Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 67 Masalah Terurai


__ADS_3

Terjadi keributan antara Nafa dan Delia. Mereka berdua terlihat saling menjambak rambut dan saling menyakiti. Almira hanya bisa memandang dan bingung harus bersikap bagaimana.


“Lepas!" pekik Delia merasa kalah.


”Kamu dulu yang lepas!" balas Nafa membentak.


Meraka berdua acak-acakan dengan tubuh saling condong ke depan, wajah mereka sama-sama memerah.


Almira segera turun ke lantai bawah, dimana dirinya sebenarnya berada di gudang kosong yang terbuka, samping gedung area restoran. Ia berteriak memanggil beberapa orang yang lewat dan menyuruhnya membantu melerai pertengkaran.


Nino dan beberapa pelayan resto, juga beberapa OB mengikuti Almira naik ke lantai atasnya dan melihat sendiri pertengkaran antara teman mereka Nafa dan juga Delia si anak General Manager Hotel.


“Hei! Bisa tidak kalian hentikan kekonyolan ini!" sentak Nino berupaya melepas kedua tangan yang sama-sama meraih rambut dan kepala.


”Dia yang menyerangku duluan," desis Delia kesal.


“Salah sendiri kamu kasar sama Almira," balas Nafa sambil meringis menahan rasa perih yang menyiksanya.


”Sudah, kalian hentikan saja ini. Cukup!" tambah Chef senior yang ikut datang melerai.


“Tidak bisa! Akan aku hancurkan rambutnya!" teriak Delia semakin menarik rambut Nafa hingga wanita cantik itu ikut menjerit kesakitan. Kontan saja dia membalas juga sekuat tenaga.


”Astagaaa, lepas!" decak Delia juga merasakan sakit.


Nino dan chef senior berusaha melerai dan memisahkan mereka berdua. Hingga suara pria tegas menghentikan pertengkaran.


“Berhenti dan bubar!" tegas Johan bersuara lantang.


Semua orang yang mengenali suara itu segera menoleh dan berhenti bergerak. Pria itu segera berjalan dan mendekati Delia dan Nafa. Kedua wanita itu segera merapikan rambut acak-acakan mereka dan menunduk malu.


”Kalian berdua benar-benar memalukan." Johan menatap Delia dan Nafa bergantian.


“Tapi, Pah. Dia nyerang Delia duluan," bantah Delia membela diri.


”Tapi, Om. Eh ... Pak Johan, dia mau menyerang Almira. Tentu saja saya tidak bisa tinggal diam," balas Nafa memandang sinis Delia. Kedua orang itu sama-sama membuang muka.


“Semua bubar," perintah Johan memutar pandangan. Semua yang ada di sana segera membubarkan diri dengan suara menggumam mengomentari kejadian pagi itu yang lucu.


”Almira, tunggu. Kamu ikut saya ke kantor," panggil Johan saat melihat Almira ikut berjalan meninggalkan tempatnya.


Almira menoleh menatap ayah dari Delia itu dengan wajah penasaran. Ada hal apa sampai laki-laki berusia lima puluhan tahun itu memanggil dirinya. Sambil mengangguk Almira berhenti berjalan dan menunggu sampai Johan berjalan ke arahnya.


“Ikuti saya," pintanya dengan suara lebih rendah.


Almira menatap Nafa yang tersenyum dan Delia yang menatap sinis ke arahnya, ia mengabaikannya dan berjalan mengikuti Johan ke ruangan kantornya.

__ADS_1


Tidak sedekat yang Almira kira. Ternyata ruangan itu berada jauh dari area resto berada. Kantornya harus melewati lift khusus yang dia tahu pernah juga menggunakannya bersama suaminya. Masih dalam diam, tidak berbicara sama sekali mereka berdua akhirnya keluar dari lift dan berjalan ke koridor karyawan.


”Selamat pagi, Pak Johan," sapa Ihsan ketika berpapasan.


“Pagi, Pak Ihsan," jawab Johan tersenyum.


Ihsan dan Almira saling memandang satu sama lain juga saat berpapasan. Ihsan sampai menghentikan langkahnya saat melihat Almira diiringi Johan masuk ke dalam kantor GM. Sambil berdecak dan mendengkus kesal Ihsan kembali ke kantornya menemui Wisnu.


Almira memasuki ruangan kantor milik Johan dengan canggung, ia segera duduk saat dipersilahkan oleh pemiliknya. Tanpa banyak bertanya ia segera duduk dan menerima minuman dari dalam lemari pendingin dan menaruhnya di meja.


”Kamu kenapa berada di sini dan bertengkar dengan Delia?" tanya Johan segera ikut duduk di sofa bersebrangan dengan Almira. Pria itu melipat kakinya dan bersikap sangat hangat.


“Saya, bekerja di sini mulai hari ini, Pak," jawab Almira jujur.


”Kenapa memanggilku pak? Panggil Om seperti biasanya," pintanya tersenyum.


Almira hanya mengangguk dan mencoba mengamati bagian lain, ia mencoba menghindari bertemu pandang dengan orang yang selalu baik terhadapnya sejak berteman dengan Bagus dan Delia itu.


“Kamu sudah pernah aku minta 'kan? Bersikap lembut lah saat bersama Delia. Dia anak manja dan keras kepala sejak ibunya meninggal," pinta Johan lembut memberi nasehat.


”Sudah saya lakukan, Om. Tapi Delia selalu ketus terhadap saya," jawab Almira menoleh.


Johan tersenyum dan menepuk lututnya menghilangkan suasana sunyi yang tercipta. Selalu saja dia tidak bisa mengungkapkan apa yang sedari dulu ada di pikirannya. Almira selalu bersikap canggung terhadapnya.


“Kamu, bagaimana kabarmu? Terakhir kita bertemu kapan ya?" tanya Johan berbasa-basi.


”Kamu sudah memutuskan hubungan dengan Bagus?" tanyanya membuat Almira menatap pria itu kembali.


Almira tidak habis pikir, kenapa harus mencampuri masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan pria itu, Almira masih diam tidak mau menjawab.


Johan merasa masih saja sama, perempuan seumuran anaknya itu masih saja berupaya mengabaikannya. Masih saja bersikap tidak acuh dan menghindarinya. Sambil menghembus nafas ia menyandarkan punggungnya ke sofa.


“Delia menyukai Bagus, asal kamu tahu," ungkap Johan menjelaskan.


”Lalu, saya harus mengalah?" tanya Almira kemudian.


“Almira, aku mohon kamu mau menyayangi anakku," pinta Johan dengan suara lembut. ”Dia wanita kesepian. Memusuhimu setelah kamu punya hubungan serius dengan Bagus," tambah Johan lagi.


“Saya sudah putus, jadi Delia bebas sekarang untuk menjalin hubungan dengan Bagus."


”Begitu?" tanya Johan mencoba meyakinkan.


“Iya, Om. Jadi saya permisi, saya harus kembali bekerja lagi," pamit Almira berdiri dari duduknya berniat untuk pergi dari sana.


”Lalu, perasaanku saat itu? Sampai kapan kamu terus menolaknya?" papar Johan ikut berdiri.

__ADS_1


Almira berhenti melangkah dan mencengkeram erat ujung kemeja yang dia kenakan. Tiba-tiba perasaannya tidak enak, ia mengingat terus berapa kali pria yang menyandang status duda selama kurang lebih sepuluh tahun itu mengajaknya untuk menikah.


“Maaf, Om. Sekali lagi maaf," jawab Almira menolak dengan suara pelan.


”Karena jarak usia kita lagi?" tanya Johan melangkah dan berdiri di hadapan Almira. Dia berupaya menghalangi langkah wanita yang dia inginkan sejak pertama bertemu di acara penanda tanganan berkas kerja sama investasi bersama Bagus itu.


“Dulu iya, Om. Tapi sekarang, bukan karena usia lagi," jawab Almira dengan suara tenang.


”Karena apa? Apa kamu mau melihat Bagus semakin hancur lagi karena sikapmu yang terus menolakku?"


“Jadi Om Johan, selama ini yang membuat perusahaan Mas Bagus penuh masalah?" tanya Almira tidak percaya.


Johan meraih lengan Almira dan menariknya agar duduk kembali ke Sofa. Almira menunjukkan emosinya dengan wajah memerah. Ia tidak mengerti dengan pikiran pria yang baginya terlalu tua untuk bersikap tercela dengan menggangu perusahaan orang lain.


”Tentu saja, hanya itu yang bisa menghentikan acara pertunangan dan pernikahan kalian?" jawab Johan masih berdiri dengan senyumannya. Almira membuang muka dengan menggeleng tidak percaya.


“Lagipula, Delia sangat menyukainya. Jadi aku rasa semua akan dapat jatah masing-masing. Delia mendapatkan Bagus dan aku bisa mendapatkan hatimu," ungkapnya semakin membuat Almira menggeleng tidak percaya.


Johan melangkah ke arah meja kerjanya, mengambil map di laci dan membawanya mendekat ke arah Almira. Sambil duduk santai kembali, ia menyerahkan map itu kepada Almira dan menyandarkan kembali punggungnya di sandaran.


Almira memandang map itu dengan berjuta pertanyaan di dalam pikirannya. Apa isinya? Kenapa pria tua itu memperlihatkan kepadanya. Sambil memandang Johan dan map bergantian akhirnya ia memberanikan diri menyentuh ujungnya.


”Bukalah, aku ingin kamu tahu sesuatu," ucapnya semakin membuat Almira berdebar.


“Apa ini?" tanya Almira memandang Johan.


”Buka saja, kamu akan tahu isinya apa," jawabnya sambil tersenyum.


Bersambung.


Jodoh adalah cerminan diri.


Bagaimana dia seperti itulah kita sendiri.


Semua meminta yang terbaik, karena itu kita berusaha menjadi orang yang baik. By. Syala Yaya




🧚🧚


Terimakasih semuanyaa, atas semua dukungannya.


Semua komentar positif, like dan juga Vote luar biasa dari kalian semua.❤️❤️

__ADS_1


Follow IG @Syalayaya untuk info dan cuplikan novel baru saya yaa teman-teman.


Salam Cinta dan persahabatan dari ~ Syala Yaya🌻🌻


__ADS_2