
Nayla berada di ruang baca duduk mencengkeram tangannya sambil menunggu Aska datang, ia sedikit cemas apalagi telah terungkap sekarang, mengapa ia belum bisa menguasai isi buku itu dan alasannya meminta untuk mengundur tes .
Aska masuk ke dalam ruangan baca, raut wajahnya masih belum berubah kemudian menghampiri Nayla dan langsung mengintrogasinya
"Nay...jadi ini yang kau lakukan akhir-akhir ini pantas saja kau tidak tahu tentang isi buku itu." Ucap Aska emosi suaranya meninggi berdiri dihadapan Nayla.
Nayla hanya tertunduk diam, ia menyadari kesalahannya dan tak ada perlawanan darinya.
"Sudah berapa lama ia menghubungimu" Tanya Aska masih berdiri melipat tangannya di dada terus menatap Nayla tajam yang duduk disofa.
"Sudah seminggu ini" Jawab Nayla lirih tertunduk dengan penyesalannya sangat dalam.
"Apa...sudah seminggu ..jadi benar karena Endy kau tidak belajar" Semakin emosi.
Nayla kembali terdiam tidak menjawab pertanyaan Aska, dia yang biasanya selau hebat dalam berdebat hanya membisu. Menundukkan kepalanya seperti seorang anak yang sedang dimarahi dan siap menerima hukuman.
"Baiklah kita tes hari ini" Aska duduk menghempaskan tubuhnya disamping Nayla.
Nayla membelalakan matanya ia terkejut mendengar ucapan Aska.
"Tapi kak, bukan kah kakak memberiku kelonggaran waktu 3 hari, ini masih ada 2 hari lagi untuk tes itu" Jelas Nayla protes dengan tes dadakan ini.
"Aku bilang kita tes hari ini" Bentak Aska tak mau menerima alasan apapun.
"Kak Nay belum siap, beri aku waktu sampai besok" Pinta Nayla.
"Aku bilang kita tes hari ini. Jangan membantahku" Suara Aska meninggi kembali membentak Nayla
"Kau mau tes atau kau mau aku langsung menciummu saat ini juga" Ancam Aska memegang dagu Nayla mendekatkan wajahnya, Nayla bisa merasakan hembusan nafas Aska yang tak beraturan.
"Ia baiklah" Ucap Nayla lirih memalingkan wajahnya dia sudah tak punya pilihan.
__ADS_1
Aska dan Nayla duduk disofa berdampingan kemudian saling berhadapan dari tadi Nayla menggeser tubuhnya menjauh namun saat ia terus bergerak mencoba menjauh, Aska juga semakin mendekat padanya hingga tubuhnya kandas di ujung sofa. Jarak wajah mereka sangat dekat hanya sekitar dua jengkal sepertinya Aska sudah siap menyerang bibir Nayla .
"Ayo kita mulai" Aska bersandar pada sandaran sofa, punggung tangannya berada dipipinya, menopang kepala sama posisinya pada tes minggu lalu, jika dulu dia menatap wajah Nayla terpukau sekarang berbeda dia menatap wajah itu tajam siap mengcengkeram mangsa yang ada didepannya .
Nayla menarik nafas dalam ia sangat gugup jantungnya serasa ingin lepas, kali ini belum lagi wajah Aska yang begitu dekat dihadapannya memasang raut wajah dingin
"Aktivitas Manajemen Keuangan?" Aska melayangkan pertanyaan pertama dengan singkat dan nada datar
"Aktivitas Manajemen Keuangan adalah..." Jelas Nayla secara panjang lebar pertanyaan ini masih mudah untuknya.
Tes terus berlangsung sangat tegang dan mencekam seperti tes yang menentukan hidup mati seseorang, Aska terus melayangkan pertanyaan untuk Nayla yang sukses dia jawab dengan lancar pertanyaan yang masih berada di bab awal buku .
Tes memasuki bab pertengahan buku Nayla mulai gugup wajahnya mulai panik.
"Rasio Frofitabilitas" Tanya Aska singkat dengan wajah datar masih dengan posisi punggung tangan menopang kepala memperhatikan wajah Nayla.
"Rasio Frofitabilitas adalah Rasio yang digunakan un....tuk.....mengu....kur..."Nayla mulai terbata. Bola matanya berputar keatas. Otaknya berfikir keras mencoba mengingat kemudian melanjutkan "Efektivitas" Suaranya mulai melambat dan mengecil, Aska menjatuhkan sikunya dari sandaran sofa ia melihat Nayla sudah memiliki kelemahan. Mendengar suara Nayla melemah dan melambat dia mulai memajukan wajahnya perlahan, melihat wajah Aska semakin dekat perlahan, ia semakin tak bisa konsentrasi jantungnya berdegup kencang, rasanya sudah mau keluar. Wajah itu tinggal sejengkal lagi di hadapannya.
"Mati aku apa yang harus kulakukan wajahnya semakin dekat" Batin Nayla.
"Yang" Berhenti lagi berfikir wajah itu semakin dekat matanya mulai bertatapan tubuhnya mulai bergetar dan akhirnya.
"KAU GAGAL NAY" Ucap Aska dengan cepat mencondongkan tubuhnya ke depan menarik tenggkuk leher Nayla lalu sebelah tangannya mencegkeram dagu Nayla. Aska mulai menempelkan bibirnya. Nayla mencoba berontak memukul dada Aska namun tenaganya kalah kuat akhirnya ia pasrah menerima perlakuan Aska.
Pertemuan pertama bibir itu berakhir Aska melepaskan ciuman dan melonggarkan tangannya. Nayla mendorong dada Aska dengan kedua tangannya, wajahnya merah merona.
"Kak Aska, aku belum gagal tadi, aku masih berfikir" Protes Nayla mengusap bibirnya dengan punggung tangannya sambil napasnya tersengal hampir habis.
"Kau gagal Nay, kau tidak bisa menjawab pertanyaanku tadi" Ucap Aska dengan wajah dan datar melipat tangannya didada
"Itu ....aku masih sedang berfikir tadi, tapi kakak langsung saja menciumku" Teriak Nayla kesal tangannya terkepal.
__ADS_1
"Itu akibatnya jika kamu hanya main-main dan tak peduli dengan tes ini, tidak mengiraukan bukumu" Jelas Aska berdiri berjalan menuju rak buku tangannya berada disaku celana dan beberapa saat kemudian kembali membawa buku yang tebal.
"Kakak fikir aku bermain-main saja, setiap hari aku menghafal, belajar yang entah apa tujuannya dari belajar bisnis ini, aku sudah tidak mau belajar" Protes Nayla membentak.
"Jangan menolak Nay, kamu harus terus belajar" Suara Aska tak kalah menggelegarnya dengan Nayla, baru kali ini dia berdebat dengan wanita dicintainya ini.
"Aku sudah tidak mau belajar, aku sudah tak mau membaca buku tentang bisnis lagi" Ucap Nayla menegaskan.
"Jadi kau cuma mau menghabiskan waktu seharian teleponan dengan Endy" Bentak Aska kembali cemburu.
"Kak Aska" Teriak Nayla menyangkal.
"Pelajari kembali buku itu dan kau pelajari juga buku ini" Melemparkan satu buku ke meja.
"Kau harus belajar sungguh-sungguh kali ini, jika kau gagal tes pekan depan, kau akan merasakan akibatnya, kau sudah merasakan ciuman pertamamu jangan sampai kau juga merasakan malam pertamamu" Ucap Aska seringai jahat diraut wajahnya.
Deg .......Nayla terpaku, membulatkan matanya kata-kata Aska menusuk jantungnya tubuhnya bergetar.
"Kak Aska" Suaranya lirih
"Ya.. jika kau gagal tes pekan depan aku juga akan mengambil malam pertamamu, kau tidak maukan? jadi belarlah sungguh-sungguh, jangan berhungan lagi dengan Endy, kau sudah lihat bagaimana aku mengambil ciuman pertamamu" Jelas Aska mengancam wajahnya masih tak bersahabat walaupun dia baru saja merasakan ciuman pertama Nayla.
"Aku tegaskan sekali lagi jangan berhubungan dengan Endy, jika aku tahu kau berhubungan lagi dengannya, aku akan menambah jumlah buku yang harus kau pelajari" Aska kembali mengancam Nayla dengan suara meninggi.
Aska beranjak keluar ruangan meninggal Nayla yang masih mematung memikirkan kata-kata Aska. Matanya berkaca-kaca ia bukannya sedih kehilangan ciuman pertamanya, tapi baru kali ini Aska marah padanya dan ia memikirkan Aska yang tidak mungkin bermai-main dengan ucapannya, dia sudah mengambil paksa ciuman pertamannya, berarti dia juga bisa memaksa Nayla untuk malam pertama dengannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like,coment,favorti ,vote ya........