan memberi isyarat jika ia baik-baik saja ia tak ingin memeriksakan dirinya ke dokter dari dulu hingga sekarang ia anti dengan dokter.
"Kamu kayak ngak tahu aja sayang, dia kan dari dulu takut di suntik" jelas Aska mengingatkan ketakutan sahabatnya.
"Ia baiklah... habis makan kakak minum obat aja" Saran Nayla khawatir melihat lelaki yang ceria ini tiba-tiba tak bersemangat.
"Nay kamu nginap ya? temani kakak" Pinta Dika ia sedang membutuhkan adiknya untuk mendengarkan keluh kesah dan menenangkan hatinya jika berada disamping Nayla sedikit membuat tenang, mengurangi kegalauan.
Nayla mengarahkan pandangan pada lelaki yang ada disampingnya meminta izin melalui sorot mata saling bertatapan.
Aska berfikir sejenak melihat dua wajah sahabat yang ada didepannya tak bersemangat,terlihat kacau dan sepertinya sangat membutuhkan perhatian Nayla untuk mengurus mereka semua. satu patah hati dan satu lagi sedang sakit.
"Ia kami akan menginap" Aska mengambil keputusan untuk mendampingi dua sahabatnya. Ia dan Nayla akan menginap malam ini.
Mereka pun kembali pada makanan masing-masing suasana kembali hening perhatian kembali pada makanan yang ada dihadapannya. Beberapa saat kemudian makan malam berakhir lelaki ini membubarkan diri meninggalkan Nayla yang yang membereskan piring kotor dan meja makan, Nayla mulai menumpuk piring kotor, membawanya ke wastafel cuci piring lalu menggosok piring dengan spoon yang telah diberi sabun saat mencuci piring ia teringat pada Endy yang sedang sakit dan belum meminum obat. Nayla tahu Endy tidak suka minum obat dan sangat sulit membawanya ke dokter. Ia hendak merawatnya ia pun mempercepat gerakkan lalu memaksa Endy meminum obat.
Nayla telah selesai membersihkan dapur ia kemudian keruang tengah pandangannya terlihat sepi tak ada yang diduduk diruang tengah, ketiga lelaki itu tidak ada yang berkumpul tak seperti biasanya mereka selalu duduk berjajar disofa bercanda, saling mengejek, berdebat lalu tertawa, suasana hening mereka memilih masuk kedalam kamar masing-masing. Nayla menarik nafas melihat ruangan yang biasanya berisik tak asik lagi, Nayla lalu meraih kotak obat yang ada dilemari mencari obat penurun demam yang akan di berikan untuk Endy, setelah menemukan obat. Nayla menyiapkan air minum dan mengatarkan ke kamar Endy.
Nayla masuk kedalam kamar lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri rasa sayangnya sama besar seperti kakak kandungnya. ia berada dikamar Endy membawa segelas air putih dan obat sama seperti dulu jika diantara salah satu lelaki itu sakit maka Nayla yang akan merawat bagai seorang ibu mencemaskan anaknya dengan telaten ia memberi perhatian.
"Kak Endy, Nay bawa obat nih, kakak minum obat dulu" Nayla duduk dipinggir tempat tidur lalu meletakkan gelas dinakas, melihat Endy berbaring dikasur dengan mendekap selimut tebal terlihat kedinginan.
"Ngak perlu Nay, Nanti juga sembuh sendiri" Tolak Endy
"Biar cepat sembuh... nanti tambah parah lagi sakitnya" Paksa Nayla.
"Ia" Endy mengalah ia menuruti keinginan bule jerman, ia tak punya tenaga berdebat apa lagi dengan gadis yang ada didepannya ini ia pasti kalah, lebih baik menyerah. Ia bangun duduk ditempat tidur lalu meraih obat yang diberikan Nayla memasukkannya ke mulut kemudian meraih gelas yang berisi air putih dari tangan Nayla
"Sudah, kakak ngak apa-apa" Kembali berbaring bersidekap dengan selimut menggigil kedinginnan.
Nayla mengecek suhu tubuh Endy dengan punggung tangan merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh itu.
"Badan kakak panas banget... ini harus dikompres, Nay kompres ya?"
"Ngak perlu"
"Pokoknya harus dikompres tunggu disini, Nay siapkan kompres dulu" Kekeh Nayla harus memaksa Endy agar cepat sembuh. Nayla beranjak meninggalkan kamar Endy lalu berjalan menuju dapur namun belum sampai Aska menanggil dari arah kamarnya. Nayla menunda niat kedapur lalu menghampiri Aska yang memanggilnya.
Nayla masuk ke dalam kamar melihat Aska yang berbaring ditempat tidur ia pun menghampiri, saat mendekat Aska lalu menarik tangannya hingga tubuh mungil itu jatuh di dalam dekapan Aska.
"Kak lepaskan" Berontak Nayla dalam pelukkan Aska.
"Ayo kita tidur, kamu ingat, kamu janji akan tanggung jawab karena menggodaku," Ucap Aska mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. kemudian mulai berbalik menindih tubuh Nayla.
"Malam ini kita akan begadang" bisik Aska ditelinga istrinya lalu mulai mengecup seluruh wajah cantik gadis itu.
"Kak Aska sabar, nanti dulu" Tolak Nayla ia hendak mengurus Endy terlebih dahulu .
"Ngak bisa kamu udah janji" Kecupan turun menuju leher putih, istrinya ia terus mencumbui membuat Nayla hanya pasrah tak berdaya berada di bawah tindihan Suaminya.
" Nay"
"Nay" Suara teriak memanggil terdengar di telinga, dibawah tindihan Nayla memperjelas suara itu dan itu adalah panggilan untuknya dari kamar Dika.
"Tunggu dulu, Nay dipanggil kak Dika" Nayla mendorong perlahan badan Aska yang masih menegecup ceruk lehernya.
Aska menghentikkan aktivitasnya, ia menatap wajah Nayla yang tersenyum manis padanya meminta dilepaskan.
"Ahhhh mengganggun saja" Umpat Aska kesal karena harus berhenti padahal gairah telah berkobar tubuhnya telah panas.
Aska pun turun dari tindihannya kemudiaan melepaskan Nayla.
__ADS_1
"Udah temui kakak kamu sebentar aja, cepat kembali, kita akan lanjut yang tadi nanti" Ucap Aska beralih memeluk Erat istrinya sebelum keluar meninggalkannya, ia memasang wajah masam.
"Ia sebentar aja, aku keluar dulu" bujuk Nayla mengecup pipi Aska, tersenyum pelik ke arah suaminya yang seperti merajuk karena gagal memadu kasih.
Nayla keluar kamar meninggalkan Aska yang menasang wajah masam, Nayla menarik nafas lega, menarik dua sudut bibirnya, ia selamat dari serangan Aska.
Nayla masuk ke dalam kamar Dika melihat kakaknya sedang berbaring di tempat tidur.
"Kak kenapa?" Nayla menghampiri kakaknya duduk disamping tempat tidur.
"Kakak ngak bisa tidur, kakak terus memikirkan masalah yang tadi, kakak lagi galau temani kakak ngobrol ya?" Dika menggeser tubuhnya memberi ruang disebelah untuk Nayla berbaring disampingnya. Nayla pun Naik ketempat tidur berbaring miring menghadap pada kakaknya mereka sangat dekat apa lagi setelah hidup berdua selama setahun ketika jauh dengan sahabat Nayla lah teman berbaginya.
" Nay malam ini kamu disini aja ya temani kakak tidur, kakak ngak bisa tidur," Pinta Dika bule Jerman yang ceria sedikit bisa menjadi penenang hatinya dan melupakkan kesedihannya.
"Makanya kakak nikah dong biar punya teman tidur dan cerita" Saran Nayla.
"Kan nikah lagi" Protes Dika.
"Ia, Nay temenin, tapi kakak jangan sedih lagi, fikirkan taruhan kakak, kakak harus menang, biar ada yang temanin tidur," jelas Nayla.
"Nay kakak udah nyerah biar aja Endy yang menang, lagian kakak ngak bakalan bangkrut juga biayai pesta mewahnya dan bulan madunya keliling eropa, cukup jual satu koleksi mobil sport kakak aja udah cukup bayar dia nikah" Jelas Dika telah merasa putus asa
"Kakak...Nay ngak masalah biaya pernikahan ini, kita ini keluarga, segala yang kita punya dan mereka punya sama saja, Nay hanya mau kakak juga berjuang dengan adanya taruhan ini akan lebih baik karena kalian lebih serius memikirkan pendamping hidup." Jelas Nayla memberi semangat pada kakaknya yang telah menyerah.
"Nay kakak udah ngak bisa membuka hati lagi lagi, kayanya udah mati rasa" Dika pesimis.
"Jangan menyerah nanti Nay carikan wanita di kantor kak Aska, bawahan kakak Aska kan cantik-cantik, pintar, rajin kalau ngak gitu mana mungkin diterima dikantor terbaik " Canda Nayla yang juga pusing ia tak punya teman yang bisa ia tawarkan pada kakaknya selain Luna dan Hana.dan hanya kantor Aska yang selalu ia kunjungi dan banyak wanita cantik dikantor itu.
"Nay ...kamu juga jangan asal pilih aja... cari istri itu susah bedalah dengan mencari karyawan kantor" Ucap Dika ketus kesal dengan adiknya
"Hahaahaa" Nay cuma becanda.
"Nay ......
"Nay......
Panggilan terdengar ditelinga mereka Nayla membulatkan matanya mendengar suara itu.
"Kak Endy, ya ampun Nay lupa mau kompres dia" Nayla menepuk keningnya lalu duduk.
"Ia, urus dia dulu, rawat sahabatku, habis itu kembali lagi kemari," Pinta Dika
"Ia bentar aja" Nayla keluar dari kamar kakaknya menuju kamar Endy.
Nayla menuju dapur menyiapkan air kompresan untuk Endy sebelum ia masuk ke dalam kamar lelaki itu, setelah beberapa saat Nayla keluar dari dapur melalui ruang tengah akan ke Endy kamar namun suara panggilan terdengar dari kamarnya
"Nay" Suara Aska memanggilnya, Nayla juga teringat suaminya sedang menunggunga, Nayla mengarahkan kakinya didepan pintu kamarnya saat hendak membuka pintu.
"Nay" Teriakan dari kamar Endy, Nayla berbalik ia hendak kekamar Endy ia sedang sakit.saat berada didepan kamar Endy.
"Nay" Suara teriakan terdengar dari kamar kakaknya, Nayla merasa pusing entah siapa yang ia datangi lebih dulu, kakaknya dengan patah hati, Suami dengan hasratnya atau kak Endy yang sedang sakit.
Nayla berdiri berada diruang tengah memegang wadah kompres mendengar suara 3 lelaki yang sedang bersautan sautan menanggilnya.
"Sayang" Panggil Aska.
"Nay"Panggil Dika
"Bule Jerman" Panggil Endy.
Nayla masih berdiri mematung menentukan pilihanya yang mana yang akan dia temui lebih dulu semua sama darurat dan pentin baginya. lalu ketiga lelaki itu kompak keluar kamar karena Nayla tak menjawab panggilan mereka.
"Sayang ayo kita tidur" Aska menghampiri Nayla lalu menarik tangan kanan istrinya.
" Nay kakak ngak bisa tidur temani kakak tidur" Dika menarik tangan kiri adiknya
"Nay kamu bilang mau kompres kakak" Endy berdiri di hadapan Nayla dengan wajah pucat menghalangi kedua lelaki itu membawa Nayla.
"Ngak bisa Nayla harus tidur denganku dia istriku, aku berhak bersamanya" Kekeh Aska menarik lengan istrinya.
"Ngak bisa aku ini kakaknya, lagi pula kau tiap hari tidur dengannya, aku hanya malam ini" tolak Dika ikut menarik sebelah lengan adiknya.
"Ngak bisa bule Jerman harus merawatku dulu, aku ini lagi sakit butuh diperhatikan" Jelas Endy merentangkan tangannya tak memberi jalan.
Nayla menarik nafas panjang tubuhnya oleng tertarik kesana-kemari oleh kakak dan suami yang sedang memperebutkannya. Rasanya ia yang hampir gila melihat tingkah manja ke 3 laki-laki ini.
__ADS_1
"Nay... sama kak Aska kan"
"Nay sama kak Dika kan"
"Nay rawat kak Endy kan"
Ketiga lelaki itu memberi pilihan pada Nayla hingga akhirnya.
"Stop.....Berhenti semua" Teriak Nayla kesal
Tiga lelaki itu terdiam melihat gadis kecil ini mulai emosi. Dika dan Aska melepaskan tangannya dilengan gadis ini seketika mereka cemas takut pada Nayla.
"Kita akan tidur diluar bersama disini" Nayla melangkahkan kaki kemudian duduk disofa.
Mereka pun mengekori langkah Nayla dan lagi-lagi berebut duduk disamping gadis ini.
"Ih ....Nay kakak kan ngak bisa tidur" Dika duduk disebelah kanan adiknya. menyandarkan kepalanya dipundak adiknya.
"Nay kepala kakak pusing, kakak demam" Endy duduk disebelah kiri Nayla lalu ikut menyandarkan kepalanya di pundak Nayla.
"Nay kamu kan janji malam ini" Aska duduk bersimpuh didepan Nayla menaruh kepalanya dipangkuan Istrinya.
"Karena Nay ngak bisa memilih diantara kalian jadi supaya adil kita tidur disini titik jangan membantah lagi."jelas Nayla menegaskan dan agar mereka berhenti merengek ia mulai agak kesal 3 lelaki ini semua bergelayut manja padanya.
"Ya baiklah," Kompak mereka menyandarkan kepalanya dibadan Nayla.
"Tuh...kan satu bule jerman Ngak cukup untuk kita bagi-bagi" Keluh Endy.
"Makanya kalian menikah bule Jerman ini milikku" keluh Aska.
"Kamu yang harusnya punya anak biar kita dapat bule Jerman lagi" Keluh Dika.
Nayla tersenyum mendengar keluhan dari mulut mereka dengan suara tak bersemangat dan menempel padanya.memperebutkan bule Jerman.
Malam semakin larut waktu telah menunjukkan pukul 2 pagi Nayla terbangun melihat sekelilinganya, masih ada 3 lelaki itu didekatnya tertidur pulas,ia melihat Dika telah menaruh kepalanya disandaran sofa, begitu juga disebelah Endy juga tak bersandar padanya ia tertidur dengan kain kompres di kening dan Aska telah tertidur meringkuk dilantai. Nayla tersenyum tipis melihat 3 lelaki itu telah tenang sekarang gilirannya untuk kabur ia tak bisa tidur duduk disofa badanya terasa sakit, ia pun berdiri perlahan berniat meninggalkan lelaki itu tidur diruang tengah ia akan pindah lalu tidur nyenyak dikamarnya.
Nayla berjalan perlahan mengendap-edap ia tak mau langkah kakinya membuat mereka terbangun, ia terus berjalan pelan hingga akhirnya ia telah berhasil masuk kedalam kamar, ia menarik nafas lega telah berhasil. ia kemudian berbaring di kasurnya menarik selimut lalu tidur miring memeluk guling menutup mata mencoba terlelap kembali.
Nayla sedang berbaring ditempat tidur ia tersentak membuka mata ketika merasa ada yang memeluknya dari belakang. ia pun membaling badannya.
"Kak Aska, bukankah kakak tidur diluar"
"Ngak ....Kakak ngak bisa tidur kalau belum melakukannya," Jelas Aska mulai menaruh wajah diceruk leher istrinya, masih menahan gairah yang hingga saat ini ia tak bisa menutup matanya.
"Ayo tidur" Nayla mengelus kepala suaminya.
"Ngak mau... kakak mau nagih janji kamu, malam ini" goda Aska.
"Masih ingat Aja, lain kali aja ya"
"Ngak bisa sayang... udah ngak bisa ditahan, kakak akan menderita jika ditahan lagi, semalaman aku ngak bisa tidur" Aska mulai menindi tubuh Nayla ingin menyalurkan hasrat yang dari tadi ia tahan.
Aska mulai mengecup penuh cinta seluruh tubuh itu, tangannya mulai bergerliya membuka kancing baju istrinya, nafasnya mulai terdengar berat hasrat dam gelora telah sampai dipuncak tinggal langkah terakhir menuju puncak kenikmatan yang luar biasa. tiba-tiba.
"Nay"Kompak Dika dan Endy
"Nay....kakak ngak bisa tidur" teriak Dika
"Nay ...kompresnya udah kering" teriak Endy.
Nayla dan Aska saling tatap Aska menghentikan aktivitas panas mereka.
"Kak Dika dan Kak Endy memanggil Nay" Ucap Nayla yang lagi-lagi tersenyum dipaksakan melihat ke arah suaminya yang telah memasang wajah frustasi saat hasratnya sudah di ubun-ubun lagi-lagi terhenti.
"Mereka menyebalkan, besok kita pulang, kita tidak akan menginap disini lagi" Ucap Aska kesal melepaskan Nayla dari tindihannya. Nayla merapikan bajunya lalu keluar dari kamar melihat2 kakaknya.
Nayla meninggalkan Aska keluar kamar, Aska duduk memperhatikan Nayla meninggalkan kamar ia bersandar di puncak tempat tidur lalu mengacak rambutnya frustasi sangat kesal melihat dua sahabatnya.
"Awas kalian..aku akan menikahkan kalian bersamaan, kalau perlu aku yang akan menanggung semua biayanya agar kalian tak mengganggu kami lagi selalu saja jadi pengganggu" umpat Aska sangat kesal.
.
.
.
__ADS_1
Like, coment, vote ya.....