
Selamat Membaca
“Jarang lho ada pemuda yang ngajak nikah dulu nggak pake pacaran,” puji Pak Ramlan hanya diberi hembusan napas Almira lemah.
“Memangnya dia cerita apa ke Bapak?” tanya Almira tidak percaya dengan cara Wisnu mendekati ayahnya.
Almira merasa penasaran, hal apa yang membuat ayahnya itu setuju menerima lamaran yang jelas-jelas baru pertama bertemu dengannya. Ayahnya itu tipe pria yang tegas dan sulit didekati apalagi dibantah.
Dengan melipat kakinya di kursi sofa memandang ayahnya yang menampakkan senyuman bahagia saat membicarakan pria rese dipikiran Almira itu.
“Kalian baru bertemu dua kali 'kan?” selidik ayahnya mencocokkan informasi yang diberikan Wisnu kepadanya.
Almira berdehem sejenak mengusir rasa terkejut yang hadir, tidak menyangka kalau Wisnu jujur sekali dengan ayahnya, karena memang mereka berdua belum saling mengenal dekat.
Almira juga terkejut, Wisnu mengingat pertemuan pertama saat srempetan di depan palang sepur malam itu. Dengan mengangguk pelan Almira membenarkan informasi yang didapatkan ayahnya itu dari Wisnu sendiri.
“Nah, hebat.”
“Hebat apanya, Pak?” protes Almira dengan bibir bersungut kemudian kembali menunduk saat ayahnya menatapnya dengan sorot mata tidak mau disanggah.
“Buktinya, kalian baru bertemu dua kali. Dia sudah berani meminta ijin orang tuamu untuk serius dan menikahimu agar bisa mengenalmu tanpa embel-embel pacaran.”
“Mas Bagus juga ngajak nikah, Pak. Bapak aja yang nolak memberi restu terus,” sela Almira dengan suara pelan dengan mata melirik ayahnya cemas di bentak.
“Pokoknya bapak nggak suka sama laki-laki model seperti dia,” sahut ayahnya ngotot.
"Model seperti dia bagaimana? mas Bagus pria yang baik, Pak. Ira udah lama mengenalnya," kilah Almira membela kekasihnya.
"Ya pokoknya sebagai orang tua, bapak ngak srek kalau kamu punya hubungan apalagi sampai menikah dengan pria itu," tegas Ayahnya menampakkan garis wajah tidak mau disanggah.
“Jadi Bapak tidak marah, kalau Ira membatalkan rencana pertunangan dengan mas Bagus?” tanya Almira terkejut dengan sikap ayahnya itu.
“Kenapa marah, bapak malah senang rencana kalian batal,” jawab Ayahnya tertawa merasa senang.
Oh ya ampun, situasi macam apa ini?
Almira mengelus pelipisnya yang tiba-tiba merasa pusing. Pandangannya teralihkan saat sosok pria yang sedang dibicarakan ayahnya itu sudah datang dengan memakai kaos model jumper dan celana jeans pemberiannya, sangat pas dan cocok sekali di badan bagusnya. Almira menghembus napasnya kesal, bagaimana bisa pria itu sangat tampan malam ini di matanya, memakai baju yang seharusnya dia berikan kepada Bagus kekasihnya.
Dia cuma reseh, tidak tampan sama sekali. Otakku sakit.
Almira berdecih dalam hati, membuang pikiran konyolnya sambil mengamati pergelangan tangan Wisnu yang sudah rapi berbalut perban. Almira merasa Wisnu sudah sangat mahir mengobati lukanya sendiri.
“Wisnu, bapak sudah lapor dan ijin pak Rt, kalian berdua bersama Ihsan boleh menginap disini malam ini. Hujan deras seperti ini sangat berbahaya untuk kalian kalau masih nekat melanjutkan perjalanan pulang.”
“Tidak perlu, Pak,” tolak Wisnu sopan sambil menoleh Almira yang menoleh juga tanpa suara, entah mengijinkan atau menolak. Sorot mata gadis itu tidak bisa Wisnu baca.
Bagaimana caraku meredakan amarahmu. Walau bagaimanapun aku sudah berusaha semampuku membuatmu memaafkanku.
Wisnu segera duduk, memilih kursi kayu berseberangan dengan Almira hingga mereka duduk berhadapan. Dengan sorotan mata malas Almira merosot di kursi sofanya menghindari tatapan pria bermata hitam bening itu.
“Bukankah dia kesini membawa mobil, kenapa bisa berbahaya?” tanya Almira seolah menyindir dan mengusir secara halus.
__ADS_1
“Almira benar, Pak. Setelah hujan reda kami segera kembali ke kota saja,” sahut Ihsan dengan suara sopan.
“Tidak bisa, ini sudah jam 9 malam, kalian pulang besok pagi saja. Bapak melarang.”
Pak Ramlan bersikeras menahan kepergian Wisnu dan Ihsan malam itu. Bahkan keluarga itu dengan sambutan sangat ramah melebihi apa yang ada dalam bayangan Wisnu. Menerimanya dengan tangan terbuka sebagai calon suami anak perempuan sulungnya.
Disambut dengan sebuah jamuan makan malam keluarga yang sangat Wisnu rindukan seumur hidupnya. Makan malah yang terlbat karena tragedi genting bocor.
Nampak menu sederhana tidak semewah makanan kota besar sudah memenuhi meja makan, tapi semua itu sanggup membuat Wisnu sangat tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh orang tua gadis itu.
Suasana penuh canda tawa dimeja makan. Ayah ibu yang menyayangi anak dengan caranya. Dua orang putrinya yang nampak sangat segan dan menghormati ayah mereka. Memprotes, cemberut, mengkerut takut karena ketegasannya. Wisnu merindukan sosok keluarganya dimasa lalu. Dia hanya bisa menatap iri keluarga sederhana ini dengan ikut gabung menyahut saat ada lontaran candaan untuknya.
***
“Terimakasih,” ucap Wisnu saat Almira berjalan di depan tv meraih remote hendak mematikannya karena dirasa sudah tidak ditonton.
“Emh, untuk apa?” tanya Almira menoleh dengan sorotan mata terkejut melihat Wisnu menatap kearahnya dan belum tertidur.
"Untuk sambutan hangat dari keluargamu," ucap Wisnu dengan tulus.
"Hem." Almira mengangguk. "Sepertinya mereka semua menyukaimu," tambah Almira dengan suara lebih lunak.
"Benarkah? aku sangat bersyukur," sahut Wisnu merasa senang.
"Kenapa kau belum tidur? Apa luka di tanganmu terasa sakit, kau butuh obat penahan rasa sakit?" tanya Almira menampakkan sisi simpati.
Wisnu menatap dalam gadis yang berdiri tidak jauh darinya itu. Perasaannya tergelitik, ingin mengenalnya lebih jauh, membuatnya penasaran. Menatap setiap ekspresi yang selalu berubah-ubah.
“Aku berlawanan denganmu, aku harap ini hanya mimpi buruk, kau tidak nyata dan aku bisa hidup seperti sediakala seperti saat aku belum bertemu denganmu.”
Wisnu tertawa ironi, perasaannya sakit dan tercabik oleh lontaran gadis yang masih memberi penolakan kepadanya itu. Wisnu segera membalik tubuh membelakangi Almira.
Wisnu saat ini tiduran di kursi sofa depan televisi.
“Kau menertawaiku?” desis Almira berjalan mendekat ke arah kursi sofa dengan mata mendelik sinis bersungut kesal mendengar tawa lolos dari bibir Wisnu.
Entahlah, saat menatap pria itu hatinya sangat marah dan gemerutuk ingin sekali memukulinya habis-habisan.
“Kau tahu, kalau bukan denganku dengan siapa kau akan bercinta malam itu? Kau tetap akan mengalami hal buruk itu sekalipun aku tidak berada di sana,” lontar Wisnu dengan suara dingin.
Almira yang terkejut mendengarnya segera mendekat meraih lengannya dan berusaha mendapatkan kejelasan dengan apa yang Wisnu ucapankan barusan.
Dengan badan kaku Wisnu menahan dirinya untuk menjawab, untuk memberi pelajaran kepada Almira dengan sikap ketusnya. Dia juga bisa bersikap menjadi korban.
“Apa maksudmu? Jelaskan dulu,” tanya Almira menarik lengan Wisnu agar pria itu berbalik badan dan menatapnya.
“Selamat malam, aku mengantuk.”
Wisnu tidak bergeming sama sekali dari posisinya, dengan cepat pula dia meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya agar tidak diganggu Almira lagi.
“Bangun. Jelaskan dulu. Cunguk!”
__ADS_1
Almira berbisik dengan gigi gemerutuk sambil menggoyang pundak Wisnu agar mau terbangun, dengan menahan diri untuk berteriak agar tidak membangunkan Ihsan yang tidur di sofa seberang, Almira memukul pundak itu dengan kesal.
“Bersyukurlah, kau sudah memilikiku, Almira,” ujar Wisnu membuka selimut dari kepalanya dan menoleh ke arah gadis itu berada.
“Pria reseh omong kosong.”
“Aku pria bernama Wisnu bukan reseh, mungkin setelah menikahimu bisa jadi rese juga sedikit,” godanya terkekeh ringan.
“Hih … membuatku sebal.”
Almira segera mendorong pundak itu kesal dan berlalu dari sana menuju ke kamarnya.
Setelah mematikan lampu terang dan menggantinya menjadi lampu tidur yang memberi cahaya remang, Almira meraih selimut dan menutupi tubuhnya hingga sebahu. Matanya belum juga bisa terpejam padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Bayangan kilasan hari itu hadir kembali.
Siang itu dia ditelpon kekasihnya Bagus agar menemuinya di Bar. Sebuah tempat yang asing dan juga sangat dia hindari, mengingat tempat seperti itu pasti bukan tempat yang baik untuknya.
“Kenapa mas Bagus memintaku datang ke sana? Apa maksud si Rese itu …?” gumam Almira masih memikirkan segala kemungkinan.
Dengan gelisah dia miringkan tubuhnya menghadap ke arah tas slempang yang dia gantung di dinding kamarnya.
“Apa yang dikatakan si Rese itu, apakah benar?” ucapnya lagi lirih sambil menghela napasnya. “Aku tetap akan mengalami itu. Tapi, dengan siapa?”
Tring …
Bunyi ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Dengan pelan dia keluarkan ponsel dari bawah bantalnya itu dan membuka lock screen. Matanya terbelalak kaget saat membuka sebuah pesan yang baru masuk, dengan cepat dia lemparkan ponselnya ke lantai dengan mencengkeram erat selimut dan menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
Sebuah video masih terputar disana, ponselnya tidak mati, suara tawa cengingisan terdengar juga dari sana.
“Wisnu reseh!” decaknya kesal sembunyi dibalik selimut.
Dirinya tidak menyangka, pria itu bisa bersikap iseng mengiriminya sebuah video horor.
Bersambung …
Hai semuanya, Terimakasih masih bersama Wisnu ^_^
Terus berikan dukunganmu dengan menambahkan novelku sebagai novel favorite, tambahkan like, komentar juga vote seikhlasnya juga. ^_^
Baca juga novel karya sahabatku dijamin seru😊
Kak Putri Tanjung
Kak Nafasal
Kak N.P Sukaryanto
__ADS_1
Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌹🌹