
Wisnu duduk di depan layar laptopnya. Pandangannya lurus kedepan mengabaikan langkah sandal yang terdengar mendekati tempatnya berada saat ini.
Setengah jam sudah berlalu sejak dirinya memandang istrinya tanpa ada sepatah kata yang terucap. Jawaban dari sebuah pertanyaan yang menurutnya sangat sederhana.
Apa ada sesuatu antara dirimu dan Dhepe di masa lalu?
Bukankah itu hanyalah pertanyaan sepele dan dirinya juga berhak untuk tahu?
Pikiran Wisnu sudah terasa penuh. Dirinya meninggalkan meja makan dan memilih pergi saja, membiarkan Almira tenggelam dengan isakan tangis yang lirih di dapur.
Untuk apa dia di sana menemaninya kalau nyatanya kehadirannya juga tidak serta merta bisa menenangkan istrinya itu.
Ia hanya mendengar lontaran kata maaf saja dari sela isak tangis istrinya, padahal jelas ia ingin mendengar jawaban lain dan bukan berupa kata maaf tanpa tahu untuk apa.
Sebuah penjelasan yang mendasari kenapa air mata dan kata maaf sampai harus tercipta dari mulutnya.
“Mas Inu belum tidur?” tanya Almira mematung di samping kursi tempat dimana Wisnu menyamankan tubuhnya.
Ia menoleh istrinya hanya sekilas kemudian kembali menatap layar laptopnya.
“Sudah jam 12 lebih, Mas,” lontar Almira masih berdiri tidak bergerak dari tempatnya saat ini.
Wisnu memutar kursinya menghadap Almira. Menghadap wanita cantik yang kini sudah berdiri tidak jauh darinya. Istri misterius baginya karena terjamah malah saat dirinya tidak mengingat apa-apa selain gairah seorang pria kepada wanita.
Almira memandang dengan tatapan kaku, Wisnu mengernyit heran dengan kembali tidak konsistennya sikap Almira terhadap dirinya.
“Kamu sudah merasa baikan?” tanya Wisnu memainkan gerak tubuhnya hingga deritan kursi yang bergerak memutar memecah keheningan.
Wisnu memakai mode diam dalam memutar video di laptopnya, bahkan dirinya melewatkan beberapa adegan yang diputarl di layar laptop sesaat untuk menatap Almira.
“Sudah,” jawab Almira mengangguk dengan kepala tertunduk. Sesekali dirinya memberanikan diri untuk melirik Wisnu.
“Lalu, kenapa kamu sendiri belum tidur?” tanya Wisnu segera mengalihkan pandangannya ke arah laptopnya kembali dengan sikap tubuh kembali fokus ke layar laptop di meja depannya.
“Karena Mas Inu belum tidur,” jawab Almira memainkan kancing baju piyama lengan panjang yang ia kenakan dengan jemari tangan.
Wisnu tersenyum sekilas tanpa menoleh, ingin sekali dia tertawa. Sikap macam apa yang sedang ingin ditunjukkan istrinya.
Apa istrinya itu sedang mencoba merayunya?
Dia mau meminta jatah gula?
Wisnu segera merutuki kekonyolan yang sempat terbesit, dengan masih tanpa menoleh Wisnu melambaikan tangannya agar Almira sedikit mendekat.
“Kamu kenal siapa dia?” lontar Wisnu yang sudah tidak sabar bertanya karena Almira nampak tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
“Siapa?” tanya Almira mencoba mengamati layar laptop yang diputar Wisnu agar menghadap ke arahnya.
“Mendekat kesini, biar lebih jelas,” pinta Wisnu mengamati dengan teliti rekaman gambar yang sedang diputar di layar.
Almira mendekati meja dengan langkah ragu, bahkan dengan jahil Wisnu menarik lengan Almira dan memaksanya untuk duduk dipangkuannya menghadap ke arah layar secara bersama-sama.
“Mas Inu,” keluh Almira merasakan Wisnu memeluknya dengan dagu menempel lembut dipundaknya.
Almira sedikit meronta menahan tangan Wisnu yang membelit tubuhnya, rasanya tubuhnya mendapat sengatan khas sentuhan seorang pria, dirinya merasakan desiran aneh didalam tubuhnya.
“Apa sih? ayo fokus,” jawab Wisnu lembut, tangannya masih memeluk erat tubuh lembut yang kini berada dipangkuannya dari arah belakang dengan perasaan sayang yang berlebih.
__ADS_1
“Kita sedang apa, sih? Kita tidur saja, ini sudah malam,” ajak Almira masih dengan tubuh membeku.
“Lihat baik-baik, apa kamu kenal dengan orang ini?” tunjuk Wisnu mengajak Almira fokus menatap layar.
Almira segera menatap layar kembali dengan seksama, mencoba mengenali siapa gerangan yang tertangkap kamera cctv yang sedang mereka berdua saksikan bersama. Rekaman cctv di area hotel tempat Almira mendapatkan kesialan malam itu.
Wisnu menundukkan kepalanya dari pundak Almira, mengecup tengkuk istrinya itu dengan hembusan nafas hangatnya hingga membuat Almira merinding seketika. Tubuhnya memberi reaksi terkejut dengan reflek menegang.
"Jadi mau lihat rekaman ini apa tidak?" protes Almira merasa Wisnu mengagetkannya.
"Iya, Nona," sahut Wisnu tersenyum.
Wisnu segera menjauhkan wajahnya dari ceruk leher istrinya dan memilih kembali fokus pada layar dihadapan mereka. Ia merasa senang sekali karena sudah berhasil menggoda. Dengan tangan kanan Wisnu meraih laptop dan memutarnya kembali lurus ke arah mereka berdua.
"Kamu kenal mereka berdua?" tanya Wisnu mulai serius.
“Dia … Mas Bagus dan itu Kak Delia,” jawab Almira sambil mendekatkan wajahnya ke arah layar laptop, menatap lamat rekaman adegan dan menyimaknya dengan serius, hingga Wisnu harus puas dagunya terlepas dari pundak Istrinya.
“Kamu mengenal mereka berdua? Kamu mengenal Delia juga?” tanya Wisnu lagi dengan suara datarnya walau jauh di dalam hatinya merasa tercengang dengan kenyataan yang ada.
“I-iya,” jawab Almira tergagap saat merasakan desiran tubuhnya kian menjadi, jemari tangan suaminya berhasil memasuki area perutnya setelah membuka beberapa kancing dengan satu jemari tangannya.
“Baiklah … kamu kenal Delia dimana?” tanya Wisnu menghentikan aksinya saat napas memburu dari Almira terdengar ditelinganya. Almira terasa tidak memberi penolakan atas kelakuannya.
Ingin rasanya ia mengangkat tubuh wanita pertama yang dia jamah itu dan membawanya pergi dari ruang kerjanya. Meneruskan apa yang selalu dia inginkan saat bisa berduaan bersama wanita itu. Tapi dia saat ini terdesak membutuhkan jawaban Almira, kesempatan langka mengingat sikap Almira yang selalu berubah setiap saat tanpa dia duga.
"Dia … dia sahabat mas Bagus," jawab Almira menoleh ke arah Wisnu yang menarik dagunya dan memutar juga tubuhnya hingga saling memandang satu sama lain.
“Kamu yakin mereka berdua bersahabat? Hanya bersahabat tidak lebih?” tanya Wisnu semakin serius dengan nada bicaranya.
Wisnu manggut-manggut, menyunggingkan senyumannya yang tipis ke arah Almira, dengan cepat Almira mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia merasa bingung sendiri dalam bereaksi menghadapi suaminya.
Sejak kapan ia begitu tampan? Ah, bukankah wajahnya dulu sangat menyebalkan?
Sombong, angkuh datar seperti patung. Sikapnya dingin dan seperti memiliki dunianya sendiri tanpa mau mengenal dan peduli dengan orang-orang disekitarnya?
Pikiran Almira menari-nari mengingat lamat sifat dan kelakuan pria yang kini malah sudah berstatus sebagai suaminya itu. Dirinya bahkan dulu menganggap aneh seorang Dhepe karena bisa sangat menyukai pria ini.
Ahh … Dhepe lagi? Mengingatnya saja sudah membuatnya seperti dimakan rasa penyesalan dan ingin kembali mengulangi masa itu. Dia ingin kembali untuk memperbaikinya.
Kamu yakin?
Kamu rela?
Kamu iklhas?
Pikiran jahat yang lain kembali menari indah dikepala Ira, jauh marasuk pikiran dan mulai mengetuk perasaan terdalamnya.
Bolehkah aku egois dan mengabaikan rasa bersalah itu?
Menjadi sebuah alasan yang mendasari kenapa Almira mau menemui suaminya di ruangan kerjanya malam-malam begini, membuang rasa malu, mengatasi kecanggungan yang tercipata. Almira saat ini sedang mencoba menguji hatinya.
Apa benar dia merasa iklhas saat mencoba memperbaiki semua keadaan ini? Almira menghembus napas mengatasi pikiran yang kini ternyata sangat bertentangan dengan hatinya.
“Lalu, kenapa kamu tadi menangis?” tanya Wisnu memandang wajah Almira sangat dekat, suaranya memaksa Almira mengembalikan kesadarannya dari lamunan.
Dengan tubuh masih berada di pangkuan suaminya membuat dirinya itu tidak mampu mengelak saat kembali dipandangi. Bahkan wajah suaminya begitu terlihat tampan sekaligus mempesona dimatanya saat ini.
__ADS_1
Almira mencoba untuk berdiri namun gagal dengan tangan kokoh suaminya menahan gerak tubuhnya.
“Aku akan melepaskanmu kalau kamu bicara jujur padaku,” ucap Wisnu dengan guratan wajah yang mengukir senyuman, matanya nampak berkilat menggoda. "Katakan semuanya padaku, kenapa fotoku bisa berada di dalam koleksi album pribadimu."
Almira memandang Wisnu serta menguatkan hatinya untuk menjawab, sebenarnya dia cukup malu sekaligus takut untuk mengakui masalah ini.
“Aku … sebenarnya … sudah lancang karena berani memata-matai Mas Inu,” jawab Almira menunduk malu. "Tapi sumpah, kak Dhepe yang menyuruhku."
“Atas dasar apa? Apa hubungannya antara memata-mataiku dengan kamu menangis dan meminta maaf padaku, aku belum paham," tanya Wisnu memainkan pipi Almira yang semakin menunduk.
Almira masih terdiam, membuat seorang Wisnu menjadi tidak sabar.
“Jadi pekerjaan kamu selama ini menjadi penguntitku? Pengagum rahasiaku, begitu?” tanya Wisnu bermaksud menggoda.
“Bukan!” elak tegas Almira sambil mendongakkan wajahnya, matanya melebar dengan kepala menggeleng tanda menyangkal tuduhan.
“Pffffttt ….”
Wisnu tertawa tertahan, badannya bergetar oleh tawa hingga Almira hanya bisa bersungut kesal dan mendorong kuat pundak Wisnu menjadi tumpuannya bangkit dan turun dari pangkuan suaminya.
“Aku melakukannya agar bisa mendapatkan restu darinya agar hubunganku dengan mas Bagus bisa terus berjalan,” sahut Almira menggelengkan kepalanya. "Bukan sebagai pengagum rahasiamu," tambah Almira berusaha mengelak tuduhan. Dirinya amat malu dituduh seperti itu.
Almira yang sudah lepas dari pangkuan Wisnu segera berjalan agak menjauh, Wisnu hanya bisa memandangnya dengan lengan segera dia lipat didada. Dia bersedekap tangan sambil memandang Almira.
“Lalu? Apa yang kamu dapat dari acara kuntit menguntit kegiatanku?” tanya Wisnu merasa sangat penasaran. Ternyata dibalik kehidupan biasa ada yang diam-diam tertarik dengan kehidupannya juga.
“Aku … salah memberi informasi kepada kak Dhepe,” jawab Almira menunduk dengan mata melirik ke arah Wisnu dengan perasaan takut.
“Informasi apa?” tanya Wisnu semakin merasa tertarik dengan kenyataan yang terlontar dari istrinya.
“Informasi bahwa Mas Inu ….”
Almira menelan salivanya sejenak berpikir, Wisnu masih setia menunggu jawaban Almira tentang masa lalunya bersama Dhepe.
"Apa? kenapa bertele-tele begitu?" sela Wisnu dengan mengangkat tubuh ikut berdiri. Tangan kanannya mengetik tombol pouse dan melangkah mendekati Almira.
"Janji, tidak marah kalau aku jujur?" tanya Almira memandang langkah Wisnu yang mendekatinya.
"Tergantung," jawab Wisnu menampilkan senyuman yang malah membuat pikiran Almira kemana-mana.
"Aku tidak jadi bilang," balas Almira mundur dan membalik badan hendak pergi, tapi langkahnya tertahan karena Wisnu berhasil meraih pundak dan memutar tubuhnya.
"Apa ada kaitannya dengan hubunganku dan Dhepe?" tanya Wisnu menelisik sorot mata Almira yang mengangguk perlahan.
***
Kalau boleh jujur, aku merasa bersyukur atas semua masalah dan pencapaian dalam hidupku. Ternyata saat aku merasa biasa saja ternyata itu begitu istimewa dimatamu dan diam-diam kau peduli juga terhadap diriku. (Wisnu-Almira)
Bersambung …
Hallo semuanya, aku ucapkan banyak terimakasih untuk jejak dukungannya berupa Like, komentar positif dan juga vote yang luar biasa dari kalian semua.
Baca juga dong kisah kocak bang Ismed dalam mengatasi istri galaknya Juminten, serta menahan pesona kelima wanita penyelamatnya trio somplak and the gank dalam novel berjudul WALINGMI
Salam manis dari Syala Yaya🌷🌷
__ADS_1