
Wisnu meraih pinggang Almira dan memeluknya saat berdiri dari ranjang, memeluknya erat dengan begitu rasa syukur yang terus ia alirkan ke dalam hatinya. Rasa tidak lagi sendiri hidup di dunia ini, entah mengapa hatinya terasa penuh haru ingin sekali menangis.
Hingga bayangan masa lalu ketika Isna akan melahirkan dan untuk pertama kalinya ia melihat seorang Krisna menangis penuh haru kini ia rasakan sendiri. Ia mengulas senyuman merutuki sendiri kelemahan perasaan yang selalu ia tutupi dengan sikap datar dan terlihat tak acuh pada sekelilingnya. Wisnu merosot bersimpuh memeluk Almira hingga wanita itu terkejut dan ikut menunduk mengikuti gerak kaki Wisnu yang terduduk di lantai.
“Mas, kenapa?" tanya Almira memandang bingung suaminya.
Wanita itu masih menatap bingung Wisnu yang masih betah menunduk dengan kepala memeluk perutnya, perlahan ia usap pucuk kepala suaminya. Usapan pertama kali seorang Almira menyentuh kepala suaminya. Nyatanya pria itu masih bergeming.
”Mas," panggil Almira lagi.
“Tolong terima anak ini sebagai anak dari hasil luapan cintaku. Jangan kamu labeli dia dengan anak hasil dari sebuah kesalahan walau mungkin saja kenyataanya seperti itu," punya Wisnu kemudian sambil mendongak ke arah istrinya.
Almira terdiam tidak menyahut. Ia sendiri merasa bingung menjelaskannya. Ia merasa pusing sendiri dalam menghitung jarak pernikahannya dengan tanggal menstruasinya. Sebelumnya ia tidak pernah terlambat dan selalu maju seminggu setiap bulan. Ia menghela nafas mengangguk.
”Aku akan melupakan itu, Mas. Akan aku coba. Mas Inu tidak perlu khawatir, jadi ayo kita pulang sekarang. Aku merasa tidak enak badan," ucap Almira segera menyentuh pucuk rambut Wisnu dan memainkan dengan jemarinya.
Almira merasa nyaman dengan itu.
Wisnu segera mendongak dan mengangguk pelan. Kembali berdiri dan mengelus pundak istrinya sambil tersenyum.
“Ayo kita pulang, apa kamu merasa pusing? Masih kuat berjalan 'kan," ucap Wisnu menggandeng jemari tangan istrinya dan berjalan ke arah sofa.
“Masih kuat, Ira tidak apa-apa.”
Wisnu meraih tas milik Almira dan segera mengajaknya keluar kamar hotel. Ia kembali mengecek ponsel yang ada di saku celananya, memastikan tidak ketinggalan barangnya di sana.
”San, Almira sedang tidak sehat. Berikan surat ijin tidak masuk kerja hari ini dan -"
“Aku masih mau kerja," sungut Almira merebut ponsel Wisnu saat menghubungi Ihsan.
Wisnu kaget saat ponselnya kini sudah berpindah tempat digenggaman tangan Almira. Mau tak mau ia hanya bisa mengalah.
”Kita ke dokter dulu, kalau hasilnya baik baru kita memutuskan bagaimana," seloroh Wisnu sambil terus menggandeng Almira menuju ke bagian lift.
“Harus ya, ke dokter? Aku malu," jawab Almira membuat Wisnu mengernyit.
”Malu kenapa? Kamu malu hamil anakku, astaga membuatku kesal mendengarnya," desis Wisnu cepat.
Wisnu segera menarik jemari Almira dan masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Lift bergerak turun ke lantai dasar. Almira malah tidak begitu menyadari saat ini ia sedang menggunakan lift khusus Presdir. Ia hanya diam menurut setelah wajah kekesalan suaminya tampak terlihat.
“Hari ini kamu tidak usah kerja, aku juga akan libur agar bisa menemanimu periksa ke dokter. Kalau sampai dokter itu bicara macam-macam mengenai kehamilanmu akan aku pastikan ia mendapatkan surat pemecatan dari pemimpin rumah sakit tempatnya bekerja," decak Wisnu masih saja bersuara ketus penuh kekesalan.
__ADS_1
”Iya, astaga, kenapa berlebihan begitu. Mas Inu begitu saja marah. Aku cuma malu kalau sampai ditanya kapan haid terakhir. Dan tanggal pernikahan kita. Wajar sekali kan?" keluh Almira membela diri.
Wisnu hanya menghembus nafas tidak menyahut lagi. Ia tidak tahu masalah seperti itu.
Hingga pintu lift terasa berhenti saat ada orang luar yang berniat memakai lift untuk turun juga. Pintu terbuka membuat Wisnu dan Almira memandang seseorang yang masuk ke dalam.
“Pak Wisnu?" sapa Delia memandang Wisnu memeluk pundak Almira.
”Sudah datang. Rajin sekali," jawab Wisnu berekspresi datar dalam menyapa wanita yang kini saling beradu pandang dengan Almira.
“Iya, Pak. Saya baru saja mengantarkan seorang tamu hotel ke dalam kamarnya," jawab Delia masih memandang Almira yang kini menunduk.
”Sudah berganti pekerjaan kamu ternyata?" sindir Wisnu tersenyum sinis ke arah Delia, sementara tangannya masih bergayut di pundak Almira tanpa memperdulikan tatapan mata Delia yang merasa bingung bercampur kaget dengan kebersamaan keduanya.
“Kalian ... kalian berdua baru dari mana?" tanya Delia menyelidik wajah Almira yang merasa tidak nyaman dengan caranya memandang.
”Apa aku harus menjelaskannya juga?" jawab Wisnu mengukir senyum.
Delia menelan salivanya susah payah. Wanita bernama Almira ini selalu saja menjadi penghalang semua langkahnya. Almira kembali sudah berada di depan langkahnya lagi. Dalam hati ia geram sendiri.
“Almira, jangan katakan kalau tamu yang kamu maksud pada waktu wawancara kerjamu itu Pak Wisnu ini," ucap Delia berusaha mengintimidasi Almira yang membisu dari tadi. Mencoba merendahkan.
“Tidak ku sangka," sahut Delia membuang muka setelah melirik sinis ke arah Almira.
Percakapan mereka bertiga terhenti saat pintu lift terbuka dan Wisnu menggandeng Almira juga menariknya segera keluar dari dalam lift. Membiarkan Delia sibuk dengan pikiran dan asumsinya sendiri.
Wisnu merasa sedikit bingung juga saat apa yang terjadi padanya dan Almira malah belum mendengar apa-apa. Lalu Bagus? Wisnu merasa belum yakin pada pengamatannya.
”Apa maksud dengan tamu?" tanya Wisnu masih menggandeng Almira menuju ke parkiran mobilnya. Melalui Pintu akses khusus.
“Tamu?” tanya Almira bingung.
Kini ia sudah masuk ke dalam mobil dan membiarkan Wisnu menutup pintu untuknya.
Ia menatap langkah tergesa Wisnu memutari mobil dan berakhir dengan mendaratkan tubuhnya di kursi kemudi dan menjalankan mesin.
“Maksud dari Delia tentang tamu tadi apa?" tanya Wisnu lagi butuh penjelasan. Ia menoleh sejenak di sela fokus pada stir kemudi.
”Itu? Tidak perlu dipikirkan, Mas. Dia selalu seperti itu terhadapku," jawab Almira lelah.
“Dia selalu merendahkan mu?”
__ADS_1
Wisnu menghela nafasnya. Ia sadar bahwa hubungan Almira dengan Delia ternyata tidak seperti yang ada di bayangannya. Mereka berada dalam hubungan yang tidak baik.
“Apa kamu cerita tentang awal kita bertemu dengan Bagus?" tanya Wisnu seketika membuat Almira menoleh terkejut.
Raut wajah Almira bisa memberi gambaran bahwa istrinya tidak membocorkan aibnya, lalu siapa yang memberitahu Bagus masalah malam itu, Wisnu semakin pusing dibuatnya.
”Mas Inu tidak sengaja bertemu Bagus di rumah sakit saat Dhepe sedang sakit."
“Mas Inu ketemu Bagus?" tanya Ira terkejut.
Bagaimana mungkin mas Inu bisa tahu wajah Bagus?
”Iya, aku rasa dia sangat kehilangan kamu," lontarnya membuat Almira menggigit bibirnya bingung menjawab.
“Semua tidak ada artinya, Mas. Tidak perlu juga dipikirkan," jawab Almira sambil melengos, ia memilih memandang jendela ke arah gedung-gedung tinggi dan juga beberapa kendaraan yang mereka berdua lewati.
”Jadi ini alasan kamu sedih? Setelah perjanjian awal kita aku yang menang?" tanya Wisnu tersenyum miris.
“Terserah Mas, mau bicara apa saja tetap saja kita akan bertengkar. Aku lelah kalau harus begini terus," jawab Almira memandang Wisnu.
"Maksudmu apa? Lelah," adu Wisnu merasa ucapan Almira cukup membuatnya tidak suka.
”Saat ada nama orang yang menyangkut masa lalu datang, kita selalu beradu argumen tidak penting," jawab Almira menoleh.
Wisnu memandang sejenak kemudian ikut larut terdiam tidak membalas ucapan Almira.
Bersambung.
❤️
C. I. N. T. A tetap hanya bagian dari huruf. CINTA tetaplah hanya bagian dari sebuah kata. Tapi tetap saja, saat gabungan dari huruf, kata demi kata itu berubah menjadi sebuah kalimat indah, aku tetap menikmati untaian itu dengan hati penuh syukur dan akan selalu ku tunggu keluar dari bibirmu. By. Syala Yaya
❤️ Terimakasih semuanya atas dukungannya.
Baca Juga karya sahabat.
Salam Segalanya dariku ~ Syala Yaya🌹🌹
__ADS_1