
Aska, Dika, Endy dan Nayla keluar dari mall berjalan dengan tergesa-gesa, wajah mereka berubah tegang dan diam seribu bahasa sedangkan Nayla tidak mengerti apapun terheran dengan perubahan sikap mereka yang tiba-tiba dingin dan diam. Dika menarik tangan Nayla kuat agar mengikuti langkahnya membuat ia ikut berlari kecil hingga langkah kaki itu terhenti mereka berhenti di pakiran mobil dimana mereka memarkirkan mobilnya .
"Kak Dika pelan-pelan aja, jangan buru buru" Protes Nayla suaranya terengah-engah mengikuti Dika.
Di parkiran mobil ternyata telah terjadi perkelahian antara pengawal Aska dan gerombolan yang mengikutinya. Beberapa pengawal Aska telah terkapar tak berdaya di lantai disana juga ia melihat Aldy berjuang mempertahankan diri dari serangan benar kata Aldy mereka kalah jumlah.
"Tuan pergi dari tempat ini kami akan menghadangnya" Teriak Aldy saat melihat Aska sambil menghajar orang yang ada didepannya
Namun beberapa orang yang menyerang pengawal Aska memecah, sebagian berjalan menuju ke arah Aska. Melihat Aska gerombolan itu lalu berdiri di hadapan mereka berempat siap menyerang terus melangkah maju perlahan.
"Kak Dika siapa mereka, apa yang terjadi" Tanya Nayla memeluk tubuh kakaknya erat, tubuhnya bergetar ketakutan melihat banyak orang yang menghadang langkah mereka.
"Bukan siapa-siapa Nay kamu tenang aja" Jawab Dika melindungi tubuh Nayla dengan tubuhnya.
Melihat Nayla yang ketakutan Aska menjadi merasa bersalah dan sedih pada Nayla, dia tak berdaya wanita yang dicintainya masuk kedalam bahaya karena cintanya. Sekarang hatinya terluka melihat Nayla ketakutan.
"Dika pergilah bawa Nayla dari sini" Aska berbicara pelan dengan Dika yang memeluk Nayla erat karena ketakutan, ia memperhatikan gerak-gerik musuh yang siap menyerangnya.
"Tidak kau saja yang pergi bawa Nayla bersamamu" Ujar Dika pelan menatap ke depan dengan tatapan tajam dan mundur selangkah demi selangkah.
"Ia Aska pergilah bawa Nayla kami berdua akan mengurusnya" Jelas Endy sudah siap menghajar lawan yang maju selangkah demi selangkah.
"Tidak.... mereka hanya ingin mengincarku, menginginkanku jika Nayla pergi bersamaku ia bisa menyerang Nayla juga, menyakiti Nayla aku tak ingin dia terluka sedikit pun, pergilah bawa Nayla kita sudah tak punya waktu." Jelas Aska memasang badan untuk Nayla.
Deg........mendengar kata-kata Aska, Nayla membelalakan matanya dipelukan Dika. Hatinya bergetar lagi-lagi Aska melindunginya dan takut ia terluka, dia rela mengorbankan dirinya demi Nayla ada rasa terharu dihatinya.
"K**ak Aska kau selalu menjaga dan melindungiku
semakin jauh aku membuat jarak padamu semakin dalam perhatianmu padamu, aku berikap dingin padamu, kau masih mau menukar nyawamu dengan keselamatanku, kau terus berkorban tapi aku menyiayiakanmu"gumam Nayla dalam hati
"Endy kau bawa Nayla dari sini aku akan menemani Aska disini cepat" Bentak Dika
"Baiklah aku akan membawa Nayla" Jelas Endy
"Endy cepat bawa Nayla dari sini lindungi dia, tapi ingat jangan memegang tangannya erat, jangan memeluknya, jangan mengambil kesempatan dalam keadaan ini" Ujar Aska mengoceh dalam keadaan genting.
Dika dan Endy kompak menarik nafas panjang menghembuskan kasar.
"Situasi sudah dalam bahaya kau masih bisa cemburu" Ujar Dika yang kemudian kompak menggelengkan kepalanya dengan Endy.
Endy lalu menarik tangan Nayla dari pelukankan Dika lalu merangkul bahunya.
__ADS_1
"Ayo kita pergi dari sini Nay" Endy membawa Nayla menuju mobil dengan berjalan cepat.
"Kak Dika, Kak Aska" Ia berbalik ke belakang meneriaki nama mereka, namun Endy memaksanya menjauh dari tempat perkelahiaan itu.
Melihat Endy dan Nayla telah pergi menjauh gerombolan itu langsung menyerang Aska dan Dika. baku hantam pun terjadi saling menyerang mempertahankan diri.
Endy dan Nayla pergi dari tempat itu menuju mobil Aska yang terparkir Endy membuka pintu mobil memaksa Nayla masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi belakang.
"Kak Endy siapa mereka ?" Tanya Nayla panik ia terus melihat ke arah belakang mobil
"Dia bukan siapa-siapa Nay, tenanglah Nay kau tak perlu takut" Jelas Endy mengenakan sabuk pengaman, menghidupkan mobil memegang setir mobil lalu memacu kendaraan itu dengan cepat .
"Tapi aku mendengar kalimat kak Aska, katanya ia mengincar kak Aska, apa dia musuh kak Aska" Tanya Nayla penuh ketegangan fikirannya mulai kacau. Aska adalah presdir jadi dia pasti punya banyak musuk itu fikir Nayla air matanya mulai meleleh memikirkan Aska disana
"Sudahlah kau tak pelu perlu risau yang penting kakak akan membawamu ketempat yang aman sekarang" Jelas Endy terus fokus dengan jalan yang ada didepannya ia sudah meninggalkan lokasi mall
"Kak Endy kita meninggalkan mereka" Protes Nayla air matanya jatuh berlinangan membasahi pipinya.
"Ini perintah Aska Nay, kak harus melindungimu" Jelas Endy.
Nayla tertunduk memperdalam tangisanya ia sangat sedih bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka, bagaimana jika ia harus kehilangan mereka, ketakutan menyelimuti hatinya fikiran buruk menarik difikirannya
"Tidak Nay, disana tidak aman" Menolak keinginan Nayla masih menatap ke depan.
"Kak Endy disana ada kakakku dan kak Aska berjuang bertarung nyawa sedangkan kau hanya memikirkan keselamatanku, aku tak mau pergi, aku ingin kembali, lebih baik aku mati bersama mereka dari pada melihat sesuatu terjadi pada mereka." Jelas Nayla Kacau
"Nay kita ngak bisa kembali Aska bisa gila jika sesuatu terjadi padamu" Jelas Endy sangat tahu Aska, Nayla adalah nyawanya, Aska akan marah besar jika sesuatu terjadi pada Nayla karena kecerobohan dirinya .
"Ke**napa dia selalu rela berbuat apa pun demi aku, hingga rela mengorbankan semua miliknya, bahkan nyawanya untukku, demi bisa melihatku bahagia dan melakukan apa pun demi menjaga agar senyum terus terpancar dia wajah ku walaupun ia tahu demi senyumanku ia harus membayar dengan nyawanya, jadi ini yang membuatnya melarangku keluar rumah tapi karena ingin melihat aku bahagia dia mengizinkanku keluar dan sekarang karena kebodohanku menggodanya dia jadi dalam bahaya.
Nayla tertunduk mengeraskan tangisannya terisak, air matanya mengalir bertambah deras.
"Hisk.....hisk......hiks...Kak Endy aku mohon kembalilah mereka mengincar nyawa kak Aska, dia akan membunuh Kak Aska, aku tak mau kehilangan dia aku tak mau kehilangan suamiku" Mohon Nayla dalam tangisannya membuat yang mendengar bagaikan disayat-sayat.
Endy lalu menginjak rem mobil dengan kuat hingga tubuh mereka tersentak ia berhenti mendengar permohonan Nayla, ia merasa iba melihat tangisan Nayla yang menangis memohon untuk suaminya, ia sangat terkejut kata suami keluar dari mulut Nayla ada sesuatu yang retak dan hancur dalam hatinya. Ia telah menyadari di lubuk hati Nayla sudah mulai ada nama Aska walaupun Nayla tak menyadarinya, benar kata pepatah rasa kehilangan akan membuat orang menyadari orang itu sangat berarti, seperti yang ia lihat sekarang, Nayla sangat mencemaskan Aska ia takut kehilangan Aska hingga lupa disana juga ada kakaknya.
Endy lalu memutar mobilnya kembali ketempat Aska dan Dika.
Nayla dan Endy telah sampai ke tempat perkelahian. Di parkiran ia melihat Aska dan Dika kewalahan menghadapi gerombolan itu. Endy melepas sabuk pengamannya.
"Nay, tunggu disini apapun yang terjadi jangan tinggalkan mobil ini tetaplah berada di dalam mobil ini, kakak akan menolong mereka dan kami akan segera kembali." Jelas Endy membuka pintu mobil.
__ADS_1
Endy turun dari mobil menyusul Aska dan Dika ia langsung bergabung menghajar semua orang yang menyerang Aska, Dika dan Aska tersentak melihat Endy tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Bodoh kenapa kau kembali" Teriak Aska kesal sambil membanting lawan yang ada didepannya
"Dimana dia" Tanya Dika
"Dia di mobil. Dia tak mau pergi tanpa kalian, dia menyuruhku kembali" Jelas Endy.
"Baiklah kita selesaikan ini lalu pergi" Melayangkan tinju yang keras kewajah lawannya.
Tak beberapa lama kemudian bala bantuan datang, pengawal Aska datang dalam jumlah banyak memasang badan untuk ketiganya hingga akhirnya mereka bisa kabur dari tempat itu, mereka bergegas masuk kedalam mobil
"Kak Aska" Peluk Nayla saat Aska duduk disampingnya membenamkan wajahnya didada Aska.
"Jangan takut Nay, ngak akan terjadi apapun sama kamu, ada kakak disini, kakak akan melindungimu" Memeluk Nayla erat melindungi Nayla dengan tubuhnya ia bahkan sangat khawatir dengan keadaan Nayla tak peduli dengan dirinya.
"Endy sebaiknya kita pulang kerumahku saja, aku merasa mereka mencurigai kehadiran Nayla, Jika kita menbawa Nayla kerumah Aska kita bisa ketahuan" Jelas Dika.
"Baikklah" Endy memacu kendaraannya dengan cepat menuju rumah dika"
***
Baku hantam masih terus terjadi antara pengawal Aska dan gerombolan suruhan paman Yuga, pengawal Aska mulai menguasai perkelahian dan gerombolan itu mulai kewalahan namun disaat bersamaan terdengar seseorang sedang menelpon.
"Tuan Yuga kami melihat gadis itu, sepertinya dia tidak ke Jerman" Jelas lelaki itu kemudian sesaat terdiam mendengar suara dari handphonenya.
"Saya meminta izin tuan untuk menyelidiki gadis kecil itu tuan, apa benar mereka hanya kakak-adik seperti yang tuan katakan atau lebih" Ujar lelaki itu masih menempelkan handphonenya di telinga.
"Baiklah tuan kami akan menyelidiki gadis itu dari mana dia dan apa hubungannya dengan tuan Aska?apa hubungannya masih sebatas kakak-adik dengan tuan Aska." Ujar lelaki itu memutuskan telponnya dengan seringai licik dibibirnya.
.
.
.
.
.
Like,coment,vote, ya.........
__ADS_1