
Aska telah sampai didepan gedung Dirgantara Mitra yang menjulang tinggi, turun dari mobil disambut oleh Pak Chan yang sedari tadi menunggunya.
"Selamat pagi tuan" Sapa Pak Chan menundukkan kepalanya.
"Apa semua sudah siap " Tanya Aska dengan wajah datar dan sikap dinginnya.
"Sudah tuan mereka dari tadi menunggu anda diruang rapat.
Aska berjalan cepat masuk kedalam kantor, semua karyawan yang ia lewati menundukkan kepala, Ia berjalan dengan gagah. Pak Chan dan beberapa karyawan ikut mengekor dibelakang Aska yang masuk ke dalam lift.
"Pak Chan waktuku hanya sebentar, aku akan pulang setelahnya" Ucap Aska sambil menunggu lift terbuka.
"Baiklah kami akan mengurus semuanya nanti tuan "
Pintu lift terbuka Aska berjalan menuju ruangan rapat ketika sudah didepan ruang dengan sigap Pak Chan membuka pintu untuk Aska.
Aska masuk kedalam ruang rapat langsung disambut karyawannya dengan berdiri menundukkan kepalanya, Aska pun duduk dan mulai memimpin rapat.
Rapat sudah berjalan hampir satu jam namun belum juga selesai fikiran Aska mulai tak fokus ia terus memikirkan Nayla, entah mengapa hatinya tak tenang, harusnya hatinya berbunga karena mendapatkan ciuman dari Nayla namun ia merasa terus cemas.
Aska terdiam tak menghiraukan laporan-laporan dari orang yang berdiri sambil menjelaskan, perasaannya cemas, tatapannya kosong ia lalu merogoh saku celananya memantau rumahnya dari kamera cctv yang tersambung di ponselnya.
Aska menggeser layar ponselnya tak memperdulikan rapat lalu memperhatikan ponselnya lekat.
"Nayla" Ucap Aska membelalakan matanya, wajahnya berubah pucat, tubuhnya bergetar serasa tersambar petir, melihat banyak orang asing menyerang rumahnya dan pengawalnya telah terlibat baku hantam. Tak terasa handphone itu jatuh dari tangannya membuat suara gaduh. Aska tersadar ia kembali meraih ponselnya dengan kasar lalu berdiri, berlari meninggalkan ruang rapat, membuat semua anggota rapat menjadi ikut berdiri melihat Aska berdiri, memasang wajah heran saat Aska berlari dengan cepat meninggalkan mereka. Ruang rapat seketika menjadi gaduh .
"Tuan ...Tuan " Panggil Pak Chan ikut berlari mengejar Aska.
"Aku harus pulang pak Chan, urus semua, tunda rapat ini." Jelas Aska lalu berlari menuju parkiran mobil anak buahnya yang melihat Aska ikut menghampiri tuannya, Aska lalu meminta kunci mobil pada supirnya ia ingin menyetir mobil sendiri dengan kencang agar ia bisa cepat sampai.
Aska masuk kedalam mobil wajahnya panik ia meraih earphone dilaci mobil lalu menaruhnya disebelah telinga mencoba menelpon kedua sahabatnya.
Aska kemudian menghidupkan mesin mobil lalu memacu kendaraannya dengan kencang.
Aska meraih ponselnya menghubungi Dika dan Endy namun kedua lelaki itu sibuk berdebat, tak mendengar panggilan Aska.
__ADS_1
"Sial .....kemana kalian"Teriak Aska frustasi.
Aska kembali menghubungi seseorang.
"Max bantu aku kirim semua orangmu kerumahku ,rumahku telah diserang " Teriak Aska lalu memutuskan telponnya
Aska menambah kecepatan laju kendaraannya
"Tunggu kakak Nay, kakak akan melindungimu" Ujar Aska panik.
"Ah........Sial, ternyata ini perasaan yang tak enak terus terusan tadi " Teriak Aska memukul setir mobilnya berkali-kali
"Harusnya aku tak meninggalkanmu tadi"Sesal Aska
"Aku akan menghabisi siapapun yang menyentuhmu mu Nay, tunggu kakak" Aska menginjak gas mobilnya semakin kuat.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Di rumah Dika
Endy dan Dika masih sibuk memilih nama, dari tadi mereka terus berdebat hingga tak ada yang mendengar panggilan telpon Aska.
"jangan Queen, Ratu aja "Protes Dika yang kembali memancing suasana perdebatan terjadi.
"Queen dan Ratu kan sama saja artinya lebih baik Queen" Karena nanti dia akan jadi ratu bagi kita
"Ratu aja! kedengaran lebih indah menjadi awal nama" Jelas Dika santai.
"Kau ini kenapa kau selalu protes, pokoknya Queen pemberian nama dariku, kalau kau mau cari nama lain "Endy membuang kertas dan pulpennya lalu merilekskan tubuhnya, berjam-jam ia mencari nama untuk calon keponakannya ternyata melelah juga. Endy beringsut naik keatas sofa yang empuk, sedangkan Dika masih sibuk dengan buku namanya .
Drt.....Dtr......Getar telpon Endy akhirnya terdengar yang terletak di meja.
Endy meraih telponnya lalu mengernyitkan dahinya karena melihat daftar panggilan telpon Aska yang begitu banyak.
"Halo Aska" Endy
__ADS_1
"Kalian dari mana saja, mereka menyerang rumahku" Teriak Aska
"Apa ..." Endy lalu berdiri dengan cepat memutus telponnya dengan wajah panik ia melihat kearah Dika.
"Dika gawat mereka menyerang rumah Aska" Ucap Endy panik
"Nayla" Dika bergerak bangun dari duduknya, melemparkan buku nama yang dari tadi berada ditangannya.
Dika dan Endy lalu bergegas masuk kedalam kamar masing-masing membuka lemari pakaian mengambil tas lalu menarik laci mengambil senjata dan peluru, memasukkannya kedalam tas, menarunya tali tas dibelah dipundak kemudian berlalu keluar kamar.
Dika dan Endy berlari menuju mobil dengan pikiran masing-masing wajahnya bercampur panik dan ketakutan, ini pertama kalinya mereka sangat takut pada penyerangan ini. Karena disana ada Nayla, mereka sudah terbiasa menghadapi serangan tapi kali ini Nayla terlibat dalam serangan ini.
Dika duduk dikursi kemudi ia mulai menghidupkan mobilnya lalu memutas stir.
"Endy hubungi Aska kembali" Perintah Dika sambil memacu kendaraanya dengan cepat Endy meraih handphone disaku celananya lalu menghubungi Aska memberi tahu pesan Dika
"Katakan pada Aska untuk menunggu kita jangan bertidak gegabah "
"Kenapa menyerang rumah Aska " Tanya Dika penuh tanda tanya ia sangat mencemaskan adikknya, harta yang paling berharga adalah adiknya hanya Nayla yang ia punya.
"Mungkin dia sudah tahu semua tentang Nayla " Jawab Endy menebak
"Kenapa dia menyerang Nayla apa tujuannya mereka,aaah ....... "Teriak Dika frustasi ia sangat mengawatirkan adik kesayangannya.
"Apa dia juga akan menghabisi Nayla? sama seperti yang selalu ia ingin lakukan pada aska?aaah......" Teriak Dika lagi mengacak rambutnya dengan sebelah tangan dan tangan sebelahnya memegang setir mobil.
"Tenang Dika Nayla pasti baik-baik saja " Ujar Endy menenangkan Dika padahal ia sendiri tubuhnya bergetar ketakutan mengkhawatirkan Nayla.
"Akan aku habisi mereka yang melukai adikku, jika sampai terjadi sesuatu dengan adikku, aku bersumpah, aku akan membunuh paman Aska. "Dika memegang setir dengan kedua tangannya mempercepat laju kendaraannya.
.
.
.
__ADS_1
huy readers...jangan lupa like ,coment ,votenya
terima kasih yang uda like ,dan coment ,voteya.