Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
kamar


__ADS_3

Matahari telah naik sinar hangatnya menyinari bumi. Suanana di rumah Dika terlihat sepi tak ada aktivitas, dua pria yang berada di dalam, masih di alam dunia mimpi, mereka tertidur sangat pulas setelah pulang dini hari karena pekerjaannya di club malam. Dika dan Endy tidur dikamar masing-masing.


Endy sedang berada dikamarnya terlelelap, pria ini telah telah bertahun-bertahun tinggal dirumah Dika, walaupun ia memiliki rumah yang mewah tetap saja tinggal dirumah sahabatnya lebih nyaman untuknya.


Dret....dret....dret....dering ponsel terdengar di nakas.


Endy berbaring ditempat tidur dengan posisi tengkurap. Ia tertidur sangat pulas, tak mendengar panggilan ponselnya.


Dret.....dret.....dret.... ponselnya terus bergetar berkali-kali. hingga ia mulai menggeliat, sedikit tersadar dan mulai merasa terganggu.


"Dret....dret.....dret.....


Endy mulai tersadar akan ponselnya,


"Siapa yang menelponku, mengganggu tidurku saja" gerutu Endy.


Dengan malas ia menggeliat perlahan meraba poselnya di nakas kemudian dengan mata tertutup, ia mengeser layar ponselnya kemudian menaruh ditelingannya.


"Halo" Ucap Endy dengan malas.


"Halo Endy". Pak Chan


"Pak Chan, ada apa?" Endy fokus pada suara orang yang ia hormati.


"kami meminta bantuan anda"


"Bantuaan apa"


"Tuan Aska tak bisa di hubungi sudah 4 hari ia tidak ke kantor,dia ada rapat penting hari ini dan ia sangat sulit dikunjungi penjagaan apartemennya diperketat" pak Chan


"Penjaga" Endy


"Ia, ia tak mau di ganggu hingga menyuruh penjaga berjaga diapartemennya, tak ada yang boleh masuk menemuinya, ponselnya pun tidak pernah aktif, tolong anda bujuk dia kekantor" Pak Chan.


"Baiklah pak Chan aku akan kesana,menemuinya" Endy.


Sambungan telpon terputus, endy menarik nafas panjang lalu meletakkan kembali ponselnya ke nakas kali ini sahabatnya telah merusak tidurnya nyenyaknya, karena tugas yang diberi pak Chan padanya, ia kemudian beranjak dari tempat tidur kemudian membersihkan diri ia hendak pergi ke apartemen Aska untuk menyuruhnya ke kantor, telah tiga hari setelah ke pantai ia tak pernah bertemu sahabatnya itu karena ia tahu lelaki itu pasti sedang bermesraan dengan istrinya menghabiskan waktu berdua hingga lupa akan tugas dan tanggung jawab dengan pekerjaannya, sebenarnya ia memaklumi kenapa Aska melakukan itu, setelah sekian lama wanita itu akhirnya bersama dengannya sebelum pergi ia hendak mengajak Dika.


***


Apartemen Aska.


Nayla menggeliat perlahan dalam pelukkan Aska ia mulai tersadar dari alam mimpi, ia mengerjap membuka matanya perlahan, setelah matanya terbuka sempurna ia menarik kedua sudut bibirnya menatap wajah teduh suaminya yang masih tertidur, sedang melingkarkan tangannya dipinggangnya, Nayla lalu dengan perlahan dan hati-hati ia mencoba dan mengangkat tangan itu dari pinggangnya dengan hati-hati tak mau membangunkan tidur lelap suaminya.Sebenarnya ia bukannya tak tega menggangu tidur lelaki itu tapi ia berniat kabur dari cengkraman suaminya. yang selalu saja memeluknya dan meminta terus berada dikamar.


Nayla menyibak selimut perlahan kemudian duduk ditempat tidur memperhatikan wajah Aska yang terlihat masih tertidur, ia mengeser tubuhnya ke pinggir ranjang kemudian menurunkan kakinya, saat kakinya telah menggantung hendak menyentuh lantai, ia tercengang saat Aska memeluknya melingkarkan tangannya dipinggang Nayla menariknya hingga ia kembali berbaring ditempat tidur.


" Mau ke mana sayang?" Ucap Aska lembut memeluk Nayla menguncinya tubuhnya agar istrinya tidak tak beranjak dari tempat tidur. kemudian mendaratkan ciuman dipipi mulusnya


" Nay mau mandi," Berontak Nayla dalam pelukkan Aska, ia sudah bosan berada dikamar terus-terusan bersama Aska tak melakukan apa pun. Ia hanya ingin keluar dari kamar ini.


"Disini saja, aku masih ingin memelukmu" Aska mempererat pelukkan menatap wajah cantik istrinya membelai puncak kepalanya dengan penuh sayang.


"Nay mau bangun, terus-terusan dikamar nay bosan" Pinta Nayla.


"Baiklah, satu kali lagi, lalu kita bangun" Tawar Aska terseyum penuh harap menatap istrinya kemudian menggecup pipinya.


"Lagi" Nayla tersentak


"Ia satu kali lagi"


"Kita sudah 3 hari dikamar ini , kegiatan kita hanya mandi, makan, melakukannya lagi hanya itu, berulang-ulang, kakak ngak bosan, ngak lelah?" Protes Nayla yang telah menghabiskan waktu 3 hari di kamar dengan suaminya dan hanya 3 kegiatan itu terus terulang. dan bahkan dengan siaga pelayan mengatarkan mereka makanan dan mereka makan dikamar benar-benar ia tak pernah keluar kamar selama melakukan malam keduanya.


"Siapa suruh kamu membuatku menunggu terlalu lama." Aska mengecup pipi istrinya berkali-kali. sangat bahagia ia merasa seperti pengantin baru, gadis ini benar-benar telah menjadi miliknya, rasanya ia tak pernah puas untuk selalu menyentuhnya. hingga ia terlupa akan kewajibannya dan tugas yang telah bertumpuk dikantor.


"Nay bosan, mau keluar kamar, kakak ngak ke kantor?" Nayla mengingatkan suaminya agar ia sedikit bisa terbebas dan meregangngkan tubuhnya yang terasa remuk. karena 3 aktivitas itu sangat melelahkan baginya.


"Kakak ngak mau ke kantor, mau berduaan aja dengan istriku tercinta, aku akan menyuruh pak Chan mengatur bulan madu untuk kita, minggu depan kita akan ke Jerman" Aska tersenyum dengan rencana bulan madunya. difikirannya ia ingin bebas tak ada penggangu jika mereka pergi jauh.


"Jerman" Nayla menelan Salivanya dengan susah payah, belum ke Jerman saja dia sudah kewalahan melayani Aska apa lagi sampai ia keJerman tak penggangu lagi, dia bisa membayangkan namanya saja bulan madu keJerman tapi pasti tetap saja berada dalam kamar, tidur seharian sama seperti di aparetemen ini, tak akan ada jalan-jalan dalam agendan bulan madunya, suaminya ini hanya akan bergelayut manja padanya.

__ADS_1


"Ngak...Nay ngak mau ke Jerman" Nayla dengan cepat melambaikan tanggannya menolak dengan cepat rencana bulan madunya, seketika ia tak ingin mengunjungi tempat yang begitu ingin ia kunjungi.


"Kenapa bukannya kamu sangat ingin ke Jerman, kita akan bulan madu"


"Kita ngak perlu ke Jerman" Tolak Nayla. dengan lembut dan memberikan senyum sangat manis.


"Jerman...sebenarnya aku sangat ingin keJerman tapi, pasti disana kita hanya melewatkan bulan madu kita sama seperti dikamar ini, hanya mandi, makan melakukannya lagi, lalu mandi, makan ,melakukannya lagi hanya itu berulang." batin Nayla.


"Baikalah sayang, kalau kamu ngak mau pergi, kita disini aja" Aska bergerak mulai menindi tubuh istrinya ingin melakukannya lagi.


"Kak Aska sudah," Wajah Nayla mulai panik ia mencoba berontak tapi Aska telah mengunci tubuh mungil istrinya.


" Sekali lagi" Ucapnya lembut lalu mulai menyusuri leher putih yang telah penuh bekas kecupan itu kemudian berbisik ditelingannya" I love you" kembali mengecup dengan lembut.


"Kak Dika, Kak Endy tolong Nay...."Batin Nayla.


Aska kembali melakukan penyatuhan dengan istrinya, terus melakukannya rasanya ia tak pernah puas dan lelah untuk melakukannya sedangkan Nayla hanya pasrah membiarkan suaminya menyalurkan perasaan cintanya padanya.


***


Dika dan Endy berada diapartemen Aska mereka hendak bertemu pasangan yang telah beberapa hari seperti menghilang dari peredaran, atas suruhan pak Chan. Endy berkunjung ke apartemen sahabatnya sebenarnya ia tak bersemangat untuk bertemu dengan pasangan yang sedang di mabuk asmara ini , tapi dengan permintaan pak Chan ia akhirnya harus menemui dan menyuruhnya untuk pergi ke kantor, Endy tak sendirian ia mengajak Dika untuk ikut dengannya setidakknya Aska akan sedikit menurut pada kakak iparnya.


Dika dan Endy berjalan di lobby apartemen hendak naik ke lantai atas, Dika mengernyitkan dahinya melihat hampir semua orang memperhatikan mereka. Ia merasa heran


"Endy kau tidak meresa aneh," Tanya Dika menatap sekelilingnya.


"Aneh apa?" Endy terus berjalan santai.


"Kenapa sepertinya semua orang memperhatikan kita, " Ucap Dika terus menatap orang yang mereka lalui.


"Ya seperti biasa karena wajah kita yang tampan ini, jadi orang memperhatikan kita" dengan santai dan penuh percaya diri. Baginya menjadi pusat perhatian sudah biasa baginya.


"Bukan tatapan mereka berbeda"


"Sudah ayo" Endy mempercepat langkahnya.


Dika dan Endy masuk ke dalam lift setelah beberapa saat mereka pun sampai dilantai tempat apartemen Aska, mereka pun melangkahkan kakinya, Namun baru keluar dari lift langkah mereka terhenti oleh dua penjaga yang menjaga di lantai itu.


"Maaf anda tidak boleh masuk, tuan Aska melarang kalian berkunjung" Dua lelaki itu menghadang langkah mereka.


Mendengar ucapan lelaki itu seketika mereka menjadi kesal.


"Kurang ajar Aska dia benar-benar gila" Umpat Endy kesal melihat penjaga keamanan Aska.


"Minggir, kami sahabatnya" Endy mencoba menerobos namun ia masih terhalang.


"Maaf tuan, coba anda lihat menurut tuan Aska yang ada difoto ini tidak boleh masuk" Penjaga keamanan itu menunjukkan foto mereka yang tertempel didinding.


Dika dan Endy kompak membelalakan matanya melihat mereka melengket di dinding lalu diberi tanda silang besar digambarnya.


"Kurang ajar, pantas saja orang menatap aneh pada kita" Umpat Dika kesal melihat tingkah sahabatnya yang berlebihan, dan menggangap mereka penggangu.


"Dasar dia fikir kita ini penjahat, buronan...aaa kasian sekali wajah gantengku tercoret tanda silang" Endy tak kalah kesalnya dengan Dika.


"Aku ambil kembali adikku, baru tahu rasa, ku pecat kau menjadi iparku" Gerutu Dika.


"Minggir atau aku akan menghajarmu" Endy mengancam menggantung kepalan tangannya, siap menghajar orang yang ada didepannya.


"Tapi tuan Aska"


"Kau mau kuhajar"


Dika dan Endy menerobos dua orang yang menjaga kemudian berjalan menuju tempat Aska, hanya berjalan beberapa langkah mereka telah berada didepan pintu seperti biasa Endy mencoba membuka pintu sama seperti yang sering ia lakukan dan ternyata ia berhasil, Aska tak mengganti password dan mereka pun masuk.


Nayla dan Aska berada diruang tengah duduk santai disofa sambil menonton tv, Nayla menarik nafas lega setelah tiga hari terkurung dikamar akhinya ia bisa keluar juga, walaupun masih dalam ruangan apartemen setidaknya ia jauh dari tempat tidur.


"Kak Aska sudah, hentikan" Protes Nayla yang serius menatap tv menonton drama kesukaannya, Aska terus mencium pipinya mencoba mengalihkan perhatian Nayla padanya.


Ia sangat bahagia rasanya seperti mimpi gadis ini ada di didekatnya dan ia bisa leluasa menyentuhnya hingga membuatnya selalu ingin berada disamping istrinya, bermanja-manja merasakan indahnya memiliki seorang istri.

__ADS_1


"Ngak mau" Aska mengarahkan wajah Nayla agar melihatnya sejenak mata mereka bertemu kemudian Aska mengecup lembut bibir istrinya. bibir mereka kembali bertaut. saling mengisap dan melummat bibir itu dalam. sejenak mereka mulai terbuai.


"Adik ipar"


Nayla dan Aska tersentak lagi-lagi mendengar suara disela ciuman mereka, kemudian kompak mengarahakan pandangannya pada sumber suara.


"Kak Dika" Ucap Nayla melihat dua orang berdiri dengan gaya yang sama melipat kedua tangannya didada. untuk ketiga kalinya mereka terciduk lagi


"Kalian kenapa ada disini, bukankah aku bilang jangan mengunjungimu selama seminggu" Ucap Aska tak bersemangat.


"Kemari kuhajar kau, adik ipar" Ucap Dika.


Wajah Aska mulai panik ia ingat dengan apa yang ia lakukan pada sahabatnya ini. ia memberikan foto sahabatnya.pada penjaga keaamanan.


Endy dan Dika kemudian berlari menyergap sahabatnya melampiaskan kekesalannya karena dua orang penjaga apartemen ini. mereka duduk disofa mulai memukuli sahabatnya.


"Teganya kau membuat foto ganteng kami seperti buronan" Hardik Endy.terus menghajar Aska.


"Sahabat macam apa kau, hanya karena bule jerman kau sekarang mengaggap kami penggangu" Hardik Dika terus menghajar sahabatnya.


"Ia, ampun aku hanya bercanda," ucap Aska mencoba membela diri. meminta pengampunan.


Nayla hanya terkekeh melihat tingkah 3 sahabat itu, seperti anak kecil. ia menggelengkan kepalanya perlahan kemudian berdiri membuatkan lelaki itu minuman.


"kau mau kupecat jadi iparku"


"Baru punya istri saja, kau lupa pada sahabatmu"


"Sudah cukup, Aku minta maaf." Mohon Aska.


Dika dan Endy akhirnya melepaskan Aska dengan nafas yang tersengal mereka bertiga duduk berjajar, Aska berada ditengah sahabatnya.


" ia aku minta maaf, aku tidak akan melupakan kalian, aku hanya menikmati, masa pengantin baru saja" Aska merangkul dua sahabatnya.


"Pengantin baru" Ujar Dika mendengar aneh kata pengantin baru pada sahabatanya yang telah menikah hampir dua tahun.


"Tentu saja, makanya menikah biar kalian rasakan indahnya pengantin baru, ia kan sayang" Tanya Aska yang pada Nayla yang baru saja datang dari arah dapur membawa minuman.


Nayla hanya tersenyum, Dika dan Endy kompak melengos, Dika kemudian menatap wajah adiknya yang sangat kelelahan dan kancau dengan kantung mata tak bersemangat dan kehabisan tenaga.


"Hei ....kau apakan adikku?Kenapa wajahnya seperti itu" Tanya Dika


"aku apakan, tidak... kami hanya terus dikamar, ia kan sayang" tersenyum kearah istrinya.


"Gila...kau... kalian terus melakukannya ya..." Tanya Endy.


"Pantas saja kau tidak ke kantor"


"Aku malas ke kantor sekarang, aku cuma ingin disini santai"


"Pak Chan mencarimu, katanya kau ada rapat penting hari ini, tidak bisa dibatalkan, kau harus ke kantor" Jelas Endy pesan dari pak Chan.


Aska memasang wajah tak bersemangat ia harus ke kantor dan meninggalkan Nayla rasanya ia belum puas bermesaraan dengan Nayla, ia pasti akan terus memikirkan istrinya itu.


"Aku harus ke kantor tapi, Nayla akan sendiri," Ucap Aska.


" Udah kak, Nay ngak apa-apa kakak pergi aja" Ucap Nayla penuh semangat dan keceriaan sejenak ia akan bebas dari 3 kegiataannya.


"Tapi kamu akan sendirian disini, kamu ikut aja ya ke kantor, kakak khawatir" Mohon Aska menatap istrinya penuh harap.


Nayla menatap wajah suaminya yang sangat berharap ia ikut, ia kemudian mengiyakan ke kantor menurutnya tidak buruk juga. setidaknya ia bisa keluar dari apartemen.


"Ia, Nay mau"


Aska tersenyum penuh kemenangan, Nayla akan ikut bersamannya. Dia akan kekantor bersama Nayla


.


.

__ADS_1


...


.Like, coment, vote, ya....


__ADS_2