Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 87. Extra Part (Spesial Yashna & Alan)


__ADS_3

Yashna Andara Bumi.


Seorang wanita terbiasa hidup mandiri. Menjadi salah satu relawan (Volunteers) di Taman Cerdas di kota kecil nan asri, Solo.


Sudah sejak tiga bulan ini dirinya ke kembali dari Australia menemani Alan mengejar ilmu. Mengikuti Kartika dan tinggal bersama.


Kini ia sudah menetap dan tinggal di kota yang mempunyai slogan pariwisata; The Spirit of Java itu seorang diri.


Membingungkan baginya. Saat harus menahan sebuah cinta yang begitu besar dari Alan. Satu Apartemen dengannya? Yashna merasa ia malah menjadi penghambat Alan untuk segera menyelesaikan studi.


Kenapa? Karena emosi yang meledak-ledak saat Alan harus bersinggungan langsung dengan wanita cantik dari berbagai negara, membuat hubungan mereka sering memburuk. Berimbas pada mood Alan setiap waktu.


Yashna wanita dewasa yang sangat tidak menyukai laki-laki berondong yang doyan nongkrong. Sedangkan komunitas Alan mengharuskan dirinya aktif dalam kegiatan kemahasiswaan maupun kegiatan lain yang harus berurusan dengan banyak orang.


Kini Yashna lebih tenang ketika berada jauh dari pria muda itu, setidaknya ia bisa menutup mata dengan apa yang dilakukan Alan di Australia sana. Meskipun, itu semua hanyalah buah dari asumsinya sendiri.


Alan? pria itu amat sulit ditebak dan dikendalikan kemauannya.


***


"Yakin kamu bakal balik sendiri ke Indonesia?" tanya Alan sore itu, tiga bulan yang lalu. Wajahnya tampak murung.


Seperti biasa, sepulang kuliah pria itu akan ke unit apartemen yang ditinggal Yashna bersama sang ibu, Kartika. Mereka tinggal terpisah, demi kewarasan hubungan mereka. Karena terkadang Alan begitu suka bersentuhan fisik dengannya. Jiwa muda Alan sering meletup.


Pria itu merebahkan tubuhnya ke atas kasur, sedangkan Yashna mengepak barang bawaan.


"Bunda Kartika setuju," jawab Yashna tanpa menoleh.


Ck! Alan berdecak. Kemudian memiringkan tubuhnya memandang wanita enam tahun lebih tua darinya itu tampak sibuk.


"Jangan dengerin apa pun yang diomongin Nadia dan gengnya. Mereka memang busuk mulutnya," ucapnya kemudian.


Yashna memberi tawa hambar. Selalu saja telinga dan hatinya dipaksa untuk menerima sesuatu yang tidak semestinya.


"Nikah saja sama dia, urusan beres," tatar Yashna.


"Please! Kita udah ngomongin ini, Yashna!" Suara pria muda itu terdengar meninggi.


Alan menggerakkan tubuhnya dengan gelisah, mengentak kaki dengan berguling tengkurap menenggelamkan wajah ke kasur.


"Aku lelah, Alan. Aku udah tua buat kamu. Biar aku cari calon suami yang usianya lebih tua dariku," geram Yashna menghentikan aktivitasnya seraya memukul kesal koper di hadapannya.


"Jangan mimpi! Nikahmu cuma sama aku!"


"Aku nggak suka berondong."


"Aku bukan berondong. Aish! Menjengkelkan."


Alan merubah posisi tidurnya, bergerak lamban untuk bangun. Wajahnya sangat kusut, setiap kali wanita bernama Yashna itu meminta untuk putus. Cuma karena omongan teman-temannya mengenai betapa mustahilnya hubungan mereka yang terjalin sekarang ini.


Teramat cinta dan sayang, tapi keadaannya belum memungkinkan untuk menikah. Studi masih kurang kurang lebih setahun lagi.


Alan sedang mencoba untuk mempercepat studinya bagaimanapun cara sudah ditempuh. Dia laki-laki yang cerdas.


"Umur aku udah dua lapan, Al," geram Yashna mencoba untuk memberikan alasan.


"Yang penting sudah punya calon suami, Yashna!" Tak kalah geram pria itu menjawab.

__ADS_1


"Bosan aku mendengar ocehan teman-temanmu. Aku bukanlah tante-tante girang, bedebah!" umpatnya pada Alan.


"Bodo amat orang mau ngomong apa, yang penting aku cinta, sayang, dan nggak bisa sama cewek lain kalau nggak sama kamu," tegasnya.


Yashna terbahak. Dengan kekesalan mencapai ubun-ubun ia pun segera melemparkan sebuah bantal sofa yang ada di sampingnya ke arah pria yang dianggapnya sebagai bocah itu.


Lemparan itu sukses mengenai wajahnya. Pria itu menatap Yashna dengan wajah sangat menjengkelkan.


"Nadia mau dikemanakan?" lontar Yashna.


"Dia cuma parasit. Okey, kita nggak bisa kontrol hati seseorang buat suka atau benci ke kita. Nadia memang suka sama aku, and so what! Aku nggak ada perasaan sama sekali kecuali sebagai teman."


"Harusnya kamu tegas! Kasih batasan nggak kasih PHP kampret," balas Yashna penuh penekanan.


"Yang PHP siapa? Astaga Yashna nenek lampir! Aku enggak sama sekali."


Alan berdiri, menarik napas dalam-dalam sembari berjalan menuju ke arah lemari pendingin. Mengambil dua minuman dari dalam dan duduk di hadapan Yashna dengan kaki bersila.


"Dia itu ngejar-ngejar aku. Aku setress Yashna buat ngomong sama dia. Berkali-kali udah aku tegesin buat jauh-jauh dari aku, cuman, ya, itu ... otak bebalnya kayaknya udah nggak fungsi," jelas Alan dengan suara lebih lembut.


"Iya, mirip sama kamu," balik Yashna.


"Kok, balikin ke aku?" tanya pria itu tidak terima.


"Ya, aku juga setress. Otak bebal kamu juga nggak fungsi."


"Diajak nikah sekarang nggak mau," balasnya.


"Ogah banget pelihara berondong."


"Mau bogem berapa kali?" ancam Yashna memotong lanjutan ucapan Alan yang jelas-jelas menjurus ke hal berbau sengklek.


Alan menanggapi ancaman Yashna dengan mata menyipit dan gelak tawa.


Kini tangannya bergerak untuk membuka minuman satu dan menyerahkan kepada wanita yang sanggup membuatnya tergila-gila itu dengan tatapan memohon.


"Kita baikan, ya?" ucapnya sembari mengulurkan tangan, meminta Yashna menerima permintaan damai. "Please, Yang."


"Pokoknya aku mau balik pulang, Al."


"Baikan, ya? Aku nggak bisa tenang kalau kamu marah kayak gini? Hem? Beb?" bujuknya masih dengan tangan menggantung di udara.


Yashna mengembus napas. Memandang wajah kusut pria itu mau tak mau akhirnya mau menerima minuman soft drink itu dari tangan Alan.


"Baikan, kan, kita?"


Yashna tidak menyahut, meneguk minuman langsung dari kaleng botol sambil melipat kedua kakinya. Ia memeluk lututnya dalam gelisah.


"Aku nggak bisa putus dari kamu, Yashna. Kalau kamu maksa, terpaksa aku bakal jadi singel seumur hidup sampai maut datang menjemput."


"Hust! Ngomong apa sih, kamu," sergah Yashna.


"Serius. Itu udah keputusan aku sejak kamu nerima aku buat jadi pacar kamu. Aku nggak main-main soal ini, perasan aku ke kamu," ungkapnya dengan wajah dan intonasi suara dewasa seperti Alan yang dikenalnya selama ini.


"Umur nggak penting. Aku tahu apa yang aku mau, yaitu kamu. Itu yang harus kamu tahu," tegasnya.


Yashna tercenung sesaat.

__ADS_1


"Al," panggil Yashna pelan.


"Hem?"


"Aku minta putus karena, banyak wanita yang lebih baik dan berprestasi juga dari keluarga yang jelas, daripada aku -"


"Aku juga dari keluarga nggak jelas, Yash. Kamu tahu itu, kan?" potong Alan.


"Tapi temen-temen cewek kamu banyak yang masih muda, karir bagus dan tentu saja bisa bikin kamu nggak perlu malu kalau mau ngajak ke mana-mana."


Alan terkekeh, menyesap minumannya sembari bergerak mendekat, menempelkan pundaknya dengan meraih pundak wanita sok kuat di sampingnya itu.


Merengkuh wanitanya dengan pelukan hangat.


"Aku nggak pernah malu miliki kamu. Terbalik, kenyatannya malah kamu yang malu dekat dengan cowok labil, masih muda, tampan, pinter dan setia ini," bisiknya sukses diberi cubitan keras di lengannya.


"Lepasin, nggak!" hardik Yashna.


"Enggak, lah. Walau dapet cubitan kalau bisa peluk wanita kesayangan kayaknya impas, deh," godanya.


"Hih!" Kembali punggungnya mendapat pukulan kekesalan dari Yashna.


"Jangan sadis-sadis, Tante. Keponakan gantengnya nanti terluka," lontar Alan semakin mempererat pelukan.


"Lepas! Tante mau pingsan!" pekik Yashna memukul-mukul punggung Alan agar melonggarkan pelukannya.


"Nanti aku kasih napas buatan, gratis."


"Alan!"


"Iya, Sayang," goda Alan semakin menjadi.


"Bauk gosong!" teriak Yashna, indera penciumannya mengendus bau asing.


Pria itu masih bergeming, memeluknya.


"Alan!"


"Apa?!"


"Kamu nyetrika baju, ya?" tebak Yashna menyadari bau gosong semakin tercium.


"Hah! Astagaaaa bajuku." Pria itu menyadari sesuatu.


Buru-buru Alan melepaskan pelukannya dan lari terbirit-birit keluar kamar Yashna. Yashna yang menyadari pasti Alan sedang menyetrika baju dan lupa meletakkan setrika pada tempatnya segera tergelak.


"Dasar, berondong pelupa."


Yashna mencibir pria muda itu sembari menyesap minumannya lagi. Tangannya bergerak untuk membereskan barang yang akan dibawanya ke dalam koper.


"Yashna ... kaus kamu yang gosong!" teriak Alan dari luar.


"Apa!" Yashna segera memasang taring, berlari keluar kamarnya dengan tangan jemari tangan siap untuk mencekik leher si Alan pembuat onar.


****


'Aku tahu apa yang aku mau, dan mauku cuma kamu. Itu yang harus kamu tahu.' (Kalandra Tama)

__ADS_1


__ADS_2