
🌻🌻🌻
Matahari terbit perlahan sementara Yashna masih terlelap. Semalaman ia tidak bisa lekas tidur. Banyak hal yang diceritakan oleh Julia, tentang kehidupannya yang menarik dan ekspresif soal karir maupun pria. Bahkan dengan gaya aksen Australia dia mengungkapkan bahwa dirinya sudah ingin mewujudkan sebuah pernikahan yang sederhana di sebuah gereja tidak jauh dari rumahnya. Sangat sakral dan privat. Hanya mengundang beberapa kerabat saja.
Yashna hanya bisa tercenung, apakah pria yang dimaksud itu Alan? Sumpah demi apa pun, Yashna tidak berani menanyakan siapa pria yang diinginkan Julia untuk menjadi suaminya. Bukan, Wanita berusia dua puluh sembilan itu tidak ingin mengetahui siapa pria itu karena rasa sakitnya bagaikan duri tercabut dari ujung kukunya. Ia belum siap mendengar. Ia tidak bisa marah kepada Julia, wanita itu tidak tahu apa-apa mengenai masalahnya. Ia pun tidak bisa marah kepada Alan karena pria itu nyatanya sudah memperingatkan sebelumnya. Kini, timbul penyesalan yang mengaduk-aduk perasaannya.
"Yashna!" teriak Julia mengetuk pintu. Wanita berambut pirang panjang itu berusaha untuk berdiri dengan tangan bertumpu pada dinding. Rasanya sangat menyakitkan, kakinya terasa ngilu untuk berjalan hingga trauma pada masa kecil pun kembali terngiang.
"Maaf, Erick. Aku tidak apa-apa, hanya terkilir. Alan dan Yashna akan merawatku dengan baik," bisiknya di telepon tadi malam.
"Lalu rencana kamu?" Erick bertanya dengan nada kesal.
"Lakukan saja sesuai instruksi, Sayang."
Semalam Erick mengatakan sudah menyiapkan segalanya untuk Julia. Pengajuan pengalihan pekerjaan Yashna dari karyawan paruh waktu di Minimarket menjadi assisten calon istrinya untuk sementara sudah dilakukan dengan baik. Ia tidak lagi cemas setelah ide gila itu dia tentang mati-matian beberapa hari yang lalu. Ternyata Yashna merupakan karyawan paruh waktu di salah satu cabang Minimarket miliknya. Untung saja kepala tokonya segera menerima permintaan itu sebagai bentuk tanggung jawab Yashna terhadap pelanggan yang cedera meskipun tampak aneh.
"Yashna, kita akan terlambat. Ya, Tuhan." Wanita itu mendengus, tidak percaya bahwa wanita itu akan bangun sesiang ini. Pakaiannya belum ada, dan pagi ini ada meeting dengan beberapa tim desain terkait peluncuran produknya terbaru. Rasanya sangat kesal saat jadwalnya jadi berantakan. Julia merupakan pemilik dari perusahaan yang mendesain perhiasan dan pernak-pernik bermerek Julio Nelmaz.
“Yashna!” teriaknya lagi dengan nada frustrasi. Kembali tangannya mengetuk pintu untuk memastikan Yashna akan segera bangun.
“Iya, Kak.”
“Ok, sepuluh menit. Mandi dan kita berangkat!” omelnya kesal.
Antara sadar dan tidak, Yashna segera bangun. Kakinya terantuk kursi ketika keluar kamar dan meringis malu saat Julia menatapnya dengan heran. Ia pun menarik handuk dan segera menjalankan perintah dari nyonya baru di rumahnya tanpa menyela.
“Calon istri CEO jangan awut-awutan begitu, Honey!” Julia berdecak saat Yashna melewatinya.
“Aku calon istri Abang Bakso, bebas mau ngapain,” sahut Yashna tersenyum menoleh ke arah Julia sambil menarik kenop pintu kamar mandi.
“Ishh! Buruan!”
Yashna tergelak, tidak lagi menanggapi ocehan Julia dan memilih untuk segera mandi. Ia tidak tahu jadwal hari ini apa. Pagi ini saat melihat pesan dari kepala toko yang memintanya untuk membantu pekerjaan Julia. Ia hanya bisa menurut tanpa mengeluarkan protes penolakan.
***
Lalu lalang kantor Julia sangat sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ia memilih untuk duduk di luar menunggu Julia yang sedang melakukan meeting. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Julia.
Tatapan matanya kini beradu dengan sosok yang baru datang. Alan bersama dengan seorang pria sedang turun dari mobil dan bergerak masuk ke kantor Julia. Seakan asyik larut dalam obrolan menyenangkan hingga hanya gelak tawa yang tercipta. Alangkah sakit hati Yashna, menyadari pria itu tidak lagi menunjukkan keceriaan itu sejak dirinya meminta break sejenak.
"Hai, Yashna," tegur pria itu kala melewati kursinya.
__ADS_1
Yashna sengaja pura-pura sibuk dengan ponselnya daripada ketahuan sedang mencuri pandang ke arah pria itu.
"Oh, hai juga, Alan," sapanya balik dengan senyuman kikuk yang tercipta untuk menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya.
"Kenalkan ini Erick. Dan Erick, ini Yashna." Alan pun memperkenalkan pria yang bersamanya kepada Yashna.
"Hai Yashna." Pria yang berada di samping Erick pun menyapanya sambil mengulurkan tangannya.
"Hai juga," balas Yashna lalu berdiri menyambut uluran tangan itu dengan menjabatnya sejenak.
"Julia sudah selesai, 'kan? Kita akan ke Butik lima belas menit lagi." Alan menoleh ke arah Erick yang kini sedang mengecek ponselnya.
Yashna hanya bisa melemparkan pandangan ke arah lain. Ia merasa bingung harus melakukan apa. Rasanya cukup kesal ketika jam kerja seperti ini ternyata Alan bisa-bisanya keluar kantor hanya untuk menemui wanita itu. Rasanya hatinya bergemuruh, tetapi tidak mampu melakukan apa pun. Bukankah Alan sudah memberinya peringatan bahwa saat ini ia sedang mencoba untuk melupakannya.
"Kamu yang akan membantu Julia, 'kan?" tanya Erick kini memandang Yashna dengan tatapan mata yang serius padanya. Yashna hanya bisa mengangguk, tidak mengucap sepatah kata pun karena di dalam sorot mata itu terdapat kemarahan yang tersingkap. Ia bisa membaca itu dengan baik. Apakah Erick saudara Julia? Yashna membatin penuh dugaan.
"Julia tidak apa-apa, kok. Sudah kupastikan kemarin. Dia masih cerewet seperti yang kusukai selama ini," sela Alan sambil tertawa.
"Yeah, awas kamu kalau tidak bisa menjaganya dengan baik!" ancam pria itu menarik Alan dengan tatapan mata penuh peringatan.
"Oh, God! Akan kujaga dengan nyawaku bila perlu!" hardik Alan menonjok pundak Erick hingga keduanya tertawa bersama.
Keakraban yang membawa rasa pusing di kepala Yashna. Ia merasa Alan telah memukuli hatinya hingga ucapan pria itu terdengar menyakitkan. Menjaga dengan nyawanya? Yashna mengepalkan jemari tangan rapat-rapat untuk menjaga dirinya agar tidak sampai menangis. Ia merasa sangat kehilangan kesempatan untuk menjadi sosok istimewa lagi.
Alan menghela napas, duduk terpaku setelah tubuh wanita yang ia cintai lenyap bersama pintu yang tertutup. Erick hanya bisa menepuk pundak Alan untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja hingga kejutan yang telah ia dan Julia persiapkan akan berjalan dengan semestinya. Ia memahami bagaimana beratnya tantangan menaklukkan hati perempuan yang memiliki prinsip entah itu Yashna ataupun Julia yang telah memiliki karir yang mapan. Menikah bukan sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup. Cukup sulit juga untuknya meyakinkan bahwa hubungan pernikahan tidak akan menjatuhkan karir atau pun membatasinya dalam hidup berelasi dan berkreasi..
"Lihat apa yang bisa kakakmu lakukan untuk kalian. Aku saja bisa jatuh cinta setiap keajaiban kecil yang dia ciptakan," goda Erick tersenyum.
"Aku tidak akan menghancurkan apa pun, 'kan? Aku—"
"Tidak akan, aku bisa melihatnya terluka. Ini buruk, tapi ini meyakinkan kalau dia masih sangat mencintaimu," terang Erick sambil menghela napas. "Hanya tinggal menunggu saja, acara kami akan segera terlaksana dan kamu bisa gunakan momen itu untuk melamarnya secara resmi."
"****! Kau—"
"Malaikat penolong mungkin," gurau Erick sambil mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "Julia menyiapkan kejutan untuk kalian."
"Kalau ini gagal ...."
"Kisah kalian akan berakhir begitu saja," timpal Erick sekenanya.
Alan hanya bisa mendelik lemah. Ia butuh momen berdua, hanya berdua hingga bisa melihat dari dekat dan merobohkan tembok tinggi yang dibangun Yashna. Momen yang dipersiapkan kakaknya? Ia meringis, sejak kapan Julia memiliki waktu untuk mengatur rencana juga untuknya? Alan mendesah dalam kegelisahan.
__ADS_1
Tiga puluh menit sudah perjalanan mereka berempat menuju ke sebuah butik. Banyak keceriaan yang tercipta dan Yashna pun mulai menarik kesimpulan dari obrolan mereka bahwa Erick dan Julia bersaudara. Oh, tidak! Meskipun hanya terdiam, tetapi melihat dan mendengar begitu kompaknya Alan dan Julia bersama Erick sudah tentu itu membuat dirinya terlihat menyedihkan. Ia benci momen ini.
Setelah turun dari mobil, Alan dengan sigap membantu Julia memakai kursi roda. Dengan penuh kasih sayang pula pria itu mendorongnya masuk ke butik. Yashna hanya bisa mengikuti langkah keduanya dari belakang bersama Erick yang tampak cuek. Ingin rasanya ia tenggelam saja, rasa cemburunya ini tidak lagi bisa tertahan lebih lama. Namun, ia tidak mampu melakukan apa-apa.
Julia tersenyum bahagia saat pemilik Butik menyapanya dengan pelukan hangat. Mereka disambut baik dan Yashna bisa melihatnya bagaimana keakraban yang disajikan di depan mata.
"Ini Yashna, dia yang akan menggantikan aku fitting baju pengantinku berpasangan dengan Alan," ucap Julia mengejutkan Yashna.
"Hah, a-apa? Tapi, Kak—"
"Kamu lihat sendiri, 'kan? Kakiku tidak bisa berdiri dengan baik!" Julia menunjukkan kekesalannya karena seperti dugaannya, Yashna akan menolak permintaan itu. Ia sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Erick bahkan terlihat sekilas mencibirkan bibirnya, tidak yakin bahwa dirinya bisa membuat pasangan aneh itu berhasil membuat kemajuan dalam hubungan. Berpose berdua di depan tata rias dan orang yang mendesain gaun mereka.
"Ya sudah, kita pulang saja!" Julia mencoba untuk menarik pegangan kursi rodanya ingin berbalik pergi.
"Ini 'kan gaun pengantin Kak Julia, bukankah akan sangat menyebalkan kalau orang yang memakainya pertama kali bukan Kak Julia sendiri," ucap Yashna mencoba untuk menjelaskan.
"Alan, tidak apa-apa 'kan gaun pengantinku ini dikenakan Yashna untuk melihat bagaimana hasilnya?" Julia menoleh ke arah Alan yang kini tengah ditata desainer dengan setelan jas hitam dipadukan dengan dasi kupu-kupu. Ia tampak begitu menawan dan Yashna berkali-kali mengumpat dalam hati karena otaknya mulai memuji penampilan pria itu. Tampan dan elegan membungkus kulitnya yang putih bersih.
"Tidak masalah, Julia," jawab pria itu santai. "Sepertinya ukuran kalian hampir sama."
"Dia bermaksud membandingkan aku dengan Julia? Wah, kurang ajar bocah itu." Yashna membatin kesal. Yashna tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Alan. Apa hati pria itu sudah busuk? Yashna merutuk penuh amarah. Hari ini ia merasakan keterpurukan yang mendalam, melihat sendiri Alan mengenakan jas pengantin sedangkan dirinya sendiri hanya bisa menjadi patung kesakitan. Ingin rasanya ia segera menyelesaikan ini secepatnya, ia merasakan dunia gelap sudah mengiringinya saat ini. Ia sedih melihat kebahagiaan yang terpancar dari Alan maupun Julia. Benarkah Alan akan menikahi wanita seumuran dengannya itu? Yashna tertunduk dalam.
"Sebagai pendamping mempelai, aku akan coba juga jasku," seloroh Erick berusaha untuk mengurangi ketegangan.
"Ayolah, Yashna. Aku sangat kesal, tapi aku tidak sabar melihat bagaimana hasil rancangan gaunku." Wajah Julia pun terlihat sangat memohon tidak lupa wanita itu memanyunkan bibirnya dengan penuh kesedihan. Yashna hanya bisa mengembus napas panjang. Ia yakin, menolak bukanlah sebuah pilihan yang bagus di dalam situasi seperti ini. Ia pun kemudian mengangguk ragu.
"Baiklah kalau begitu."
"Ihh, terima kasih, Yashna. Aku senang."
Yashna mengangguk, ia pun berjalan bersama dengan penata busana yang akan membantunya mengenakan gaun yang dimaksud Julia di dalam ruangan khusus. Sekilas ia melirik ke arah Alan yang ternyata sedang menatap ke arah langkahnya pergi. Tampak pria itu menyunggingkan senyuman tipis seperti mengejek. Yashna segera berjalan tergesa, senyuman itu terasa begitu menjengkelkan di matanya. Ia pun menjadi kesal sendiri.
"Apa sesuatu yang sudah menjadi mantan bisa berubah menjadi indah? Oh, situasi macam apa ini?" keluh Yashna lirih saat memasuki ruangan kamar ganti.
***
'Saat kutemukan ritme permainan yang akan membuatku memenangkan pertarungan ini, saat itu pula gairah hidupku kembali menyala.'
(Kalandra Tama)
Terima kasih sudah bersabar menunggu update novel ini dan memasukan novel ini menjadi bacaan favorit ❤️ 🥰🙏
__ADS_1
Salam Cinta untuk Sobat Syala 🌻❤️