Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 104 Mengolah Rasa


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Suara azan isya' menyambut Si Ayah Tampan ketika membelokkan kendaraannya ke halaman rumah. Ia pun segera memarkirkannya tepat di sebelah mobil Toyota Yaris berwarna oranye dengan kening berkerut. Ia gagal mengenali siapa pemiliknya dan turun dari mobil dengan wajah bertanya-tanya siapa tamunya.


“Wah! Mas Wisnu sudah pulang,” sapa Ersa yang baru turun motor diantar seorang pria yang Wisnu kenali sebagai salah satu dari pengurus sebuah sanggar dan komunitas di Solo.


“Pak,” sapa laki-laki itu ikut turun dari motor lalu menyalami Wisnu.


“Kita—” Wisnu mengernyitkan dahi.


“Setyo, Pak. Yang dulu datang untuk memberikan laporan atas dana sumbangan dari perusahaan Pak Wisnu,” sahut pria itu membuat Wisnu mengangguk yakin karena sudah mengingatnya.


“Mari masuk dulu, kebetulan ada beberapa rencana anggaran yang menyangkut itu,” ajal Wisnu memberi isyarat tangannya meminta Setyo untuk mengikutinya masuk.


“Dari mana? Jam segini baru pulang?” Kini Wisnu beralih kepada Ersa yang berjalan di sampingnya saat memasuki teras rumah, sedangkan Setyo berjalan di belakang mereka berdua.


“Benerin laptop, Mas. Error terus.”


“Kak Setyo ini pinter benerin laptop juga?” Wisnu berdecak kagum seraya menoleh ke arah pria itu dengan senyuman semringah.


“Usaha saya di Solo, Pak,” jawabnya dengan canggung.


“Panggil Wisnu saja, umur kita kayaknya nggak berselang jauh, 'kan?” tawar Wisnu terkekeh.


Setyo hanya mengangguk. Almira segera membukakan pintu untuk Wisnu. Senyuman cantik segera terukir menyambut, wajah terkejut pun kini tampak dari wajah ibu muda itu saat melihat Setyo menganggukkan kepalanya untuk memberi salam.


“Mas Setyo ... silakan masuk,” sambut Almira sambil meraih barang bawaan dari tangan suaminya.


“Mari semua masuk,” ajaknya mundur dan berjalan diiringi ketiga orang yang berada di depan pintu kini mulai memasuki rumah.


“Yang datang siapa? Mobil di depan?” tanya Wisnu berjalan di belakang Almira.


“Alan sama Yashna. Aku paksa menginap soalnya Yashna lagi nggak enak badan,” jawab Almira menghentikan langkah dan membalik badan menghadap Wisnu dan Setyo. Ersa memilih untuk terus berjalan menuju ke rumah tengah alih-alih menimbrung obrolan yang tidak dipahaminya.


“Silakan Mas Setyo duduk, saya tak ke belakang sebentar,” ucap Almira mempersilakan pria yang merupakan tetangganya, tapi masih kerabat jauh itu sambil berjalan ke arah kursi sofa berwarna cokelat muda. “Saya tak panggilkan bapak sebentar,” pamitnya.


“Iya, silakan,” sahut Setyo membalas senyuman.


Wisnu dan Almira pun undur diri ke belakang. Almira seperti biasanya akan menyambut suaminya dan melayani keperluan mandi juga makan sesampai di rumah. Wisnu merangkul tubuh sang istri saat berjalan menuju rumah tengah, tidak lupa ia akan menciumi pucuk kepala Almira yang membawa ketenangan dan candu untuknya.


“Di mana mereka berdua?” tanya Wisnu masih memeluk tubuh Almira saat membuka pintu kamar.


“Di ruang TV. Intip, deh. Mereka ini lagi jagain Sekar,” bisik Almira terkekeh pelan.


“Akur?” Wisnu terkejut.


“Banget,” sahut Almira dengan suara riang.


Wisnu menarik lembut pinggang Almira hingga perempuan itu memutar tubuhnya menghadapnya, tatapan mereka beradu dengan saling mengukir senyuman. Wisnu memandang lekat sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya untuk melepaskan kerinduan. Menyusuri lekukan lembut dengan saling membalas sapuan cinta dan ketulusan.


“Mandi dulu, gih. Terus shalat,” ucap Almira begitu Wisnu melepaskannya.


“Masih lama, ya?” lontar pria itu memberi kode-kode. Almira pu tergelak sambil memukul perut sang suami dengan jemari tangannya.


“Masih masa nifas, Sayang. Sabar, ya?” jawab Almira dengan tatapan menyesal.

__ADS_1


“Pasti itu. Aku 'kan nanya soal Alan sama Yashna sampai di sini sudah lama, bukan yang itu,” godanya sambil memeluk tubuh cantik istrinya dengan erat. Almira sudah berhasil menurunkan berat badan sebanyak tujuh kilo itu pun mencubit gemas sang suami karena kesal.


“Mas tadi ngomongnya 'masih lama' bukannya sudah lama! Ih, ngeles!” rutuk Almira mengerutkan bibirnya kesal bercampur malu.


“Hahaha ... ok, nyerah. Sakit!” Wisnu pun segera meraih jemari sang istri agar berhenti mencubitnya.


“Sudah aku siapkan bajunya. Cepat nyusul, kasihan tamunya dianggurin lama.” Almira mendorong dada sang suami dan keluar kamar, ia pun segera menuju ke arah dapur untuk menuangkan air panas ke dalam ember besar untuk mandi suaminya.


Fasilitas di desa tidak selengkap rumahnya di Solo, tetapi Almira merasa beruntung karena suaminya tidak pernah sekalipun mengeluh dengan keadaan kekurangan yang dirasakan ketika tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. Wisnu penuh pengertian, sedangkan dirinya selalu mengupayakan agar suaminya tidak berlalu kesusahan dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarganya yang sangat sederhana.


“Bapak sudah di depan?” tanya Almira di sela menaruh kembali ketel besar ke atas tungku yang biasa digunakan untuk merebus air untuk mandi menggunakan kayu bakar.


“Sudah. Ibu juga sudah buatkan minum, kok,” sahut Halimah terlihat sedang sibuk mengulek sambal untuk tambahan menu makan malam.


“Oh, syukurlah. Sekar juga nyaman dipangku kak Yashna,” ujarnya senang.


“Hu um, malah Alan 'tuh kayak lebih pinter gendong daripada Wisnu,” kata Halimah sambil terkekeh.


Almira pun ikut tertawa karena kenyataannya memang Wisnu sangat kaku saat menimang Sekar. Pria itu sering panik saat sang bayi menggeliat dalam buaiannya. Almira sering menggoda suaminya dengan sebutan Ayah Ganteng Sekar yang payah.


“Tuh, yang diomongin baru muncul,” goda Almira menatap kedatangan Wisnu masih sambil tertawa. Seperti biasanya, pria itu hanya akan mencibir untuk menahan senyuman malu agar tidak lepas dari bibirnya.


“Apaan, Bun? Mau bantuin gosok punggung?” balasnya menggoda Almira, mengabaikan ibu mertuanya yang masih terkekeh di ujung dapur menanggapi interaksi anak dan menantunya yang kelewat romantis.


“Ogah! Sana masuk. Ini handuk sama pakaian gantinya. Kita Abis ini makan malam bareng sama tamu sekalian.” Almira pun mendorong tubuh sang suami ke arah kamar mandi sambil menyerahkan keperluannya diiringi kekehan Wisnu yang paham bahwa istrinya sedang menahan diri untuk tidak mencubitnya. Perempuan itu paling tidak bisa digoda di depan orang tuanya.


“Siap, Bunda Cantik!”


“Gombal mulu,” cibir Almira sambil menutup pintu, tak ayal pipinya tetap saja tampak semburat kemerahan karena tersipu.


“Goreng nila, sama ibuk masak sayur asam,” ucap Halimah sambil menata meja makan ketika Almira bertanya.


“Kesukaan Mas Inu,” sahut Almira.


Halimah pun terkekeh. Menantunya sering memandang masakannya dengan tatapan tidak biasa, tetapi selalu jatuh cinta dan meminta dibuatkan lagi setelahnya. Menu sederhana bagi keluarganya, tetapi akan menjadi spesial bagi pria bertutur lembut itu saat mencicipinya.


“Iya, ibu selalu terharu setiap makan suami kamu itu pasti lahap,” sahut Halimah dengan pandangan mata berkaca-kaca.


“Mas Inu sudah kehilangan ayah sama ibunya sejak usia sembilan tahun, Bu,” tutur Almira sambil memandang ibunya yang mengangguk mengerti. Mereka pun saling melempar senyuman kemudian kembali dengan kesibukan masing-masing dalam menyiapkan segala keperluan.


Almira makan terlebih dulu, seperti ibu muda pada umumnya, ia akan melahap dengan cepat agar bisa mengambil alih Sekar dari gendongan Yashna. Keluarga sederhana itu segera mengumpulkan semua tamu ke arah meja makan. Kebiasaan ibu Almira memang seperti itu, semua tamu yang masih berada di rumahnya sampai isya' pasti akan disuguhi makan malam meskipun dengan lauk seadanya. Masakan khas orang desa.


“Pokoknya jangan sungkan, ya. Lauk seadanya ini,” ucap Halimah sambil meletakkan berbagai lalapan ke atas meja.


“Alan, Yashna! Ayo gabung!” seru Wisnu yang berjalan dari kamarnya saat melihat keduanya berjalan keluar dari ruangan tv. Almira melambaikan tangan, tidak bisa ikut menemani karena menjaga Sekar.


“Hot Daddy!” goda Alan menepuk punggung pamannya. Bahkan tinggi badannya kini beberapa sentimeter melampaui Wisnu.


“Hot Hubby juga,” sambut Wisnu menelengkan kepalanya sambil tersenyum.


“Ish! Kalian ini sama-sama—”


“Ganteng paripurna!” Kedua pria itu kompak memotong ucapan Yashna sambil terkekeh.


Yashna hanya bisa mendelik dalam menanggapi kenarsisan paman dan keponakan itu saat berjalan ke arah meja makan.

__ADS_1


“Yashna, sini. Duduk di samping Ersa!” ajak Halimah dengan antusias. Tangannya terulur meraih lengan Yashna dengan lembut serta menarik kursi untuknya.


Pandangannya terpaku seketika saat menyadari pria bernama Setyo kini duduk tepat di hadapannya menyambutnya dengan senyuman hangat.


“Alan, duduk di sini saja,” ajak Wisnu meraih tangan sang keponakan agar segera duduk di sampingnya. Pria muda itu pun menarik napas dalam-dalam saat menyadari di antara anggota keluarga ini terdapat satu pria yang menjadi ancaman baginya.


“Damn it! Apa pria ini anggota keluarga ini?” pikirnya dalam hati sambil duduk dengan perasaan tidak nyaman. “Kenapa dia bisa di sini?” keluhnya kesal.


Mengendalikan emosi merupakan tantangan terberat yang disyaratkan Yashna, tetapi ia tidak menyangka akan dihadapkan pada situasi satu meja makan seperti malam ini.


Wisnu yang menyadari raut wajah tegang keponakanya pun menepuk pundak kokoh nan bidang itu sambil tersenyum.


“Kamu tahu? Yang tidak bisa kita kalahkan itu takdir, salah satunya adalah jodoh,” bisiknya untuk menyemangati sang pria labil.


Alan meneguk ludah demi menjaga kekesalannya karena digoda sang paman. Ia pun membalas dengan ikut menyondongkan tubuhnya ke arah Wisnu sambil berbisik, “ Tapi, kita bisa andil dalam takdir dengan tidak mundur dalam pertarungan.”


“Ciz, aku akan menyumbang fasilitas kamar presidential suite di hotel milikku sebagai hadiah pernikahan kalian kalau ternyata dia jodohmu,” bisik Wisnu menggoda.


“Deal! 3 hari dua malam?” tantangnya menyambut Wisnu.


“Shit! Anak muda ingusan.” Wisnu pun menggertakkan giginya pelan di telinga sang keponakan.


“Akan kuhadiahi cucu lucu untukmu, kakek sok tampan,” balas Alan menyeringai.


“Halumu ketinggian. Belum berhasil merengkuh hati sudah berani mimpi merengkuh tubuhnya. Kalau butuh dokter cinta, nanti kuantar ke Kentingan (Sebuah Rumah Sakit Jiwa daerah Surakarta).”


“Ck! Enam bulan, akan kupastikan. Presidensial suite tolong disiapkan,” balas Alan penuh percaya diri.


“Bisik-bisiknya dilanjut nanti,” seloroh Almira tepat di bagian telinga Wisnu yang lain hingga perdebatan lirih itu pun berakhir.


Almira tersenyum kemudian berjalan sambil mengerling kepada sang suami. Dalam hati Wisnu mengumpati dirinya sendiri yang harus menahan diri untuk tidak merengkuh belahan jiwanya itu sebelum masa terlarang itu terlewati dengan baik.


“Jangan mikir cari pelampiasan, masa kalah tegar dari aku Si pemuda labil.” Skak Mat. Alan berhasil membungkam mulut Wisnu untuk tidak membalas.


“Kita sama-sama mengenaskan, Uncle Inu. Impas!” Alan pun melipat bibir agar tawanya tidak sampai terlepas. Wisnu pun membalas dengan menyodok sikunya pada perut Alan sambil mendesis.


Makan malam pun berlangsung penuh kehangatan keluarga.


*****


'Ujian cinta itu emosi. Entah apa saja yang sudah terlewati, ketika kesabaran itu melekat kuat bersama dengan kepercayaan sebagai pondasi, maka perjuangan pun mengikuti, meskipun harus dengan menutup mata dari rasa sakit yang mungkin saja tertoreh di sela memantapkan hati.'


🌻Syala Yaya


❤️Keluarga Syala Yaya dan Wisnu Tama mengucapkan selamat hari raya Idul Adha bagi umat muslim di seluruh dunia. Tetap mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah untuk menjaga diri sendiri dan keluarga tentunya. Semoga pandemi ini segera berakhir, Allah sebaik-baik tempat berserah diri.


Allahumma inna nas alukal afwa wal adiyata wal mu'aafaatad daa'imata fiid dunyaa wal 'aakhirati wal fauzu bil jannati wannajaati minan naari.


Artinya:


Ya Allah, kami mohon ampunan, kesehatan dan perlindungan yang terus menerus di dunia dan di akhirat, kemenangan masuk surga serta keselamatan dari api neraka.


(Amiin Yaa Rabbal'Alamiin)


🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2