
Wisnu berjalan mondar-mandir di lobby Hotelnya. Memandang jam tangannya yang bergerak sangat lambat menurutnya. Beberapa karyawan mengamatinya dengan heran, sedang menunggu siapa gerangan sang bos tampan itu, mereka hanya bisa mengira-ngira.
“Cieeh ... Pak Inu,” bisik Ihsan lewat di depan Wisnu berada.
“Ck! Gara-gara kamu, aku hampir gagal berkencan. Dasar Assisten gaje,” balas Wisnu menatap kesal Ihsan yang tersenyum meringis ke arahnya.
“Pak, tolong hati-hati mengenai Delia ini. Dia tidak cuma mencoba mengincar Anda saja tapi lebih kepada apa yang Anda miliki,” bisik Ihsan mendekat, Wisnu menghela nafas panjangnya.
“Aku tahu, kamu tidak perlu khawatir mengenai ini. Aku pergi ya, Almira pasti sudah menunggu di luar, dia pasti tidak berani masuk ke dalam,” jawab Wisnu menepuk pundak Ihsan dan berlalu dari hadapan Ihsan.
Ihsan menatap langkah Wisnu yang bergerak tegas meninggalkan gedung Hotelnya. Sambil memutar kepala menatap area lift ia bertemu pandang dengan Delia, wanita itu berjalan santai mendekatinya. Ihsan masih saja memandangnya datar walau dalam hati dia geram dengan sikapnya.
“Kamu senang mencari muka, ya. Assisten tidak tahu diri,” ejek wanita itu berjalan menebar rona perang terhadap Ihsan, Ihsan hanya bisa tersenyum menanggapinya.
“Tentu saja,” jawab Ihsan menggoda.
“Lihat saja, aku akan mendepak mu dari jabatan itu secepatnya,” desis Delia menatap remeh ke arah Ihsan.
Ihsan iseng menarik pergelangan tangan Delia, ia segera menatap jam tangan yang melingkar cantik yang berada di pergelangan tangan wanita itu, Ihsan segera menebar senyum tipisnya yang menawan, Delia hanya bisa melongo menatapnya.
“Wah, aku ada kencan. Aku sudah terlambat sepertinya,” goda Ihsan melambai tangan dan meninggalkan wanita membosankan itu di sana.
Delia mengibas tangannya dengan kesal setelah yakin sudah dikerjai Assisten Wisnu itu. Delia mengusung bekas genggaman jemari tangan Ihsan dan menatap punggungnya yang mulai menjauh.
“Pria sialan,” umpatnya menggerutu. Hatinya tiba-tiba berdebar aneh bila bertemu pria sok keren itu.
***
Wisnu mengambil mobil alih mobil dari petugas karyawan hotelnya. Ia segera memutar setir kemudiannya bergerak pelan saat melewati portal parkiran keluar dari gedung itu sambil menoleh ke arah halte, ia berharap istrinya bersiap menjemputnya sesuai janjinya selama ini.
Dan benar saja, ia bisa melihat wanita duduk manis berada di halte dan melambaikan tangannya saat mobilnya lewat.
“Butuh tumpangan?” goda Wisnu membuka kaca jendela mobil, Almira tertawa menanggapinya.
Wisnu menggerakkan dagunya sebagai isyarat agar Almira mengikuti perintahnya untuk masuk ke dalam mobil. Almira segera menoleh dulu celingukan dan berharap tidak ada yang melihatnya masuk ke dalam mobil suaminya.
“Sudah lama nunggunya?” tanya Wisnu segera menjalankan mobil saat Almira sudah masuk dan memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya.
“Dari pagi tadi,” jawab Almira menggoda suaminya.
“Yakin kamu?” tanya Wisnu tampak sangat serius menanggapi jawaban Almira yang terlihat malah tersenyum lebar menanggapi keterkejutan dari mata suaminya.
Wisnu berdecak merasa dikerjai. Mau tak mau dia ikut tersenyum juga.
“Aku seperti walingmi,” keluh Almira tertawa lebar, sambil meraih ponsel dari dalam tas dan mengetik sesuatu di layar ponselnya.
__ADS_1
Wisnu masih belum paham lagi dengan kata baru yang dilontarkan oleh istrinya, keningnya berkerut sesaat mencoba mencari jawaban sendiri dari kata Walingmi.
“Aku baca novel Walingmi, Mas. Saat aku ni nunggu Mas Inu di halte tadi aku jadi kepikiran sama kata Walingmi,” ucapnya lagi terkekeh.
“Jangan tertawa terus, kasih tahu artinya biar kita bisa tertawa barengan,” pinta Wisnu merasa gemas sendiri menatap tawa Almira yang sangat membuatnya merasa sangat penasaran.
Almira mengibas jemari tangannya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia tersenyum manis ke arah Wisnu dan menunduk lagi menahan tawa.
“Ira, kalau gila ngajak aku dong, biar bisa saling tergila-gila,” seloroh Wisnu semakin membuat Almira tertawa cekikikan.
Almira merasa Wisnu hari ini sangat lain, lebih santai bahasanya dan jelas ada gombalan yang tercipta dari bibirnya, bibir berwarna cerah untuk ukuran seorang pria, jelas menandakan pria itu tidak merokok.
“Walingmi itu wanita maling suami, Mas,” jawab Almira kemudian.
Wisnu mencelos memandang sejenak Almira dan kembali fokus pada stir kemudinya, mencari arah menuju ke Mall yang ada bioskopnya.
“Kok kamu menyebut dirimu dengan Walingmi?” tanya Wisnu merasa tidak tepat.
Almira mengelap wajahnya dengan tisu, mencoba mencari tempat menampung sampah dengan mengamati dashboard, Wisnu tersenyum memandang sekilas wajah cantik istrinya yang terlihat dari samping. Begitu cantik dari pandangan matanya.
“Taruh saja di dalam tasmu,” goda Wisnu membuat Almira mendongak menatap suaminya dengan cepat.
“Tidak mau, kamu membelikan tas ini mahal-mahal kok dibuat nampung sampah,” keluhnya bersungut.
Wisnu merasa tersentuh dengan ungkapan sederhana istrinya terhadap pemberiannya. Dia merasa Almira sangat memperhatikan barangnya dengan baik sebaik memperlakukan seperti miliknya sendiri.
Almira menghembus nafas dan memainkan jemari tangannya di pangkuan, menatap jalanan depannya tanpa menoleh ke arah Wisnu. Wisnu semakin penasaran menanti jawaban dari Almira.
“Karena saat aku mau menjemputmu masuk ke dalam, nyatanya aku tidak berani sama sekali, kita masih menyembunyikan status kita,” ungkap Almira dengan suara sendu.
Wisnu tersenyum saat mendengar pengakuan dari Almira. Perasaannya mendadak membaik dengan keresahan hati istrinya.
“Kamu yang meminta dirahasiakan,” sahut Wisnu membuat Almira menoleh dan mengangguk mengakui.
“Karena sampai saat ini, aku belum mengenal keluarga Mas Inu sama sekali. Apa … aku ini, istri simpanan Mas Inu ya?” tanya Almira sontak membuat Wisnu tergelak keras.
Almira menggembungkan pipinya merasa kesal karena sudah ditertawakan oleh suaminya. Sambil merengut ia segera mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil, sesekali dia tersenyum samar dengan pikirannya sendiri.
“Istri simpanan Mas Inu, jadi acara kencan kita ngapain ini?” goda Wisnu menyentuh pucuk kepala istrinya sambil tertawa senang.
Almira mengibas tangan Wisnu lembut, ia merasa tersipu malu dengan mulutnya yang terkadang sulit dikontrol dengan baik saat melontarkan kalimat dan pikirannya. Dia malu sendiri.
“Kalau kamu istri simpanan tentu saja kita tidak bisa menikah secara hukum, istriku sayang,” goda Wisnu lagi membuat Almira semakin merasa malu.
“Iya, iya,” jawab Almira mengalah.
__ADS_1
Wisnu segera mengarahkan mobilnya ke area parkiran Mall, Almira menatap suaminya yang fokus menyetir dengan ide pembalasan cantik darinya. Dia yakin pasti suaminya akan melonjak kaget dengan permintaannya, dengan mengumpulkan semua keberanian dan memutus urat malu dia akan melontarkan godaan manisnya.
“Mas Inu,” panggil Almira memandang Wisnu lagi saat pria tampan dan tenang itu membantu melepaskan tautan sabuk pengaman milik Almira.
“Hem? Kenapa, kita kesini mau nonton film bukan belanja jadi kamu tidak perlu khawatir soal memasak, oke?” seloroh Wisnu tersenyum manis seraya mengacak pucuk kepala Almira lagi dengan gigi gemerutuk gemas.
“Ohh, iya, aku suka nonton film,” jawab Almira merasa ragu dalam menggoda Wisnu kali ini, pria itu terlalu rapi dalam alur kehidupannya.
“Bagus, ayo turun,” ajaknya segera menegakkan tubuh hendak turun.
Seketika tangan Almira meraih lengannya agar suaminya mengurungkan niat untuk tidak beranjak turun dari mobil. Wisnu menoleh bingung dengan sikap aneh Almira, ia tidak jadi bergerak dan memilih diam kembali memandang Almira yang memberinya senyuman yang selalu menginginkan lebih dari sekedar ciuman bila dekat dengan wanita cantik ini.
“Kenapa?” tanya Wisnu merasa sikap Almira berbeda.
Almira segera melepaskan tautan tangannya dan tertawa sendiri dengan pikiran yang sempat tercipta. Ia segera menggelengkan kepalanya cepat.
“Apa … pikiran kita saat ini sama?” tanya Wisnu dengan suara lebih hati-hati.
Almira membelalak mata mencoba memberi isyarat agar Wisnu meneruskan ucapannya. Wisnu sejenak tertunduk dan tersenyum samar, Almira semakin penasaran balik dibuatnya.
“Kita tunda nonton filmnya,” ucapnya bersemangat.
“Jangan, dasar tidak seru," komentar Almira konek dengan jalan pikiran suaminya.
“Nah, pikiran kita sama-sama menjurus ke sana, kan?” goda Wisnu balik, Almira segera memukul gemas suaminya yang malah berhasil memukul balik dengan menggodanya.
Wisnu menatap Almira sambil tertawa senang.
***
Kalau menikah ternyata begini menyenangkan kenapa tidak dari dulu aku membina hubungan serius dengan wanita. (Wisnu&Almira)
Bersambung.
Terimakasih semuanyaa love love kisah Wisnu& Almira.😍😍😍😍
Aku mau promosi karya sahabat baikku yaa. Monggo melipir dan mampir, seru abisss.
Kakak Nafasal
Uni Putri Tanjung.
__ADS_1
Salam Love dari ku~ @Syalayaya