Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 44 Pagi Yang Nanggung!


__ADS_3

Wisnu mengusap keringat yang membasahi kening Almira, mengecupnya beberapa kali hingga istrinya menggeliat dan membalik badan tidur memunggunginya. Ingin sekali Wisnu kembali membangunkannya, kembali mereguk manisnya cinta, sudah bagai candu dia merasakannya.


“Terimakasih, Ira. Kamu memberikan hatimu bukan hanya karena alasan pekerjaan saja,” gumam Wisnu segera memeluk tubuh polos istrinya berbalut selimut berdua.


Ia merasa sangat bahagia dan hatinya juga penuh terisi nama Almira.


Hingga pagi menjelang, suara adzan berkumandang. Terdengar saling menyahut dari seluruh masjid yang tersebar di seantero kota, juga area di kompleks perumahan tempat Wisnu tinggal.


Almira mengerjapkan matanya, menoleh ke arah sampingnya yang sudah kosong ditinggal pemiliknya. Almira segera duduk bersandar dengan menarik selimut hingga menutupi lehernya. Ia mendesah pelan mengingat apa yang sudah dia lewati semalaman bersama suaminya. Samar-samar dia tersenyum sendiri.


Suara gemericik dari arah kamar mandi membuat Almira yakin, suaminya pasti sedang mandi besar karena hendak melaksanakan shalat subuh di Masjid. Sambil menunggu giliran ia segera meraih pakaiannya yang teronggok begitu saja di lantai.


“Mas Inu semalam bersemangat sekali, pria kaku itu berubah lembut saat menyentuhku. Sangat berbeda jauh saat malam dia merenggut kesucianku. Ah … seandainya malam pertamaku seindah tadi malam,” batin Almira mengurai hatinya, pengalamannya.


Almira segera mengenakan kembali pakaiannya, berdiri dengan meregangkan ringan tubuhnya yang terasa kaku dan lelah. Ia memilih mendekat ke arah jendela dan membuka tirai yang menutupinya.


Secercah cahaya terang dari langit terlihat dari lantai dua rumahnya. Ia harus puas menatap tak sempurna pemandangan pagi yang indah itu, karena harus tertutup gedung-gedung tinggi di sekeliling kompleks perumahan milik suaminya. Pemandangan yang sangat dia sukai saat berada di desa, di tanah kelahirannya. Semburat cahaya saat mentari pagi hendak terbit menyapa bumi.


“Mandi dulu, Sayang,” sapa Wisnu sudah berjalan dari dalam kamar mandi, ia tampak sudah berpakaian rapi hendak ke Masjid.


Almira segera menoleh ke arah suaminya, membalik badan menatap pemandangan indah lain yang diciptakan Allah untuknya. Suaminya sendiri.


“Sayang?” ulang Almira seperti meledek suaminya -- memanggil dirinya 'Sayang' sambil terkekeh geli sendiri. “Gombal banget pagi-pagi.”


“Kamu juga suka 'kan digombalin,” balas Wisnu menunduk ikut terkekeh malu dengan jemari mengusap dagunya.


“Nggak 'lah, aku suka yang tulus," jawab Almira kembali menampakkan senyuman malu.


“Insyaallah tulus, Dek Ira,” jawab Wisnu masih saja bisa membuat Almira salah tingkah malu sendiri.


"Mas mau ke masjid? Buruan … entar ketinggalan lho,” seloroh Almira segera diberi anggukan kepala dan sunggingan senyum Wisnu yang indah.


“Mas pergi dulu ya, Sayang,” pamit Wisnu dibalas anggukan Almira yang masih saja menahan tawa geli.


Wisnu segera berlalu meninggalkan kamar dengan menutup pintunya pelan.


Almira segera duduk di kursi sofa dan malah terkekeh sendiri. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa terbahak. Entah mengapa panggilan 'Sayang' seolah membawanya seperti terbang tinggi penuh rasa geli tapi bahagia. Hanya karena panggilan 'Sayang' tapi dia merasa sangat senang. Ia segera memukul kepalanya pelan, menghilangkan pikiran konyol seperti orang yang sedang jatuh cinta saja.


Almira segera melangkah riang ke dalam kamar mandi dan menjalankan ritual mandi sebelum akhirnya selesai dan menunaikan ibadahnya di rumah saja.


Entah apa yang berada di benaknya, tenyata dia merasakan begitu dalam perasaannya terhadap sosok suami. Perasaan yang baru dia rasakan saat merasa ada begitu banyak juga yang menginginkan sosok suaminya. Dia merasa kesal dan cemburu saat mendengarnya.


Almira bersenandung riang saat berada di


dapur, membuat nasi goreng telur ceplok. Nasi kemarin masih menyisa banyak karena suaminya tidak makan malam.


“Kamu masak apa?” tanya Wisnu sudah berdiri di belakang Almira, memeluk tubuh istrinya yang duduk di kursi yang menghadap piring berisi nasi goreng. Aromanya jelas menambah keroncongan perutnya.


“Mengagetkanku saja," keluh Almira terkejut, " Aku cuma membuat nasi goreng. Aku mulai hari ini tidak mau memasak lagi,” jawab Almira cemberut, ia menyendok nasi dan memasukkan ke dalam mulutnya, rasa gurih yang menggoyang lidah, mengunyahnya dengan kepuasan akan rasanya.


“Ahk … suapi aku, aku juga mau,” pinta Wisnu segera melepas pelukannya dan duduk di kursi samping Almira seraya membuka mulutnya.


“Cieh, aku tidak suka berbagi kuman di sendokku,” tolak Almira mendorong piringnya menjauhi Wisnu.


“Wah, kuman apanya? Bukankah semalam bukan cuma kuman saja kita berbagi? Keringat juga,” balas Wisnu meraih piring berisi nasi goreng itu kembali ke hadapannya. Almira hanya memainkan bibirnya menirukan ucapan Wisnu yang sedang menggodanya.


Cup


Wisnu mencium sekilas pipi Almira membuat istri cantiknya itu terkejut dan berusaha memukul gemas suaminya karena tingkah usilnya. Dengan cepat pula Wisnu menangkis dan tertawa lebar menanggapi kekesalan Almira.


“Aku tidak mau memasak lagi,” lontar Almira mengaduk sendok ke nasi dan mengambilnya, segera menyodorkan ke arah suaminya.

__ADS_1


Wisnu segera membuka mulutnya dan menerima suapan nasi goreng ke dalam mulutnya. Rasa gurih enak segera menambah seleranya untuk ikut menghabiskan sarapan.


“Nasi gorengnya enak. Jatah nasiku mana?” tanya Wisnu menoleh ke arah wajan di dapur maupun di atas meja yang tidak dia temukan.


“Aku cuma bikin satu porsi,” jawab Almira lesu sambil memakan nasi gorengnya lagi.


“Wahh, istri kejam. Kenapa cuma satu?” protes Wisnu menatap Almira dengan wajah cemberut yang semakin membuatnya terlihat tampan.


“Katamu tadi malam, kamu tidak pernah menyuruhku memasak, jadi daripada mubazir aku memutuskan tidak mau memasak lagi, capek tidak dimakan,” jawab Almira memandang Wisnu sambil melemparkan senyuman manis.


“Apa maksudmu, Sayang?” tanya Wisnu belum mengerti.


“Aku tidak mau memasak lagi,” ulang Almira menatap sendu masakan di dapur yang tampak sudah basi semua.


Wisnu menghela napasnya penuh sesal, sungguh perasaan marah sudah membutakan matanya dalam membedakan mana yang harusnya dia tahan, mana hal yang harusnya terlontar.


“Maafkan aku, Ira. Semalam … Mas Inu masih diliputi dengan kemarahan. Jadi mulutnya sukar dikontrol,” ucap Wisnu meraih pipi Almira dan menangkupnya dengan kedua tangannya agar menoleh.


“Sekarang bagaimana, apa masih marah juga?” tanya Almira memandang lembut suaminya.


“Sudah tidak, sudah lebur bersama malam yang sudah kita lalui bersama,” jawab Wisnu sambil tersenyum memandang kerjapan mata istrinya yang masih saja memandangnya dengan polos.


“Semudah itu?” tanya Almira memastikan.


“Semudah itu, tapi ingat … jangan membuatku marah lagi dengan ucapan kata melepaskan lagi ya? Mas Inu tidak mau berpisah sama Dek Ira Sayang,” jawab Wisnu segera mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kening istrinya dengan perasaan sayang. Rasa haru menggelayuti hatinya.


Almira hanya mengangguk dan menarik kepalanya hingga tautan tangan itu terlepas dari pipinya. “Berjanjilah juga, saat ada wanita lain yang lebih dan melebihi aku, Mas Inu tidak akan pernah berpaling? Menanggapinya, ataupun memikirkannya? Membantunya, memberinya perhatian lebih. Ira akan benar-benar tidak mau menoleh dan memaafkan masalah ini,” ucap Almira segera diberi Wisnu anggukan setuju.


“Apa kamu cemburuan?” tanya Wisnu semakin tertarik dengan semua yang ada di diri istrinya.


“Tidak juga, Mas Bagus sering jalan dengan Delia … aku tidak pernah marah,” jawab Almira polos.


“Astaga … kepedean. Auk ah … mau sarapan. Kan Mas Inu biasa jajan dan makan diluar, sarapan diluar gih … sana,” omel Almira sambil bersikap semula dan menghadap nasi gorengnya.


“Kumat lagi,” celetuk Wisnu segera diberi lototan mata istrinya.


“Apanya yang kumat? Salah sendiri bikin gara-gara denganku. Pakai acara ngomong malas makan, biasa jajan diluar, ihh … membuatku kesal saja,” oceh Almira masih makan dengan bibir mengerucut menyalurkan uneg-uneg di hatinya.


“Apa pagi ini kita meleburkan cinta lagi ya, biar marahmu segera sirna berubah jadi desahan cinta,” goda Wisnu terkekeh hingga membuat Almira menelan cepat makanannya, melotot malu ke arah suaminya. Tidak lupa dia juga membekap mulut suaminya yang tambah mengeraskan tawa.


“Ssttttt! Astaga malu. Didengar orang bagaimana? Benar-benar!” desis Almira bersungut menahan malu.


“Siapa yang akan dengar? Cuma ada kita berdua di rumah. Sengaja aku tidak mencari pekerja rumah agar tidak mengganggu saat kita memadu cinta,” seloroh Wisnu lagi sambil meraih tangan Almira yang menutup lembut mulutnya.


Gila. Apa dia siluman Wisnu? Wisnu Tama masa mesum begini. Wah … aku jadi sedikit menyesal sudah mengijinkannya menyentuhku.


Almira segera menarik kursinya dan berniat berniat berdiri tapi dengan jail tangannya segera dicekal. Senyuman segera terukir dari bibir suaminya.


“Masih pagi ya, jam berapa ini,” ucap Wisnu menggoda. “Baru jam tujuh, masih ada waktu satu jam,” tambahnya lagi membuat Almira meronta berusaha melepaskan tangan Wisnu dari pergelangan tangannya.


“Apa sih? Aku ada wawancara pagi, Ira mau siap-siap,” protes Almira yang jelas peka dengan kode dari suaminya.


“Wawancara apa? Wawancara denganku dulu,” sahut Wisnu ikut berdiri dan meraih tubuh Almira, menggendongnya dan membawa ke ruangan santai biasa dia meninton tv disaat libur kerja.


Wisnu sengaja mengabaikan tangan istrinya yang memukul gemas dada bidangnya. Baginya itu malah sikap yang menggemaskan.


“Mas, ini masih pagi,” resah Almira saat tubuhnya direbahkan ke atas sofa besar biasa Wisnu gunakan untuk tidur malas-malasan sepanjang hari saat bosan.


“Justru karena masih pagi, masih fresh, tidak ada yang mengganggu,” jawab Wisnu sudah berhasil menindih dan menciumi leher Almira.


“Mas,” desah Almira merasakan geli yang segera menjalari seluruh tubuhnya.

__ADS_1


“Kamu membuatku kecanduan, Ira,” bisik Wisnu ditelinga Almira disertai gigitan kecil merasakan gemas berlebih kepada istrinya itu.


“Wawancaraku bagaimana, aku malu kamu akan memberiku tanda-tanda merah jahara?" protes Almira bersungut menolak. "Ah!” sentak Almira menahan tangan Wisnu yang kekeh membuka pakaiannya.


“Ini hari sabtu, Adek Ira? Hem? Tidak ada wawancara di akhir pekan,” ucap Wisnu memberikan kilatan sorot mata kemenangan yang tidak bisa dibantah istrinya. Senyum jahilnya segera diberi ciuman sekilas istrinya, dengan gemas puls dia membalasnya. Mereka terkekeh bersama dan tatapan mata mereka saling beradu.


Wisnu berinisiatif lebih dulu untuk melancarkan ciumannya, usapan lembut dan bibir memagut lembut segera membuat keduanya saling menggeliat menikmati permainan cinta. Saling membakar energi cinta hingga gairah tercipta untuk saling luapkan rasa, saling memberi dan saling menikmati.


Drttt … drtttt … drrttt …


Ponsel di saku celana Wisnu segera mengalihkan perhatian mereka.


Shitt!


Wisnu mengumpat kesal sendiri, kenapa dia malah menyimpan ponsel di saku. Dia menatap Almira yang juga membuka kedua matanya dan mengangguk, memberi isyarat untuk mengangkat penggilan.


“Nanti, lagi nanggung,” jawab Wisnu kesal sambil jemarinya mengambil ponsel di sakunya dan menaruh di sisi atas kepala Almira dan kembali mencumbunya mesra.


Drrttt … drrrrtttt …


“Diangkat dulu, Mas,” sela Almira diantara sengalan napasnya, dia meraih ponsel disisi atas kepalanya dengan jemari tangan kanannya.


“Siapa sih setan yang berani menggangguku!” bentak Wisnu kesal sendiri.


“Setan bernama Ihsan,” jawab Almira tersenyum geli memikirkannya.


Dengan kekesalan diubun-ubun dia terpaksa mengangkat panggilan, melirik kesal juga ke arah Almira.


“Apa?!” bentak Wisnu dengan suara ketusnya.


“Hahaha … Saya mengganggu ya?” seloroh Ihsan sambil tertawa lebar. Wisnu yang mendengarnya hanya bisa berdecak sendiri.


“Saya mau mengambil kunci mobilnya, Pak. Saya sudah siap di depan gerbang rumah Pak Wisnu. Akhir pekan ini saya mau kencan,” ucap Ihsan dengan suara suka cita.


“Mobil apa! Kencan dengan tembok gerbang sana! Awas mengganggu lagi, aku tidak segan untuk -”


“Tuan Krisna dan Nona Isna juga sudah menunggu diluar, Pak. Kasihan Tuan Muda Shaka sudah kedinginan lhoo,” potong Ihsan membuat Wisnu menghembus napas.


“Kenapa setan-setan pengganggu itu harus datang pagi-pagi begini? Nanggung, shit!”


Wisnu mengumpat dan menghela napas lemas, ia segera memeluk tubuh Almira yang masih kebingungan memandang perubahan wajahnya yang berubah menjadi kusut.


Bersambung.


Bahasa tubuhku isyaratkan cintaku, jangan pernah meragukanku lagi.


Rasa cinta tidak bisa membohongi hati bahwa kebahagiaanku adalah melihatmu membalas perasaanku.


Kita arungi bersama apapun yang terjadi.


Kita ubah kerikil kecil menjadi batuan terapi kaki.


Kita ubah segala halangan sebagai penguji hati, kokohkan cinta dan ikatan agar terus terpatri. ~ Syala Yaya


Bersambung …


Terimakasih semuanyaa … dukungan like komen dan juga vote untuk Kisah Wisnu-Almira ini. Love untuk kalian semuaaa.😘


Terimakasih untuk semua komentar yang masuk, membuatku semakin bersemangat dan terharuuuu. Pasti semua aku baca satu/satu hanya saja belum bisa balas satu2. Jangan merasa aku mengabaikan kalian yaaa … 🤗


Salam dariku ~Syala Yaya🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2