
Dika, Endy, Aulia menunggu didepan ruangan rumah sakit raut cemas tercetak diwajah mereka menunggu Nayla sedang menjalani proses melahirkan secara operasi sesar. Sudah cukup lama mereka menunggu menanti bule Jerman junior mereka lahir kedunia. Perasaan mereka campur aduk cemas, penasaran, bahagia, semua bercampur aduk menjadi satu. Cukup lama mereka menunggu tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya memanjatkan doa memohon keselamatan untuk Nayla dan bayinya.
Beberapa saat kemudian.
ooee...owek...Suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan membuat mereka saling pandang lalu kompak menarik sudut bibirnya.
"Endy suara keponakan kita" ucap Dika tersenyum menggembang ketegangan hilang seketika mendengar suara tangisan bayi.
"Ia, kita sudah menjadi resmi paman" timpal Endy bangun dari duduknya lalu memeluk Dika.
"Ye kita jadi paman" Mereka melompat kegirangan membuat Aulia geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan sahabatnya seperti anak kecil terlalu gembira hingga lupa diri.
Tak beberapa lama Aska pun keluar dari ruangan setelah mememani Nayla bersalin menemui sahabatnya lalu memeluknya dengan haru.
"Jagoan kita sudah lahir" ucap Aska terharu rasanya ia ingin menangis sangking bahagianya, impiannya memiliki keluarga kecil telah terwujud.
"Selamat brother sekarang kau menjadi ayah" ucap Endy juga ikut terharu.
"Kalian juga telah menjadi paman dari jagoan kecil kita" jelas Aska yang dikarunia anak laki-laki.
Aulia yang melihat tingkah 3 sahabat ini dari jauh hanya terus tersenyum dan sesekali geleng-gelang, merasa lucu karena mereka seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru, tapi juga salut atas kekompakan mereka persahabatan yang kuat dan tak terpisahkan bagai saudara yang saling membantu dan saling menutupi kekurangan masing-masing.
Hari ini adalah hari paling bahagia bagi mereka. 3 lelaki ini mendapatkan tiga kebahagian sekaligus Aska dan Nayla yang telah dikarunia anak, Dika dan Aulia yang akan juga memiliki anak karena sekarang Aulia sedang megandung buah cinta mereka. dan Endy akhirnya memutuskan untuk menikahi Serena. Kebahagian selalu menghiasi hidup mereka setelah merasakan kesedihan, tangisan, perjuangan. Sekarang hanya ada canda tawa dan kasih sayang yang akan mewarnai hidup mereka.
Proses kelahiran telah selesai Nayla telah dipindahkan keruang perawatan.
Aulia masuk keruang perawatan menemani Nayla.
"Bagaimana keadaanmu" tanya Aulia menghkawatirkan adik iparnya pasca operasi.
"Ngak apa-apa kok kak" ucapnya pelan Nayla sengaja meminta Aulia untuk datang mendampingin sebenarnya bukan meminta untuk merawatnya tapi untuk mengurus 3 lelaki yang akan rusuh jika melihat anaknya nanti. untuk saat ini dia tak bisa menangani 3 lelaki itu karena tubuhnya yang lemah pasca melahirkan sebab dia butuh Aulia.
Nayla menatap wajah kakak iparnya yang sedikit berbeda terlihat pucat.
"Kakak sehat kok, muka kakak pucat banget" tanya Nayla pelan penasaran.
Aulia tersenyum melihat adik iparnya mencemaskannya.
"ngak apa-apa ko Nay" sangkal Lia padahal ia tak enak badan tapi ia sangat bersemangat keponakannya akan lahir jadi ia memaksa untuk ikut padahal Dika melaranganya.
"Kakak sakit, pemeriksa, gih sana , gimanasih kakak Dika istri sakit ngak diajak kedokter" omel Nayla.
"Kakak ngak sakit ko Nay, kata dokter kakak hamil" jelas Aulia matanya berbinar
"Hamil benaran kakak hamil? itu berarti aku bakalan jadi aunty" Mata Nayla berbinar tak sabar akan ada anak kecil dalam keluarga mereka. Nayla sudah membayangka serunya jika semakin banyak anak kecil dalam hidupnya semakin banyak juga yang ia atur.
Suster masuk kedalam ruangan membawa bayi Nayla yang di ikuti 3 lelaki yang terus memasang wajah ceria berdiri dibelakangnya. karena kondisinya yang belum pulih dan masih lemah akhirnya Aulia yang menggendong bayi itu.
Bayi laki-laki yang sangat lucu dan tampan, Aulia tersenyum memperlihatkan pada Nayla.
"gantengnya Nay, mirip Aska" ucap Aulia, Nayla tersenyum melihat wajah lucu bayinya.
3 lelaki itu mendekat melihat bayi yang berada dalam gendongan Aulia anak yang telah ia tunggu kelahirannya sejak lama. bayi yang akan menjadi penerus keluarga Dirga yang akan menjadi harapan terbesar Aska untuk menjadi penerus semua miliknya.
"Ih lucunya..." ucap Endy gemas melihat bayi mungil yang masih merah. Ia pun ingin belajar menggendongnya.
"boleh aku menggendonganya" pinta Endy menggulur kedua tangannya kedepan ingin menghendong bayi mungil itu.
"Ngak boleh" Dika lalu menepis tangan Endy tanda tak setuju. sebab ia juga akan menggendongnya.
Nayla dan Aulia mulai menarik nafas berat melihat sepertinya situasi sudah mulai memanas mereka akan kembali berdebat memperebutkan siapa yang akan lebih dulu menggendong bayi itu.
"Lia berikan padaku, aku ingin menggendongnya, sini sayang sama papi Endy" ucap Endy penuh harap meminta pada Aulia. Namun Dika lalu mendorong tubuhnya hingga bergeser kini gilaran Dika yang maju berhadapan dengan Aulia.
"Jangan bunda Lia berikan pada Ayah Dika saja, biar ayah gendong" ucap Dika terdengar sangat manis, menggulur tangannya. ia juga ingin menggendong keponakannya.
Aska mendorong tubuh Dika hingga bergeser
"Bunda Lia berikan padaku saja, daddy Aska" Aska mengulurkan tangannya namun didorong oleh Dika dan Endy yang juga maju mendekat sekarang mereka berebut untuk menggendong anak lelaki lucu itu.
__ADS_1
"Hei Aska kau ini, itukan anakmu kau juga akan puas juga nanti" jelas Dika menghentikkan Aska. lalu meminta bayi itu pada Aulia
"Bunda Lia berikan pada pada Ayah sini, biar ayah gendong"ucap Dika sudah menggangap anak itu sebagai anaknya pertamanya sendiri dan ia ingin kelak anak itu memanggilnya ayah sama seperti panggilan anaknya nanti padanya. Aulia hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang begitu menginginkan menggendong anak.
"Jangan bunda Lia, hei Dika kau kan aka punya anak nanti, jadi biar aku duluan yang gendong, Sini bunda Lia, digendong sama papi" Sama seperti Dika. Endy juga berharap anak ini akan memanggilnya papi sama saat jika ia punya anak nanti akan memangginya papi. baginya Anak ini anaknya juga dan akan menjadi anak pertamanya.
"Ngak daddy Aska dulu, bunda Lia, hei aku juga belum menggendongnya, dan akui ini daddynya "Kesal Aska karena sahabatnya tak mau mengalah.
Aulia menjadi pusing melihat 3 lelaki yang ada dihadapannya sedang berebut untuk menggendong anak yang ada dalam gendongannya. sekarang ia merasakan beginilah pusingnya menjadi Nayla jika berada
diantara lelaki ini. ia kagum pada Nayla bagaimana gadis kecil ini bisa dengan begitu hebat menaklukan mereka dan mengatur takut pada Nayla.
"Sama ayah" ucap Dika membulatkan matanya pada sahabatnya.
"Sama papi" ucapnya Endy menggepalkan tangannya.
"Daddy" Aska menatap tajam seperti kilatan yang menakutkan.
Aulia menjadi bingung kepada siapa ia akan harus menyerahkan bayi ini karena mereka mulai memaksa tak ada yang mau mengalah hingga akhirnya
owek....owekkkk" bayi itu menangis dengan keras mendengar, membuat Nayla yag sempat tidur sejenak terbangun mendengar putranya menangis.
"Tuh kan nangis kalian terlalu berisik, membuatnya menangis saja, keluar sana" Usir Nayla ketus melihat bayinya menangis karena ulah paman dan daddynya.
"Ih bule Jerman tega banget sih" keluh Endy merasa diusir hingga kesempatannya menggendong bayi itu tak ada
'Tega kamu Nay, masa kami diusir" ikut Dika mengekori Endy memasang wajah sedih.
"Habis kalian berisik keluar sana "kesal Nayla mengusir lelaki yang masih bertahan didepan pintu ruangan berharap dimaafkan dan diijinkan untuk tetap tinggal diruangan ini
Dika, Endy, Aska duduk berjajar dibangku depan ruangan rumah sakit, wajah mereka terlihat tak bersemangat. Mereka saling menyandarkan kelapa masing-masing dengan posisi Dika yang berada ditengah hingga saat ini sudah berjam-jam mereka duduk diluar belum ada keputusan yang mereka ambili tentang siapa yang menggendong anak itu lebih dulu tak ada yang ingin mengalah hingga mereka kelelahan untuk berdebat.
"Ayo dong udah berjam-jam kita disini belum juga bisa menggendong anak bule Jerman" keluh Dika pelan tenaga habis untuk meyakinkan sahabatnya jika ia yang lebih dulu menggendong anak bule Jerman.
"Kalian mengalah saja denganku, kasihanilah aku belum nikah, belum punya anak"ucap Endy meratap pelan, ia menaruh kepalanya dipundak Dika sama kehabisan tenaga.
"Ngak ini tuh anak pertama aku, ini momentku, jadi seharusnya aku dulu,aku baru satu kali menggendongnya tadi" oceh Aska menaruh kepalnya dipundak Dika.
Endy menegakan tubuhnya mendapatkan sebuah ide cemerlang yang bisa ia pakai.
"begini seperti tadi kita gamreng lagi" tawar Endy sebagai jalan keluar sama seperti tadi, ketika menyampaikan kabar bahagiaanya.
Aska dan Dika terdiam sejenak memikirkan ide Endy lalu kompak mengangguk sekali lagi mereka akan melakukannya lagi. Seperti gambren akan menjadi jalan penyelesaian perdebatan mereka saat ini. karena tak ada bule Jerman yang menjadi penengah dalam perdebatan biasanya bule Jermanlah yang mengatur mereka sekarang tidak lagi.
.
ketiga laki-laki ini duduk serius mengulur sebelah tangannya lalu.
"Gamreng....
Senyuman terbit diwajah Aska kali ini ia yang menjadi pemenangnya. Setelah itu Endy dan Dika untuk mengundi Endy mereka bermain gunting, batu, kertas.
"Ye Aku menang " Sorak Dika yang menjadi urutan kedua setelah Aska.. Endy memasang wajah cemberut karena menjadi yang terakhir.
"Ayo kita masuk" ajak Aska.
Mereka masuk ke dalam ruangan kembali dengan hasil keputusan dan kembali ceria. Nayla yang melihat mereka kembali lagi sudah mengerti jika lelaki ini pasti sudah mengambil keputusan terbaik untuk masalah mereka.
"Bagaimana sudah punya keputusan? "tanya Nayla ketus. yang tadi terpaksa mengusir mereka karena terlalu berisik hingga membuat putranya menangis,
" Kami sudah berunding, daddy Aska dulu, ayah Dika, lalu papi Endy" jelas Aska pada Nayla yang memincingkan mata. Aska lalu maju mengambil alih dari tangan Nayla.
Aska mulai menggendong anaknya, senyum terus tersungging diwajahnya melihat jagoan kecilnya penerus keluarga dirga. mimpinya terjuwud memiliki keluarga.rasa bahagia haru semua menjadi satu.
"Sayang anak daddy...cup.." Aska mencium pipi putranya dengan lembut Endy dan Dika juga berada disamping mereka melihat Aska bermain dengan putra mereka mereka sangat senang dan juga tak sabar untuk menggendongnya.
"Anak papi ganteng baget sih"gemas Endy menggelus pipinya.
"Aska kita beri nama siapa?" tanya Dika.
__ADS_1
Aska mengarahkan pandangannya pada sahabatnya, sesuai perjanjian mereka jika mereka punya anak mereka akan menyumbang nama.
"Endy nama apa yang akan kau berikan?" tanya Aska.memulia dari endy lebih dulu.
Sebenarnya aku ingin queen seorang ratu untuk kita tapi karena dia jagoan aku memberi nama Caesar, atrinya kaisar yang akan menjadi raja untuk kita, itu nama pemberian dariku."Jelas Endy." Lalu menatap bayi mungil itu. "baby Caesar" panggil Endy.
Aska mengarahkan pandangannya pada Dika menunggu nama yang akan diberi Dikka.
"Dika darimu siapa?" tanya Aska.
"Aku memberikan nama Sanders untuknya, nama ayahku karena dia anak dari keluarga Sanders juga.? "Jelas Dika. Seperti namanya dan Nayla yang memiliki nama Sanders.
"Kau Nama apa? yang akan kau berikan pada anak kalian" tanya Endy.
Aska menatap Nayla yang berbaring di ranjang rumah sakit Nayla mengangguk yakin.
"Aku dan Nayla telah sepakat untuk memberi nama Aldy untuk putra kami" ucap Aska tertunduk menatap wajah putranya.
"Aldy" Seketika mereka terdiam sejenak memori kesedihan mereka terbuka kembali bagaimana lelaki itu telah berjuang untuk menyelamatkan Nayla sumber kebahagian mereka.
"Kami ingin mengenang kebaikan Aldy yang telah mengorbankan dirinya, memberikan kita kebahagian seperti sekarang ini" Nayla dan Aska sangat berterima kasih pada Aldy berkat penggorbanannya mereka sekarang sangat bahagia, mendapatkan kebebasan, ketenangan.
"Aku setuju Aldyan"panggil Endy nama sahabat kecilnya yang banyak berkorbar untuknya. Setia bertahun-tahun menjaga Aska walaupun sangat menyebalkan dengan lagu-lagu menyinggungnya tapi saat ia tak ada lagunyalah yang paling mereka rindukan.
" Ayah setuju dengan nama Aldyan, tapi sayang saja awas nanti kalau besar kamu jangan jadi penyanyi seperti om Aldyan ya, contoh saja kesetiaannya, jangan sikap menyinggungnya" Canda Dika melihat kearah bayi dalam gendongan Aska.
"Jadi rangkaian namanya bagaimana jadikan nama pemberianku menjadi nama awal, itu nama yang bagus" pinta Endy.
"Kau ini kenapa" Aska hendak protes tapi karena teringat lelaki ini juga ikut dalam kebahagiaannya mengorbankan cinta untuknya dan mengalah demi dirinya maka ia setuju.
"Baikalah aku mengalah, Jadi Namanya Caesar Aldyan Sanders Dirga , panjang banget sih namanya kasian ntar anak ku disekolah repot ngisi absen" Canda Aska.
"Namanya juga nama hasil sumbangan jadi banyak, gimana seandai Lia juga nyumbang nama, " Canda Dika.
"Serena juga" Canda Endy.
"Penuh dong, nama panjang-panjang padahal cuma di panggil Al" Canda Aska melihat bayinya.
Nayla, Aska, Endy, Dan Dika terkekeh terkenang lagu-lagu yang sering dinyanyikan Aldy untuk mengingat perasaan mereka satu sama lain. yang bicara lewat alunan lagunya dan Aulia hanya diam tak mengerti ia belum tahu tentang perjuang mereka menjalanin hidup.
Aska ingat Dika melihat jamnya lalu menghitung mundur.
"5,4,3,2,1, Aska waktumu habis, berikan padaku" Pinta Dika mengulur tangannya pada Aska yang memasanga wajah masam
"Dika aku belum puas" Protes Aska.
"Sudah waktumu habis, Dika ambil" ucap Endy tegas tak mau memberi tambahan waktu karena waktu hanya 5 menit dan ia mendapatkan kesempatan terakhir.
"Sini Sama Ayah Dika, " Dika mengambil bayi itu dari gendongan Aska.
"ih lucunya wajahnya bukan bule jerman, wajahnya mirip banget sama Aska. " ucap Dika memperhatikan gurat wajah bayi kecil itu.
"Ia, ini mah ketahuan banget cetakan Aska, made in Aska ini" Canda Endy
"Ini anak Ngak bakalan hilang ini, orang juga tahu ini buatan Aska" Canda Dika.
"Memang kenapa jika bukan bule Jerman, putraku juga ngak bakal rugi jika ia mirip denganku. wajahku ini sangat tampan, dia pasti akan tumbuh tampan sepertiku" ucapnya penuh keyakinan.
"Ia calon-calon tiang listrik juga" ucap Endy santai. menyindir tinggi badan Aska yang menjulang.
"Endy"
Endy tersenyum kaku pada Aska, sepertinya mereka bukan mendapatkan generasi bule jerman. yang mereka dapatkan generasi tiang listrik.
Sejenak bermain-main dengan bayi itu tiba-tiba Endy berteriak. membuat mereka terjengik kaget.
"Tet...tot...Dika waktumu telah habis" ucap Endy.
"Kau ini mengagetkan saja kau pikir kita ini main kuis," Hardik Dika kesal melihat sahabatnya.
__ADS_1
"Sudah waktumu habis berikan padaku,papi Endy" pinta Endy yang mulai mengambil bayi mungil itu dari tangan Dika. Endy dari tadi gemas melihat putra Aska ingin mencium.
Mereka berkumpul dipenuhi canda tawa sesekali berdebat, ini babak baru dalam kehidupan mereka. mereka akan menjadi orang tua bukan kumpulan tiga lelaki yang suka hidup tak jelas dan tak punya masa depan. hidup mereka sekarang lebih bermakna semakin saling menyanyangi dan menjaga satu sama lain. semakin hari keluarga mereka semakin bertambah tak lama lagi serena akan ikut bergabung dengan mereka serta anak Dika yang akan lahir.