Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
menikah


__ADS_3

Waktu seminggu telah berlalu hari ini adalah hari bahagia untuk Nayla hari pernikahan Dika dan Aulia mereka akan mengikat janji suci seumur hidup dengan tali pernikahan. Nayla sangat bahagia, keluarga baru akan masuk dalam hidup mereka, hadirnya Aulia akan sedikit mengurangi bebannya sebagai wanita satu-satunya yang berada diantara 3 lelaki itu.


Nayla masuk ke dalam kamar kakaknya melihat apakah lelaki yang terpaksa menikah ini telah siap.


"Kak Dika ayo cepat" Nayla melihat kakaknya duduk termenung dipinggir tempat tidur.


"Bentar Nay" Dika masih duduk Nayla menghampiri kakaknya dengan wajah ceria. ia sangat antusias kakaknya akan menikah melangkah maju menata hidupnya tidak terpuruk lagi oleh patah hatinya.


"Kak semangat dong, kakak kan akan menikah, senyum dong" Nayla mencubit gemas pipi kakaknya.Dika hanya tersenyum dipaksakan.


"Nay yakin kakak akan bahagia dengannya kita lihat aja nanti, dalam waktu sebulan saja kakak akan jatuh cinta padanya nanti," jelas Nayla ia percaya Aulia bisa membuat kakaknya lupa pada mantannya hanya satu bulan.


"Nay 8 tahun sama 1 bulan, ngak mungkin" protes Dika sangsi jika ia bisa melupakan Caren dan mencintai Aulia, apalagi Nayla menjanjikan hanya satu bulan.mustahil baginya.


"ikatan suami istri itu berbeda dengan hubungan pacaran ikatan pernikahan itu kuat dari hati,awalnya memang hanya ingin melindungi tapi semakin lama cinta itu akan masuk saat kita saling mengasihi dan saling peduli, coba saja nanti kakak akan tersentuh dengan kebaikan kak Aulia" Jelas Nayla.


Dika tersenyum remeh, pada Nayla bocah kecil ini menasehatinya.


"ingat kak, Nay juga dulu sama kak Aska juga seperti itu menolak,Nay berfikir ngak mungkin Nay jatuh cinta pada orang yang sangat jauh berbeda denganku, tapi lihat sekarang, Nay sangat mencintainya walaupun banyak perbedaan diantara kami,cinta ngak pakai logika tapi hati" Jelas Nayla.


Dika menatap lembut adiknya sekarang ia merasakan yang dulu Nayla rasakan menikah dengan orang yang tidak dicintai. dan ia berharap juga ia bisa mencintai Aulia sama seperti Nayla yang kehidupannya telah bersemi cinta seiring berjalannya waktu.


"Sudah ayo kita pergi" Ajak Nayla.


"Nay" Teriak Aska dari luar.


"Tuh kan, nanti kalau kakak jatuh cinta pada kak aulia kakak juga manja seperti itu ngak mau lepas dari kakak Aulia" Nayla tersenyum membayangakan jika kakaknya yang cuek juga bermanja dengan istrinya.


" Nay kamu dimana?" Panggil Aska.


"Nay boleh saran ngak?"


"Apa?" Tanya Dika penasaran.


"Kalau kakak udah mencintai istri kakak nanti jangan seperti kakak Aska, manja banget, jangan mencontoh sahabat kakak itu, jangan mencintai wanita seperti kak Aska ngak baik," Jelas Nayla terkekeh.


"Ngak bakalan kakak seperti Aska, Nay dia itu sangat mencintaimu, kamu segalanya bagi Aska dan dia sudah mendambakanmu sejak lama. Berjuang susah payah untuk mendapatkan hatimu jadi ia seperti itu karena itulah ia tak mau kau pergi darinya sedikitpun" Jelas Dika walau kadang ketus melihat cara Aska bermanja pada Nayla tapi ia mengerti sahabatnya itu sangat mencintai adiknya dan hanya itu wanita satu-satunya dihatinya.


"Ia Nay ngerti, kak Aska sangat mencintai Nay"


"Nay"


Nayla menarik nafas panjang lalu beranjak dari tempat tidur Dika ia akan keluar menemui suaminya tersayang.


"Kak Aska, baru ditinggal sebentar juga"Nayla menatap suaminya yang duduk disofa sambil menghisap sari air jeruk nipis.


"Sayang jangan jauh-jauh kepala kakak pusing kalau ngak lihat kamu" Aska lalu mengambil lengan Nayla.


"Kak manja banget sih" Protes Nayla


Sudah seminggu Aska berubah aneh ia sangat menyukai jeruk nipis belum lagi tingkah manjanya kelewat batas sudah seperti anak kecil yang selalu ingin berdekatan dengannya,hingga Nayla sangat sulit bergerak, bahkan di kantorpun Aska tanpa malu mengandenganya bermanja, hingga saat rapat kantorpun ia masih melakukan panggilan Video call kepalanya pusing jika tak melihat istrinya.


"Jangan jauh-jauh" ucap Aska sambil menghisap jeruk nipis seperti bayi yang sedang mengempeng membuat Nayla selalu meringis melihat tingkah lelaki ini.


"Kakak kita harus jaga jarak jangan sampai pak Samad tahu kita bukan saudara" Jelas Nayla yang masih merahasiakan hubungannya dengan Aska.


"Ia ntar disana aja, sekarang peluk dulu" Aska memeluk tubuh mungil Nayla mengecup puncak kepalanya.


"Hei... pelukan mulu, ayo pergi" Teriak Endy.


Nayla dan Aska terjengkit kaget mendengar teriakan Endy.


Endy, Aska, Nayla dan calon pengantin telah siap untuk pergi ke pencatatan pernikahan dengan langkah kaki tak bersemangat Dika berjalan menuju mobil, Nayla menarik dua sudut bibirnya melihat kakaknya ia teringat dulu juga ia berjalan seperti itu ketika akan menikah dengan Aska, semua kejadian yang dulu Nayla alami sekarang berulang pada kakaknya.


Merekapun menuju tempat pencatatan pernikahan semua terdiam teringat kejadian Nayla dan Aska yang hanya menikah diam-diam terulang lagi pada Dika dan Aulia, Nayla menyesali kebodohannya tentang pekerjaan kakaknya tak seharusnya kakaknya menikah seperti ini, kakaknya seharusnya menikah dengan cara yang baik pesta mewah, dengan banyak undangan yang mendoakan, gaun pernikahan yang indah semua tak ada dihari bahagia ini.


🌺🌺🌺


Mobil menepi telah sampai ditempat tujuan mereka turun dari mobil, Nayla mengandeng tangan kakaknya , ia akan mendampingi kakaknya berjalan lebih dulu meninggalkan Endy dan Aska yang berada dibelakang.


Ditempat itu Nayla melihat Adit berdiri telah menunggu.mereka pun mendekat.


" Hai Nay" Sapa Adit tersenyum manis pada Nayla seperti ia dari tadi menunggu kedatangan Nayla.


"Hai Dit, kak Aulia mana?" Tanya Nayla matanya berputar mencari pak samad dan Aulia.


"Udah menunggu didalam sama bapak" Adit menunjuk ruangan dengan Ekor matanya.


"Kak ayo masuk sana" ajak Nayla berbalik melihat kebelakang Aska dan Endy yang ternyata telah berada dibelakanganya.


"Nay kamu lihat ngak, diluar ngak ada pelangi,tapi kenapa ya bidadarinya ada disini" Gombal Adit ia tak tahan tak jika tak menggoda Nayla ia sangat menyukai Nayla ia bahkan tak peduli gadis ini akan menjadi saudara iparnya.ia sudah tergila-gila dengan kecantikan sibule Jerman.

__ADS_1


Nayla hanya tersenyum simpul pada saudara iparnya sedangakan Aska mendengar Adit lagi-lagi merayu Nayla, wajahnya memerah tangannya terkepal.


"Aska" Dika melototkan matanya pada Aska menyuruhnya tenang dan memaklumi sikap Adit.


" Aska sabar adik ipar Dika tuh"


"Ia aku tahu seketika wajah Aska berubah kepalanya terasa pusing perutnya terasa teraduk.


"Woek"Aska hendak muntah namun ia masih menahannya lalu dengan cepat ia berlari.


"Aku ke toilet dulu" Aska pamit ia menutup mulutnya, semua yang berkumpul diruangan itu menatap aneh kearah Aska, kenapa ia tiba-tiba mual padahal ia baik-baik saja.


"Kakak masuk saja duluan, Nay mau lihat kak Aska sepertinya dia sakit" pamit Nayla.


"Pergilah lihat dia, biar kakak masuk dengan endy" Jelas Dika yang juga khawatir melihat Aska.


Nayla meninggalkan kumpulan itu mengejar suaminya yang entah mengapa tiba-tiba mual.


"Wooek"Aska memuntahkan seluruh isi perutnya Nayla masuk ke dalam memijat pangkal leher Aska


"Kakak kenapa" Tanya Nayla khawatir.


"Ngak tahu Nay kakak mual" Jelas Aska wajahnya pucat.Aska merasa ada yang aneh dengan tubuhnya ia tadi baik-baik saja kenapa sekarang ia mual.


Setelah satu jam kemudian.


Setelah masuk dalam ruangan mencatatkan pernikahannya, Dika dan Aulia telah resmi menikah semua telah selesai, Nayla keluar menemui Aska yang duduk lemas dibangku panjang. ia sangat khawatir melihat keadaan Aska yang terus muntah jika mereka berkumpul.


Mereka telah keluar dari ruang menjadi suami istri. pak Samad terlihat sangat sedih melihat anaknya telah menikah itu berarti ia telah memberikan tanggung jawab pada Dika.


"Aku sudah menyerahkan anak kesayanganku, jaga dia baik-baik, bahagiakan dia" Pesan pak Samad raut wajah sedih tercetak di wajahnya.


"Saya akan menjaga anak bapak dengan baik" Dika menjawab mantap berdiri berdampingan dengan Aulia.


" Ingat kepalamu jadi taruhannya, jika membuat anak saya menangis" Ancam pak Samad sebenarnya ia tak ingin memilih Dika sebagai memantunya tapi karena Aulia yang bersikeras tak akan menikah dengan siapapun jika lelaki itu bukan Dika akhirnya ia setuju dengan pilihan anaknya.


Pak Samad berhambur memeluk anak kesayangannya dengan lembut ia menasehati anaknya.


" Aulia jadi istri yang baik apa pun pekerjaan suamimu, tetap hormati dia, urus dia dengan baik" Pesan pak Samad sangat terharu tak ada wajah sangar lagi lelaki ini berubah lembut pada anaknya.


"Baik pak" Aulia meneteskan air matanya terharu.


"ingat jika ia menyakitimu bilang sama bapak" Ancam pak Samad menatap tajam pada Dika.


"Ingat rumah kita sangat dekat aku akan datang mengunjungi kalian seriap hari" Jelas pak Samad.


"Baiklah pak" Dika tertunduk ia melihat kerahah Aska dari tadi ia menghawatirkan sahabatnya.


Kami ke sana dulu pak" menunjuk kearah tempat Adit juga berkumpul disana.


Dika menatap wajah Aulia dengan tatapan lembut seketika manik mata mereka bertemu Aulia terdiam jantungnya serasa ingin lompat keluar saat melihat wajah Dika dari dekat, Dika sepertinya mulai mengerti jika wanita ini selalu aneh jika berada didekatnya, ia menarik lembut tangan Aulia mengajak istrinya untuk bergabung dengan sahabatnya dan adik iparnya, Aulia lagi-lagi terdiam ini pertama kalinya Dika menyentunya hatinya terasa berbunga ia tak pernah menyangka jika lelaki yang ia kagumi sejak dulu sekarang menjadi suaminya.


Endy, Aska, Nalya, Adit dan duduk sejajar dibangku panjang, Aska menyandarkan kepalanya dibahu Nayla ia sudah sangat lemah entah telah berapa kali ia selalu mual dan muntah.


Dika dan Aulia berdiri didepan mereka berpegangan tangan.


"Bagaimana keadaan Aska? Tanya Dika.


"Dia Masih mual" Jelas Nayla, berdiri memeluk Aulia ia ingin memberikan selamat pada kakak ipar idamanya.


"Selamat ya kakak, bahagia selalu, kalau kak Dika ngak bahagiin kakak laporin aja sama bapak" Ucap Nayla tersenyum melihat kearah Dika.


"Makasih adikku sayang" Aulia memeluk Nayla.


"Selamat brother, ingat bahagiakan dia, atau kau dicincang bapaknya" Endy berbisik memeluk sahabatnya lalu terkekeh.


Aska pun berdiri dengan lemah memeluk sahabatnya mengucapkan selamat ia mengutuki dirinya di hari penting sahabatnya ia malah selalu mual entah sebab apa.


"Selamat Dika, jaga dia baik-baik , jangan kecewakan dia" pesan Aska, Aska memeluk sahabatnya sekaligus kakak iparnya. sekarang mereka berkumpul bertiga.


" Endy tinggal kau belum menikah, kapan?" ucap Aska


"Kau tenang saja secepatnya aku menyusul, untung kita taruhan kalau tidak kau tidak akan menikah" bisik Endy pelan ternyata ia sengaja mengajak Dika taruhan karena ia iba melihat Dika yang merindukan wanita yang tak pantas ia berikan cintanya.


"Jadi kau mengalah lagi demi sahabatmu, pura-pura kalah" Aska merangkul Endy ia bisa dengan mudah menang taruhan dengan Dika tapi ia ingin Dika bahagia lebih dulu.


"Dasar kau ini,"Dika merangkul Endy.


"Sekarang bagaimana jika kalian berdua lagi yang bertaruh siapa yang cepat memberiku keponakan bule Jerman Junior" tantang Endy.


"Oke siapa takut, mulai sekarang aku kencengin nih, kejar target " Ucap Aska mantap

__ADS_1


"Dika bagaimana?"


"Kali ini aku ngak ikutan" tolak Dika lemah


"Cemen masa ngak berani sih"


"Sudah jangan bahas itu lagi" Dika menghindar dari tantangan Endy ia masih ragu apa ia bisa melakukannya dengan Aulia, adilkah bagi gadis itu jika ia memintah haknya sedangkan namanya gadis itu tidak ada dalam hatinya.


Mereka berhambur saling memberi selamat.


"Selamat ya Nay sekarang kita iparan kita bisa akrab, bisa jala-jalan" ucap Adit menyalami Nayla.


"Jalan"


"Ia jalan kepelaminan juga" Gombal Adit membuat mata Aska membulat, lelaki ini terus mengoda istrinya.


"Sabar Aska, dia adik ipar Dika" endy menenangkan Aska.


"Aku mual jika melihat situkang gombal itu" Jelas Aska


"Aku mual.....uwek.....Ucap Aska yang langsung memuntahkan cairan bening ditempat sampah disampingnya ia sudah tak sanggup lagi lari ke toilet. Nayla yang melihat Aska yang dari tadi terus mual merasa kasihan.


Aska duduk disamping Nayla menyandarkan kepalanya pada Nayla. kepalanya terasa berat. Adit juga ikut duduk disamping Nayla ia terus mencoba dekat dengan Nayla.


"kenapa sih Nay setiap bareng kamu itu rasanya kaki ini ingin juga terus melangkah kepelaminan sama kamu" gombal Adit.


Uwek.....lagi-lagi ia muntah kenapa setiap bicara dengan Adit dia selalu muntah. Endy yang dari tadi bergabung dengan kumpulan itu mulai mengerti sikap Aska dia akan muntah jika ia mendengar Adit merayu Nayla.


"Aska jika aku perhatikan kau akan muntah jika dia menggoda Nayla" bisik Endy pada Aska.


Aska tercengang mulai berfikir dari tadi lelaki ini memang terus merayu Nayla dan setiap gombalan itu keluar ia akan muntah.


"Ia kau benar,Aku akan muntah jika ia merayu Nayla"Aska mulai menyadari fakta rivalnya ini dari tadi ngak berhenti merayu Nayla hingga sekarang semua isi perutnya telah terkuras.


"Kau lucu, Nayla aja yamg digombal ngak enek,kenapa kau yang muntah" ucap Endy santai.


"Hei berhenti menggangunya, jangan merayunya lagi,atau kuhajar kau" Ancam Aska dia sudah sangat menderita mendengar rayuan adik ipar Dika,tubuhnya telah lemas mendengar gombalan yang berefek pada dirinya.


"Kak tinggi, memangnya kenapa? kakak ngak pernah muda, aku menyukai adikmu" Jelas Adit membuat Aska semakin emosi.apa lagi dia memanggilnya dengan panggilan kak tinggi.


"Hei Dia itu iparmu" bentak Aska


"Kak tinggi ngak masalah namanya juga jodoh"Adit terus menggoda Nayla Nayla hanya diam menarik nafas panjang berada ditengah 2 lelaki yang bersaing ini.


"Makanya Nay kamu stop dong, berhenti menari difikiran aku" gombal Adit.


membuat tiba-tiba perut Aska seperti teraduk.


Uwek....Aska kembali muntah mendengar rayuan rivalnya. ia sudah sangat lemah ia juga tak mengerti kenapa ia harus mual hanya mendengar rayuan pemuda itu, ia merasa aneh dengan tubuhnya akhir-akhir ini.


"Hei hentikan kau mau membunuhku" Ucap Aska pelan ia sudah sangat lemah.


"Kak tinggi kenapa sih, diam aja ini urusan anak muda" ucapnya ketus dari awal Adit juga tak suka dengan Aska yang selalu menatapnya tajam.


"Nay selama kita ketemu, kamu ngak di cariin kakak kamu?"


"Dicariin" Jawab Nayla heran ia binggung bicara dengan adit ia tak bisa membedakan yang mana rayuan dan bicara serius.


Aska yang melihat Adit akan mengeluarkan gombalanya berdiri dengan cepat jangan sampai ia muntah lagi karena kalimatnya ini pasti rayuan untuk Nayla.berlari melangkahkan kakinya cepat.


"Jangan" kompak Endy dan Aska berteriak.


Aska telah berada didepan Adit mencoba membungkam mulut pemuda itu namun apa daya.ia terlambat


"Karena setiap malam kamu selalu hadir di mimpi aku" ucap Adit tak memperdulikkan Aska yang ada didepannya.


Uwekk.....Aska kembali muntah namun kali ini ia muntah tepat di tubuh rivalnya.


Adit meringis jijik melihat tubuhnya yang penuh muntah Aska.


"Ih kak tinggi jorok, masa muntah di badan aku"Protes Adit kemudian berdiri


"Kak Aska ngak sopan, kenapa kakak muntah dibaju adit, kakak sakit ayo kita pulang" Ajak Nayla yang khawatir sekaligus merasa tak enak pada adit.


"Maaf Dit, kakak aku kurang enak badan."Ucap Nayla merasa bersalah.


"Ngak apa-apa"


"Kamu ngak apa-apa,?" Endy menepuk bahu sahabatnya.


"Ngak apa-apa aku benar-benar mual mendengar rayuan, aku sudah ngak kuat aku lemas,aku bisa mati" keluh Aska yang didengar oleh Nayla, Endy tersenyum melihat Aska yang tak berada dihadapan rivalnya.fikirannya merasa aneh sudah seminggu ini sahabatnya sangat aneh.

__ADS_1


like, cometn ,vote....


__ADS_2