
🌻🌻🌻🌻
"Ira," panggil Wisnu dengan suara pelan.
Hari sudah berganti, kabut pagi pun sudah menguap bersama mentari yang sudah naik sepenggalan.
"Bangun, Sayang."
"Ehm ... ini jam berapa? Kok baru bangunin?"
Almira menguap, menatap jam dinding di kamar yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Buru-buru ia melipat selimut, beringsut turun dari kasur mengabaikan Wisnu yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Mau ke mana?!" teriaknya pada Almira, mengernyit heran melihat istrinya pagi-pagi sudah kalang kabut.
"Kesiangan!" balas Almira di dalam kamar mandi membuat Wisnu tersenyum. "Aduh, belum nyiapin apa-apa."
"Memangnya mau ngapain?" Masih berupaya menggoda.
"Bikin sarapan buat Mas Inu, lah. Gimana sih?" ujarnya sembari membuka pintu kamar mandi, mengusap wajahnya dengan handuk habis mencuci muka.
"Tadi ngantuk banget, habis subuh malah tidur lagi," sahutnya masih dengan nada setengah panik.
"Santai. Kita sarapan di luar saja, gimana?" tawar Wisnu meletakkan sisir ke tempatnya kemudian beralih mendekati Almira.
"Tumbenan?"
"Kangen sama soto lamongan di pojokan kompleks," ujarnya sambil memeluk tubuh berisi sang istri sambil mengecup mesra di kening. Tidak lupa tangannya mengusap lembut bulatan perutnya penuh kelembutan.
"Pasti kangen sama yang jualan, ngaku aja," ledek Almira tersenyum.
"Huh! Ini istri kerjaannya godain suami terus. Sudah dibilang aku ini suami setia masih nggak percaya," lontarnya sembari mengecup kening Almira berkali-kali.
"Maaf, abisnya kalau nonton sinetron isinya begituan mulu," sahut Almira beralasan.
Wisnu hanya bisa mengacak rambut Almira, merasa bersalah karena beberapa bulan belakangan ini dirinya sibuk hingga tidak memperhatikan kegiatan istrinya di rumah.
"Mumpung masih bisa ajak kamu jalan-jalan. Kalau dedek gemes di dalam sini udah lahir, bakalan sibuk kamu nggak bisa keluar rumah sesuka hati," terang Wisnu dengan suara lembut.
"HPL tiga minggu lagi, Mas. Rasanya aku udah deg-degan," sahut Almira menghela napas.
"Bissmillah, lancar. Pasti kamu bisa. Kamu, kan, istri kesayangan mas Inu yang hebat."
"Mas Inu juga suami yang hebat!" puji Almira dengan suara lantang.
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan sejenak tanpa suara, hanya berusaha memberikan sebuah kenyamanan satu sama lain.
Wisnu yang seumur hidup tanpa sandaran dan tujuan masa depan, sudah tentu merasakan kebahagiaan yang membuncah hebat di dalam hati.
"Aku sudah merancang dua nama, Say," ungkapnya membuat Almira mendongak.
"Nama?"
"Heem, buat anak kita kalau udah lahir. Satu cowok, satu cewek." Wisnu mengulum senyuman.
Almira tertawa kecil. Ia malah tidak menyiapkan apa-apa selain hanya keberanian. Sambil berjinjit ia pun mengecup bibir suaminya.
"Sekilas aja, nih?" goda Wisnu.
"Bonus setengah-setengah," sahut Almira terkekeh.
Perubahan dari Almira yang menyenangkan. Istrinya itu sekarang sudah mau lebih dulu berinisiatif untuk menunjukkan rasa sayang. Tidak menahan diri seperti biasanya. Wisnu sangat bersyukur badai awal pernikahan mereka bisa terlewati dengan baik.
Trauma? Wisnu sudah tidak merasakan adanya kebencian dan ketegangan juga penolakan lagi seperti dulu. Semua berjalan perlahan seiring dengan waktu yang mereka lalui bersama.
"Mau ganti baju apa ini aja? Aku nggak keberatan jadi sopir tampan Nyonya Tama," goda Wisnu setelah Almira melepaskan pelukan.
"Ganti, ah. Bukankah ini terlalu sexy?" balas Almira.
"Aku nggak maksa kamu berubah. Karena kamu nggak pernah maksa aku buat berubah," sahut Wisnu membalas maksud Almira.
"Asal ada niat, pasti bakal dikasih jalan kemudahan. Seperti ketika aku menemukan jalanku seperti yang kamu lihat," sahut Wisnu.
"Dimulai dari pakaian aku tertutup nggak terbuka lagi, boleh?" tanyanya.
"Hemm, semata-mata buat kebaikan kamu. Kita sama-sama belajar. Kekuranganku juga banyak, maaf ya belum bisa menjadi sosok imam yang bisa menuntun kamu."
"Enggak, Mas udah berusaha menjadi suami dengan sangat baik. Almira malah malu, sebagai anak yang dilahirkan dari orang tua muslim, agamaku masih saja banyakan di teori, Mas. Kalah jauh sama Mas Inu yang mualaf," sahut Almira.
"Semoga dedek lahir sebelum puasa, ya, Say. Kita pas sahur nanti rame ada tangisan bayi," ujar pria itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ini bulan Ramadhan Mas Inu yang pertama, ya? Bahagianya aku jadi orang pertama yang bangunin sahur," ucap Almira menunduk menyembunyikan rona kebahagiaan.
"Keluarga kita, semoga akan bahagia terus selamanya, Aamiin."
"Aamiin," sahut Almira tersenyum semringah.
"Kita jadi pergi, kan?" Almira mengusap rambutnya yang masih berantakan dengan jemari tangan.
"Aku tungguin sambil menyiapkan mobil dulu," jawabnya mengangguk.
__ADS_1
"Sip! Aku nggak lama, kok. Palingan tiga puluh menit."
Almira kini sudah berjalan kembali ke dalam kamar mandi, sambil mengelus perutnya yang sudah membesar penuh kelembutan.
Wisnu memandang sang istri dengan senyuman. Ia merasa yakin, Almira akan menjadi sosok ibu yang lembut nantinya terhadap sang anak. Seperti cara keluarganya membesarkan Almira dan Ersa. Kekaguman Wisnu terhadap sosok sang mertua setiap kali berkunjung ke desa kelahiran sang istri. Keluarga sederhana, tetapi saling memahami satu sama lain.
Bukan melulu jabatan, uang dan kemewahan.
"Alhamdulillah, ya Allah. Kepedihan di masa kecil dan mudaku dulu, kini Engkau bayar lunas dengan keindahan keluarga kecilku ini."
Wisnu mengucap kalimat penuh syukur sembari mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
"Ira mau mandi sekalian, Mas. Jadi tambah durasi nunggu sepuluh menitan, ya!" Teriakan Almira mengiringi langkah Wisnu keluar kamar.
Pria itu hanya akan tergelak menanggapi. Seperti biasa wanita pada umumnya, kata sepuluh menit bisa ngaret seperti menunggu kereta di stasiun dan berakhir lima puluh menit kemudian. Hanya untuk memilih setelan warna baju, sepatu dan tas dengan warna senada.
Rumitnya perempuan.
Sepanjang perjalanan ke arah garasi mobil calon papah muda itu terus saja menertawai kebiasaan Almira.
"Paman! Buka pintu!" Teriakan dari arah gerbang tinggi tertutup bagian bawah menghentikan langkah Wisnu.
Pandangannya kini beralih ke arah suara. Tampak wajah familiar segera terpampang jelas. Senyuman lebar dengan lambaian tangan ke arahnya.
"Sialan! Bedebbbah gila!" rutuknya tidak percaya.
Wisnu kesal. Katanya keponakannya itu sudah lama kembali dari Australia, tetapi baru menampakkan batang hidungnya sekarang.
"Alan ganteng mengunjungimu, Tuan Banteng Kutub," sapa seorang wanita tak lain dan tak bukan, Yashna.
Kedua orang itu kini berdiri di depan gerbang rumahnya, menampilkan tubuh separuh bagian atas. Mobil mereka terparkir di sampingnya.
"Pergi, kalian! Aku sibuk," usir Wisnu melangkah menjauh, tidak jadi menghampiri gerbang.
"Whoi! Wah ... gila ini orang!" rutuk Yashna menghardik kelakuan konyol Wisnu, hal itu malah membuat Alan larut dalan gelak tawa.
Pemuda yang kini sudah berusia dua puluh dua tahun itu tahu pasti pamannya sedang bercanda.
"Nggak ponakan, nggak paman, sintiing semua." Yashna mengembus napas.
Wanita itu pun segera bersedekap tangan, memberi tatapan membunuh untuk pria di sampingnya yang tak ada bosan dalam mengejar cintanya itu.
****
'Taukah kalian, tempat terindah dan ternyaman untuk pulang adalah keluarga.' Wisnu said
__ADS_1
Salam lope-lope dari Syala yaya 😍😍😍