Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
Malam Dika


__ADS_3

Malam telah larut waktu menunjukkan pukul 01 malam. Dika, Aska, dan Endy berada didalam mobil menunggu keadaan sepi mereka akan menjalankan misi. Mereka menembus rumah pak Samad secara diam-diam.


Menemani Sahabatnya Dika untuk bicara pada Aulia tentang perasaaan bahwa ia telah jatuh cinta pada istrinya dan meminta maaf untuk semua kebohongan yang ia lakukan.


Mereka memarkirkan kendaraan agak jauh dari rumah pak Samad. menunggu dan mengamati daerah sekitar setelah merasa aman dan sepi mereka memulai aksinya.


Dika dan Endy turun dari mobil, siap akan melancarkan aksinya namun tidak dengan Aska pemuda itu masih diam ditempatnya menolak untuk turun.


"Ayo turun" Ajak Endy membuka pintu mobil belakang tempat Aska duduk, dilihatnya lelaki ini memasang wajah masam menolak ajakan sahabatnya.


"Tidak mau" ucap Aska dengan ketus, ia tak setuju dengan ide gila sahabatnya yang mau mengendap masuk ke rumah pak Samad, datang baik-baik saja mengerikan apa lagi harus menyusup seperti maling bagaimana jika mereka ketahuan lalu dihajar oleh massa.


"Ayo turun, kini giliran Dika yang menyuruhnya untuk turun.


"Aku tidak mau itu memalukan" jelas Aska.


Endy dan Dika saling menatap menunjuk Aska dengan ekor mata, isyarat yang mengatakan paksa dia dan akhirnya Dika dan Endy lagi-lagi menyeret lelaki tinggi itu untuk ikut mereka, menyeretnya untuk keluar dari mobil.


"Aku tidak mau aku ini presdir Dirgantara mitra, masa aku mengendap-mengendap kerumah orang dimalam hari" Maki Aska tanganya tertarik oleh dua sahabatnya.


"Ini demi persahabat" Dika dan Endy kompak menarik paksa Aska turun dari mobil.


"Hentikan aku tidak mau, bagaimana jika kita ketahuan lalu digebukin orang sekampung, habis kita, aku akan kehilangan harga diriku,hentikan aku ini persdir," jelas Aska, meronta namun kedua sahabatnya masih menyeretnya tak peduli dengan ocehanya.


"Diam kau presdir, dari tadi presdir,kau terlalu berisik jangan sampai mereka mendengar kita," bentak Dika.lalu melepaskan tangan Aska


" Kalian menyebalkan semua" umpat Aska. memegang tangannya yang sakit akibat tertarik paksa untuk ikut.


Mereka telah sampai didepan rumah pak Samad mereka berdiri sejajar,melihat keadaan rumah yang sepi karena telah larut, dengan lampu teraman serta banyaknya pohon besar yang menggelilingi rumah pak Samad membuat orang bergidik ngeri terutama Endy yang melihat pohon beringin besar milik pak Samsad yang berada disamping rumah, pohon yang ia dan bule Jerman selalu bahas jika saat kencan malam jumat mereka beberapa tahun yang lalu.


"Ayo" Ajak Dika melangkahkan kakinya lebih dulu dia yang lebih tahu seluk beluk rumah itu dan tahu dimana kamar Aulia, mereka mengendap-endap memperhatikan keadaan sekeliling. Dibelakang ada Endy dan Aska menyusul, bibir Aska tak berhenti mengoceh belum terima ia menyusup kerumah orang malam hari apa lagi rumah orang tua galak .


"Sial mimpi apa aku, kenapa aku harus ikut dalam kegilaan ini" omel Aska membungkukkan badanya terus melangkah maju.


"Aska bisa diam ngak, berhenti mengoceh atau kita akan ketahuan" Endy memperingatkan sahabatnya.


Dika menghentikan kakinya membalikkan pandangan pada sahabatnya.


"Itu kamarnya" tunjuk Dika dengan ekor matanya.


"Ayo maju terus" Endy memperhatikan sekitar mereka jalan berhati-hati jangan sampai langkah kaki mereka terdengar.


Dika terus berjalan hingga akhirnya terhenti didepan sebuah jendela kayu yang ia yakini jendela kamar Aulia, Aska dan Endy telah mengumpul.


"Ini kamarnya," jelas Dika berbalik.


"sudah cepat, apa lagi yang kau tunggu, ketuk sana" Saran Endy mereka tak ingin membuang-buang waktu.


"Kami akan menunggu, jangan lama selesai urusanmu kita pulang" pesan Aska ia sudah tak betah berada ditempat ini.


Dika memulai aksinya sebelum mengetuk pintu ia menatap wajah sahabatnya yang memperlihatkan kepalan tangan tanda memberi semangat.


"Dika mulai mengetuk pintu jendela.


"Tok...tok.." Diketuknya perlahan lalu berbisik memanggil nama istrinya.


" Lia, lia" Panggil Dika pelan.


Aulia yang berada didalam kamar meggeliat perlahan mendengar suara ketukan jendela, yang menggangu tidurnya.


"Lia, Lia, ...


Gadis ini memgerjapkan matanya memperjelas penglihatan dan telinganya lalu dia mengarahkan pandanganya pada jendela yang sedikit bergertar dan ada yang memanggil namanya sejenak ia merasa takut, mengira itu adalah orang jahat.


"Lia, Lia,


" Kak Dika" Aulia mengenali suara suaminya lalu dengan cepat ia beranjak dari tempat tidur.kemudian membuka jendela. dengan hati-hati. Saat jendela terbuka ia melihat Dika berdiri menjulang didepan jendela.


"Kak Dika"ucap Aulia terkejut seperti mimpi, tak menyangka suaminya datang selarut ini.


Dika menarik dua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman.


"Kenapa kemari," tanya Aulia binggung.


Dika lalu memanjat jendela masuk kedalam kamar meninggalkan sahabatnya, lalu menutup jendela. Aska dan Endy menunggu diluar.


Dika dan Aulia telah berdiri berhadapan, Aulia menatap heran lelaki ini mendatanginya tengah malam.


"Kakak Ada apa kemari?" tanya Aulia menatap heran.


Dika tersenyum menatap wajah cantiknya yang sangat ia rindukan yang membuatnya tak tenang akhir ini.

__ADS_1


"Aku merindukanmu" ucap pelan, Dika terus menatap wajah istrinya.


Seketika wajah Aulia memerah mendengar ucapan lelaki yang berada di hadapannya, ia tersipu malu, jantungnya berdebar semakin kencang.


Sejenak mereka terdiam saling menatap menenangkan detak jantung yang seakan melompat keluar. Dika lalu menegang tangan Aulia.


"Lia maafkan aku telah membohongi keluargamu" ucapnya penuh penyesalan, ia merasa sangat bersalah karena memulai hubungan dengan kebohongan.


"Sudah, semua telah terjadi, Lia ngak marah" jelas Aulia.


"Kamu tidak marah"


"Tidak" Aulia mengganguk perlahan


Dika tersenyum ia bahagia istrinya tak marah, ia memang beruntung memiliki Aulia yang baik dan sabar, ia semakin sadar ternyata adiknya benar gadis ini yang terbaik dan ia sangat bersyukur bisa menikahi Aulia terlepas bapaknya yang galak.


"Lia ada yang inginku katakan padamu" Dika akan mengutarakan perasaanya pada Aulia yang baru ia sadari setelah berpisah dari istrinya Dika menggengam erat tangan Aulia yang tertuduk.


"Lia aku mencintai mu" jelas Dika, mengutarkan isi hatinya.


Dan Dika merasa lega akhirnya ia mengatakan persaannya pada gadis yang belum satu bulan hidup bersamanya, gadis yang dulu ia tolak dengan keras karena menganggapnya aneh sekarang berbalik ialah yang bertekuk lutut sekarang, didepan anak pak Samad.


Deg..


Aulia mendonggak menatap wajah Dika sejenak mata mereka bertemu Aulia mencoba melihat kebenaran dimata itu dan ternyata ia melihat sinar cinta yang tulus dari manik mata suaminya.


"Aku juga ngak tahu, mengapa aku jatuh cinta padamu begitu cepat, tapi saat ini aku mencintaimu, aku tidak ingin berpisah darimu, aku ingin kita bersama lagi" jelas Dika mencurahkan isi hatinya dan keinginan hidup bersama.


Aulia terpaku mendengar ucapan Dika, kata-kata yang tak pernah ia bayangakan akan keluar dari mulut lelaki yang telah lama ia cintai selama bertahun-tahun akhirnya mencintainya juga dan membalas perasaanya, saat ini ia sangat bahagia dihatinya bagaikan taman yang dipenuhi bunga.


"Lia...Lia..." Dika memegang bahu Aulia mengguncang tubuh yang terpaku.


"Ha..." Aulia tersadar dari lamunanya.


"Apa kau akan kembali padaku, kita akan menjadi suami istri, kita tidak akan terpisah" tanya Dika menatap penuh harap.


Aulia terdiam berfikir sejenak lalu megangguk perlahan.


"Ia, kak Dika, Lia akan kembali, kita tidak akan berpisah, karena lia juga mecintai kak Dika," ungkap Aulia tertunduk malu mengakui perasaan terdalam pada lelaki yang sangat ia cintai.


Mendegar jawaban Aulia Dika lalu menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya mencium puncak kepalanya berkali-kali mengeluakan


"Terima kasih Lia, karena kau mau menerima ku, memberikan kesempatan padaku lagi. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik, dan akan selalu mencintaimu." janji Dika memeluk erat tubuh istrinya.


****


Diluar Aska dan Endy duduk tepat dibawah jendela menunggu sahabatnya berjuang. ditemani semilir dinginnya angin malam dan kegelapan mencekam.


"Ah...Sial kenapa benyak sekali nyamuk disini," keluh Aska menepuk wajah dan lehernya dari gigitan nyamuk yang hinggap ditubuhnya.lalu menatap Endy yang memegang kuat ujung jaketnya.


"Hei lepaskan tanganmu itu!" bentak Aska pelan pada Endy yang memegang ujung jaketnya.terlihat ketakutan


"Aska serem, bagaimana jika disini ada kuntilanak" ucap Endy bergidik ngeri melihat sekitarnya terdapat banyak pohon besar terutama pohon beringin itu.


"Ah..mimpi aku semalam, aku dirumah pak Samad menunggu sahabat gilaku bertemu istrinya. dan kenapa dia lama sekali" Aksa terus mengoceh di sepanjang umurnya baru kali ini ia terus mengoceh karena kesal.


"Endy kenapa? Dika lama sekali, lihat seluruh badanku terasa gatal karena gigitan nyamuk, aku ingin pulang" Omel Aska terus menepuk tubuhnya. sesekali menggaruk bekas gigitan nyamuk, diwajahnya untung saja ia mengenakan jaket yang menutupi tanganya.


"Aku juga ngak tahu kenapa dia lama sekali, seharusnya sebentar saja" ucap Endy santai lalu membelalak, rahangnya terbuka, rasanya ingin jatuh teringat candaannya pada Dika. bahwa ia menyuruhnya untuk menghamili istrinya.


"Aska, aku rasa Dika lama karena,dia akan malam pertama dengan istrinya."jelas Endy.


"Apa....jadi kita harus menungguinya malam pertamanya" Aska ucapnya tersentak semakin gelisah dengan ucapan Endy.


"Kurasa mereka akan melakukanya malam ini"


"Kesialan apa yang aku alami menjaga malam pertama sahabatku dengan bawahan dikantorku, jika tertangakap betapa malunya,jatuh harga diriku dikantor"


"tenang Aska tunggu saja"


Aku tidak peduli aku mau pulang" hardik Aska. menyesali ia telah berlaku konyol.


Mereka terus menunggu dibawah jendela.


Kembali pada Dika dan Aulia.


"Lia aku ingin kita berjuang untuk membuktikan pada orang tuamu, jika kita tidak akan berpisah" pinta Dika ingin Aulia dan dirinya berjuang menyakinkan pak Samad jika ia saling mencintai.


"Lia akan membantu kakak bicara dengan bapak' lalu tersenyum pada Dika.


Melihat senyuman Aulia, hati Dika berdesir ingin ia merasai bibir yang menghasilkan senyuman indah itu, Dika memajukkan wajahnya mengikis jarak antara mereka, melihat suaminya mendekat gadis ini tertunduk malu, entah seperti apa detak jantungnya, tubuhnya terasa lemas tak bertulang melihat wajah suaminya semakin mendekat, Dika merangkul pinggang Aulia hingga tubuh mereka menempel, membuat tubuh Aulia semakin bergetar, lalu Dika mengangakat wajah yang tertunduk malu itu, tersenyum melihat wajah merona istrinya yang semakin mempesona. lalu Dika menempelkan Bibirnya di bibir ranum Aulia mengecup bibir istrinya dengan lembut, Aulia hanya menutup matanya membiarkan apa pun yang dilakukan suaminya. Dika terus memperdalam ciumanya hingga tak sadar hasratnya kelakilakianya telah bangkit, tubuhnya memanas, ia menginginkan lebih dari sekedar ciuman.

__ADS_1


Dika melepaskan ciumannya, lalu menempelkan keningnya dikening Aulia, nafasnya terdengar berat, mata dipenuhi dengan kilatan gairah.


"Lia aku mecintaimu, mau kah? kamu memberi hakku sebagai suamimu" pinta Dika malam ini ia ingin penyatuhan menjadi suami istri seutuhnya.Ia akan meminta haknya sebagai suami. sebenarnya Dika teringat canda Endy yang memberi saran untuk membuat istrinya ini hamil agar bisa mendapatkan restu dari orang tuanya dan ia akan mencoba jalan ini semoga malam pertama ini memberikan mereka jalan untuk bersama.


Deg...


Perasaan Aulia sudah seperti jutaan kembang api yang meledak-ledak ia sudah tak tahu harus bagaimana debaran jantung yang membuatnya lemas. Tapi ia tak bisa menolak suaminya menginginkannya kemudian


Aulia mengganguk perlahan membuat sudut bibir Dika tertarik lalu dengan pelan, ia menggendong tubuh istrinya naik ketempat tidur. dan memulai penyatuhan mereka sebagai suami istri, mereka akan melalui malam pertama mereka, malam penuh cinta hingga terlupa ada dua sosok lelaki yang sedang menunggu di bawah jendela.


***


Dua lelaki itu sekarang terdiam duduk jongkok, menaruh telapak tangan dipipi menopang wajah, melamun di bawah jendela memikirkan kesialan mereka yang menunggu sahabatnya malam pertama.


"Aska apa mereka melakukannya" tanya Endy.


Aska hanya menggendikan bahunya entah jawaban apa yang ia berikan.


"Aaaa" Suara erangan Aulia terdengar hingga keluar saat Dika menembus selaput darah istrinya, mengambil mahkota berharga istrinya.


Aska dan Endy pun membulatkan matanya lalu kompak saling menatap , posisi tempat tidur yang berdekatan dengan jendela membuat mereka mendengarkan pergulatan panas itu.


"Aska dia benar-benar melakukannya" ucap Endy tak percaya menutup mulutnya.


"Baguslah, biarkan saja mereka" ucapnya pasrah tenaganya telah habis ia pakai mengoceh dari tadi.


Sudah hampir satu jam mereka duduk merana dibawah jendela menunggu Dika melakukan malam pertama, menuntaskan hasrat pada istrinya, malam panas itu terdengar hingga keluar posisi tempat tidur yang berada di dekat jendela serta keheningan malam.membuat aktivitas mereka terdengar. Suara desahab dan


dencitan ranjang tempat tidur terdengar ditelinga mereka membuat Aska dan Endy hanya menelan ludah lalu sesekali saling menatap.


Lalu mencoba bicara agar suara itu tak mengganggu mereka.


"Aska sepertinya malam pertama Dika, lebih hebat dari pada malam pertamamu" ucap Endy santai membandingkan malam pertama dika dan Aska. Dia juga dulu menjaga malam pertama Aska sekarang ia harus kembali lagi menjaga malam pertama Dika.


Aska memukul kepala Endy. tak terima malam pertamanya dibandingkan, dengan Dika.


"Diam kau, jangan membandingkan malam pertamaku dengan Dika" ucapnya kesal merasa dirinya payah padahal saat itu ia dan dika berbeda Dika saling mencintai sedangkan ia istrinya hanyanterpaksa.


"Kenapa kau kesal, karena malam pertamamu, kau memang kalah, secara Dika itu bule, ya....kau tahulah" ucap Endy mulai entah melantur kemana menunggu sabahabtnya.


"Kau ...belum tentu juga malam pertamu, hebat"


"Kau tenang saja, malam pertamaku pasti yang paling hebat dan lebih panas, dari punya kalian" ucap Endy dengan penuh keyakinan.


Perbincangan tak jelas terus mereka lakukan demi menghilangkan suara desahan dan dencitan ranjang yang mereka dengar. namun semakin panas pergumulan didalam semakin tubuh mereka juga memanas gairah mereka ikut bangkit. membuat mereka semakin sering menelan salivanya.


"Ah....sial, juniorku bangun lagi"umpat Aska melihat kearah bawah tubuhnya yang ikut mengeras. karena menunggu sahabatnya malam pertama. tubuhnya juga ikut menanas


" Sial...Punyaku juga nih, sih john juga tegang"umpat Endy.


Mereka saling mengumpat karena ikut hanyut dalam suasana. Aska berdiri dia mulai gelisah dan tak tenang ia juga ingin menyalurkan gairahnya, setelah mondar-mandir akhirnya ia tak tahan .lalu memutuskan pulang untuk menemui istrinya.


"Endy kau jaga Dika, aku akan pergi" Ucap Aska suaranya terdengar berat.


"Kemana?"


"Aku mau pulang, kepala ku bisa sakit, aku harus bertemu istriku"jelas Aska yang telah akan meninggalkan Endy.


"Lalu aku bagaimana?kau meninggalkanku sendirian disini," tanya Endy.


"Kalau kau dengan Nayla, lalu aku dengan siapa?"tanyanya polos ia putuh juga pelampiasan


"Sudah kau duduk saja, tunggu saja disini, siapa tahu ada kuntilanak lewat, kamu tarik aja" saran Aska mengucap dengan santai


"Kau gila... kau menyuruhku duduk menunggu kuntilanak lewat, dan kau menyuruhku bercinta dengan kuntilanak itu" Endy bergidik ngeri


"Dari pada tak tersalurkan," ucap Aska santai.


"Aku pulang dulu"pamit Aska meninggalkan Endy yang masih duduk dibawah jendela.


"Aska...Aska..." panggil Endy pelan namun sahabatnya itu tak menghirukannya.ia pun berdecak kesal.


"Sial.. kenapa nasibku begini, selalu menjaga sahabatku malam pertamanya" umpat Endy.kesal lalu menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tanga.


.


.


..


.Like,coment vote ya....

__ADS_1


__ADS_2