
Apartemen Aska.
Pagi hari Nayla menghabiskan waktunya diaparetem. Hari ini lagi tak ingin kekantor menemani Aska, ia hanya ingin bermalas-malasan saja menonton drama korea seharian sambil menunggu suaminya pulang dari kantor.
Entah mengapa ia sangat malas melakukan aktivitas tubuhnya terasa lemas kepalanya sedikit pusing tapi ia tak ingin memberitahukan suaminya karena jika ia mengeluh suaminya akan memberi perhatian berlebihan, seperti saat ini Aska menugaskan lima pelayan hanya untuk menemaninya.
Nayla berada didalam kamar sedang asik menatap tv tiba-tiba pintu kamar terketuk pelayan pun masuk.
"Nyonya ada, kakak anda menunggu diluar" Jelas pelayan yang ditugaskan untuk menemaninya selama berada diapartemen.
Seketika Nayla menarik sudut bibirnya dengan cepat ia menghampiri kakaknya yang duduk diruang tamu menemui kakaknya, dilihatnya Dika duduk santai sambil bermain ponsel.
"Kak Dika" Sapa Nayla dengan ceria melihat kakaknya datang ia memeluk manja. tubuh lelaki itu dari belakang
"Nay"Sapa Dika yang membalas pelukkan adiknya beginilah mereka terkadang akur terkadang bertengkar.
"Kakak Dika tumben pagi-pagi kemari" Nayla bertanya heran lalu ia tahu saat Dika menemuinya itu berarti kakaknya sedang ingin mencurahkan keluh kesah.
"Aku dari antar anak pak Samad ke kantor, lalu mampir, kamu kenapa ngak kekantor?"Jelas Dikq
"Kakak berhenti memanggilnya anak pak Samad dia itu punya nama Aulia, kalau ngak bisa panggil Lia aja L.i.a...lia, masa manggil nama istri susah banget sih," Oceh Nayla baru juga bertemu mulai kesal lagi.
"Ia..lia" Dika mendengus rasanya ia lebih suka memanggilnya anak pak Samad.
"Jadi sekarang kakak benar mengantar dan menjemput kak Aulia kekantor?"
"Ia" Dika tersenyum ceria.
Melihat kakaknya malah tersenyum senang ia pun ikut senang, ia mengirah kakaknya akan mengeluh merasa repot tapi jika dilihat dari wajahnya sepertinya ia sangat bersemangat.
Pelayan pun datang membawakan mereka dua cangkir teh dan cake untuk mememani obrolan santai ini.
"Kakak kenapa?" tanya Nayla kali ini kakaknya membutuhkannya sebagai adik, walaupun sering bertengkar tapi jika ada sesuatu Dika akan menceritakkan segala keluh kesah pada adiknya.
Dika mulai pembicaraan serius dengan Adiknya.
"Nay penghasilan tukang ojek itu berapa sih?" Dika mengajak Nayla bicara mengenai nafkah untuk istrinya. ia lalu mulai mengangkat cangkir menyesap teh bikinan pelayan.
"Emang kenapa?kakak tanya gituan" tanya Nayla heran.
"Kakak bingung, kalau dia beri uang, dia sepertinya curiga, kalau itu uang ngak benar, mukanya itu loh kaya terima uang hasil begal aja, curiga.." Curhat Dika masalah rumah tangga. Nayla tersenyum kakaknya yang cuek sedang mencoba menjadi suami yang baik.
" Emang kakak kasih kak Lia berapa sih?"
"Dikit ko Nay, baru juga dua kali, itupun cuma 5 juta aja kok, setiap ngasih" jelas Dika santai.
Nayla menarik nafas berat. "ya terang aja dia curiga, penghasilan kakak ngojek, lebih besar dari dia ngantor" ucap Nayla mengungkap fakta.
"Tapi itu kan dikit Nay, jadi berapa?" Tanya Dika.
"Cukup selembar dua lembar aja tapi tiap hari," saran Nayla kemudian mengarahkan cangkir kemulutnya
"Dikit baget Nay, mana cukup" Protes Dika yang penghasilannya besar namun tak bisa berbagi banyak pada istrinya.
"Ya karena emang gitu pekerjaan, kakak tukang ojek"jelas Nayla.
"Ia juga sih, tapi kan penghasilan kakak ratusan juta masa istri kakak cuma dapat selembar dua lembar" Ucap Dika lemah sebagai suami ia ingin memberikan segalanya pada istrinya ia ingin memberikan hidup mewah berkecukupan.
"Ya mau gimana lagi, udah terlanjur bohong" Karena kebohongan itu gerak mereka jadi terbatas. Ada banyak yang mereka tutupi pada Aulia status Nayla sebagai istri, Aska sebagai bossnya dan Dika berbohong dengan pekerjaanya entah apa yang akan terjadi jika itu semua terbongkar.
"Kamu ajak belanja dong Nay" Pinta Dika memberikan adiknya tugas.
"Belanja" Mata Nayla bersinar.
"Ia ajak dia jalan-jalan shopping apa-pun yang ia inginkan turuti semua belikan ia baju bermerk, tas mahal, sepatu mahal sama seperti wanita lain, atau terserah deh apa pun"
Dika kemudian meraih saku celananya menarik dompet lalu membuka, memberikan satu buah kartu adiknya.
"Nay juga ya...belanja sepuasanya ya?" Nayla menatap kakaknya memainkan naik turun alisnya menerima kartu itu dengan ceria.
" Ia terserah, kamu udah nikah sama presdir, masih aja matre nya ngak hilang-hilang juga" keluh Dika melihat tingkah adiknya
"Kakak" Protes Nayla mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Sejenak mereka terdiam dengan fikiran masing-masing pembicaraan ini membuat Nayla menangkap jika kakaknya telah jatuh cinta pada Aulia.
" Kak Gimana? kak Aulia baikan?" Tanya Nayla dengan nada menggoda.Dika hanya mengangguk ragu.
"Nay ngak salah pilihkan? "
"Emm" sedikit gengsi mengakui.
"Dia mengurus kakak dengan baikkan." tanya Nayla mengorek keterangan dari kakaknya ia tahu kakaknya pasti tak mau mengaku jika ia menyukai Aulia.
"Ia dia mengurus semua dengan baik bahkan tak punya waktu untuk istrirahat, mengurus kakak, kekantor, mengurus bapak dan adiknya, membersihkan dua rumah, kakak kasian dengan melihatnya Nay, kakak ngak tega"
" Kan udah dibilang dia rajin, sama kayak Nay kan?"
" Ia tapi dia nggak bawel seperti kamu, ngak perna ngomelin kakak, kalau kakak telat pulang" Ucap Dika ketus membandingkan 2 wanita yang mengurusnya. Aulia dan Nayla yang mengurusnya dengan baik namun berbeda versi satu sangat sabar satunya lagi cerewet luar biasa dan ia beruntung memiliki istri yang versi sabar seperti Aulia.
"Nay bisa ngak dia berhenti kerja, biar bebannya berkurang dikit, biar dirumah aja" Alibi Dika yang entah mengapa ia hanya ingin melihat Aulia berada dirumah menemaninya ketika siang karena ia hanya bertemu hanya beberapa jam.
Nayla baru teringat syarat Aulia sebelum nikah, jika gadis ini ingin terus bekerja.
"ngak bisa dong kak soalnya" dengan ragu-ragu. "Dia mau menikah dengan kakak asal ngak disuruh berhenti bekerja nanti" Jelas Nayla mulai panik.
"Trus kamu bilang apa?" Dika meminta jawaban dengan cepat.
"Ia" Nayla tersenyum pelik.
Mendengar jawaban adiknya tubuh Dika menjadi lemas bersandar disandaran sofa.
" Kok kamu ia in sih "Dika berdecak kesal. pupus harapanya untuk selalu dekat dengan Aulia.Dika terdiam lalu tiba-tiba matanya bersinar ia seperti menemukan sebuah ide.
" Nay, gimana kalau kamu nyuruh Aska untuk memecat Aulia, biar dia menganggur dan ngak punya pekerjaan akhirnya ia tinggal dirumah" Ide konyol yang berada di fikiran Dika hanya untuk terus bersama Aulia.
Nayla tersenyum melihat kakaknya, jelas-jelas sikapnya sudah menunjukkan jika ia mencintai anak pak Samad.
"kakak mencintainya kan?" Tanya Nayla matanya menyelidik karena ia tahu pembicaraan ini mengarah pada perhatian untuk Aulia.
"ngak, kakak cuma mencoba menjadi suami yang baik," sangkal Dika lagi. belum menyadari perasaannya pada Aulia.
"Nay, kakak hanya ingin yang terbaik untuknya, ingin dia bahagia, hidup bersamaku,dia itu tanggung jawab " jelas Dika ia selalu menyembunyikan perasaannya ia juga belum tahu rasa apa yang ada dihatinya yang dia tahu ia nyaman bersama gadis itu dan selalu ingin berada didekatnya.
"Masa sih, ngak suka, aku lihat kakak mulai menyukainya, buktinya kakak perhatian banget sama kak Lia." Nayla menatap dengan tatapan interogasi.
"Ah...sudahlah kakak pulang dulu, jangan lupa ajak Dia belanja" Elak Dika lalu berdiri menghindari pembahasan cinta dengan adiknya.
"Ia besok akhir pekan, aku ajak kak Lia jalan-jalan"
"Kakak pulang dulu" pamit Dika.
Dika pergi meniggalkan adiknya, diperjalan ia terus terfikir kata-kata Nayla apa benar ia telah jatuh cinta pada anak pak Samad, tapi ia merasa tak mungkin, ia baru menikah dengan Aulia dan itupun belum sebulan, tak mungkin gadis itu dengan mudah masuk dihatinya, secara ia telah mencintai wanita lain selama bertahun-tahun tak mungkin nama itu terganti hanya pada gadis yang belum sebulan ia nikahi. itu fikirnya.
๐บ๐บ๐บ
Siang hari diakhir pekan Nayla telah siap untuk pergi kerumah Dika menjalankan tugas dari Dika mengajaknya kakak iparnya jalan-jalan membeli semua keinginan dan kebutuhan Aulia.
Nayla berada diruang santai keluarga menghampiri suaminya yang dari tadi memasang wajah cemberut, tak rela Nayla pergi meninggalkannya karena ini akhir pekan waktu bersama istrinya. berlibur dari segala tugas kantor. Ia hanya ingin bermanja berada dikamar seharian. Sebenarnya Nayla pun rasanya tak ingin pergi kepalanya terasa pusing tubuhnya terasa lemah. Tapi ia sudah terlanjur janji.
"Kak Aska, Nay pergi ya" Pamit Nayla pada Aska yang duduk memberengut dan tak membalas ucapan Nayla.
Cup... Nayla membungkuk menciup pipi Aska hingga lelaki itu tersenyum lalu mengarahkan pandangannya ia memang tak bisa marah baru satu ciuman dipipi ia langsung melunak.
"Sayang inikan akhir pekan kita disini aja, dikamar" Pinta Aska memohon.
"Ngak bisa sayang, Nay dapat tugas dari kak Dika mengajak kak Lia jalan-jalan" Jelas Nayla tersenyum melihat Aska yang ingin bermanja dengannya.
"Kenapa harus kamu, bukan dia aja yang pergi dengan istrinya," keluh Aska mengerucutkan bibirnya kali ini dia yang protes istrinya direpotkan.
"Sayang ini urusan wanita"jelas Nayla duduk dipangkuan Aska melingkarkan lengan dileher suaminya ia tahu jika ia sudah menggoda suaminya ia pasti bisa menenangkan hatinya dan apa-pun akan ia dapatkan. Cup....Nayla mengecup bibir Suaminya lembut. membuat wajah Aska tiba-tiba memerah ia selalu malu jika Nayla menggodanya lebih dulu.
"Ia kamu boleh pergi, tapi kakak ikut" Aska melunak namun masih memberikan penawaran.
"Biar aku ngantarin kamu, kakak mau marahin Dika dia sudah menyusahkan istri aku" jelas Aska membalas perlakuan Dika yang mengatakan Nayla menyusahkan istrinya.
"Udah deh... kalian kenapa sih, dari kemarin ribut terus masalah istri." Kini giliran Nayla protes. ia bangun dari pangkuan Aska.
__ADS_1
"Ia..ya...Ayo aku antar" Aska berdiri menarik tangan Nayla yang cemberut.
"Ajak kak Endy juga ya"
"Ia" jawab Aska malas memikirkannya saja sudah pusing ajak Endy, itu berarti ia akan mendengar lelaki itu terus mengoceh namun ia tak mau menolak permintaan istrinya.
๐บ๐บ๐บ
Mobil berhenti kini mereka telah berada didepan rumah Dika. Nayla dan Aska menarik nafas lega akhirnya mereka terbebas dari omelan Endy sepanjang perjalanan mereka mendengar omelan yang lagi-lagi terganggu ikut terseret kerumah Dika.
Nayla masuk ke dalam rumah langsung menuju dapur ditempat favoritnya dengan kakak iparnya, Nayla melangkahkan kakinya didapur dilihatnya ada pemuda duduk berhadapan dengan kakakknya dimeja makan dan Nayla juga melihat kakak iparnya sedang berdiri diwastefel cuci piring.
Aska dan Endy juga masuk kedalam menemui Dika yang duduk kali ini mereka berkumpul diakhir pekan.
Nayla akan menghampiri Aulia namun langkahnya terhenti saat Adit menyapanya.
"Hai Nay" Sapa Adit bangkit dari duduk tersenyum senang melihat Nayla datang.
"Hai Dit" Balas Nayla.
Aska mendekat kearah Adit ia duduk dibangku kosong sebelah Adit, melindungi Nayla dari rayuan si raja gombal.
"Hai jangan merayunya lagi atau aku akan muntah lagi dibadanmu" Ancam Aska lalu menirukan gaya orang muntah membuat Adit meringis.
"Ih kak tinggi, ia aku ngak akan merayunya" Adit bergidik, jijik jika ia harus menerima muntahan Aska.
Nayla kemudian berjalan kearah Aulia yang sedang mencuci piring.
"Kak Lia kita jalan-jalan yuk, kita ke mall berdua aja sesama wanita" ajak Nayla yang suaranya terdengar oleh Adit.
"Boleh" celetuk Adit yang bersemangat mendengar kata jalan baginya, ini kesempatan baik untuk lebih dekat dengan Nayla.
"Nayla mengajak kakak kamu bukan kamu" timpal Aska mulia kesal emosinya selalu naik jika berhadapan dengan adit. Dika dan Endy yang juga duduk membuang nafas kasar melihat 2 lelaki ini memperebutkan bule Jerman.
Aulia dan Nayla berjalan kearah meja tempat mereka berkumpul
"Kak Lia Adit ikut ya"Pinta Adit.
"Ngak boleh, ini masalah wanita" Lagi-lagi Aska yang menjawab ,Aska menatap Nayla sorot matanya menjelaskan, dia tak akan mendapatkan izin jika Adit ikut bersamanya.
"Ayolah Adit ikut ya?"
"Dit katanya kamu ada tugas kampus dengan teman kamu, ngak pergi gi sana." Aulia mengingatkan Adiknya.
"Ngak jadi"
"Kok ngak jadi, kamu udah bawa peralatan periksa kamu, kok ngak jadi sih, kapan-kapan aja kamu ikut" jelas Aulia pada adiknya dengan lembut. Adit memang kerumah Dika hanya untuk menumpang makan setelah itu ia akan pergi mengerjakan tugas kampus bersama temannya tetapi melihat Nayla ia mengurungkan niatnya.
"Nay boleh ya" pinta Adit kali ini meminta pada Nayla.
"Ngak boleh" ketus Aska.
"Kenapa sih nih, kak tinggi, sewot aja bawaanya" Adit menatap tajam pada Aska.
Aska dan Adit terus berdebat disamping Nayla hingga membuat kepalanya bertambah pusing, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Seketika penglihatannya menggelap lalu tak ia tak tahu apa lagi yang terjadi tubuhnya limbung jatuh, Aska yang melihat tubuh nayla layu langsung menangkapnya.
Seketika seluruh ruangan panik melihat Nayla tak sadarkan diri terutama Aska ia sangat kaget dan raut cemas tercetak diwajahnya.
"Nayla" kompak Dika dan Endy berdiri mereka sangat khawatir. Aulia dan Adit mendekat, mereka semua mengelingingi Nayla. Aska menyelipkan lengannya ditengguk Nayla mengangkat tubuh atas Nayla
"Nay... Nay bangun, kamu kenapa?" Aska menepuk pipi istrinya ia panik.
"Aska kenapa jadi begini" Tanya Dika yang juga tak kalah paniknya.
"AkuJuga ngak tahu, tadi ngak kenapa-kenapa " Aska kemudian menggendong tubuh munggil istrinya dan akan membawanya kerumah sakit.
.
.
.
.Like,Coment, Vote,...yang kencang...
__ADS_1