
Aska meninggalkan rumah saat, ini setelah melakukan debat panjang dengan Nayla. Sebenarnya ia berat meninggalkan Nayla, mobil Aska telah keluar dari kawasan rumah keluarga Dirga dengan beberapa mobil pengawal yang mengikuti mobilnya. Di dalam mobil ia terdiam terus memikirkan Nayla fikirannya hanya di penuhi Nayla ia sangat berat meninggalkan istrinya.
Di sisi lain diseberang jalan sebuah mobil memarkirkan kendaraanya dibahu jalan seperti sedang menunggu seseorang, saat mobil aska melintas melalui mereka. Kaca mobil turun terbuka terlihat seseorang lelaki memakai kaca mata hitam sedang mengawasi gerak gerik pemuda yang baru saja keluar dari kawasan rumah dan menunggu mobilnya lewatinya, Dari tadi pria itu menunggu kepergian Aska.
Lelaki misterius itu adalah Sam anak buah paman Yuga sebelah telingannya terpasang earphone sedang berbicara dengan seorang.
"kami siap memulai serangan tuan" Ucap lelaki itu melihat mobil Aska pergi menjauh dari kaca spioon. Lelaki itu menyeringai lalu menyalakan mobilnya memutar setir mobilnya lalu berputar memacu kendaraannya menuju rumah Aska.
*flash back on*
Tuan Yuga duduk disofa tunggal mendengarkan kembali laporan yang akan disampaikan anak buahnya yang selama ini khusus bekerja untuk mengintai tetang Aska.
"Tuan kami telah memgatur siasat dan menyiapkan orang-orang yang akan menyerang tuan Aska" Jelas Sam tertunduk penuh hormat.
"Bagus" Paman Yuga tersenyum menyeringai dan menatap tajam " Tapi jangan sekarang aku ingin kalian merubah siasat kalian" Tuan Yuga berdiri dari sofa tunggalnya menghampiri Sam
"Merubah siasat" Suara Sam pelan ketakutan namun ia sedikit binggung dengan ucapan tuannya.
"Ia... Aku akan bermain sedikit dengan Aska, aku ingin memulai serangan dari istrinya dulu, aku mengingikan istrinya tapi sebelum kau menghabisinya, aku ingin kau bawa gadis itu kemari, aku akan menggunakan gadis itu untuk menukar beberapa aset keluarga Dirga, sekarang biarlah hanya aset dulu yang bisa aku dapatkan" Jelas paman Yuga menyeringai.
"Pelajari rumahnya, aku ingin kalian menyerang rumahnya" Titah tuan Yuga yang tak ingin dibantah ia tak peduli betapa sulitnya menembus pertahanan rumah Aska .
"Aska pasti sangat terkejut dan tak menyangkah jika targetku telah berubah sekarang aku menyerang istrinya bukan dirinya, apa jadinya jika ia tahu istrinya berada ditanganku" Tertawa remeh
"Aku ingin kau jangan sampai gagal" Menepuk sebelah bahu sam.
"Baikklah tuan kami akan kembali mengatur siasat untuk penyerangan rumah Aska.
flash back off
__ADS_1
Siasat paman Yuga telah berubah ia mengincar Nayla sekarang mereka telah siap menyerang rumah saat Aska ia tidak ada.
*****
Dika dan Endy sedang berada diruang santai berbaring tengkurap dengan bantal di dada tertindih dibawah tubuh mereka, fokus didepan tv yang menyala namun tak mereka perhatikan sedikitpun. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, berfikir dengan keras membaca buku sebentar lalu menyalinnya ke kertas yang sudah ada didepan mereka, sebelah tangannya memegang pulpen, mereka begitu sibuk dengan catatan masing masing hingga tak saling berbicara. Dika terlihat menulis dikertas namun saat ia melihat kertasnya sudah penuh dengan coretan ia kemudian mengcengkeramnya dengan kedua tangan membulatkannya lalu melemparkan kesembarangan arah hingga tak terasa disekitar mereka telah berserakan bola-bola kertas .
"Ha....." Teriak Endy seperti mendapatkan sebuah ide "Aku sudah dapat nama untuk keponakanku" Bangun lalu duduk memegang kertasnya lalu membacanya
"Aku menyumbang nama Mikayla." Jelas Endy tersenyum bangga.
Sudah berhari-hari dua calon paman ini berkutat memilih nama yang akan dia sumbangkan untuk anak Aska dan Nayla. Sudah banyak buku nama yang mereka baca namun yang terjadi hanya perdebatan saat mereka menyebut nama pilihan masing-masing.
Dika menarik nafas kasar menatap Endy sebentar yang wajahnya berbinar lalu kembali tertunduk dengan bukunya.
"Endy nama itu terlalu panjang, kau cuma boleh menyumbang nama untuk anak Nayla tiga huruf saja" Jawab Dika datar dan tak semangat dengan pilihan Endy
"Apa tiga huruf saja " Protes Endy tak ikhlas ia mengerucutkan bibirnya.
"Hei.. Dika" Menunjuk ke arah Dika "Kalau tiga huruf itu dikit banget tambah satu lagi jadi empat huruf ya?" Tawar Endy mengangkat empat jarinya.
"Ngak boleh" Tolak Dika tak bisa ditawar lagi.
"Nanti kalau aku yang punya anak kau boleh berikan nama itu pada anakku" Jelas Dika datar sambil membuka lembaran buku nama.
"Itu masih lama entah apa kita akan menikah" Endy tertawa meledek, menertawakan nasibnya dengan Dika yang jadi jomblo dan susah move on jika sudah menyukai seorang gadis .
"Aku juga ngak yakin" Dika mengendikan bahunya tertunduk lesu dan putus asa di usia sudah 30 tahun namun belum ada tanda mereka berdua menyusul Aska menikah .
Mereka pun kembali dengan kesibukan, mereka mencari nama untuk calon keponakannya.
__ADS_1
*****
Rumah Aska
Rumah Aska anak buah paman Yuga telah menjalankan rencananya, ia mengepung rumah Aska dari segala sisi dengan membawa banyak orang membuat Aldy dan penjaga rumah Aska kelabakan, benar-benar tak menduga dengan serangan dadakan yang menyerbu mereka. Apa lagi jumlah mereka yang begitu banyak, serta menggencarkan serangan dari segala penjuru rumah dari depan, belakang, samping semua telah mereka kuasai, Aldy yang hanya teringat pada nyonyanya mencoba menerobos menuju kamar untuk melindungi Nayla namun dia dihadang dengan banyak gerombolan yang seakan tiada habisnya muncul dihadapannya.
"Cepat selamatkan nyonya Nayla" Teriak Aldy pada anak buahnya sambil melakukan baku hantam memerintah anak buahnya namun, anak buahnya pun juga tak bisa bergerak maju mereka tetap ditempatnya masing-masing bertahan dari serangan semakin bertubi-tubi.
Di dalam kamar Nayla duduk berdua dengan bibi May belum menyadari keributan yang ada dibawah hingga pintu kamar terbanting, terbuka dengan kasar, Nayla dan bibi May tersentak mendengar suara pintu kemudian berdiri, terkejut melihat begitu banyak orang asing masuk kedalam kamar, mendekat kearah mereka, membentuk lingkaran mengepung mereka berdua.
"Siapa kalian" Tanya bibi May ketakutan dan panik berdiri membelakangi Nayla mencoba melindungi Nayla dengan tubuhnya.
Nayla sangat ketakutan tubuhnya bergetar, ia sudah merasa lemas karena kondisinya dalam keadaan mengandung, sekarang segerombolan pemuda itu membuat Nayla tak bisa merasa kakinya karena bergetar.
"Tenang perempuan tua.....kami hanya ingin nyonya kalian ikut dengan kami" Jelas segerombolan orang yang melingkar mengepung bibi May dan Nayla.
"Tidak jangan ganggu nyonya kami, ambil semua apa yang kalian inginkan, lepas kami" Tawar bibi May ketakutan.
Ha....Ha .....Lelaki itu tertawa keras, suaranya memenuhi ruangan, membuat yang mendengarnya ketakutan
"Kami tidak butuh itu semua, nyonyamu ini lebih penting, jangan banyak bicara perempuan tua, bawa gadis itu perintah" Lelaki itu menyeringai.
Nayla dan bibi May berusaha bertahan sekuat tenaga menunggu Aldy datang menolongnya.
.
.
.
__ADS_1
huy readers jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan comentnya ya ,vote yang juga dong.