
Lampu kamar sudah dinyalakan, keran kamar mandi sudah dimatikan, bahkan sampah yang biasanya dibuang pada pagi hari, nyatanya malam ini Yashna gunakan sebagai alasan untuk keluar dari situasi tidak menyenangkan itu. Sesaknya rumah tidak bisa lagi mengakomodasi perasaannya yang ingin meledak. Alan ada di rumahnya, bukan untuk menemuinya tentu saja, melainkan wanita cantik nan manja yang mampu membuat pria itu tergelak dalam tawa.
"Aku akan keluar untuk membuang sampah sebentar," pamitnya tanpa memandang ke arah Alan maupun Julia yang berada di ruang tamu. Mereka berdua tampak bercengkrama penuh keakraban dan Yashna tidak ingin lebih lama mendengar dan menyaksikan adegan itu.
"Biar aku saja nanti yang bawa sambil jalan pulang." Alan menawarkan diri sambil menoleh ke arah perempuan keras kepala itu.
”Tidak usah, malah nanti merepotkan!"
Yashna pun berjalan tanpa menunggu tanggapan dari Alan lagi. Pikirannya buntu. Kapan terakhir kali ia melihat Alan tertawa? Hati Yashna teriris perih. Pertemuan yang kini diisi dengan pertengkaran tanpa berkesudahan. Nyatanya Yashna merasa bersalah, ketika ucapan maaf yang sejatinya cukup dari pria itu, tapi ia tak kunjung menerimanya. Padahal ia tahu Alan belum pernah melakukan kesalahan yang fatal.
Yashna melepaskan sandal di depan teras rumahnya yang kecil sepulang dari ujung gang untuk melegakan napas—membuang sampah hatinya. Tidak terdengar lagi suara tawa dari dalam rumah. Mendadak pikirannya menjadi sangat buruk karena telah meninggalkan dua orang dewasa di dalam satu rumah. Darahnya pun berdesir tidak keruan hingga rasanya dentuman nyeri menguasai hati.
“Mereka tidak berbuat hina di rumahku, 'kan?” tuduhnya dalam hati. Ia pun berjalan pelan sambil menahan napas menuju ke arah pintu.
“Kamu mengendap di rumah kamu sendiri?” sindir Alan mengejutkan Yashna. Tampak pria itu sedang menirukan gayanya saat hendak memasuki rumah. Berjalan tanpa mengeluarkan suara apa pun dan itu sangat memalukan bagi Yashna. Seketika wajahnya menjadi memanas dan terlihat merah padam karena tertangkap basah melakukan tindakan konyol seperti itu.
“K-kenapa kamu di sini?!” Yashna yang tersentak segera menegakkan tubuhnya menghadap Alan. Mengatur ritme napasnya agar tidak terlihat gugup. Kali ini ia benar-benar merasa malu.
“Aku? Menunggumu.” Pria itu menjawab dengan suara datar. Bisa terlihat jelas ia berusaha untuk tidak menertawakan tingkah Yashna.
“Untuk apa?” sahut Yashna tak acuh. Perempuan itu berupaya untuk tidak menunjukan betapa malu dengan tingkahnya. Ia tahu Alan pasti sudah bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya.
“Pamitan.”
Hening. Percakapan mereka terjeda. Kata pamitan sangat menonjok hati Yashna. Ia merutuki pikiran dan hatinya yang mulai menjadi bodoh. Apa yang ia harapkan? Mendengar pengakuan bahwa sedang menunggu untuk memeluk dan mengatakan bahwa pria itu sangat merindukannya?
“Jangan sinting, Yashna,” batin wanita cantik itu berusaha mengenyahkan pikiran yang sempat terlintas.
“Aku ingin berterima kasih karena kamu—”
“Membuat wanitamu cedera?” potong Yashna ketus. Hatinya diliputi lahar api yang menyala. Ia tidak ingin Alan memberikan ucapan terima kasih atas jasanya merawat wanita itu. Sungguh, rasanya ia malah ingin mengusir Julia setelah tahu bahwa perempuan itu ada hubungannya dengan Alan. Ia merasa sangat kesal.
Alan menanggapi sikap ketus Yashna dengan tawa kecil. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat wanita yang dicintainya menunjukkan rasa cemburu. Sebuah pemikiran terburu-buru yang dilayangkan Yashna kepadanya malah membawa keuntungan alih-alih bertanya siapa wanita itu baginya. Tentu Alan akan mengakui kalau wanita itu sangat disayanginya dan akan seperti itu selamanya—karena dia kakak perempuannya.
“Aku tidak tahu kalau dia cedera,” aku Alan jujur.
__ADS_1
“Dia tidak bilang padamu?” tanya Yashna mulai melunak. “Apa dia tidak mengumpat dan meneriaki namaku saat aku pergi tadi?”
Alan kembali tertawa. Sudah lama ia tidak mendengar ocehan Yashna seperti anak kecil. Menduga dan mengkhawatirkan apa yang sebenarnya tidak penting. Usia akhir-akhir ini yang menjadi alasan kenapa Yashna bertindak seolah sangat dewasa, wanita itu lupa pada dasarnya wanita ditakdirkan untuk bersikap manja agar dada bidang seorang pria berguna untuk menopang keluh kesahnya.
“Dia bukan wanita seperti itu.”
“Oh, tentu. Dia pasti wanita yang sangat baik. Iya, 'kan?” Wajah Yashna memerah, hawa panas di sekujur tubuhnya mulai kembali menjalar. Seperti itu 'kan Alan dalam mengenal wanita itu hingga harus memuji dan membelanya tepat di depan wajahnya? Ia merasa seperti dicampakkan.
“Jangan tersinggung,” kilah Alan menipiskan bibir. Ia mengembus napas, memandang mata cantik yang selalu dirindukannya dengan tatapan sukar dibaca. Ia harus bertahan pada momen ini. Tidak akan menyerah hingga ia memiliki alasan untuk mundur dan berbesar hati melepaskan wanita di hadapannya itu dari hidupnya.
“Aku akan menjaganya, jangan khawatir.” Yashna melepaskan tatapan dari Alan kemudian tertunduk.
“Terima kasih.”
“Aku melakukannya bukan untukmu, jangan percaya diri!” Yashna tersenyum mengejek, menatap kembali pria di hadapannya dengan sikap percaya diri, menyembunyikan kemarahan.
“Aku tidak peduli.”
“Bukan karena dia wanitamu, tapi karena aku bertanggung jawab atas kesalahanku.”
Alan menggeleng, selalu saja wanita itu mampu menjaga dirinya dengan benteng pertahanan yang kuat. Andai saja Yashna mau mengakui dirinya kesal dan cemburu, sudah pasti tanpa menunggu lama ia akan mengatakan bahwa wanita yang berada di rumahnya itu kakak perempuannya.
“Ya, bahkan kamu ingat nama belakangnya.” Yashna mulai bersikap sinis, terprovokasi, dan bisa dipastikan Alan saat ini merasa berada di atas angin. Sesuatu yang berharga, dan ini yang dicarinya selama ini. Kesungguhan Yashna bahwa ia tidak lagi memiliki perasaan untuknya. Wanita itu berbohong.
“Tentu. Aku kenal baik dengan keluarganya.”
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang,“ usir Yashna mulai berjalan ke arah pintu. Alan pun hanya bisa mengembus napas, menahan diri agar tidak memeluk wanita rapuh itu dan mengatakan bahwa permainan ini sangat menyakitinya.
”Hm, selamat malam. Besok pagi aku akan ke sini untuk mengantar sarapan.“
”Jangan memprovokasiku, Alan! Ini tidak berarti apa-apa bagiku.“
Yashna menoleh lagi, tatapannya kini mengandung luka. Apa seperti ini rasanya melihat apa yang sangat berarti mulai berpaling? Tidak, ia tidak ingin terlihat lemah. Ia tahu bahwa Alan sedang ingin membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
”Sudah kubilang jangan tersinggung, Yashna. Astaga!“ Alan mencoba meredakan ketegangan dengan tertawa. Melangkah dari tempatnya sambil menenggelamkan kedua jemarinya ke dalam saku celana. Sungguh, pria yang sangat memesona di mata Yashna. Sikap tenang yang menjengkelkan Yashna karena hatinya sudah berkhianat karena ingin merasakan berada dalam dekapan hangat itu lagi. Seorang pria yang dia anggap sebagai bocah.
__ADS_1
”Pulanglah, aku lelah. Sungguh, aku tidak senaif itu sampai tersinggung,“ sangkal Yashna dengan suara pelan.
”Baiklah, aku pulang. Kalau ada apa-apa—dengan Julia, segera hubungi aku. Kalau—kamu, ehm ... hubungi satpam kompleks bila diperlukan,“ gurau Alan sambil membalikkan badan. Ukiran senyuman belum sepenuhnya pudar dari bibirnya, apalagi ia memastikan sendiri bibir merengut disertai kepalan jemari tangan wanita itu terlempar ke arahnya.
Hubungan yang penuh tantangan, ia bahkan mulai membayangkan betapa repot bila nanti harus merayu Yashna ketika sudah menikah. Rasanya sudah tidak sabar menanti.
”Yashna!“
Teriakan Julia segera menyadarkan Yashna dari tatapan kosong pada jejak mobil Alan. Pria itu pergi dengan senyuman kemenangan. Rasanya tangannya sudah gatal ingin meninju perut bocah itu agar tidak kelewat percaya diri. Tidak bisa dia biarkan. Yashna berjanji, besok tidak akan menunjukkan kelemahan seperti malam ini.
”Ciz!“ umpat Yashna sambil berjalan masuk lagi ke rumah.
”Yashna, aku ingin ke kamar mandi!“ teriak Julia masih berada di ruang tamu.
”Oh Tuhan! Kuatkan aku dalam mengatasi dua bayi besar menyebalkan ini.“ Yashna menggeram sendiri.
”Dua bayi besar? Maksudnya aku dan Alan? Hem!“ serobot Julia dengan tatapan menyelidik.
Yashna hanya bisa memejamkan mata, merutuki nasibnya yang sial. Ia ingin mengingkari fakta bahwa apa yang dilihatnya malam ini begitu mengusik hati, nyatanya tidak semudah itu.
”Tidak! Aku tidak membicarakan kalian. Astaga, jangan menyimpulkan sendiri lalu tersinggung tanpa alasan, Kak Julia,“ kilah Yashna sambil tersenyum manis ke arah Julia.
Julia pun melembutkan lagi tatapannya. Ia meraih tangan Yashna dan mulai berusaha bangkit dari tempatnya untuk menuju ke kamar mandi. Mereka berjalan beriringan dengan langkah pelan.
”Terima kasih, ya. Kamu kelihatan sangat tulus menjagaku,“ ungkap Julia membuat Yashna tertegun sejenak. Salah, Julia sudah keliru dan itu memukul hatinya karena tadi sempat kesal saat menyadari kalau Julia sudah dibela Alan di depan matanya.
”Sudah menjadi tanggung jawabku, Kak.“
”Ehmm ... kira-kira menurutmu bagaimana Alan? Apa dia ideal untuk dijadikan sebagai calon suami yang baik?“ tanya Julia seketika membuat dunia Yashna mendadak gelap.
****
'Jangan sampai terlambat menyadari bahwa kehadirannya begitu berarti, karena bisa saja ketika rasa itu timbul, saat itu pula ia tidak lagi bersama kita.'
(Syala Yaya)
__ADS_1
Salam Love ❤️ Syala Yaya
NB. Intip juga kisah Sekar Innura Tama & Pangeran Ruista Juliane di (Platform Ungu) ya🥰 doain lekas sign agar bisa daily update 🙏 Terima kasih.