Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 57 Masih Melanjutkan Kencan


__ADS_3

Malam semakin larut, kedua insan yang sedang dilanda asmara kini sedang melemparkan pandangan satu sama lain di pinggiran taman kota, mereka memutuskan untuk mampir terlebih dulu sebelum melanjutkan kencan mereka berdua.


Mereka berdua ingin merasakan sejenak udara malam yang dingin, sesekali saling merekatkan pelukan menikmati suasana ramai para penikmat jajanan malam dan lalu lalang pasangan hilir mudik datang dan pergi.


“Kencan ala rakyat biasa katamu?” tanya Wisnu terdengar tawanya.


“Temannya banyak,” jawab Almira membuat Wisnu mengulas senyuman tertahan.


Almira mendongak menatap wajah tampan suaminya dari arah samping. Hatinya menggerutu tapi jelas menampakkan senyuman samar melihat raut wajah tenang itu tersenyum samar. Almira segera menunduk sedih tanpa ada yang menyadarinya.


“Setelah ini kita mau apa?” tanya Wisnu mengelus pundak Almira, menoleh dan menundukkan kepalanya agar bisa menatap wajah Almira yang tertunduk.


“Mau apa memang?” tanya balik Almira masih menunduk.


Wisnu merasakan gelagat aneh Almira, dengan sikap tegas dia memutar tubuhnya dan menghadap wajah tertunduk Almira. Sikap Wisnu yang tiba-tiba segera membuat Almira mendongak memandang balik. Mereka berdua masih saja saling memandang dengan gayutan pikiran masing-masing.


“Ada yang menggangu pikiranmu?” tanya Wisnu segera mengalihkan pandangan dari Almira.


“Semuanya, semuanya mengganggu pikiranku," jawab Almira tersenyum.


“Siapa? Aku atau Bagus?” tanya Wisnu mulai menampakkan suara tidak nyaman.


“Delia dan kak Dhepe,” jawab Almira membalik jawaban.


Wisnu melepaskan pelukannya dan berdiri, ia mengulurkan jemarinya ke arah Almira, memandang sejenak istrinya yang mendongak ke arahnya dengan senyuman. Almira meletakkan jemari tangannya dan segera ditarik Wisnu agar segera berdiri. Ia ingin sekali segera pergi dari sana.


“Ira?” panggil Wisnu menggandeng tangan Almira erat.


“Iya, Mas,” jawab Almira memandang kembali Wisnu dari samping.


“Kenapa pusing memikirkan orang yang tidak penting? Kalau kita sebenarnya punya hal penting lain yang layak untuk dipikirkan?” seloroh Wisnu.


"Mas Inu ada masalah?" tanya Almira merasa cemas.


Wisnu terdiam tidak menjawab. Lebih tepatnya memilih bahasa pertanyaan yang lebih enak di ucapkan. Almira masih menunggu dengan perasaan cemas.


“Apa yang kamu pikirkan tentang sseeorang yang membunuh orang?” tanya Wisnu kemudian sambil mengajak berjalan Almira.


“Membunuh?” tanya Almira membelalak terkejut, ia menelan salivanya dengan cepat. Bayangan kengerian segera hadir di dalam pikirannya.


“Iya, membunuh. Bagaimana tanggapanmu kalau ada keluargamu yang melakukan kejahatan dengan membunuh banyak orang?” tanya Wisnu lagi sambil menghentikan langkahnya disusul Almira juga berhenti.


“Kok jadi ngomongin tentang pembunuhan sih kita?” tanya Almira tertawa ringan, ia sungguh kikuk saat Wisnu menatap dirinya dengan tatapan mata serius.


“Kalau misalnya suamimu ini ternyata mantan pembunuh, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Wisnu lagi membuat Almira mengerjapkan matanya bingung dalam menjawab.


Wisnu segera melepas tawa dan menunduk miris pada dirinya sendiri. Almira menguatkan genggaman tangannya membuat Wisnu menoleh dan memandang tautan jemari itu, mengalirkan kehangatan untuknya.


“Mas Inu serius? tentang membunuh orang?” tanya Almira memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


“Mungkin, siapa yang tahu,” jawab Wisnu tersenyum dan menarik jemari itu mengajaknya kembali berjalan. Almira hanya bisa mengikuti langkah itu dengan berjalan cepat menyeimbangkan langkah suaminya.


“Serius? Ayahku juga sering membunuh," sahut Almira membuat Wisnu menoleh dengan kernyitan di keningnya. Mertua sebaik dia pernah membunuh.


"Membunuh ayam, sapi dan kambing pas ada acara dan hari kurban," terang Almira sambil tertawa.


Wisnu ikut tertawa juga walau jelas dalam hatinya dia ingin sekali Almira tahu tentang masa lalunya. Dia mengerti bahwa dia bisa saja menceritakan apa yang baik-baik saja, tapi sungguh ia ingin Almira tahu semua tentang kehidupannya yang sebenarnya. Wisnu ingin berbagi sesak pengalaman hidup kepada istrinya.


“Kita pesan kamar di Hotel tempat malam pertama kita lakukan.”


Almira berhenti melangkah, memaksa Wisnu menghentikan langkahnya juga dan membalikkan badannya menatap Almira.


“Kenapa harus Hotel itu?” protes Almira tubuhnya terasa sekali menegang.


“Karena aku ingin mengubah kenangan malam kelam itu menjadi malam indah,” jawab Wisnu menegaskan.


“Kita tidak perlu sampai segitunya, Mas. Aku sudah melupakannya,” tukas Almira berniat menolak ajakan. Baginya tetap saja malam itu sejarah buruk kehidupannya walau nyatanya ia lebih memilih berdamai


Almira menghela napas panjang, menatap perubahan di wajah Wisnu yang berbeda. Ada segurat rona antara kecewa, marah, menyembunyikan emosi dan juga ingin membentak. Almira termangu memandangnya.


“Kalau Mas Inu ingin marah-marah dan membentak Almira, Almira tidak apa-apa 'kok,” lirih Almira berucap. Terdengar suara tawa Wisnu menanggapi sahutan kata lucu dari istrinya, sambil semakin mengeratkan genggaman tangannya Wisnu mempercepat jalannya ke arah mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


“Mana ada laki-laki menikahi wanita cuma untuk dibentak? Kamu ini ada-ada saja,” sahut Wisnu masih tertawa.


“Mas Inu pernah juga membentak Ira,” gerutu Almira berhenti melangkah saat Wisnu membuka pintu mobil untuknya.


“Aku minta maaf kalau pernah melakukannya, biasanya aku tidak pernah marah kepada wanita, mungkin kamu saja yang nakal,” jawab Wisnu tersenyum.


“Berhenti memikirkan hal yang konyol 'deh, aku bisa menebak raut wajahmu,” komentar Almira memasang sabuk pengaman.


“Cuma sama kamu,” jawab Wisnu membuat Almira salah tingkah.


Mobil melaju meninggalkan tempat itu menuju ke tempat yang sudah direncanakan oleh Wisnu sebelumnya, yaitu ke Hotel miliknya.


Sepanjang perjalanan mereka berdua memilih untuk terdiam. Almira entah mengapa hatinya berdesir antara malu atau berdebar dalam menjalani kencan ini. Padahal ia sudah menikah sebulan lebih tapi kenapa rasa desiran kegugupan terasa kuat seperti pasangan yang malu-malu dalam mengekspresikan cinta. Apa ini keistimewaan pasangan yang menikah tanpa pacaran?


“Kita turun,” ajak Wisnu menepikan mobil, memarkir mobilnya di area khusus hingga hanya satu mobil itu saja yang berada di sana.


Almira memutar kepalanya menatap sekitaran yang sepi. Jam di tangannya menunjuk pukul satu malam. Almira merasa cemas sendiri. Sambil membuka sabuk pengaman ia memandang pintu mobilnya yang dibuka Wisnu dari luar. Almira menelan salivanya dengan gugup.


“Turun,” perintah Wisnu segera diberi anggukan Almira dan beringsut keluar dari mobilnya.


Almira menurut saja ketika lengannya ditarik lembut berjalan melewati parkiran luas yang kosong dan memasuki pintu khusus dan terdapat lift di sana. Almira diam tidak mau membahas masalah ini dan lebih memilih ikut saja. Dirinya merasa penasaran kemana suaminya ini akan membawanya.


“Bodohnya aku, kenapa aku tidak mencoba mencari tahu si misterius ini di kolom pencarian google, siapa Wisnu Tama ini, astaga aku bodoh sekali. Kalau dia psycopat yang sedang menyamar bagaimana?” gumam-gumam Almira bicara sendiri yang membuat Wisnu ingin sekali tertawa.


Setelah menaiki lift dan terasa bergerak ke lantai atas Wisnu mendorong tubuh Almira ke dinding hingga membuat wanita itu tersentak kaget. Wisnu memandangnya dengan batin ingin tertawa, bagaimana bisa wanita ini sanggup membangkitkan perasaannya hingga sebesar ini. Ia tidak pernah mengejar dan menginginkan seoran wanita hingga sebesar ini. Ia memandang lekat Almira yang menatapnya terkejut.


“Jangan menakutiku 'deh Mas,” desis Almira menggerutu. "Oya, kamu punya banyak hutang untuk menjelaskan semuanya," tambah Almira lagi dengan wajah melengos.

__ADS_1


Sungguh tatapan dalam dari suaminya sanggup membuat jantungnya serasa mau lepas dari tempatnya. Sebisa mungkin ia ingin sekali mendorong tubuh itu dan berlari dari sana. Kejadian ini sama persis dengan malam itu, pria ini sedang berada ditingkatan hormon tidak normal bagi Almira.


“Aku mencintaimu, Almira Putri,” ungkap Wisnu membuat Almira kembali menatap Wisnu yang mengungkungnya dengan kedua tangan menghimpit pergerakannya dari sisi kanan kiri tubuhnya.


“Aku mencintaimu, bagaimana denganmu? Apa kalau bulan ini kamu tidak mengandung anakku, perjanjian itu akan tetap berlaku?” resah Wisnu memandang.


“Aku ….”


Suara pintu lift terbuka segera menyadarkan Wisnu, ia segera menarik tangan Almira keluar tanpa peduli sikap tegang dari tubuh istrinya saat melewati koridor dimana bulan lalu juga terjadi hal seperti ini. Wisnu mencoba meraih pundak Almira yang mulai berjalan melambat.


“Ini bukan kamar itu, kamu jangan khawatir,” seloroh Wisnu tersenyum simpul. Almira mengangguk paham.


Setelah berjalan beberapa saat Wisnu menahan gerak langkah Almira, Wisnu tersenyum sambil meraih dompetnya, mengambil kartu dari dalam dan memasukkan kartu itu ke dalam mesin dan otomatis kunci pintunya terbuka. Almira hanya diam memandang gerak jemari suaminya membuka pintu. Bahkan ia sendiri masih sulit berpikir dengan yang terjadi dihadapannya.


Wisnu menarik Almira masuk ke dalam dan menutup pintunya. Lampu otomatis menyala terang.


Ruangan yang luas, interior nuansa coklat muda mendominasi ruangan ini. Almira memutar kepalanya memandang ke sekeliling walau tangannya masih di tarik lembut suaminya agar dirinya tidak berhenti melangkah.


“Ini ruangan favoritku,” ungkap Wisnu dan Almira hanya mengangguk saja tanpa mendengar jelas apa yang Wisnu katakan padanya.


Wisnu menghentikan langkah Almira di depan ranjang besar, bahkan dirinya masih saja menahan tawa saat Almira sama sekali tidak memandang ke arahnya malah sibuk memutar arah pandangannya ke seantero ruangan dengan kening mengernyit heran. Pikiran gemas melanda Wisnu, inilah gadis tipe idealnya. Gadis yang selalu menatap kagum apa saja yang ada di sekelilingnya.


Wisnu tipe pria yang lebih suka memimpin dan mendominasi, mendapatkan pemandangan yang berada di hadapannya sungguh membuat fantasi yang belum pernah ada bisa menguat keluar dalam angan-angan.


Dengan tanpa disangka-sangka Wisnu mendorong tubuhnya hingga terjerembab jatuh ke atas kasur bersama tubuh suaminya kini sudah berada di atasnya. Almira tersentak kaget dan menahan dada Wisnu dengan mata membelalak dan jantung berdebar.


Sambil memejamkan mata Wisnu meraih bibir itu dan memagutnya lembut penuh perasaan, bisa dia pastikan bahwa tubuh istrinya mulai tenang ikut menikmati.


****


Cinta, cinta dan cinta, tetaplah di sisiku.


Mulai hari ini kisah ini akan dimulai dengan manis ditengah ombak yang terasa mulai menghadang.


Bantu aku melawan satu dua kaki yang siap menjegal langkah kita. Mari kita menghadapinya dengan melompat bersama-sama. (Wisnu&Almira)


By. Syala Yaya.


Bersambung.


Terimakasih semuanya untuk semua bentuk dukungan, memberiku energi positif untuk terus menyelesaikan kisah manis ini. Konflik akan mulai dihadirkan dalam beberapa bab kedepannya, semoga tetap setia mendukung kisah mereka.


Baca juga yaa karya sahabatku.



Baca terus novel gesrek yang bakal terus menghadirkan tingkah konyol para tokohnya yang bakal menghibur kalian semua. Novel ini dibuat khusus bagi yang mencari bacaan tema segar dan ringan, membuat tertawa tentunya. Hidup sudah berat jadi sesekali melirik bacaaan novel genre komedi akan mewarnai harimu.


Ismed Suami Pajangan (dulu judulnya WALINGMI)

__ADS_1



With Love ~ Syala Yaya🌹🌹


__ADS_2