
Wisnu sudah duduk dihadapan Almira dengan kaki bersila, bersikap sebagai murid kepada gurunya mengaji. Mengeja satu persatu huruf arab yang baru dikenalnya. Almira mengajarinya dengan teliti sekali. Saat ini mereka berdua bersiap mulai belajar bersama.
“'Ja', harus selalu kamu ingat, kalau titik di tengah, bacanya 'Ja',” koreksi Almira sambil memutari lembaran buku iQro di hadapan Wisnu.
“Iya, Bu Guru,” jawab Wisnu kembali mengulangi proses belajarnya.
“'Ja' 'Ha' …,”
“Kalau titik di atas, 'kho',” ucap Almira dengan gerak pulpennya kembali mengintari huruf salah ucap Wisnu. “Ulangi.”
Wisnu menatap Almira yang seperti sedang menertawainya, dengan gemas dia menghembuskan napasnya agar Almira bisa mendengarkan bentuk protesnya.
“Apa? Liat bukunya, bukan gurunya,” oceh Almira menunjuk kening Wisnu dengan pulpen dan mendorongnya agar kembali belajar.
“Aku sulit membedakan,” jawab Wisnu segera dipukul ringan punggung tangannya dengan pulpen lagi, Wisnu segera berjingkat kaget dan mengelus tangannya yang terasa panas.
“Kalau belajar itu jangan pernah merasa sulit, sekali kamu anggap sulit, maka kesulitan akan semakin membuntuti langkahmu, mengerti? Lanjutkan!” omel Almira dengan wajah serius dan ketusnya.
Wisnu hanya bisa menurut dan belajar lagi huruf dasar agar bisa membaca kitab Alqu'ran, belajar dari jilid 1 dengan sabar, mengulangi berapapun Almira memintanya. Bahkan hurufnya seakan sudah menempel kuat diingatannya.
Hingga malam sudah mulai menyapa umatnya, rasa kantuk mulai melanda. Wisnu tertidur di samping Almira yang masih khusyu' membaca AlQur'an malam itu. Setelah menyelesaikan satu ayat terakhir Almira menutup bacaannya malam itu. Membuka mukena yang di kenakannya dan menaruh disampingnya.
Terlihat rona polos wajah suaminya nampak tengah tertidur pulas di sebelahnya, beralaskan kedua telapak tangan sebagai bantalan pipinya, mendengarkan lantunannya yang Wisnu sebut menentramkan hati, hingga suaminya itu tertidur menungguinya sebelum selesai.
Almira menghela napas panjang, merasakan kakinya mulai terkena serangan kram otot bercampur kesemutan. Dengan meringis menahan rasa sakit dia remas ujung kakinya untuk mengurangi rasa sakit yang menderanya.
Hembusan napas berat Almira segera membangunkan tidur Wisnu. Pria itu segera duduk dan menatap bingung ke arah Almira yang terlihat menahan sakit dengan tangan menyentuh kakinya. Ringisan Almira membuatnya panik.
“Kamu kenapa?” tanya Wisnu menyenggol kaki Almira.
“Ahh sakit,” keluh Almira belum bisa menggerakkan kaki kanannya. "Jangan disentuh!"
“Kenapa?” tanya Wisnu kembali menyentuh kaki Almira dengan tangannya hingga membuat Almira kembali mengaduh dan menjerit kesal.
“Sudah aku bilang jangan sentuh!” gertak Almira kesal bukan main. "Sakit aku bilang."
Rasa sakit menjalar di kakinya semakin menjadi saat gerakan kaki dia lakukan. Dengan sekuat tenaga dia memukul kesal lengan Wisnu yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Aku mau lihat,” paksa Wisnu meraih jemari Almira dengan teliti. "Sini aku periksa!"
“Kakiku kram,” keluh Almira lagi mendorong pundak Wisnu dengan kesal.
“Astaga, bilang dari tadi, kenapa. Cuma kram,” ledek Wisnu dengan jail mendorong kaki Almira dengan kakinya hingga istrinya itu mendelik kesal dan menjerit gemas.
“Ahggg … sakit. Aishh, jahat.”
Dengan gerakan cepat Almira bangkit dan merangsek ke arah Wisnu hendak memukulnya. Dengan gelak tawanya Wisnu menghindari serangan Almira dan menamengi kepalanya dengan kedua lengannnya. Pukulan gemas harus dia terima dengan batin geli sendiri berhasil menjaili si ketus.
Dengan gerakan cepat pula dia raih dua pergelangan tangan Almira, meraihnya hingga terjerembab di karpet tempat ibadah baru di rumahnya itu.
“Ahhh …,” pekik Almira merasa kalah, tubuhnya sudah dikunci Wisnu yang malah tergelak menatapnya. Tangannya masih berusaha sekuat tenaga ingin memukul dada suaminya.
“Diam dulu, diam dulu,” cegah Wisnu menangkis pukulan kesal Almira saat tangan itu terlepas dari genggamannya.
“Sudah tahu sakit malah dibuat guyonan,” keluh Almira bersungut. Meraih pipi Wisnu dan meremasnya dengan gemas.
“Astaga, aku balas baru tahu rasa kamu ya,” lontar Wisnu mencoba memalingkan kepalanya menghindari jahatnya tangan Almira kepadanya.
“Biat kapok, biar berhenti menggoda,” omel bawel Almira menggemerutukkan giginya.
“Apa sihh … lepas ah,” ronta Almira menggelengkan kepalanya mencoba melepaskan dirinya.
“Salah siapa cantik, jadi membuatku ingin berbuat khilaf lagi,” oceh Wisnu memandang Almira dengan tawanya.
Cup
Wisnu mengecup bibir Almira dan melepaskan perlahan, gadis itu terpana seketika. Sentuhan singkat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Mata mereka beradu beberapa saat, saling memandang dengan pikiran kosong. Hanya menatap saja, keindahan yang sudah ada di depan mata.
“Bagaimana, masih mau lanjut?” ucap Wisnu belum melepaskan Almira dari kuasanya.
“Terima balasanmu juga,” balas Almira sambil menegakkan kepalanya mendekati wajah Wisnu.
Puk!
Almira membalas ciuman itu dengan pukulan di kening Wisnu dengan bibir bersungut.
__ADS_1
Wisnu mengembangkan senyumannya.
“Aku anggap lanjut,” sahut Wisnu kemudian, meraihnya dalam dekapan dan membawanya keluar dari sana, menuju ke tempat dimana seharusnya cinta bisa bebas diekspresikan
"Eh ... turunkan aku, kamu mau apa," omel Almira semakin membuat Wisnu ingin tertawa.
**
Bila aku jatuh cinta akankah sama sakitnya seperti saat pertama kali aku merasakannya?
Saat aku putus cinta akankah sama menderitanya seperti saat pertama kali aku mendapatkannya?
Jangan biarkan aku mengulanginya, putus cinta di saat aku masih merasakan jatuh cinta, terutama kepadamu. (Wisnu-Almira)
Bersambung ...
Hai Readers tersayang semuanyaa.
Jempol kalian sangat berarti lho, asal kalian tau hehe pop dan level yang menentukan kalian juga. Jejak jempol dan jejak baca kalian😍.
Berikan like, komentar dan juga vote yaa ...
Dan jangan lupakan juga tujuan aku membuat novel itu untuk dibaca, semoga kalian mengikuti kisah ini sampai tamat yaa 🤗.
Terimakasih untuk dukungan para sahabatku sesama author, baca juga ya novel mereka
Kak Nafasal
Kak Anggen
Terimakasih yaa, dukungan para readers semua nyawa bagiku.
__ADS_1
~Syala Yaya🌷🌷