
Wisnu mematung menatap gundukan pusara tanah liat berwarna merah bertabur bunga dari jarak yang agak jauh dari pelayat lainnya. Memandang dengan perasaan haru bahwa kehidupan amatlah singkat hingga tidak tahu kapan ajal akan menjemput.
Para pelayat masih hilir mudik menyampaikan ucapan duka cita dan mulai meninggalkan lokasi pemakaman satu persatu.
Wisnu berjalan mendekati Krisna yang terlihat berdiri sendirian menatap nanar, pandangan matanya kosong dengan segurat kesedihan nampak jelas di wajahnya. Berdiri mematung dan baru menoleh saat Wisnu sudah berdiri di sampingnya.
“Aku selalu bertengkar dengannya,” ucap Krisna membuka percakapan.
“Kalian mengungkapkan rasa sayang dan cinta dengan cara yang aneh,” sahut Wisnu membuat Krisna tersenyum tipis.
“Dia tipe orang yang menjunjung tinggi kehormatan dan gengsi,” ungkap Krisna membuat Wisnu juga melepas senyuman.
“Sama juga denganmu,” timpal Wisnu membuat Krisna mendorong pundak Wisnu memberikan protesnya. Mereka berdua saling mengukir senyuman.
“Bagaimana dengan Bibi? Aku belum melihatnya sedari tadi,” tanya Wisnu memutar arah pandangannya mencari sosok ibu dari Krisna yang merupakan ibu tiri bagi mendiang Imran.
“Beliau sakit, terkejut dengan kabar meninggalnya Imran, saat ini ibu di rumah menenangkan diri.”
“Lalu, Depe dan anaknya?” tanya Wisnu kembali memandang Krisna yang sudah menunduk.
“Bersama Isna dan teman-temannya, di sana,” jawab Krisna menunjuk ke arah tenda yang terpasang untuk di atas pusara, tempat para pelayat duduk.
Wisnu memandang dari jauh, wanita yang dulu pernah mengisi hatinya itu kini sedang duduk dengan isakan tangisnya. Meremas kuat tanah merah di depan matanya. Dengan helaan napas Wisnu menunduk, terdorong melangkah saat Krisna meraih pundaknya dan mengajak untuk mendekat untuk menyampaikan secara langsung ucapan duka cita kepadanya.
Wisnu berdiri tepat di hadapan makam Imran, bersebrangan dengan Depe berada saat ini.
Nampak Tya dan Anggen juga Isna berada di sisinya. Menguatkan sahabat yang baru saja ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.
“Aku turut berduka cita, Dhe,” ungkap Wisnu dengan suara simpati yang tulus.
Depe mendongak ke arah suara yang tidak asing baginya itu, masih dengan lelehan air matanya dia mengangguk menerima ucapan itu, sambil kembali menatap papan nama suaminya dengan perasaan kehilangan dan dada yang sesak.
Tiba-tiba tubuhnya jatuh terkulai, wanita itu pingsan. Isna dan Tya menjadi histeris, mencoba membangunkan Depe agar tersadar kembali. Mencoba menyadarkan dengan beberapa kali menggoyangkan pipinya.
“Bangun Dhe … bangun,” pekik Isna dengan wajah paniknya, menatap Krisna dan Wisnu secara bergantian, mencoba meminta tolong.
“Bawa dia ke luar dari area sini,” perintah Krisna dengan lambaian tangannya. Mendorong Wisnu agar mengangkat tubuh Depe dan membawa ke mobil.
Wisnu menatap Krisna penuh tanya, kenapa harus dirinya? Sorot matanya nampak memprotes sikap Krisna yang selalu suka memerintah seenaknya.
Di bantu para pengawal, Wisnu akhirnya memindahkan Depe ke mobil setelah berjalan melewati banyak makam, diikuti Tya dan Anggen dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sesekali Wisnu menatap keadaan Depe dari spion mobilnya, merasa kasihan dengan beban ditinggalkan suami saat pernikahan baru berlangsung beberapa tahun.
“Ira, saat aku tidak ada nanti, apa kamu juga akan kehilanganku?” gumam Wisnu dalam hati.
Kembali fokus menyetir menuju ke rumah sakit dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Terdengar Depe mengigau, memanggil nama suaminya, beberapa kali harus membuat sahabatnya ikut menangis pilu. Wisnu masih terdiam mencoba mengabaikan.
Bangunan Rumah Sakit nampak sudah berada di seberang jalan, Wisnu membelokkan mobilnya dan masuk ke jalur menuju IGD berada, memarkir kendaraannya tepat di depan pintu IGD dimana para medis segera datang dengan membawa brangkar dan meraih tubuh Depe, memindahkan dari mobil ke brangkar dan membawanya masuk ke IGD.
Wisnu menghela napasnya panjang, berlari kecil mengikuti Tya dan Anggen yang nampak khawatir berjalan mondar mandir di depan pintu IGD, menatap Wisnu yang terlihat lebih tenang berdiri dengan punggung bersandar dinding bercat biru itu.
“Wisnu, bagaimana kalau Depe ada apa-apa?” ucap Tya dengan hembusan napasnya sesak.
“Dia hanya syok, dia pasti baik-baik saja.”
“Kamu tidak menghawatirkan dirinya?” tanya Anggen merasa Wisnu terlalu tenang.
“Bukankah dia sudah ditangani ahlinya? Dengan khawatir berlebihan dan panik, tidak akan merubah keadaan apapun,” jawab Wisnu dengan suara datarnya.
“Kamu pasti kecewa ya, Depe meninggalkanmu dan menikah tanpa mengabarimu,” lontar Tya mendekati Wisnu, menatap Wisnu yang menunduk menatap sepatunya.
“Tidak, itu sudah lama sekali. Jangan diungkit lagi,” jawab Wisnu tersenyum tipis memandang Tya yang nampak juga menghawatirkannya.
__ADS_1
“Kami juga kaget waktu Depe mengatakan akan menikah, aku pikir itu denganmu tapi ternyata dengan kakaknya Krisna,” ungkap Tya ikut berdiri di sisi samping Wisnu dan menyandarkan punggungnya juga.
“Bukankah ini kesempatan untukmu memulai lagi dengan Depe?” seloroh Anggen menghenyakkan perasaan Wisnu.
“Kamu terlalu berlebihan dalam menyelami isi hati orang, kamu keterlaluan,” decak Wisnu dengan sorot mata kesal.
“Ya, kalau kalian masih saling menyukai, kenapa tidak,” ucap Anggen lagi dan segera diberi senyuman sinis.
“Sudahlah … jangan diteruskan. Sahabatmu sedang dilanda duka, aku juga bukan barang serep dimana bisa digunakan untuk menggantikan posisi orang lain yang sudah tiada.”
“Aku minta maaf, tapi sungguh Depe sebenarnya masih menyukaimu,” kata Anggen lagi dengan mimik wajah serius.
“Tapi aku tidak,” jawab Wisnu dengan suara dinginnya.
Tya meraih lengan Anggen agar menghentikan percakapan menyudutkan Wisnu dan Depe itu. Memberi isyarat agar dirinya diam dan mengamati dalam ruangan IGD dimana Depe masih di rawat.
“Aku permisi ya, hubungi aku kalau dirasa kalian butuh bantuanku, nomorku masih sama,” ucap Wisnu pamitan.
“Tidak menunggu Depe sadar dulu?” tanya Tya dengan wajahnya seperti keberatan Wisnu pergi dari sana.
“Sudah ada kalian, aku rasa Depe akan baik-baik saja. Lagi pula tidak enak kalau istriku sampai tahu aku menunggui wanita lain di Rumah Sakit,” jawab Wisnu memandang ke dalam ruangan yang dibatasi dinding kaca, nampak Depe terbaring dengan mata tertutup di dalam sana.
“Is-istri?” tanya Anggen gelagapan.
“Aku sudah menikah, maaf tidak mengundang kalian. Acaranya mendadak sekali soalnya.”
“Oh … iya, tapi kenapa menikah saja mendadak?” tanya Anggen dengan wajah seakan terbengong.
“Aku belajar dari pengalaman, harus gercep agar mempelaiku tidak sampai direbut orang,” kelakar Wisnu menampilkan tawa kecil dan menunduk pamitan.
Anggen dan Tya terbengong menatap punggung Wisnu yang berjalan meninggalkan koridor. Tya dan Anggen juga sempat menatap cincin yang tersemat manis di jari tangannya. Merasa penasaran siapa wanita yang berhasil memikat hati Wisnu dan berhasil menyandang nama nyonya Tama di belakang namanya.
“Wanita itu beruntung sekali ya,” komentar Tya menepuk lengan Anggen.
“Mikirmu macem-macem deh,” desis Tya mencubit gemas lengan Anggen.
“Tapi benerkan, dia itu kaku banget. Gimana cara mereka berdua kenalan coba? Terus juga gimana kalau mereka mau gituan,” oceh Anggen sambil nyengir membayangkan.
“Ih kamu itu ya, pikiranmu terlalu jauh” omel Tya makin gemas dengan pikiran Anggen.
“Hei, istri, sini! Aku mau bercinta!” ucap Anggen dengan suara menirukan ekspresi Wisnu yang kaku dan dingin.
Sontak Tya tertawa lepas dengan jemari mencubit kembali Anggen yang segera ikut tertawa juga. Tawa mereka terhenti saat melihat dokter keluar dari ruangan IGD.
“Bagaimana Dokter, teman kami tidak apa-apa 'kan?” tanya Tya berjalan cepat mendekati dokter itu.
“Tidak apa-apa, pasien sekarang sedang istrirahat. Kalian boleh menemuinya kalau mau,” ucap dokter itu dengan senyumannya.
“Terimakasih, Dok,” jawab Anggen segera meraih tangan Tya dan memasuki ruangan IGD menemui Depe disana.
***
Wisnu memasuki mobilnya, menatap setirnya sejenak dengan pikiran berkelabut. Mengusap kepalanya dengan helaan napas berat, segera meraih kuncinya dan menyalakan mesin mobil.
Keluar dari area parkir Rumah Sakit dan menuju arah jalan pulang. Perasaannya membaik, dirinya penuh syukur dengan hati dan perasaannya kini. Ternyata Almira masih bertengger kuat di hatinya. Nama Depe seolah sirna dan tidak merasakan sesak lagi saat mengingat ataupun bertemu dengannya tadi. Hanya sebuah simpati dan tidak lebih dari itu.
Menyusuri jalanan kota, berjarak dua jam dari rumahnya. Timbul niatan untuk mampir dulu ke kafe milik depe, ingin sekali dirinya merasakan kembali es krim kesukaan Isna itu. Ingin sekali dia membelikan satu untuk Almira.
Dengan bersemangat saat melihat kafe itu ternyata masih buka, padahal pemiliknya sedang berduka. Wisnu tidak habis pikir dengan keprofesionalan yang diberikan Depe pada bisnisnya. Benar-benar membuatnya menggelengkan kepalanya merasa sangat aneh.
Petugas parkir segera memberi aba-aba saat saat mobilnya memasuki area parkir Kafe. Menatap bangunan gaya Eropa itu dan segera keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobilnya.
Hatinya merasa menghangat saat membayangkan Almira akan bersikap sok ketus saat menerima oleh-oleh darinya nanti. Malu tapi mau.
__ADS_1
Melangkah memasuki Kafe yang pintunya berbahan kaca itu dengan mendorong handlenya. Tampak ramai pengunjung di dalam sana.
“Silahkan, Tuan,” ucap salah seorang pelayan mendekati Wisnu berdiri mencari tempat duduk.
“Oh, iya,” jawab Wisnu menatap pelayan itu yang mempersilahkan ke tempat duduk yang masih kosong.
“Lama Tuan Wisnu tidak mampir ke sini,” ucap pelayan itu yang sudah mengenal Wisnu karena dulu sering datang ke Kafe itu.
“Aku pindah ke kota sebelah, 2 jam dari sini jadi tidak sempat mampir lagi,” jawab Wisnu menampilkan senyuman.
“Ohh … baiklah, silahkan isi daftar pesanan Anda, Tuan Wisnu,” kata Pelayan itu memberikan buku menu.
Wisnu menerima buku daftar menu dan segera menandai pesanannya. Mencentang dengan layanan terbaik apabila berniat membawa pulang es krim itu. Sebuah hal yang membuat kafe ini punya kelebihan di banding kafe lainnya. Alat kelengkapan untuk membawa pulang pesanan es krim agar aman dan tidak meleleh saat di dalam perjalanan.
“Yang ini aku bawa pulang ya?” ucap Wisnu segera diberi anggukan Pelayan itu.
Wisnu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap ponselnya. Berniat menghubungi Almira yang ada dirumah. Merasa kasihan karena pagi-pagi sudah dia tinggal pergi, bahkan tanpa penjelasan yang pasti kemana dia pergi.
Dengan menempelkan ponselnya ke telinganya, menunggu hingga panggilannya tersambung Wisnu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Hingga pandangannya terhenti pada sosok gadis yang amat sangat dikenalnya, yang kini sedang dia coba untuk hubungi.
Almira terlihat sedang duduk berhadapan dengan seorang pria, duduk saling bercengkrama dengan meja sebagai pemisah di tengah-tengahnya.
Wisnu menelan salivanya yang mendadak kering. Benarkah wanita yang dilihatnya itu istrinya?
Dengan mengamati layar ponselnya Wisnu mencoba masih menghubungi Almira, saat tersambung Wisnu bisa mendengar bunyi nada ringtoon dari ponsel Almira yang berada di meja. Jarak mereka berdua tidak terlalu jauh.
“Sedang apa kamu disini, Almira?” gumam Wisnu masih menunggu Almira mengangkat panggilannya.
Dadanya tiba-tiba bergemuruh bercampur kecewa.
**
Jangan uji kesabaranku dengan pemandangan ini.
Jangan uji cintaku dengan pemandangan ini.
Aku tahu seberapa hatimu menolakku, tapi tetap saja, rasaku sakit saat aku menatapmu tidak bersama denganku. (Wisnu_Almira)
Bersambung …
Hello … masih bersama Wisnu Almira, semoga menanti terusan kisahnya ya.
Terimakasih atas dukungannya melalui Like, komentar dan juga vote luar biasa dari kalian semua 😘😘😘😘.
Baca juga ya novel dari para pemeran novelku yang merupakan para sahabatku Trio Somplak and the Gank
Kak Tya G
Aldheka Depe
Linanda Anggen
Nafasal
Salam cinta dan persahabatan dariku ~Syala Yaya🌷🌷
__ADS_1