
Hari demi hari berlalu Dika menjalani kehidupannya sebagai suami Aulia, setiap hari bertemu saling mengenal, Dika mulai tahu sifat dan kebiasan istrinya, benar kata Nayla ia adalah gadis yang rajin, sabar, pekerja keras. Setiap hari Aulia selalu bangun dini hari menyambutnya saat pulang dari club malam dan menyiapkan segala sesuatu melayaninya dengan baik, Dika merasa begitu diperhatikan, rumahnya terasa lebih berwarna saat kehadiran Aulia, Dika seperti melihat Adiknya lagi diri Aulia.
Dika baru saja pulang dari club malam bersama Endy seperti biasa Endy hanya menghentikan mobilnya beberapa kilo meter dari rumah Dika, karena Dika harus turun melanjutkan perjalannya dia terpaksa harus sering-sering menggunakan motor agar kebohongan tidak terungkap.
Dika telah sampai didepan rumah ia memarkirkan motornya kemudian masuk kedalam rumah dengan perlahan ia membuka pintu rumah.
"Kak sudaah pulang" Sapa Aulia menyambut suaminya dengan senyum paling menawan dan mata berbinar.
Dika yang melihat Aulia menyambutnya, tak sadar menarik sudut bibirnya lalu mengangguk perlahan. Semenjak menikah Saat Dika pulang ia akan disambut dengan ceria dan entah mengapa hatinya terasa tenang saat Aulia menyambutnya pulang, lelahnya seakan sirna melihat senyuman istrinya. Ia teringat saat masih bersama dengan Nayla, adiknya ini juga akan menyambutnya setiap hari tapi tidak dengan senyuman bule Jerman itu menyambutnya dengan omelan masa depan, berbeda dengan Aulia yang menyambutnya dengan wajah ceria.
"Aku sudah menyiapkan semuanya dimeja makan, kakak mandilah, aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu" jelas Aulia yang telah tahu jam pulang suaminya.
"Makasih, seharusnya kamu ngak perlu repot" ucap Dika mengistirahatkan tubuhnya diruang tengah.
Dika merasa tak enak hati mendapatkan perhatian yang besar dari Aulia ia merasa bersalah karena sampai saat ini ia tak memperlakukan Aulia sebagai istri.
"Ngak apa-apa, itu sudah tugasku" Lia tersenyum lalu masuk kedalam dapur. berhari-hari hidup bersama Dika, ia mulai terbiasa dan mulai bisa menguasai debaran jatungnya.
Selama tinggal bersama. Dika melihat betapa sempurnanya sifat istrinya sangat sabar, mandiri mengurus semuanya tanpa mengeluh karena walaupun ia telah menikah dengannya, Lia tak melupakkan tugasnya sebagai seorang anak dia masih selalu pulang kerumah bertemu orang tua mengurus bapak dan adik lelakinya. belum lagi sibuk bekerja dikantor melihat kesibukan Aulia. Dika kagum melihat usaha Aulia mengurus semuanya tanpa mengeluh. Ia merasa bersalah telah menikahi wanita yang begitu baik, benar pilihan bule Jerman itu Aulia memang yang terbaik pantas saja adiknya mati-matian menjodohkan dengannya. Hanya saja ia menyesal masih belum bisa menerimanya, belum bisa membuka hatinya, ia hanya menggapnya adik, pengganti bule Jerman.
๐บ๐บ๐บ
Apartemen Aska.
Nayla terbangun dari tidur lelelapnya, ia sangat gelisa perutnya terasa keroncongan ia ingin memakan sesuatu, Nayla menatap wajah suaminya yang tertidur sangat pulas, rasanya ia tak tega membangungkannya tapi ia sangat gelisa ia tak dapar tidur sebelum bisa memenuhi keinginannya.
"Kak Aska bangun" Nayla mengoyang-goyangkan tubuh Aska yang terlelap dalam mimpi, Aska menggeliat perlahan mengerjap membuka matanya perlahan dilihatnya wajah istrinya sudah berada dihadapannya.
"Sayang ada apa-apa" Aska bagun mengucek matanya rasanya ia masih sangat mengantuk namun perempuan yang paling ia cintai sepertinya sedang membutuhkan sesuatu, Aska kemudian duduk.
"Nay lapar" Jelas Nayla pelan merasa tak enak pada Aska karena membangunkannya.
"Sayang lapar, kak suruh pelayan membawakan makananan untukmu, kamu mau makan apa sayang?"Tanya Aska meraih gagang telpon.
"Ngak mau makan disini" jelas Nayla.
"Trus mau dimana?" Tanya Aska menatap lembut kembali meletakkan gagang telponnya.
__ADS_1
"Nay mau makan dirumah kak Dika, Nay mau masakan kak Aulia" Rengek Nayla mengoyangkan lengan Aska.
Aska mengernyitkan dahinya menatap kearah jam dinding yang menunjuk masih pukul 04:00 dini hari ia heran mengapa Nayla sangat ingin kerumah Dika sepagi ini.
"Sayang ini jam berapa, ini baru jam empat pagi masa sih kita kerumah kakak kamu" Bujuk Aska lembut tak ingin istrinya kecewa.
"pokoknya Nay mau kerumah kak Dika, mau makan masakan kak Aulia" Paksa Nayla.
"Kamu mau makan apa sih sayang biar pelayan aja yang masak" Aska mengusap rambut Nayla, masih melakukan penawaran ia sebenarnya tak masalah kerumah Dika tapi masalahnya sekarang beda Dika sudah memiliki istri dan ia merasa tak enak hati.
"Ngak mau Nay cuma mau masakan kak Aulia" Kekeh Nayla mengerucutkan bibirnya. Aska tersenyum gemas melihat wajah itu.
"Ia baiklah kita kerumah kakak kamu, sayang siap-siap kita pergi"
"Benarkah" Nayla tersenyum lalu memeluk suaminnya.
Aska menyetujui permintaan Nayla ia memang tak bisa menolak permintaan Nayla karena rasa cintanya dari dulu ia selalu menuruti keinginan istrinya apa pun akan ia lakukan untuk Nayla namun masih merasa aneh baru kali ini Nayla tak bisa dibujuk ia seperti anak kecil.
Nayla turun dari apartemen kebetulan ia bertemu dengan Endy dilobby mereka pun menyapa dan mengajak Endy.
"Kak Endy dan kak Dika baru pulang" Tanya Nayla pada Endy yang baru saja pulang dari club malam.melihat Endy ia tahu berarti kakaknya juga sudah pulang.
"Nay mau numpang makan dirumah kak Dika, kak Endy ikut ya" Ajak Nayla.
"Ngak ah Nay, kakak ngatuk, mau tidur" Tolak Endy saat ini dia hanya mau istirahat setelah setelah semalaman tidak tidur.
"Ngak pokoknya kalian harus ikut"paksa Nayla menarik tangan Endy, Endy menatap Aska saling bertatapan dari sorot matanya menyuruh untuk mengikuti permintaan bule Jerman ini.
"Ia, ia kakak ikut"
"Asik semakin rame semakin bangus" Nayla menarik dua tangan lelaki yang saling menatap aneh dengan sikap bule Jerman.
Endy menghembuskan nafas kasar telah beberapa hari ia melihat pasangan ini bersikap aneh, Aska yang selalu bermanja memakan jeruk nipis, muntah mendengar gombalan Adit sekarang istrinya lagi mau numpang makan di waktu masih pagi buta, bertamu kerumah orang yang sudah berkeluarga tak pantas rasanya.
๐บ๐บ๐บ
Dika telah mandi dan membersihkan diri seperti biasa Aulia akan menunggunya dimeja makan menyiapkan makanan untuknya, istrinya tak mengijinkan ia istrihat jika ia belum makan.
__ADS_1
Dika duduk dimeja makan disampingnya ada Aulia berdiri melayaninya menyendok makanan kepiring, ia hanya bisa menghela nafas perlahan dia merasa tak enak jika Aulia terus melayaninya bak seorang istri padahal hubungan mereka tak seperti rumah tangga lainnya.
Tok....tok....tok....Suara ketukan dipintu terdengar.
" Siapa yang bertamu petang begini" Guman Dika.
"Duduklah biar aku yang membuka pintu"
Dika berdiri meninggalkan dapur membuka pintu dengan rasa penasaran siapa yang telah bertamu kerumahnya sepagi ini. Dika membuka pintu terlihat 3 orang berdiri, gadis ceria dengan dua lelaki memasang wajah kusut berdiri dibelakanganya.
"Pagi kak" Sapa Nayla.
"Mau apa kalian pagi-pagi kemari" Tanya Dika heran.
"Nay mau numpang makan disini" Nayla tersenyum kikuk lalu masuk menuju dapur.
"Masuk" Dika membuka pintu lebar-lebar.
"Aska dan Endy masuk duduk disofa tak ingin makan hanya ingin tidur.
"Ada apa ini?" Tanya Dika pada sahabatnya yang membuat heboh dipagi buta.
"Nayla ingin makan, masakan kakak iparnya" Jelas Aska ia masih sangat mengantuk.
"dan aku juga ikut kemari gara-gara bule jerman itu, dari pada dia marah jadi kami menurutku, Akhir-akhir bule Jerman ini aneh, belum lagi emosinya sangat buruk" Jelas Endy tak bersemangat ia sangat mengantuk.
Nayla menemui Aulia didapur matanya berbinar melihat makanan yang telah terhidang dimeja.
"Nay kamu disini" Aulia sedikit kaget melihat Nayla yang datang pagi buta.
" Ia Nay mau makan masakan kak Lia" Nayla menarik kursi disamping kakak iparnya.
"Baiklah makan yang banyak ya" Aulia mengambil piring lalu mengisinya dengan banyak makanan memberikan perhatian pada adik iparnya
Nayla pun makan dengan lahap, ia sangat senang memiliki kakak ipar saat ini dia hanya ingin bersama dengan kakak iparnya.
.
__ADS_1
.
Like,coment,vote...