Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 65 Makan Bakso


__ADS_3

Hari sudah beranjak malam saat Wisnu dan Almira memutuskan untuk kembali pulang. Sesampai di rumah, Almira meletakkan tas di sofa dan duduk merosot merebahkan punggungnya. Rasa lelah mulai terasa di seluruh tubuhnya, ia meringkuk miring dan tertidur sementara menunggu suaminya selesai mandi.


Sepanjang perjalanan ia hanya bisa melirik raut datar suaminya. Raut ketenangan yang seringkali membuatnya salah persepsi dalam mengartikan bentuk diam dan tidak acuhnya. Ternyata semua kepahitan mendalam yang membuat suaminya menjadi sosok seperti sekarang dia kenal.


Almira menjadi begitu bersyukur, dalam keterbatasan apapun tetap saja dia memiliki keluarga utuh. Mendukungnya dari tahapan awal lahir hingga kini dirinya dewasa. Lalu Wisnu bagaimana? Almira membayangkan sendiri usia belia sembilan tahun hidup tanpa kedua orang tua. Ahhh ... membayangkan saja rasanya dia sudah tidak sanggup.


“Sayangku, Ira," bisik Wisnu mengusap kepala istrinya lembut dan menyingkirkan anakan rambut yang menutupi wajahnya.


”Ehm," jawab Almira mengigau.


Wisnu tersenyum samar memandangnya. Segera duduk di samping istrinya.


Wisnu sangat bersyukur karena Almira tidak berkomentar apa-apa mengenai cerita masa lalu yang sudah ia buka di pemakaman tadi sore. Kini perasaannya sudah lega. Ketakutannya sudah perlahan sirna.


“Ira, mandi dulu. Ayo, mau Mas Inu bantu?" tanya Wisnu menggoyang pundak Almira dengan lembut.


Almira membuka mata perlahan, mengerjap seraya menguap diliputi rasa kantuk dan lelah mendera. Ia segera duduk dengan wajah lelah dan malas. Ia belum menatap Wisnu sama sekali. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Sambil mengucek kedua matanya dia menoleh ke arah dimana suaminya duduk di sampingnya.


”Mas Inu," sapa Almira membuat Wisnu tersenyum dan meraih pundak itu serta menariknya dalam pelukannya. Almira hanya bisa tersenyum dan merasa jengah sendiri.


“Kamu mandi dulu, ileran itu,” goda Wisnu menepuk punggung Almira.


“Bentar, Mas. Bentar ...."


Almira mendorong tubuh Wisnu dan bergegas ke arah kamar mandi. Ia juga menutup rapat pintunya. Terdengar suara kran menyala deras diiringi suara Almira yang kembali muntah-muntah. Wisnu memandang pintu sambil menghela napasnya berat. Ia segera melangkah ke kamar mandi dan menyusul Almira yang memerah wajah dengan air mata merembes menahan rasa mual yang mendera.


”Kamu tidak apa-apa?" tanya Wisnu merasa cemas.


Istrinya itu menggeleng cepat dan kembali menundukkan kepala mencoba memuntahkan isi perutnya. Sambil berdehem ia menegakkan tubuh dan menekan kran dan mengumpulkan air di kedua telapak tangannya untuk berkumur.


“Kita ke dokter lagi, ya?" ajak Wisnu mengusap punggung Almira dengan lembut. Wisnu tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk mengurangi mual yang sedang dirasakan Almira.


”Tidak usah, aku akan mandi dan minum vitamin dari dokter. Pasti enakan. Lagipula aku merasa mual-mual cuma pas kadang dengar ada kata jorok saja kok," tolak Almira menepuk pipinya setelah meraup air dan menyegarkan wajahnya.


“Kata Iler tadi?" goda Wisnu tersenyum.


”Mas Inu!" decak Almira kesal.


Ia kembali menutup bibirnya dengan jemari tangan dan melirik sinis ke arah Wisnu yang melipat bibir menahan tawa isengnya. Masih sambil kesal Almira membalasnya dengan serangan cubitan kecil di bagian lengan hingga menyisakan bercak kemerahan.


“Aduh! galaknya calon Mahmud," ringis Wisnu lagi sambil mengusap lengannya disertai derai tawa.


”Aku mau makan bakso, yang bulatannya besar dan isinya telur," ungkap Almira sambil berjalan mengambil handuk.


Wisnu menatap istrinya dengan banyak hal terlintas dalam pikirannya. Tentang apa yang sedang terjadi. Calon anaknya benar-benar sudah tercipta bersama mereka. Wisnu seperti ingin meledak tangis saja rasanya.


“Ibu, maafkan Wisnu. Mungkin perjuanganmu saat mengandungku sama seperti apa yang istriku saat ini rasakan. Mencoba seakan baik-baik saja, nyatanya tubuhnya tidak nyaman sama sekali," batin Wisnu memandang.


”Mas, Inu," panggil Almira, istrinya itu kini sudah berada di hadapannya.


“Iya?" jawab Wisnu segera menoleh dengan wajah terkejut. Almira memandang dengan wajah cemberut.


”Aku mau mandi dulu. Aku mau makan bakso, Mas bisa belikan tidak?“ pinta Almira memandang penuh harap.


”Bisa, tentu bisa." Wisnu mengangguk cepat dan melangkah pelan meninggalkan kamar mandi.


Almira terus saja mengibaskan jemari tangannya agar Wisnu cepat ke luar dan membelikan dirinya makanan sesuai apa yang ada dibayangkannya. Sambil membalik badan dan berdeham beberapa kali Almira hendak melucuti pakaiannya.


“Mas Inu," kesal Almira memandang Wisnu yang masih berdiri di depan pintu menatap dirinya.


”Iya, Bos."

__ADS_1


Wisnu tersenyum simpul dan berjalan ke luar dan menutup pintunya perlahan. Ia masih tertawa sendiri saat beranjak menuju nakas dan mengambil ponselnya dari sana. Mengetik nama Ihsan sang assisten pujaan semua orang untuk menjalankan tugas mulia dari dirinya.


Tidak sampai menunggu lama sambungan telepon di sambar suara oleh pemiliknya, Wisnu berjalan keluar kamar menuju ruang tengah dengan santai.


“Belikan aku Bakso dua porsi yang bola-bola baksonya besar. Isinya telur, jangan lupa juga sambal dan kecapnya di pisah saja," perintah Wisnu dengan suara serius.


”Bakso Granat atau petir, Bos?" tanyanya juga dengan nada serius. Ihsan merujuk pada nama-nama populer bakso masa kini.


“Apa maksudmu dengan granat? Petir?" decak Wisnu merasa Ihsan malah bercanda dengannya.


”Lha apa? Bakso banyak namanya," kilah Ihsan terdengar serius juga.


“Terserah, pokoknya belikan semua. Utang duitmu dulu, sampai rumah aku ganti," tegas Wisnu menutup sambungan telepon.


Sambil menghembus nafas ia segera pergi ke dapur mengambil cangkir dan mengisinya dengan air panas. Memandang dapurnya yang tertata rapi, ia meraih sebungkus jahe bubuk dari wadah dan menuang dalam cangkirnya. Entah benar apa tidak Wisnu mencoba membuatkan minuman untuk mengurangi rasa mual istrinya. Ia merasa kasihan saat istrinya hamil muda tapi tidak ada sama sekali orang tua yang mendampinginya.


”Mas, baksonya udah? Kok masih di rumah?" ucap Almira menuruni tangga dan menuju ke dapur dimana Wisnu mematung memandang wajah segar istrinya.


Wisnu tersenyum kemudian kembali menatap cangkir dihadapannya. Sambil mengaduk isinya ia berjalan mendekati meja makan.


“Aku buatkan minuman jahe hangat," ucap Wisnu meletakkan cangkir di atas meja. ”Ayo, duduk sini."


Senyum sumringah Almira menghiasi bentuk perhatian suami untuknya. Sambil duduk ia menerima minuman itu dan menyicip rasanya.


”Nggak ada gulanya?" komentar Almira mengernyit dengan rasa pedas segar tanpa merasakan ada manis di dalam minuman jahenya.


“Memangnya kenapa?" tanya Wisnu mencoba bersikap jahil menggoda.


”Ya tidak manis lah," gerutu Almira merengut bersikap manja.


Wisnu ikut duduk berhadapan dengan Almira. Ia melipat bibir mencoba untuk tidak tertawa, tangannya ia taruh di meja memangku wajah tampannya. Almira menjadi malu-malu memandangnya.


“Apa sih?" protes Almira menunduk dan tersenyum sendiri merasa malu, Wisnu masih saja betah menggoda dengan tatapan manisnya.


“Kurang manis," jawab Almira menggembungkan bibirnya.


”Coba minum lagi sambil menatap Mas Inu," seloroh Wisnu membuat Almira ingin tergelak.


“Gombal ah ... aku minta gula," sahut Almira malah malu sendiri dengan tingkah suaminya dalam menggoda. Wajahnya sudah tentu merah merona karenanya. Sambil menyeruput kembali minuman jahenya Almira membalas tatapan lekat suaminya.


”Tuh 'kan, manisnya terasa, iya nggak?" goda Wisnu lagi membuat Almira mengulas tawa sambil menunduk. Ia benar-benar merasa dikerjai suaminya. Berhasil digoda habis-habisan tanpa bisa membalas.


Bel pintu berbunyi menghentikan tawa keduanya. Wisnu segera berdiri dan memutari meja makan dan mengacak rambut istrinya sebelum pergi ke luar membukakan pintu untuk Ihsan. Ia tahu cuma Ihsan satu-satunya tamu rumahnya, lagipula ia sudah menunggu juga bakso permintaan Almira yang Wisnu pesankan melalui assisten ganteng andalannya itu.


“Siapa yang datang?" tanya Almira memandang kepergiaan suaminya.


”Ihsan mengantar bakso pesanan mu tadi," jawab Wisnu berlalu hingga kini tubuhnya tidak terlihat dari balik pintu.


Wisnu membuka pintu rumah dan mendapati senyuman hangat Ihsan dengan membawa banyak plastik di tangan kanan kirinya.


“Masuk," ajak Wisnu menatap sejenak dan berbalik masuk ke dalam rumah, membiarkan Ihsan mengikutinya.


“Gerbangnya cerdas mengenali wajahku," ocehnya sambil mengamati ruang tamu bosnya yang terasa sepi.


”Wajahmu sangat antik dan khas, jadi sistem mendeteksi wajahmu bukan sebagai penjahat," balas Wisnu masih berjalan ke arah dapur.


“Tentu saja, Bos. Bukankah wajah kita sebelas sebelas," sahut Ihsan sambil ikut berhenti mengikuti saat Wisnu menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Terdengar ia berdecak membuat Ihsan tersenyum ke arahnya.


”Apa maksud dari sebelas sebelas?" tanya Wisnu cepat.


“Hahaha ... iklan shopee, Pak. Shopee sebelas sebelas big sale ...," jawab Ihsan sambil menyanyikan persis seperti iklan di TV.

__ADS_1


Almira yang mendengar sontak tertawa dengan kelucuan Ihsan. Beberapa kali ia harus menunduk menyembunyikan wajahnya diantara lipatan lengannya di meja agar tidak sampai membuat suara yang akan mempermalukan dirinya.


Wisnu menghentak kaki dan memukul perut Ihsan yang cengengesan, ia merasa geram sendiri. Apalagi saat melihat istrinya menertawai tingkah Ihsan mau tak mau ia ikut tersenyum juga.


”Letakkan di meja baksonya," perintah Wisnu berjalan ke arah rak dan mengambil tiga mangkuk.


“Biar aku saja, masa menyuruh tamu. Lagipula walau dia sahabatmu jangan jahat-jahat amat," cegah Almira segera berdiri dan meraih banyak plastik di atas meja. Ia merasa bingung sendiri dengan banyaknya bakso yang di beli.


”Banyak sekali," komentar Wisnu meletakkan mangkuk di meja. Tangannya membuka satu bungkus dan menuang isinya.


Ihsan tersenyum bangga memandang kehebatannya dalam mencari pesanan bosnya yang kurang spesifik.


“Itu bakso Jumbo, Pak," jawab Ihsan duduk di kursi.


Almira kembali duduk saat Wisnu meraih lengannya agar duduk saja dan membiarkan dirinya melayani. Sambil berpaku tangan Almira memandang semua bakso tertuang di mangkuk lebih dari lima jumlahnya.


”Lalu itu namanya apa?" tanya Almira menunjuk pada bakso yang ada di hadapan Wisnu.


“Itu namanya bakso mercon, terus yang sebelah sana bakso granat, bakso petir, bakso beranak, terus yang ini ...," jawab Ihsan menyebutkan namanya dengan antusias.


”Beranak?" sahut Wisnu merasa aneh.


“Bakso selingkuh juga ada," sahut Ihsan menampilkan gigi putihnya meringis.


"Pikiranmu itu, selingkuh terus," sahut Wisnu membuat Ihsan menggaruk pangkal hidungnya dan mencibir.


Almira memandang Wisnu dan Ihsan bergantian. Tmbul kekompakan di dalam pikiran antara Almira dan Wisnu terhadap Ihsan, sambil ikut duduk Wisnu meraih mangkuknya dan mengambilkan juga untuk Almira.


”Kamu yang mana, Sayang?" tanya Wisnu sambil menyerahkan sendok dan garpu.


“Yang Bakso Beranak Pinak saja, Sayang. Kamu yang mana?" tanya Almira balik sambil tertawa ringan.


Wisnu menyerahkan bakso itu untuk Almira, dan mengambil sendiri untuknya. Ihsan mengamati interaksi manis di depannya dengan senyuman kecut. Beberapa kali ia menghembus nafas merasa seperti diabaikan.


”Kamu makan semua bakso yang tersisa ya," ucap Wisnu mendorong tiga mangkuk ke arah Ihsan.


Ihsan menatap Wisnu dan Almira bergantian. Sambil menatap mangkuk di hadapannya dengan lemas, Ia mengengkus.


“Sudah utang, nyuruh-nyuruh, suruh menghabiskan pula, kejamnya kelewatan," gerutu Ihsan meraih mangkuk dan sendok.


Wisnu hanya tersenyum mendengarnya.


”Aku hanya hutang dua mangkuk bakso, ya? Sisanya 'kan, kamu sendiri yang makan," celetuk Wisnu sambil menyeruput kuah bakso yang menggoyang lidahnya. Ihsan menatap Wisnu seketika dengan mata mengerjab kesal sendiri.


Almira melirik sahabat suaminya itu sambil menahan tawa. Ia tidak menyangka bisa mengerjai pria tampan itu malah membuat mood makannya menjadi sangat berselera.


🌻🌻🌻


Wisnu Tama



Almira Putri



Ihsan Paundra.



Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih untuk semua dukungangan yang mengalir untuk kisah Wisnu&Almira hingga saat ini. Love Love Love 😍😍😍😍


Salam sayang dan persahabatan dariku ~ Syala Yaya🌹🌹


__ADS_2