Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 10 Ancaman berakhir Manis


__ADS_3

Selamat Membaca


Almira masih terdiam mendapat lamaran mendadak dari Wisnu. Dia masih bingung cara menolak padahal banyak sekali tetangganya yang datang.


Apa tidak apa-apa kalau aku mempermalukannya?


Almira melirik ke arah Wisnu yang menatapnya sangat teduh dan datar, bahkan wajahnya nampak sangat berkharisma sekali di mata Almira.


“Saya … akan memikirkannya dulu, Pak,” jawab Almira kemudian.


“Kalian berdua sudah kenal dekat 'kan?” tanya Pak RT bingung kenapa sepertinya Wisnu seperti mau di tolak.


“Justru karena ingin kenal lebih dekat, saya melamarnya, Pak,” jawab Wisnu sopan membuat suasana menjadi ramai penuh tawa, mereka merasa sikap Wisnu begitu mengagumkan.


“Kamu ini bisa saja, Nak Wisnu,” sahut yang lain terkekeh.


“Saya hanya berani memandang dan berkenalan saja, bukankah akan lebih baik saya melamarnya, menikahinya jadi tidak ada batasan lagi untuk mendekatinya secara lebih pribadi?” lontar Wisnu segera diberi gemuruh tawa semua orang.


Almira semakin menunduk tersipu karena ditepuk pundaknya beberapa kali oleh salah seorang tetangga yang duduk di sampingnya. Mereka merasa salut pada Almira karena bisa mendapat perlakuan istimewa seperti itu dari pria tampan dan sopan dari kota.


“Ayo, Nak Ira. Masa dilamar pemuda ganteng sopan begini masih dipikir-pikir dulu?” goda ibu tetangganya mendorong lembut pundak Almira membuat gadis itu menoleh ke arah Wisnu dengan lirikan canggung bercampur kesal.


Kenapa pandai sekali dia bicara hingga bisa mengambil hati semua orang? Orang tuaku juga … menyebalkan. Pria reseh.


Almira bersungut dan menggerutu dalam hati. Dirinya masih menyimpan rasa tidak suka pada sosok Wisnu bagaimanapun pria itu mencoba bersikap tanggung jawab pada ulahnya.


“Bisa tidak, saya berbicara berdua bersama Ira?” ujar Wisnu meminta ijin kepada Pak RT dan ayahnya Almira. Dengan wajah menampakkan penolakan Almira membulatkan kedua bola matanya dengan gelengan kecil ke arah Wisnu yang memandangnya dengan senyuman.


Wah, senyumnya menyebalkan.


“Silahkan saja, di teras samping ada kursi yang bisa kalian gunakan untuk mengobrol sebentar. Tapi ingat, hanya mengobrol saja,” seloroh Ayah Almira memberi ijin.


“Terimakasih banyak, Pak,” sahut Wisnu tersenyum.


Wisnu segera mengangguk senang dan pamitan dengan isyarat kepada Almira untuk segera menyusulnya berdiri.


Dengan hembusan napas berat, Almira mengikuti Wisnu berdiri dan berjalan ke luar rumah menuju teras samping rumahnya menghadap kebun sayuran.


Suara gurauan dari teras depan rumah masih bisa didengar di lihat dari kaca jendela dimana Almira dan Wisnu sudah duduk canggung dipisahkan meja di tengah-tengah.


Almira memandang ke depan tanpa mau melihat wajah Wisnu sama sekali. Tapi tidak dengan Wisnu, dirinya beberapa kali menoleh ke arah Almira dari samping. Wajah gadis yang baru pertama kali bisa dia pandang dengan jelas tanpa sembab air mata. Wajah cantik dan punya aura gadis yang tegar dan tegas.


“Berani sekali kamu datang ke sini,” lontar Almira setelah beberapa saat mereka berdua hanya diam membisu.


“Harus berani, walau sebenarnya aku hanya bermodal nekat,” jawab Wisnu melirik sekilas ke arah Almira yang nampak memainkan bibirnya karena mencibir dengan senyuman sinis.


“Aku menolakmu,” jawab Almira menoleh ke arah Wisnu dengan berani.


“Aku akan memaksa,” jawab Wisnu dengan suara datarnya seperti dia biasanya bersikap tenang.


“Apa katamu?” Almira berdecak dengan tawa tak percaya mendengar ucapan Wisnu.


“Aku berusaha mempertanggungjawabkan perbuatanku, jangan mempersulit hidup dan membuat masa depanmu menjadi suram,” sahut Wisnu dengan penekanan pada kata-katanya.


Almira memandang Wisnu dengan sorotan mata tajam dan sinisnya, tapi tidak membuat Wisnu terpengaruh sama sekali.


“Aku akan merasa bersalah saat tidak bisa berbuat apapun, padahal jelas itu semua karena kesalahanku,” terang Wisnu memandang Almira dengan wajah seriusnya.


“Apa kau pikir, dengan menikahiku semua masalah kita selesai?” desis Almira menampilkan wajah bersungut.


“Lalu apa? Katakan apa yang bisa ku lakukan untuk melepaskan rasa bersalahku?” tanya Wisnu tak kalah bersungut juga.


“Mati, kenapa kau tidak mati saja?” lontar Almira sengit menghempaskan perasaan Wisnu.


Dengan kepalan tangan yang masih menyisa rasa nyeri yang dia tahan Wisnu menunduk. Almira bisa melihat ada guratan memerah di wajah Wisnu. Pria itu terluka oleh ucapannya. Segera dia gelengkan kepalanya mengusir rasa iba terhadap pria itu. Rasanya juga sama sakitnya.

__ADS_1


“Bukankah … kau yang kembali ke kamar Hotel malam itu dan menyelamatkan hidupku?” tanya Wisnu dengan suaranya yang berat dan gusar.


“Aku datang lagi untuk memastikan kau mati bukan untuk menolongmu,” sahut Almira melengos.


Wisnu memandang tajam ke arah Almira yang menghindari kontak mata dengannya. Gadis itu menunduk dan memandang kesana kemari terlihat tidak nyaman.


“Baiklah … aku mengerti,” ucap Wisnu kemudian sambil tersenyum sekilas.


“Apa maksudmu dengan mengerti?”


Wisnu mendengus lirih menahan dirinya, rencana matang di kepalanya seolah meledak ingin segera dikeluarkan menjadi aksi. Dirinya sudah jauh-jauh datang dari kota, merasa tidak ada satu pun wanita di sekelilingnya yang menolak dirinya. Tidak, Wisnu merasa hanya Isna dan gadis di sampingnya ini yang menolak dirinya. Wisnu tidak akan mengulangi kejadian yang sama lagi. Kehilangan tanpa perjuangan.


“Aku akan melakukan sebuah pengakuan,” ujar Wisnu sembari memukul ringan lututnya dan berdiri dan tempatnya duduk santai.


Almira mendongak menatap Wisnu dengan sorot mata terkejut dan ikut berdiri juga. Mencoba menelisik maksud dari ucapan pria keras kepala di hadapannya itu.


“Pengakuan? Kau akan mengakui kesalahanmu?” tanya Almira meraih lengan Wisnu yang sudah melangkah ingin pergi.


“Tentu bukan kesalahanku saja, tapi kita,” sahut Wisnu tersenyum smirk ke arah Almira.


“Kita? Apa maksudmu kita? Kau memperkosaku,” tegas Almira bersungut menarik lengan Wisnu dengan kasar hingga tubuh Wisnu mundur selangkah tepat di samping gadis itu.


“Siapa yang akan percaya? Bukankah aku terlalu tampan untuk melakukan hal buruk seperti itu?” jawab Wisnu mendekatkan wajahnya ke arah Almira hingga gadis itu mundur dan melepaskan tangannya dari lengan Wisnu.


“Kau sangat aneh, dimana-mana pihak wanita yang menuntut untuk dinikahi, tapi kenapa kau malah yang ngebet ngajak nikah?” tanya Almira dengan suara menantang, tangannya bersedekap membuat Wisnu tersenyum tipis dengan gelengan kepalanya.


“Kau yang aneh, diberi pertanggungjawaban malah menolak, apa kau kurang sehat?” Wisnu menyentuh dahi Almira seperti mengecek suhu kewarasan gadis itu.


Dengan cepat Almira menepisnya dengan mata mendelik kesal. Gadis itu memandang Wisnu dengan wajah masih bersungut.


“Kau pilih mana? Menerima lamaranku dengan suka rela, atau rekaman yang sudah aku kirim ke nomormu aku berikan pada orang tuamu?” tanya Wisnu membalik badannya hingga berdiri berhadapan dengan Almira.


“Rekaman?” tanya Almira membulatkan matanya menatap Wisnu bingung tidak mengerti.


“Rekaman saat kita masuk ke Hotel malam itu.”


Fokus matanya mencari benda pipih yang mendapat kiriman dari Wisnu padanya. Setelah menyambar kasar dari atas meja, dia segera membuka pesan masuk dan mendapati nomor baru pengirim pesan video.


Rekaman apa yang dia maksud?


Batinnya menjadi gelisah, dia buka file video itu dan menampilkan rekaman cctv dimana dirinya sedang merangkul tubuh Wisnu dari koridor menuju lift. Tidak ada unsur pemaksaan sama sekali saat dirinya dan Wisnu masuk dalam ruangan kamar Hotel. Hanya sebuah tarikan lembut yang tidak dilawan olehnya. Terlihat seperti dirinya yang mengajak Wisnu ke dalam kamar.


Almira segera melempar ponselnya ke atas kasur. Dia mengusap wajahnya dengan gelisah. Almira segera membetulkan rambutnya, mengikatnya kembali dan berjalan menuju tempat dimana Wisnu masih menunggunya di depan pintu teras samping rumahnya.


“Bagaimana, sudah kau buka?” tanya Wisnu membalik badan dan mendekati Almira yang berjalan dengan ragu.


“Aku …,” Almira masih menatap Wisnu ragu.


“Menikahlah denganku, Almira,” pinta Wisnu dengan mengulurkan sebuah benda berbentuk kotak kecil berwarna biru navy ke arah Almira.


“Aku sudah punya pacar,” jawab Almira menunduk mengamati kotak yang dibuka Wisnu di hadapannya itu.


“Karena pacarmu itu, makanya aku cepat datang untuk melamarmu, aku tidak mau dia lebih dulu melakukannya,” sahut Wisnu dengan suara tegas.


Dada Almira berdesir, memandang Wisnu sejenak. Sorot mata pria itu menampakkan keseriusan dalam ucapannya. Almira menjadi terintimidasi dan melepaskan pandangan dengan kembali menunduk, menatap kotak yang kini sudah terbuka dan menampakkan sebuah cincin berbentuk sederhana tapi manis baginya.


“Menerimaku dengan baik-baik atau orang tuamu bakal mendengar pengakuanku?” lontar Wisnu memiringkan kepalanya dengan senyuman.


“Kamu cowok res* ya ternyata? Tidak tahu malu,” decak Almira dengan bibir cemberut.


“Cowok res*? Kau lucu mengataiku dengan sebutan begitu.” Wisnu terkekeh merasa terhibur.


“Mau kemana?” Almira meraih kembali lengan Wisnu yang sepertinya hendak melangkah lagi menuju teras depan rumah. Wisnu menghentikan langkahnya.


“Melanjutkan misiku, menjadikan kamu istriku,” bisik Wisnu sembari menoleh, memperlihatkan kilatan sorot matanya menandakan sedang senang.

__ADS_1


“Isk!” Almira berdecak dengan bibir memberengut masih terlihat sangat menolak. Wisnu semakin merasa ingin tertawa.


Wisnu termenung sejenak belum berpindah tempat, pandangannya fokus menatap gadis yang serba salah dalam menghadapinya. Dia bisa merasakan perasaan gadis dihadapannya itu dengan baik, menerimanya tanpa cinta atau menolaknya tapi terlanjur rusak olehnya. Wisnu merasa sangat paham.


“Aku tidak menyukaimu,” lontar Almira membuat Wisnu tersadar kembali.


“Katakan itu setelah menikah denganku sebulan,” balas Wisnu dengan tawa kecil.


“Melihatmu saja aku sudah muak.”


“Oya? Semakin melihatku mungkin saja kau akan semakin muak dan muak hingga tidak mau lepas dariku,” ujar Wisnu semakin membuat Almira mendelik kesal.


“Wahh … punya bakat membuat orang kesal ya?”


“Membuat jatuh cinta juga bisa,” sahut Wisnu membuat Almira mendorongnya sekuat tenaga.


“Lihat, berapa kali kau menyentuhku? Menarik, mendorong, menarik lagi, mendorong lagi,” goda Wisnu tertawa remeh. “Menikah saja denganku, kau boleh menarik mendorong sesukamu,” tambah Wisnu membuat Almira menghentak kaki antara malu dan marah.


Tapi apa yang bisa Wisnu lihat, dia merasa tidak masalah menikahi gadis ini. Penolakannya dan sikap keras tanpa tangisan lagi membuatnya sadar bahwa gadis ini layak dia perjuangkan. Dia akan jadi calon istri yang tidak lemah dan bersikap manja. Mirip seperti gadis masa lalu yang masuk daftar cintanya. Bukan wanita menye-menye.


“Jadi, gimana?” serobot suara Ayah Almira dari samping mereka berdua membuat kaget.


Reflek mereka berdua segera memandang Ayah Almira dan Pak Rt yang sudah berdiri di sana.


“Saya menerima lamaran itu, Pak,” jawab Wisnu cepat.


“Eh, harusnya yang jawab 'Nak Ira,” potong Pak Rt sambil tertawa merasa Wisnu pintar bercanda.


“Almira menerima, saya hanya menyampaikan,” sahut Wisnu segera diberi cubitan keras dibalik pinggangnya oleh Almira dengan kekuatan penuh kekesalan.


“Augh,” Wisnu menoleh dengan ringisan ke arah Almira yang memberi senyuman nampak kesal.


“Mati kau, bermain-main denganku,” bisik Almira sambil masih tersenyum menyipit ke arah Wisnu. Wisnu menghembus napasnya.


“Almira?” panggil Ayahnya membuatnya segera berpaling menghadap sang ayah.


“Iya, Pak,” jawab Almira gugup.


“Kamu terima 'kan, lamaran 'Nak Wisnu?” tanyanya dengan suara tegas khas seorang ayah pada anak gadisnya.


“Eh … i-iya, Ira terima,” jawab Almira mengangguk gugup bercampur takut pada ayahnya itu.


“Wahh … jadi punya mantu nih Pak Ramlan,” goda Pak Rt segera diberi kekehan senang.


Beberapa orang yang sudah ikut menyusul menemui Almira dan Wisnu juga terlihat bergumam ikut senang.


“Begitu saja, pakai acara mencubit,” seloroh Wisnu lirih, dengan cepat Almira kembali melancarkan aksi jahatnya.


“Astaga, sakit, Non,” gerutu Wisnu mengelus pinggang belakangnya sambil menatap Almira yang masih melirik sinis ke arahnya. Entah mengapa, Wisnu merasa menyukai sekali gaya sinisnya.


Bersambung …


Terimakasih ya telah menyempatkan waktu untuk membaca, berikan dukunganmu juga dengan memberiku Like, Komenter dan Vote yaa


Baca juga novelku yang Istri Kedua Tuan Krisna juga novel karya sahabatku 😊


Kak Tya Gunawan



Kak Eka Pradita



Kak Liska Oktaviani

__ADS_1



Salam segalanya dariku ~ Syala Yaya🌷🌷


__ADS_2