
PoV (Point of View) Yashna
Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan hari ini. Menangis ataukah bahagia. Dalam satu sisi aku tidak boleh egois, terlalu banyak yang kuminta dan kuharapkan selama ini padanya. Kekurangan yang ada padaku memperingatkan diri ini untuk tidak lagi menuntutnya dengan standar kesempurnaan. Aku tahu itu tidak mungkin.
Aku tahu banyak orang yang akan mengataiku sebagai perempuan bodoh, aku tahu. Akan banyak orang yang mengatakan kalau aku ini terlalu memikirkan hidupku sendiri, tapi tahukah mereka kalau selama ini aku sudah banyak menghabiskan waktu untuk berpikir?
Saat pria itu berusia masih sangat muda, sembilan belas tahun dan menyatakan perasaannya padamu, sedangkan saat itu kau sudah berusia dua puluh lima tahun, apa yang kau pikirkan? Apa kau akan menganggapnya serius sebagai cinta sejati?
Ya, benar, saat itu kuanggap perasaannya sebagai sebuah lelucon anak-anak yang sedang dalam fase mencari jati diri. Gejolak cinta dalam fase awal dirinya menunjukkan pada dunia kalau sudah mulai melewati transisi dari anak menuju remaja lalu dewasa.
Kuamati hidupnya, jiwanya yang rapuh dan tidak stabil. Bagaimana mungkin aku merusak momen itu darinya? Aku pernah muda, pernah berada dalam posisinya. Memiliki banyak masalah hidup, mencari tahu apa impianku, bagaimana masa depanku. Aku pernah jatuh cinta dan memiliki cinta pertama, tapi akan musnah seiring dengan bertambahnya usia dan perbedaan yang terpampang nyata.
Dia akan berada pada momen itu, menemukan alur hidup yang lebih menarik, wanita muda yang ditemuinya nanti, dan mulai melupakan rasanya untukku. Jadi, yang kulakukan hanya dengan mempersiapkan semuanya, bila suatu saat dia bosan dan mengatakan ingin berpisah dariku karena menemukan getaran rasa yang baru terhadap wanita lain yang seusia dengannya.
Kau tahu, aku sangat ketakutan, tapi aku mulai mempersiapkan semuanya, diam-diam. Aku tahu semua itu bisa saja terjadi, jatuh cinta lagi saat kau masih menjalin hubungan dengan cinta lama yang kau anggap sejati—ternyata bukan.
Aku sudah dewasa, tidak lagi muda. Aku dan dia terpaut angka enam tahun—tidak jauh, tapi ingat dia lebih muda dariku. Jadi, itulah yang kulakukan. Mencari kesalahannya, untuk menutupi cemasku saat ternyata aku benar-benar jatuh hati padanya—sama seperti perempuan yang ada di sekitarnya.
Bagiku, tidak mudah untuk bersaing dengan mereka, rasa minder dan tidak selevel dengan dunia mereka menjadi momok menakutkan bila aku memaksakan diri untuk menjaganya dalam hidupku. Aku menyerah diam-diam, mundur secara perlahan saat dia mulai mengenal dunia baru yang kutakutkan, berada di dalam sana dengan keseruan baru yang tidak dia dapatkan ketika bersamaku.
Aku tidak pernah menyalahkan dirinya, hanya padaku sendiri yang lemah karena menyayanginya. Aku ingin melepaskannya, tapi aku masih hidup di sisinya dan membelenggu kebebasannya. Lalu, ketika suara arogan dan menyakitkan mulai datang padaku, memaksaku untuk menjauh darinya, maka keputusan pahit pun kulakukan. Aku tidak akan membuang waktuku dan waktunya untuk menunda perpisahan. Benar atau pun salah.
Kini, semuanya seperti berada dalam titik nol. Aku berjalan pelan, menggamit mempelai wanita cantik yang berjalan menyamai langkahku. Wanita ini terlihat bahagia, dia tersenyum sangat menawan, dan berhasil menghipnotis banyak kerabatnya yang datang. Prosesi pernikahan sederhana, seperti yang aku idamkan. Tidak apa-apa, bukankah Yashna dilahirkan untuk menjadi wanita yang kuat?
Ini bukan yang pertama kalinya aku ditinggalkan, sejak dilahirkan aku merasakan itu. Bukan itu saja, aku menyaksikan tiga pria yang masuk dalam hidupku menemukan cinta sejati mereka. Imrandira Shaka, mendiang suami Depe, dia cinta monyet yang membawa rasa sesak bila terus diingat. Wisnu Tama, suami dari wanita yang secara ajaib jadi teman dekatku—orang yang awalnya kubenci dan kini aku bersyukur Wisnu menjadi suaminya, lalu Kalandra, pria ini yang berhasil membuatku menangis dalam diam, lebih dari kehilangan yang pernah kurasakan. Apakah aku akan menjadi sahabat istrinya kelak—sama seperti Depe dan Almira?
Dadaku terasa sesak, gaun yang kupakai kini rasanya terlalu indah untuk dikenakan dalam kedukaan, jadi kuputuskan untuk bertahan. Kuhela napas dalam-dalam, mengembuskan perlahan saat sepatu yang membungkus kakiku kini sudah menginjak karpet merah yang terhampar panjang ke arah altar. Di sana terlihat pendeta sudah menunggu kedatangan kami, di sampingnya tampak Alan bersama Erick memandang kedatangan kami. Menunggu pengantin wanita melewati perjalanan panjang, mengenang masa menuju ke gerbang kehidupan yang baru, menyambut uluran tangan mempelai pria—teman hidupnya.
Sebenarnya aku tak kuasa menahan diri untuk terus di sini, apalagi mendapati wajah-wajah familier di antara para tamu undangan. Tidak, aku amat membenci ini. Almira bersama keluarganya, Depe dengan kekasih baru dan anaknya, Isna bersama Krisna dan sang putra, lalu dadaku sesak ketika mendapati satu wanita dengan mata sembab berkaca-kaca kini menatapku, lelehan air mata itu lebih menyakitkan dan mengiris ragaku. Jujur saja, aku benci ketika menyadari menjadi bagian dari dirinya—dia ibuku. Otakku pun mulai berpikir keras, apa mereka datang untuk menertawakan hidupku?
Aku bisa memaklumi kehadiran Wisnu dan Isna di sini, tapi ibuku, untuk apa dia di sini? Kalau saja tugasku mendampingi mempelai wanita sudah selesai, akan kutarik dirinya ke atas panggung dan mempertanyakan padanya kenapa harus melahirkan aku ke dunia? Kenapa tidak membunuhku sejak aku masih berupa seonggok daging tidak bernyawa bila ternyata kehadiranku tidak membuatnya bahagia. Aku tidak salah, tapi kenapa harus menanggung dosanya. Kenapa?
“Silakan pengantin wanita maju ke depan.”
Suara pendeta membuyarkan lamunanku, apa yang kulihat hari ini menawarkan rasa berlipat-lipat antara kesedihan dan kemarahan. Aku pun mulai berani menatap ke depan, di sana Erick dan Alan berdiri bersandingan. Seperti pria kembar dan sama-sama menawan meskipun aku tahu kecemasan mereka dapat kurasakan. Satu sebagai mempelai yang cemas dengan prosesi dan satu sebagai saudara pria yang terharu karena melepaskan saudarinya menikah, bukankah begitu?
Kulepaskan tautan tanganku dari lengan Julia, dia pun tersenyum padaku sejenak sebelum akhirnya berjalan lagi ke tengah untuk menjalani prosesi pernikahan. Aku menahan napas, meskipun sudah kucoba untuk kuat, tetapi rasa sesak tetap saja kurasakan hingga menancap ke palung hati. Aku sebenarnya tidak siap. Aku pun memilih untuk menundukkan kepala, mengepalkan jemari, dan menyimak dengan khidmat.
“Nona Juliana Tanusa, sudah siap untuk menikah dan mengarungi hidup berumah tangga dengan calon suami Anda?”
“Saya siap.”
__ADS_1
“Baik. Untuk Tuan Erick Adskhan, sudah siap untuk menikah dan menjalani hidup bersama calon istri Anda?”
“Saya siap.”
“Baik, prosesi akan segera dimulai.”
Tunggu! Kutelan ludah yang telah mengering sejak pagi tadi. Aku merasa salah mendengar nama yang baru saja kuterima. Julia dan Erick?
Kuberanikan diri untuk mendongakkan kepala, masih menahan napas ketika melihat apa yang terpampang di depan mataku, hanya berjarak dua meter dari sana. Julia sedang berdiri berhadapan dengan pria yang sejak pertama muncul aku asumsikan sebagai saudara laki-laki Julia.
“Apa-apaan ini?” batinku belum sanggup memahami apa yang kulihat dengan mata kepala sendiri. “Kenapa yang berdiri di tengah altar Erick, bukan Alan? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Kualihkan pandangan kepada sosok pria yang kini menundukkan kepala, tampak sedang menahan diri dari rasa haru. Aku tidak yakin, tapi wajah dan bahasa tubuhnya menyiratkan demikian.
“Untuk apa? Kesedihan karena pacarnya menikah atau—”
Kuteguk ludah lagi, mencoba untuk memahami semua. Namun sayang, tidak juga kutemukan ujungnya dan rasanya sangat frustrasi melihat semua ini. Sungguh, ini lelucon atau apa. Aku tidak juga bisa mengerti.
Prosesi pernikahan berjalan lancar hingga pendeta mempersilakan kedua pasangan yang sudah sah menjadi sepasang suami istri di hadapan Tuhan untuk saling menunjukkan rasa cinta, melempar bunga dan aku terdiam tidak ikut larut dalam kebahagiaan. Aku terpaku dengan kesadaran hampir hilang sampai tangan Alan tiba-tiba meraihku dalam genggaman. Aku hanya bisa tergagap dan menunduk, menatapnya menekuk lutut untuk kemudian berjongkok di depanku. Saat itu juga kutemukan jawaban yang membuatku air mataku berlinang.
“Bocah berengsek,” bisikku mengumpatinya. Aku menggeleng tidak percaya setelah apa yang kulakukan selama ini. Rasanya aku harus murka padanya karena telah menjadikan aku benar-benar seperti wanita bodoh.
“Yashna, wanita yang sejak usiaku menginjak angka sembilan belas tahun, sejak aku mengenal cinta monyet dan berharap bisa mematahkan anggapan orang bahwa cinta pertama tidak pernah berhasil, maukah kau melepaskan masa lajangmu untuk menikah denganku? Saat ini juga, di sini, di hadapan keluarga, sahabat, dan Tuhan?” ucapnya dengan tegas dan lantang.
“Terima! Terima! Terima!” Suara Julia dengan iringan tepuk tangan, aku yakin itu dia. Memberiku semangat dan dukungan atas lamaran menyebalkan yang kuterima dari bocah sialan ini. Rasanya kakiku lemas, duniaku seperti kembali dan melegakan rasa sesak yang dari awal kutahan kuat-kuat.
“Terima! Terima, Yashna! Kasihan dia.”
Tepukan tangan dan teriakan untuk menerima lamaran ini begitu memekakkan telinga. Perhatianku kini terpaku pada sosok pria yang belum menghilang kecemasan dari raut wajahnya. Aku pun menyunggingkan senyum tidak percaya pada kemampuannya dalam berakting. Aku benar-benar sudah tertipu.
“Kalau aku menolakmu?” bisikku pelan, dengan suara yang bisa kupastikan hanya dia yang mendengar.
“Aku akan duduk di sini, berjongkok di sini sampai kau mau menerimaku,” jawabnya dengan wajah pucat, nyaris darahnya bagai beku dan aku mulai takut kalau sampai melihatnya pingsan.
“Ayo, terima Yashna, atau aku akan membunuhmu kalau berani mencampakkan adikku!” seru Julia hingga mendapatkan sorak dukungan dari semua orang yang hadir.
“Ya, Tuhan, Alan!” geramku padanya.
“Maukah kau menjadi sahabatku dalam mengarungi kehidupan rumah tangga? Aku tidak butuh kau berubah jadi istri penurut yang mengabdi pada suami, tapi sahabat yang setara. Saling meminta hak dan kewajiban, memberi dan menerima cinta sebagai suami istri di dalam pernikahan. Maukah, Yashna. Kau menerima pria ini dalam hidupmu? Bersediakah kau menikah denganku?”
“Aku—” Rasanya bibirku kelu menjawabnya. Hatiku sudah menyiapkan jawaban, tapi mulutku terlalu kaku untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam kepala. Aku terkejut dengan apa yang terjadi, bagaimana mungkin bisa berubah begini?
__ADS_1
“Semua orang menunggumu, aku juga. Dan jangan khawatir, aku akan menerima semua keputusanmu dengan bijaksana meskipun aku berharap kau akan—”
“Aku menerima lamaranmu,” potongku cepat.
“Kau ... menerima lamaranku?” Kulihat jelas rona merah cerah kini tersirat pada wajahnya. Bibirnya pun terukir senyuman manis dengan beberapa kali menunduk karena mungkin saja dia malu.
"Iya, aku menerima," ulangku menyakinkan, untuk diriku sendiri dan untuknya.
“Terima kasih, Yashna.” Suara Alan terdengar membisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Selamat untuk kalian berdua,” ucap Julia kini merangkul erat tubuhku, menarik tangan Alan begitu pria itu berdiri kembali dan berhadapan denganku.
“Aku benci kamu,” bisikku pada Julia dengan suara bergetar menahan tangis.
“Dan aku kesal kau merebut momen pernikahanku,” balasnya sambil melepaskan diri dan meraih pipiku dengan jemari tangannya yang lembut.
“Maaf,” balasku cepat dengan mata penyesalan dan dia pun tertawa riang.
“Tuntaskan dengan mengikrarkan janji suci pernikahan hari ini. Aku sudah mempersiapkan bulan madu untuk kita berempat.”
“Ap-apa!”
“Ya, kau pikir Alan selama beberapa bulan ini ngapain? Dia mempersiapkan semua ini denganku dan aku bangga padanya. Sekarang pergilah, temui calon separuh jiwamu yang sudah menunggu di sana,” bisiknya lagi membuat tatapanku kini beralih ke arah Alan. “Dia sudah bekerja keras,” bisik Julia lagi padaku. Aku pun hanya bisa terharu.
“Siakan mempelai wanita,” ucap pendeta itu menatap sambil tersenyum padaku.
Aku pun hanya bisa menertawai diriku sendiri. Rasanya ini seperti mimpi dan apa yang kulakukan ini bahkan tidak pernah kubayangkan seumur hidup.
Aku berdiri di hadapannya, menatap matanya yang indah dengan iris cokelat gelap yang memesona. Uraian senyuman yang selalu kurindukan terbit di ujung bibirnya yang cerah. Tangannya meraih ujung jemariku, menarik hingga pada batas dadanya. Tatapan mata itu tidak juga terlepas hingga kini jantungku seperti rusak karena iramanya tidak karuan.
“Yashna Andara Bumi, bersediakah kamu menjadi sahabat, teman, istri, ibu dari anak-anakku. Hidup dalam suka dan duka, menerima kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diriku ....”
Dan hari yang kusangka sebagai hari kepedihan, kini berubah menjadi hari penuh syukur karena mulai sekarang aku tidak sendiri lagi. Dia yang kuanggap sebagai iklan lewat di dalam pertunjukan hidupku, ternyata berhasil memonopoli panggung dan bergerak masuk untuk menjadi sesuatu yang tidak boleh kubiarkan berakhir begitu saja. Aku akan terus menggenggam tangannya dan tidak akan kulepaskan lagi karena ternyata separuh energiku untuk hidup ada bersamanya.
“Ya, aku bersedia.”
***
Dear dairy, Tuesday 14 Desember 2021
'Kini kuukir sejarah, saat aku mengucapkan kata 'bersedia' di depan wajah-wajah yang kusayangi, saat itu pula aku yakin bahwa aku membuka diri untuk memasuki dunia baru, tidak sendiri melainkan bersama seseorang yang telah memutuskan untuk membagi apa pun denganku.'
__ADS_1
(Kalandra Tama & Yashna Andara Bumi)