
🌻🌻🌻🌻🌻
Siapa pun orangnya, ketika pernah menelan kekecewaan dari seseorang yang dicintai, maka jangan salahkan ketika orang tersebut tidak lagi mudah diluluhkan. Itulah yang kini dirasakan Yashna.
Yashna melihat apa yang dikerjakan Alan meski sesekali mengalihkan pandangan ke arah lain agar tidak sampai terlihat sedang tertawa. Gerakan tangan pria itu terlihat kikuk saat mencoba menimbun dengan tanah, akar bibit pohon buah yang telah ditanam menggunakan cangkul. Ia begitu terlihat kesusahan. Yashna hanya bisa mengembus napas karena menurutnya Alan sangat payah.
“Sudah bagus, 'kan?” tanyanya diberi jempol mengarah ke bawah oleh Yashna.
“Ya ampun. Ini kulakukan penuh ketekunan,” protesnya tidak terima.
Peluhnya terlihat menetes dari kening. Ia sudah menanam dua bibit sekaligus milik Yashna. Sangat menyenangkan ditemani wanita yang disukainya berada di sampingnya bagaikan pak tani yang sedang mencangkul di sawah. Alan mendadak bahagia.
“Mau, aku bantuin?” tawar seseorang yang telah berdiri di samping Yashna yang duduk berjongkok.
Alan dan Yashna pun segera menoleh. Rasa tidak nyaman pun segera menyelimuti hati Alan dengan kedatangan Setyo. Bagi Alan, pria itu ancaman bagi hubungannya dengan Yashna. Tatapan mata yang sangat terlihat jelas bahwa Setyo menyukai wanitanya.
“Tidak perlu. Aku sedang menciptakan kenangan bersama Yashna,” tolak Alan memandang Setyo dengan wajah masam.
“Wah, keren.” Setyo menundukkan kepala demi bisa menatap reaksi yang diberikan Yashna terhadap ucapan pria muda itu yang terkesan tersinggung.
“Kamu menanam apa?” tanya Yashna kini membalas tatapan Setyo. Pria itu melempar senyuman tipis kemudian memalingkan wajah ke arah lain.
“Jambu Bangkok,” jawabnya kemudian beralih menatap Yashna kembali.
“Beberapa tahun lagi kita harus ke sini untuk menikmati ranum buahnya,” sambung Setyo tersenyum hangat.
“Iya, nggak sabar juga. Buah kedondong yang aku tanam buahnya bakal manis apa enggak,” jawab Yashna tergelak.
Alan hanya bisa memandang jengkel. Interaksi biasa, obrolan biasa, tetapi baginya sangat manis hingga telinganya memerah, hatinya panas karena dilanda api cemburu.
“Setelah dari sini rombongan akan berlanjut menuju ke bukit—”
“Aku dan Yashna akan pisah dari rombongan. Kami akan pergi berdua.” Alan memotong penuturan Setyo hingga membuat pria itu menoleh kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Baiklah. Ke mana?”
Yashna tidak ikut menanggapi obrolan, ia memilih untuk berdiri untuk melemaskan otot kakinya yang kesemutan dengan berjalan meninggalkan Setyo dan Alan di sana. Malas, ia sedang tidak ingin berurusan dengan pria. Ia ingin menikmati kebebasan sebagai seorang wanita lajang di masa akhir usianya sebelum menyentuh angka kepala tiga.
Alan melanjutkan aktivitasnya, menutup lubang yang berisi tanaman itu tanpa mengacuhkan keberadaan Setyo. Namun, tanpa disangka Setyo masih bergeming di tempatnya alih-alih pergi dari sana.
“Aku boleh minta izin sama kamu?” tanyanya memaksa Alan untuk menatap Setyo.
“Izin apa?” Kening Alan berkerut. Naluri jiwa mudanya mendadak terancam hanya dengan mendengar kalimat pendek tersebut. Kata izin yang baginya terasa mendalam. Ia pun menginjak tanah gembur yang sudah selesai ia kerjakan kemudian berjalan menjauhinya.
“Untuk mengejar hati Yashna.”
“Apa kamu sudah bosan hidup tenang!” Alan menoleh, menatap tajam ke arahnya.
Pria itu tersenyum tipis lalu berdeham. Alan hanya bisa menarik dua tas ransel dari bawah kakinya kemudian berjalan meninggalkan pria itu dengan perasaan berdentum nyeri saat membayangkan Yashna bersama pria tersebut dan meninggalkannya. Ia tidak bisa menerimanya begitu saja.
“Usiamu masih muda untuk mendapatkan wanita yang lain, Alan!” teriak Setyo sambil berjalan mengikuti langkah Alan yang tergesa.
“Sedangkan aku sudah tiga puluh tahun. Aku—”
“Persetan dengan umur!” geram Alan berhenti berjalan untuk menghadapi Setyo yang juga menghentikan langkahnya.
“Dia tidak bahagia sama kamu.”
“Apa kamu yakin dia akan bahagia sama kamu?” tantang Alan mencoba untuk tidak terpancing emosi. Jangan sampai ia memukul pria itu di acara penting seperti sekarang ini. Ia tidak boleh membuat Yashna kecewa dengan tingkahnya yang mudah tersulut emosi seperti dirinya yang dulu.
“Ya, Tuhan. Ujian untuk tidak baku hantam dan memukul orang lebih berat rasanya,” batin Alan kesal sendiri.
“Aku tahu perjalanan kisah kalian berdua,” sambung Setyo lagi sambil berjalan lebih mendekat. “Tidak ada ujung.”
Alan meneguk ludah, ia tidak percaya kalau sampai Yashna menceritakan apa yang sedang dihadapi dalam hubungannya. Ia tidak mau gegabah. Ucapan Yashna soal meminta break dua bulan harus ia pergunakan dengan baik. Ia sedang mencoba untuk memantaskan diri dan layak dijadikan nahkoda dalam kapal yang akan ia tempati bersama Yashna untuk mengarungi kehidupan pernikahannya kelak.
“Lepaskan saja dia, Alan. Kamu tahu ... dia tidak bisa menikah diusianya yang dewasa seperti sekarang, karena bayang-bayang kamu yang selalu berada di sekit—”
“Aku punya alasan kenapa belum bisa menikahinya. Aku mencintainya sejak usiaku baru sembilan belas tahun. Aku masih kuliah. Kami tidak bisa menikah sembarangan, sedangkan keadaan hidup dan pekerjaanku belum memungkinkan, asal kamu tahu,” tegas Alan memotong kalimat Setyo kemudian mengembus napas. Ia pun memilih untuk duduk di akar pohon besar yang tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
“Kamu menyuruhnya untuk menunggu?” ejek Setyo dengan ukiran senyum. “Sampai kapan?”
__ADS_1
“Aku tahu ini egois, tapi ... aku tetap tidak rela dia bersama orang lain.” Tatapan Alan menajam saat mengucapkan kalimat yang jujur saja mampu menggetarkan hati Setyo sebagai seorang lelaki.
“Begitu?” ujarnya tidak tahu harus menanggapi pikiran Alan seperti apa.
“Aku sedang berusaha, meski ujungnya nanti aku tidak tahu. Hanya saja, aku tidak mau membebaninya dengan kehidupan sulit. Jadi, aku sedang membangun karirku sebelum menikahinya agar tidak ada kekhawatiran hidupnya akan ada kekurangan. Aku ingin jadi rumahnya, bukan hanya sebagai pasangan hidup ataupun sekadar status suami,” urai Alan sambil beranjak dari tempatnya. Ia pun berjalan meninggalkan Setyo yang justru tercenung menatap kepergian Alan yang berlari ke arah Yashna yang sedang bercanda bersama panitia lain.
“Yashna ... pria seperti apa Alan?” gumam Setyo dengan wajah tertunduk menatap nanar sebuah cincin, sedianya ia akan melamar Yashna setelah pulang dari acara ini. “Harusnya dulu kulakukan hal yang sama seperti Alan. Berjuang,” geram Setyo seraya menggenggam cincin itu kuat-kuat.
****
Alan menepuk pundak Yashna, merangkulnya, dan bergabung dengan kehebohan para peserta yang menceritakan kejadian lucu selama mengikuti kegiatan pecinta alam. Beberapa di antaranya juga menceritakan kegiatan luar komunitas seperti balap dan freestyle motocross. Alan hanya menyimak, ikut tertawa. Ia tahu betapa serunya kegiatan itu.
“Kamu pukul dia?” tanya Yashna di sela ramainya celotehan peserta yang sedang berkumpul. Tatapannya mendongak mengarah pada Alan yang tingginya hanya sebatas dada pria muda itu.
“Hem? Tidak, aku sudah mencoba untuk menahan emosiku dengan baik,” jawabnya datar, kilatan matanya sangat memesona diikuti gerak bibir melengkungkan senyuman. Yashna pun mengangguk puas.
“Bagus. Kamu tidak lagi mukul orang sembarangan hanya karena kamu marah,” puji Yashna membalas senyuman bangga.
“Ehm.” Alan mengangguk. “Rasanya sangat berat, tanganku gatal,” sambungnya lagi dengan suara jengkel.
“Memang, tapi kamu sedang menatar perilakumu agar lebih dewasa dan bertanggung jawab,” tegas Yashna sambil menahan senyuman.
Alan menggeleng sembari menurunkan pandangan ke arah Yashna. Ia tidak menyangka perempuan itu akan mengajari bagaimana cara hidup sebagai laki-laki sejati dengan jalan menyesakkan seperti sekarang.
“Yashna, kamu kemarin daftar ikut kegiatan freestyle motor, ya?” tanya Aris si tukang onar membuat Yashna terbelalak.
“Iya, kenapa?” jawabnya menoleh ke arah Aris. Alan pun terkejut mendapati kenyataan bahwa perempuan yang sangat membenci kegiatan mengenai bidang otomotif dan segala *****-bengeknya itu mendaftar acara seperti itu. Ia tidak habis pikir.
“Pengen juga,” sahut Aris.
“Nonton beberapa atraksi wheelie, stoppie, sama burnout keren abis pokoknya,” sahut yang lain. Yashna hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
“Di area Gelora Manahan, sore Yash.”
“Siap, Bang!” sahut Yashna memberikan jempol.
“Sudah ikut touring ke mana aja?” tanya salah seorang peserta yang lain.
“Dua kali, sih. Pertama nebeng sama Aris, kalau yang ke dua sama Setyo,” jawab Yashna dengan wajah datar.
Alan memandang Setyo dengan tatapan tidak suka, begitupun sebaliknya.
“Eh, yang ada jadi stoppie gayanya! Nungging ke depan!” goda peserta lain yang bermaksud mengomentari tubuh tambun pria tersebut hingga membuat semua peserta tertawa.
“Ada acara asyik minggu depan. Ikutan, yuk. Ada pameran otomotif di dekat patung kuda Solo Baru. Anak-anak klub freestyler motor dari seluruh Indonesia bakal gabung. Gimana, tiketnya nggak mahal, kok?” tawar salah seorang lagi membuat Alan berdecak.
“Ok, tuh,” sambut yang lain.
Obrolan bebas yang kini bagaikan bola yang telah bergulir liar. Mereka membahas hal apa pun. Alan pun kini menyadari Yashna telah mengenal betul semua anggota peserta yang ikut bergabung dalam acara hari ini.
“Ikutan, Yash?” tanya salah satu peserta.
“Aku kayaknya ada acara sama anak-anak Taman Pintar. Lihat sikon, deh,” sahut Yashna tampak berbicara dengan nyaman.
“Ada pagelaran di THR Sriwedari soalnya.” Aris pun menimpali jadwal Yashna.
“Bentrok, ya. Aduhh, padahal bakalan seru loh, Yash.” Salah seorang peserta wanita ikut menyahut. “Kamu bisa tahu pengalaman beberapa freestyler dari berbagai klub.”
“Aku masuk dunia freestyler sama motocross cuma mau nyoba-nyoba aja. Jiwa tetep di seni pertunjukan, Men. Biasa aja,” sahut Yashna tertawa.
“Oh, Reseh!”
“Cowoknya soalnya kece-kece, ya Yash!” sambung peserta cewek yang lainnya.
“Aku nggak ngomong lho,” sahut Yashna sambil tertawa.
“Maaf, ya, teman-teman. Kami pamit nggak bisa ikut untuk acara selanjutnya. Kami berdua kebetulan ada acara lain,” pamit Alan seraya meraih tangan Yashna agar ikut berdiri.
“Ok, Brow. Makasih untuk semuanya, ya?” sahut ketua panitia melambaikan tangan.
“Kalau ada acara lagi, kabari aja.” Alan melambaikan tangan.
__ADS_1
“Sipp!” jawab mereka serempak.
Sebenarnya Yashna bingung dengan ucapan pamit Alan. Namun, ia tidak mau mempermalukan Alan sebagai salah satu peserta yang diundang hanya bisa diam dan menurut ketika Alan kemudian mengajaknya meninggalkan acara.
“Eh, kita mau ke mana?” bisik Yashna masih berjalan dengan tangan masih berada di dalam genggaman Alan. Mereka berjalan melewati semak-semak dan tumbuhan perdu penuh rerumputan liar keluar dari bukit.
Alan diam saja, ia masih bingung dengan celotehan Yashna dengan semua kegiatannya selama tidak bersama dirinya. Selama berada di kota Solo tentunya. Sungguh perempuan itu berubah dan sangat berbeda sejak pulang dari Australia.
“Al, kita mau ke mana?” tanya Yashna masih berjalan terpaksa dengan tangan berada dalam kuasa Alan.
“Aku sedang kesal, kayaknya butuh bercinta sama kamu biar emosiku reda,” sahut Alan dengan wajah kaku. Yashna pun memilih untuk diam. Baginya jiwa pria itu masih saja meledak-ledak. Mudah emosi dan sukar diajak kompromi.
“Mobil gue mana?” tanya Alan pada salah seorang panitia yang menunggu di tempat kendaraan terparkir.
Jalan menuju bukit pelangi yang tidak bisa dilewati kendaraan menyebabkan jarak antara kendaraan yang diparkir jauh dari lokasi.
“Udah mau balik?” tanya panitia itu seraya menyerahkan kunci mobil kepada Alan.
“Hu um, mau ajak cewek gue jalan-jalan,” guraunya sambil memberikan sambutan salam dengan adu kepalan tangan kepada pria tersebut.
“Pantesan cinta mati, cewek lo cantik, Bos!” puji pria itu membuat Alan tertawa.
“Iya, mau lepas terus.”
Yashna hanya bisa mengembus napas. Ia diam tidak ikut menanggapi banyolan dua pria itu. Baginya tidak ada lucunya.
“Ikat aja dengan buku berlambang garuda.”
“Sip, lo nanti gue undang jadi saksi,” sahut Alan.
“Wihh, siap, Bos. Hati-hati, ya. Nanti gue balik Solo nebeng mobil sponsor.”
“Sip. Kalau gue balik Jakarta nanti mampir ke rumah, kok. Gue titip lagi, ya,” ucap Alan diberi anggukan.
“Sip, hati-hati!”.
Alan pun kembali menarik tangan Yashna agar mengikutinya menuju ke tempat mobilnya terparkir. Ia tahu wanita itu diam dengan kekesalan mendalam. Namun, ia akan bertahan, karena memang jalannya untuk meluluhkan hati belum usai karena kesalahannya selama ini.
Mobil pun kini bergerak meninggalkan area itu. Menuju jalan raya Wonogiri dan mengarah ke Pokoh untuk kemudian dilanjutkan menuju Pacitan.
Yashna tidak bertanya apa pun. Memandang suasana julukan Kota Gaplek tersebut dengan decak kagum karena keindahan alamnya. Banyak perbukitan dengan pohon besar masih mendominasi. Keruwetan jalan raya ketika sampai di depan pasar juga tidak luput dari perhatiannya. Ia hanya akan menikmati hari ini tanpa pusing memikirkan pria di sebelahnya.
“Kamu nggak nanya kita mau ke mana?” Alan menghentikan kendaraan tepat di depan rambu lalu lintas.
“Aku percaya sama kamu,” balas Yasha menoleh.
Alan tergelak. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu.
“Kita akan ke rumah bibi Almira. Jangan ngira aku bakal bawa kamu ke hotel?” ungkapnya dengan wajah lebih cerah dari sebelumnya.
“Sepertinya kamu senang, ya diumpat?” cibir Yashna kembali membuat Alan tergelak lagi.
“Kenapa kamu melakukan ini semua, Yashna. Aku belum paham,” ucap Alan penuh penekanan.
Yashna masih menatap ke arah depan. Mobil kembali bergerak menyibak kendaraan dengan beberapa menyalip. Papan arah yang menunjukan bahwa kini jalur yang dipilih kota Pacitan sudah menunjukan ke mana tujuan mereka kali ini. Yashna tidak percaya kalau ucapan akan ke rumah Almira benar-benar dilakukan Alan.
“Melakukan apa?” tanya Yashna dengan suara datar.
“Gabung komunitas, ikut touring, freestyle motor dan ... Yashna, aku tahu kamu benci semua itu. Hobi aku semuanya kamu nggak suka. Tapi ... kenapa saat aku udah out sama kegilaan aku, kamu malah masuk. Ini ... balas dendam kejam nggak, sih?” Alan menarik napas panjang, ia ingin sekali melakukan hal yang bisa menenangkan ledakan perasaannya. Ia ingin melakukan apa pun agar perempuan di sampingnya paham kalau ia merasa takut kehilangan. Rasanya ia sudah pada tahap gila.
“Fokus kalau nyetir, nggak usah ngomongin kegiatan aku. Dua bulan aku free,” jawab Yashna dengan wajah datar.
“Oh, God. Bener-bener gila!” sungut Alan sangat frustrasi.
“Aku enggak, cuma kamu yang gila.”
“Satu bulan lagi, aku habisin kamu! Lihat aja,” decak Alan memukul setir kemudinya karena kesal.
Yashna hanya mendengus, memandang jalanan tanpa mau menanggapi kekesalan Alan.
****
__ADS_1
'Ujianku awalnya memang berat. Namun, kupastikan ujungnya akan terasa lebih indah. Aku pasti akan mendapatkan hati kamu lagi.'
(Kalandra Tama)