
Almira menatap Wisnu dan gerbang tinggi di hadapannya bergantian. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Ia menelan salivanya yang mengering. Inikah tempat yang dimaksud suaminya? Siapa salah satu mertuanya yang sudah meninggal?
Almira terdiam sendiri. Ia segera membuka pintu mobil sendiri saat suaminya keluar dari mobil setelah mengambil bunga lili dari jok belakang. Ia segera meraih jemari Wisnu yang terulur ke arahnya.
”Sudah siap bertemu dengan mertuamu?" tanya Wisnu mengulas senyuman. Almira membelalak mata sambil mengangguk cepat.
Wisnu menghembus nafas dan membuka ponselnya. Membaca pesan di sana. Pesan dari tuan Senopati Arka di mana alamat dan juga letak makam orang tuanya berada. Sambil mengamati gerbang masuk taman pemakaman, Wisnu mempersiapkan dirinya.
Almira mengerti, saat ini ia berada di pemakaman khusus orang kaya. Bahkan taman indah dan rapi dengan banyak bunga terlihat menghiasi. Almira memandang raut wajah suaminya yang tampak bolak balik menatap ponsel dan jalan setapak yang mereka lalui.
“Maaf ya, kalau kita nanti sedikit tersesat," ucap Wisnu melepas tautan jemarinya dan berganti meraih pundak Almira. Ia ingin menegaskan sesuatu tapi sulit ia ucapkan.
”Kenapa harus tersesat, padahal tempatnya sangat rapi begini," komentar Almira membiarkan Wisnu memeluknya sambil berjalan.
“Karena sejak orang tuaku meninggal, ini pertama kali aku ke sini untuk mengunjungi makamnya."
”Apa!" sentak Almira memandang terkejut Wisnu. Tetap aja Wisnu hanya tersenyum menanggapinya.
“Aku membenci orang tuaku," ungkap Wisnu masih mengajak Almira berjalan.
”Kenapa? Apa ada hal yang sangat tidak kamu sukai hingga kamu harus membenci mereka?" tanya Almira mulai berjalan pelan.
Wisnu diam saja, ia masih mengiringi langkah Almira melewati jalan diantara banyak makam. Wisnu masih saja memandang ponsel dan beberapa kali menengok nama yang tertera di sana.
Beberapa kali ia salah tempat. Hingga akhirnya Wisnu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Almira dengan senyuman tipis, sorot matanya menandakan ia sedih. Ia tidak berkata-kata hanya kemudian membalik badan menghadap dua makam berjajar.
Batu nisan berbahan granit dengan ukiran berwana emas, atas nama Arya Tama dan di sampingnya atas nama Shantika kini berada di hadapan Wisnu. Almira segera mendekat dan berdiri di sisi kanan suaminya.
“Ayah, Ibu. Maaf, Wisnu baru mengunjungi kalian," ucap Wisnu.
Almira masih berdiri mengamati kedua nisan, orang tua dari suaminya telah tiada. Almira menggigit bibir bawahnya, merasakan sedih sekaligus terharu melihat sendiri kini suaminya sedang menahan perasaannya.
”Aku perkenalkan Ayah, Ibu. Ini Almira istriku dan calon anakku dihadapan kalian setelah delapan belas tahun kita tidak saling menyapa, walau aku tahu bahwa memang kita tidak akan pernah saling melihat satu sama lain. Aku berharap kalian tenang di sana, mendapatkan ampunan dari Tuhan atas segala dosa. Dosa keji yang pernah kalian perbuat bisa dihapus. Dalam kesempatan ini aku juga ingin berterimakasih, untuk pertama kalinya aku bersyukur, kalian telah membawaku hingga terlahir ke dunia ini, sehingga bisa merasakan cinta seorang istri dan juga bisa merasakan indahnya saat aku akan mendapatkan anugerah seorang bayi, darah daging ku sendiri."
__ADS_1
Wisnu terdiam sejenak. Ia maju meletakkan bunga lili kesukaan ibunya. Ia menunduk mengusap batuan nisan milik ibunya dengan telinga memerah menahan perasaannya.
“Ibu, maafkan aku pernah membencimu. Walau aku tahu kalau apa yang kalian lakukan untuk masa depanku, tapi tetap saja aku hanya menikmati kesengsaraan, bukan? Akan aku jadikan pengalaman ibu, agar kelak aku bisa menjadi orang tua dimana anak akan aku besarkan dengan harta secukupnya Tuhan memberi, tidak harus mengambil hak yang bukan miliknya," ucap Wisnu lagi.
Wisnu menghela nafasnya. Sejak lama ia ingin menyampaikan seluruh kemarahan dan keluh kesahnya di hadapan makam kedua orang tuanya. Baru kesempatan ini keberaniannya muncul, perasaan lega mulai mengaliri hatinya.
”Mas," panggil Almira menyentuh pundak Wisnu. Wisnu belum mau menoleh ke arah istrinya.
“Kita di sini untuk mendo'akan, kita tutup dengan do'a ya?" ucap Almira mengingatkan. "Jangan seperti ini."
Wisnu menoleh sejenak akhirnya. Ia mengangguk pelan.
”Ra, bisakah aku mendo'akan orang tuaku?" tanyanya ragu.
Almira tersenyum sambil ikut berjongkok, ia memegang nisan kedua orang tua suaminya dan merapikan rumputnya.
“Aku juga tidak tahu. Kita hanya manusia yang bisanya berharap, meminta dan berusaha, biar Allah yang menentukan semuanya. Kita boleh berdo'a untuk siapapun di dunia ini, asalkan dengan tulus pasti Allah akan mendengar do'a kita," ucap Almira masih meraih rerumputan dan diam sejenak.
”Aku kehilangan kedua orang tuaku sejak aku berusia sembilan tahun," ungkap Wisnu sendu.
“Aku selalu berpikir, entah bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkan maaf darimu, karena sungguh menerima dendam dan kemarahan dari orang yang telah keluargaku sakiti itu sangat berat. Aku tidak mau menjadi seperti mereka semua. Aku berusaha untuk bertanggung jawab pada semua hal entah itu murni salahku atau salah yang diakibatkan orang lain," terang Wisnu berdiri dan mengajak istrinya berdiri juga.
Ia meraih pundak Almira dan memandang dalam istrinya yang masih bingung dengan semua yang terlontar. Ia belum sepenuhnya memahami.
”Kakakku Aswa Tama, menghamili kekasihnya tapi tidak bisa menikah karena tidak direstui orang tuaku. Anak itu menjadi saksi pernikahan kita. Anak itu sama sekali tidak mengenal ayah dan ibunya, dan aku harus memutus pengalaman itu dengan menikahimu paksa, agar aku bisa bertanggung jawab apabila anak itu memang tercipta ada. Kakakku membunuh orang tuaku karena masalah itu, dan akan aku jadikan pengalaman, hubungan dengan anak harus terjalin kuat seperti orang tuamu mengajarkan anaknya agar tidak timbul masalah seperti ini," ungkap Wisnu membuat Almira membelalak mata dan mundur selangkah.
Wisnu tersenyum dan kembali menoleh pusara kedua orang tuanya.
“Kamu lihat makam yang ada di atas sana?" ucapnya sambil menunjuk ke arah makam dua tingkat di atas makam yang mereka kunjungi. Almira mengikuti gerak tangan Wisnu dan menoleh ke arah itu. Dia masih bingung mengamati.
”Itu makan kedua orang tua Isna, wanita yang foto-fotonya masih tersimpan rapi di ruang kerjaku," ungkap Wisnu sedikit membuat perasaan Almira menjadi tidak nyaman.
Almira merasakan sesak kecemburuan yang memang sejak pertama menginjak kakinya di rumah Wisnu dan menyadari perasaannya.
__ADS_1
“Kedua orang tua Isna, dibunuh orang tuaku," ungkap Wisnu semakin membuat Almira tersentak kaget. Ia reflek mengerjapkan matanya dengan telinga terasa berdenging nyaring.
Dengan lembut Wisnu meraih pundak itu lagi dan menepuk pelan. Almira memandang bingung suaminya, ia merasa benar-benar bingung.
”Isna adalah wanita yang bisa memaafkan dan memberi sudut pandang berbeda dalam setiap hal, itulah mengapa aku menyukainya. Jadi, aku harap kamu jangan ada lagi hal yang mengganjal saat bersamaku, juga saat menatapnya. Kenapa dia berarti bagiku, bukan lagi cinta, tapi sebagai panutanku dalam memahami masalah. Inilah alasan kenapa aku tertutup. Kehidupanku rumit, perasaanku rumit karena semua tentangku memang rumit."
Almira menghela nafasnya menenangkan diri. Perasaannya sangat bingung harus bagaimana. Ia tidak menyangka bahwa Wisnu memiliki sisi kehidupan gelap seperti ini. Ia bingung harus bereaksi apa terhadap kenyataan tentang suaminya.
“Kak Isna, memaafkan keluarga Mas Inu?" tanya Almira menggigit bibir bawahnya.
”Karena semua sudah terjadi. Kalau tidak ada maaf, lalu sampai kapan dendam kami akan berakhir?" adu Wisnu.
“Lalu, kenapa keluargamu membunuh keluarga Isna? Tidak mungkin semua terjadi tanpa sebab," tanya Almira memandang
”Harta, kekuasaan. Itulah mengapa aku mempertahankan mu. Saat melihat keluargamu yang sederhana tapi bahagia. Tidak menjadikan sebuah kedudukan dan kekayaan sebagai tolak ukur sebuah kebahagiaan. Aku mulai jatuh cinta dan ingin menjadi bagian dari keluarga itu."
Almira menitikkan air matanya karena haru. Ia tidak bisa membalas ucapan Wisnu terhadap keluarganya. Dengan bangga ia mengangguk.
“Aku juga sangat kagum padamu, saat aku mengaku tidak memiliki apa-apa, tapi kamu tidak merendahkan aku, tidak mencoba mencari tahu siapa aku, aku berterimakasih untuk itu," puji Wisnu semakin membuat pipi Almira merona karena malu.
Almira mengangguk dan tersenyum dalam tangisannya. Entah tangisan apa, tapi dirinya cukup lega karena suaminya mulai terbuka terhadap dirinya.
Bersambung.
Semua masalah yang timbul tergantung sudut pandang. Semua hal yang terjadi tergantung sikap. Baik buruknya perilaku orang terhadap kita juga tergantung cara kita menjaga sikap dan kelakuan kita. Hormati diri sendiri jangan sampai kita menggunakan tubuh ini, pikiran ini, anugerah yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk melakukan hal yang akan berbalik pada diri sendiri akibatnya. (Wisnu&Almira)
Terimakasih atas semua dukungannya ya teman-teman.
Love pokoknya untuk semuanyaaa.❤️❤️❤️
Gabung ke GCku ya.
Ig juga @Syalayaya
__ADS_1
Dalam segalanya dariku yaaa😍😍🌹🌹