
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore saat Wisnu memutuskan untuk pulang. Mencoba sebisa mungkin sampai dirumah sebelum adzan maghrib berkumandang.
Ia menatap langit yang kini mulai berubah menjadi gelap, sepertinya hujan akan segera turun menyapa penduduk bumi dan mendinginkan panas gerahnya akibat aktifitas seharian.
Wisnu menguap beberapa kali, rasa lelah dan kantuk karena kurang tidur semalam jujur saja membuatnya terganggu.
“Semoga berhasil, Pak,” ucap Ihsan dengan suara lantang menggoda, tangannya memberikan salam hormat dengan dua jemari menyentuh kening.
“Ck!” Wisnu menoleh sambil berdecak, ia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ihsan yang lucu, apalagi saat dengan langkah bergaya, Assisten yang usianya sepantaran dengannya itu mengaca dengan gaya mengusap rambut di spione mobil miliknya.
“Sabar ya, Sayang. Garasi untukmu sedang aku persiapkan,” ujar Ihsan sambil mengusap body depan mobil Wisnu lagi.
“Benar-benar sudah kritis jiwanya,” gumam Wisnu menganggapi kelakuan Ihsan dalam menggodanya. “Tidak mungkin si ketus itu mau merayuku, dasar Assisten halu.”
Ihsan mengabaikan cibiran bosnya. Ia segera berjalan pergi ke arah mobilnya sendiri yang terparkir di pojokan setelah saling memberi tatapan penuh keyakinan menang taruhan, menatap mobil milik bosnya semakin dia memanjatkan banyak do'a.
Berbeda dengan pikiran Ihsan yang seharian ini bersemangat, pikirannya masih berkutat pada hubungannya dengan Almira.
“Ira merayuku? Ahh … tidak mungkin, kalau iya aku akan senang,” gumam Wisnu sambil menjalankan mobilnya meninggalkan Hotel.
Wisnu memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang, sesekali menatap samping kanan kirinya memandang para pedagang kaki lima sedang mempersiapkan lapaknya. Sambil tersenyum dia mengingat kembali informasi yang dia terima dari Ihsan tentang Almira.
“Wanita bernama Almira itu sangat sederhana, Pak. Sepertinya bukan berasal dari kalangan anak orang kaya. Tiap gajian pasti dia bakal membeli Martabak Telur Spesial yang berada di depan Minimarket tempatnya bekerja,” terang Ihsan saat itu.
Sambil tersenyum Wisnu segera menyalakan lampu sein dan menyeberang, membawa mobilnya menuju ke lapak kaki lima yang menjual Martabak kesukaan istrinya.
Hanya butuh beberapa menit kini dia sudah berhasil memarkir kendaraannya di depan Minimarket tempat dimana Almira dulu bekerja. Perasaannya sedikit tidak nyaman memandang mantan rekan Almira dari luar dinding kaca tembus pandang, tampak mereka sibuk bekerja dengan beberapa kali kekehan yang terlihat diantara canda yang tercipta. Mereka terlihat sangat akrab.
“Apa kalau kamu bekerja juga seperti mereka, hari-harimu penuh tawa? Apa setelah menikah denganku kamu merasa kesepian saat berada di rumah sendirian?” batin Wisnu masih termenung menatap interaksi penjaga Minimarket itu sambil berjalan mendekati penjual Martabak.
“Pesan yang mana, Pak,” tanya penjual itu sambil menyunggingkan senyuman ke arah Wisnu.
“Martabak Telor Spesial, Bang, satu ya,” jawab Wisnu segera menoleh kepada penjual, pertama kalinya membeli Martabak sendiri membuatnya bingung dengan istilah yang tertera di papan menu.
“Baik, Pak. Silahkan duduk dulu sembari menunggu,” ucap penjual menunjukan dimana tempat menunggu pelanggannya berada.
“Tidak apa-apa, saya mau lihat Bapak bikin Martabaknya. Saya nunggu di sini saja,” seloroh Wisnu segera diberi anggukan senyuman abang penjual.
Wisnu menatap kecepatan dan kecakapan Abang penjual dalam mengolah adonan. Wisnu memandang kagum melihat adonan tepung setipis itu bisa berubah menjadi makanan berbentuk persegi seperti pesanan milik pelanggan lain yang sudah jadi.
"Abang sudah lama berjualan di sini?" tanya Wisnu mencoba berinteraksi dengan penjual, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama ini.
“Sudah, Pak. Tiga tahun lebih saya jualan di sini,” jawab Abang sambil sesekali menatap sekilas ke arah Wisnu.
“Abang kenal dengan semua karyawan yang bekerja di Minimarket itu?" tunjuk Wisnu menunjuk ke Minimarket yang berada di belakangnya.
“Oh, kenal, Pak. Mereka sering membeli Martabak jualan saya juga, Pak,” jawab Abang penjual itu sambil ikut menoleh ke arah Minimarket yang berada di belakangnya.
“Kenal dengan salah satu karyawan yang bernama Almira?” tanya Wisnu lagi, ntah apa yang dia pikirkan, semua mengenai istrinya seperti sangat menggelitik hatinya.
“Oh, yang biasa di panggil Ira itu? Kenal saya, sangat kenal malah. Sama pacarnya saya juga kenal, dia sering menunggu Neng Ira pulang kerja sambil ngobrol sama saya di sini. Tapi dia sekarang sudah tidak bekerja di sini lagi,” jawab Abang itu sambil melakukan pekerjaannya.
Wisnu kembali harus menghela napas, rasa cemburu di dalam hatinya seolah menyeruak kegetiran.
Kenapa aku marah? Padahal jelas Bagus kenal Ira lebih dulu.
“Bukankah Ira sudah menikah, ya, Bang?” sahut Wisnu mencoba memberitahu, tapi bingung cara melakukannya.
“Oya? Pantesan dia keluar dari sini tanpa pamitan, ternyata sudah nikah to? Jadi patah hati saya,” kelakar Abang penjual sambil tertawa membuat Wisnu kesal.
“Abang suka sama Ira juga?” sindir Wisnu dengan suara menahan kekesalan.
“Ah Bapak bisa aja, saya 'mah nggak berani sampai naksir, Pak. Dia terlalu cantik buat saya,” seloroh Abang penjual membuat Wisnu menggeleng kepala merasa Abang itu konyol.
“Dia memang cantik,” sahut Wisnu segera diberi kekehan Abang penjual.
“Ini pesanan Bapak. Oya, kalau Ira memang sudah menikah, mendingan Bapak move on cari yang lain aja ya, Pak,” seloroh Abang penjual sembari tertawa. Tangan kanannya segera memerikan Martabak pesanan kepada Wisnu.
Wisnu menanggapi dengan senyuman, dirinya memberikan uang pembayaran kepada Abang itu.
“Kembaliannya, Pak,” ucap penjual Martabak menyerahkan kembalian.
“Buat Abang saja, terimakasih ya, saya permisi.”
“Wah, terimakasih banyak. Semoga Bapak dilimpahkan rezeki yang lancar dan semakin disayang istri dan anak-anak," jawab Abang penjual dengan mata berbinar.
“Aamiin Bang, semoga saya tambah disayang istri dan cepat segera diberi momongan,” sahut Wisnu sambil menunduk pamitan.
“Aamiin, Pak. Semoga makin semangat membuat adonannya,” celetuk Abang terkekeh pelan, Wisnu hendak berbalik kembali menoleh dengan senyuman.
“Adonan?” Wisnu mengernyit seperti terhibur. Abang hanya menanggapi dengan lemparan tawa.
Wisnu meninggalkan Minimarket dan berlalu pulang ke rumah. Merasa tidak sabar melihat reaksi Almira saat melihat dirinya membawakan Martabak Telor kesukaannya. Ingin sekali ia sampai dirumah. Dia pun segera memacu kendaraannya lebih cepat.
*
*
__ADS_1
*
Almira menatap gelisah jam dinding di dapur. Memandang masakannya yang mulai dingin dengan wajah kusut. Wajahnya merengut, duduk di kursi dengan posisi tubuh condong ke meja, melipat kedua tangannya dan dagunya menyenyuh meja. Terdengar samar Adzan Maghrib sudah berkumandang.
“Aku shalat Maghrib dulu aja, sepertinya Mas Inu terlambat pulang. Apa General Managernya memberikan surat peringatan?” gumam Almira cemas.
Ucapan Ihsan terngiang jelas di ingatannya, suaminya idola para wanita. Semua yang Ihsan ucapkan seharian ini sangat membuat ia kepikiran.
“Bagaimana kalau benar dia selingkuh?” cetusnya sambil berjingkat, badannya segera bangkit dari duduk dengan bola mata memutar seperti berpikir. Pikiran tidak tenang menggelayutinya.
“Ah tidak … tidak, tidak mungkin,” sahutnya menyanggah pikiran kotornya. “Mas Inu pria yang ….” Kilasan apa yang menimpanya kembali bergulir, dia tidak melanjutkan pikirannya tentang sosok Wisnu, pria itu bukan termasuk pria baik.
Almira segera menarik kursi dan berlalu dari sana. Menuju ke lantai atas untuk menunaikan shalat Magrib. Dirinya sedang memantapkan hati, entah mengapa kata 'jatah' selalu membuat hatinya gundah.
“Ya Allah, berikan aku petunjukmu, bagaimana caraku melembutkan hati suamiku dari kemarahannya, aamiin yaa robbal 'alamin,” batin Almira menyelesaikan do'anya.
Suara derit gerbang terbuka membuat Almira mengalihkan pikirannya, berdesir kembali dalam hati. Ada rasa rindu, senang bercampur gemetar juga. Ia meraih mukena dari tubuhnya dan melipat dengan tergesa. Ia tidak mau melewatkan dalam menyambut suaminya pulang kerumah. Bukankah bisa meleburkan amarah suaminya harus menjadi prioritasnya.
Almira menyusuri tangga dengan gerakan lincah, matanya masih fokus melihat sosok Wisnu dari dalam rumah lewat jendela kaca bertirai tipis.
“Belum apa-apa tapi aku sudah gemetaran begini,” keluh Almira menghentikan langkahnya ketika kakinya sudah sampai di anak tangga terakhir.
Almira menghembus napas menata hatinya saat melihat suaminya sudah membuka pintu rumah dan menutupnya dengan pelan.
Pandangan mereka berdua saling beradu, satu sama lain terpaku sejenak hingga Wisnu memutuskan untuk berjalan mendekat dengan memasang wajah datar. Almira mau tidak mau menjadi grogi juga.
“Mas pulang terlambat,” ucap Almira berbasa basi, mencoba mendapat perhatian dari suaminya.
“Ini buat kamu,” ucap Wisnu menyodorkan plastik berisi Martabak kepada Almira.
Almira segera meraih plastik berwarna putih berisi kerdus beraroma khas dan masih terasa hangat pula dengan perasaan suka cita.
“Wah, Martabak Telor,” celetuk Almira tidak bisa menyembunyikan kegembiraan di dalam hatinya, sorot matanya berbinar indah. Wisnu hanya tersenyum sekilas dan menaiki tangga, mengabaikan istrinya.
“Setelah mandi kita makan bersama ya, Mas?” ajak Almira memandang langkah Wisnu yang semakin menjauh.
“Kamu makan sendiri saja, aku masih malas,” jawab Wisnu dengan suara lesu.
“Aku sudah memasak,” ungkap Almira merasa kecewa ditolak suaminya.
“Aku tidak pernah menyuruhmu memasak,” jawab Wisnu tanpa menoleh. Langkahnya semakin cepat menuju lantai atas.
Almira tertunduk sedih, merasa batinnya sangat tersinggung dan terluka karena ucapan suaminya.
Ingin sekali dia pergi dari rumah itu dan kembali pulang kerumah saja. Ah tapi dia akan malu bila ditanya-tanya orang tuanya. Pasti kesalahan akan ditunjuk ke mukanya. Bukankah memang biasanya dirinya yang sering berbuat sesuka hati.
Mata Almira mendadak berair, suaminya masih peduli padanya tapi rasa kecewa dengan kata yang dia lontarkan masih menyisa kemarahan, ia paham akan hal itu.
“Mas Inu pulang terlambat karena membelikan aku Martabak di tempat langganan aku, walau dia masih marah. Sikapnya masih acuh, membuatku serba salah.”
Almira menatap Martabak dan memakannya dengan hati-hati, air mata sialan baginya masih saja menetes tak mampu dia hentikan.
“Diabaikan ternyata rasanya sakit, rasanya mau pergi saja,” sesak Almira mengusap air mata dan juga ingus yang mendadak muncul dengan tisu. Dia makan Martabak pemberian suaminya pelan-pelan dengan pikiran kalut.
“Kalau misalnya aku … merayunya, bersikap baik padanya, apa dia akan berhenti marah?” guman Almira bimbang sekaligus malu.
Almira melihat sosok suaminya yang berjalan dengan pakaian rapi turun ke lantai bawah segera membuat pikiran buruk menghiasi menghiasinya.
“Mau kemana, Mas?” tanya Almira berlari kecil menghampiri Wisnu.
“Keluar sebentar, kamu mau nitip apa?” jawab Wisnu menoleh ke arah Almira tapi tidak menghentikan langkahnya.
“Memangnya mau kemana? Ini 'kan sudah malam?” tanya Almira masih berjalan mengekori langkah suaminya.
“Ada janji sama orang? Kenapa, biasanya kamu tidak pernah nanya,” sahut Wisnu menoleh ke arah istrinya yang kelewat berbeda sejak malam itu, saat melihat kemarahannya.
“Bukan begitu, itu … soalnya Mas Inu belum makan,” jawab Almira pelan.
“Aku bisa makan di luar, aku biasa jajan di luar,” jawab Wisnu masih dengan nada suara biasa.
Almira menghela napasnya sedih, kenapa suaminya masih saja bersikap dingin, kenapa marahnya lama sekali. Biasanya pria tampan itu akan selalu menarik perhatiannya, sekarang menatap saja sepertinya tidak mau.
“Aku mau minta maaf soal masalah malam itu, Mas,” ungkap Almira segera bisa menghentikan langkahnya.
“Soal itu? Kamu tidak salah, aku yang kelewat mengharapkan pernikahan denganmu menjadi hal yang membahagiakan. Ternyata aku salah sudah memaksamu,” sahut Wisnu berucap sangat ringan dan mudah.
“Tolong Mas lupain soal malam itu, Almira mengaku salah,” sahut Almira masih mencoba menahan kepergian Wisnu.
“Aku sudah lupa, kamu tidak perlu merasa khawatir,” jawab Wisnu sambil membuka pintu rumah.
“Tapi sepertinya Mas Inu masih marah,” komentar Almira pada sikap suaminya yang berubah dingin.
“Wajahku memang seperti ini, Aku angkuh, dingin dan menyebalkan. Bukankah kamu malah sudah tahu sifatku sedari dulu?” adu Wisnu kembali membuat Almira seperti salah bicara lagi.
“Kita seperti sedang bertengkar,” ujar Almira tampak memprotes.
“Memangnya kapan kita akur, bukankah setiap hari sejak menikah kita seperti ini?” balas Wisnu memutar ucapan Almira kepadanya. Almira terliha jelas wajahnya menjadi kusut, dia kelimpungan menhadapi ucapan Wisnu yang menjawab terus ocehannya selalu menohok perasaannya.
__ADS_1
Wisnu kembali mau melangkah saat melihat Almira terdiam, dia akan melihat sejauh mana Almira akan berusaha mendapatkan maaf darinya.
“Apa Mas tidak tahu, kalau keluar rumah saat pasangan suami istri sedang berdebat akan menimbulkan masalah baru?” ucap Almira menahan pintu dan menghalangi jalan.
“Aku tidak tahu, ilmuku masih sangat minim untuk memahami hal seperti itu,” jawab Wisnu berhenti berjalan dan diam menatap Almira yang malah menunduk tidak membalasnya.
“Aku tidak punya ilmu mumpuni hingga mampu membimbingmu, bukankah aku terlihat jelas sebagai imam yang gagal?” lontar Wisnu dengan nada yang tegas.
Almira tercekat, tidak mampu lagi membalas apa yang terlontar. Entah apa yang sedang ada dipikiran suaminya hingga malah membawa hal seperti itu dalam perdebatan ini.
“Mas membawa agama?” tanya Almira melepas pintu dan mundur tidak menghalangi jalan lagi.
“Kamu yang memulai,” jawab Wisnu tegas.
“Aku tidak memberi ijin Mas pergi,” ucap Almira bersikap tegas juga.
“Kenapa?” tanya Wisnu mengukir senyuman tipis, memandang Almira yang juga memandangnya penuh keraguan.
“Pokoknya tidak memberi ijin,” sahut Almira menampilkan sungutan di wajahnya.
“Alasannya? Aku hanya keluar sebentar,” balas Wisnu dengan gaya menantang.
“Diluar berbahaya aku bilang!” sela Almira menjawab dengan cepat dan ketus, melontarkan kata yang jujur membuat Wisnu harus menahan tawanya dalam-dalam.
“Aku bisa menembak, memainkan pisau aku juga mahir. Berkelahi jelas aku jagonya, tidak ada yang perlu aku takutkan saat aku berada di luar rumah,” jawab Wisnu lagi bersemangat, menunggu jawaban apa yang akan istrinya berikan untuknya. Perdebatan yang menyenangkan. Memberi jawaban yang memancing terus perdebatan.
“Tapi aku tidak yakin kamu bisa menahan godaan kalau musuhnya wanita cantik,” lontar Almira bersungut.
Wisnu akhirnya tidak mampu menahan tawa, mendorong pelan pundak Almira dengan kekehannya. “Wahh ... itu jelas tidak bisa, aku memang selalu kalah kalau melawan wanita yang cantik, jujur itu kelemahanku,” jawab Wisnu berusaha berhenti tertawa tapi raut wajah Almira semakin membuatnya tertawa.
“Sudah ku duga,” sahut Almira mendelik kesal. “Semua pria seperti itu, rese semua,” keluh Almira mulai menampakkan kembali wajah cemberutnya. Memandang Wisnu kembali dengan raut wajah sukar dibaca.
“Ingat, dugaanmu tidak selalu tepat,” ejek Wisnu memandang Almira yang tengah memandangnya seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Dia pasti menyindirku karena masalah kak Dhepe. Kenapa membahas hal yang jelas akan membuatnya marah, sih," batin Almira.
“Kenapa? Apa kamu berpikir untuk merayuku?” batin Wisnu membayangkan apa yang ada dipikiran istrinya.
Dia akan mempersulit dan mengabaikan semua yang diperbuat Almira hari ini. Baginya mobil mewahnya masih terlalu dia sayangi kalau sampai dia tukar dengan gombalan tidak tulus dari istrinya.
“Tunggu. Aku mau bicara serius sama Mas Inu,” cegah Almira lagi menarik kemeja Wisnu yang kembali hendak melangkah.
Wisnu mengernyitkan dahinya, memasang wajah tampak mendengarkan apa yang akan Almira katakan kepadanya. Pandangan yang membuat Almira malah menunduk kebingungan.
“Apa? Temanku sudah menunggu. Kamu tahu aku hanya punya waktu satu jam bertemu dengannya sebelum dia pergi dari sana,” ucap Wisnu menghembus napas menghadapi Almira yang kelewat aneh dan bertele-tele.
Cuma mau bicara masalah pekerjaan saja lelet amat, membuatku menjadi gemas kesal saja.
Almira melepaskan tarikan kemeja Wisnu, bersikap mulai menampakkan keseriusan tapi jelas wajahnya nampak menyembunyikan malu.
Ayo, Ira. Daripada satu jam bersama wanita lain kamu harus merebut kembali perhatian suamimu.
“Ehm!” deham Ira membuat Wisnu melengos kesal, beberapa kali dia menatap jam tangannya dan mengecek ponselnya.
"Cepat katakan," desis Wisnu menatap tidak sabaran.
“Aku … berencana mengijinkanmu untuk meminta hakmu sebagai suamiku malam ini,” lontar Almira membuat Wisnu segera menoleh istrinya dengan tampang terkejut, dia sampai menelan salivanya cepat dengan pikiran yang belum sepenuhnya fokus ke arah sana.
“Hakku?” ulang Wisnu dengan wajah masih bertanya-tanya.
“Iya, hak Mas Inu,” jawab Almira tersipu malu.
Sialan Ihsan, apa yang dia lakukan sampai Ira benar-benar melakukan upaya rayuan seperti yang terlintas dipikiran Assisten sontoloyo itu?
Wisnu menatap Almira dengan perasaan bercampur, menatap istrinya yang kini menunduk malu, melihat istrinya yang sesekali menatap dengan menggigit bibir bawahnya karena malu.
***
Kau ucapkan kata yang selalu kuharapkan setiap malam. Malam yang biasanya diisi dengan kesepianku seolah ada secercah harapan yang tercipta.
Tapi, kenapa hati ini belum merasakan penuh suka cita?
Ada bagian kosong yang belum terisi penuh pada ucapanmu, yaitu sebuah alasan.
Apa alasanmu melakukan ini? Cinta atau hanya bualan cinta? (Wisnu~Almira)
Bersambung …
Hai semuanyaa … maafkan update novelku selalu tidak teratur ya. Pokoknya tetap setia menati ya di sela kesibukan othor, semoga memaklumi ... huhuhu.
Terimakasih untuk dukungan Like, Komen, vote luar biasa dari kalian semua 😘, love love ku
Hari ini aku update dua bab ya🤗, semoga mengobati rindu ^_^
Baca juga ya karya tamat, biar nggak penasaran pas baca.
__ADS_1