
Extra part kali ini gaje ringan ya? semoga suka dan mengurangi rindu sama Mas Inu dan Dek Ira bersama Kawan-kawan.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terik matahari siang sudah meredup berganti senja. Wisnu memarkir kendaraan di halaman dengan gusar, wajahnya pucat pasi. Bagaimana tidak, sebanyak lima buah mobil mewah berjajar rapi terparkir di depan rumah. Pria itu segera turun dari dalam mobil nyaris dengan meloncat tidak sabar. Kehamilan Almira yang sudah tinggal menunggu beberapa minggu menjelang kelahiran tak urung membuatnya mudah sekali cemas.
"Mobil siapa saja, sih, ini?" gumamnya mengeja satu per satu merk mobil mewah di sepanjang ayunan langkah menuju ke teras rumah.
Terdapat mobil merk Porsche Macan 2.0, Lamborghini Aventador Lp720, Range Rover Sport 3.0 HSE, Chevrolet Camaro RS, dan BMW i8. Wisnu menggeleng saat menyadari yang berkunjung ke rumahnya pasti bukan orang sembarangan.
"Ira?" panggilnya setengah panik ketika menyusuri tiga buah anak tangga menuju teras rumah.
Pintu utama rumah yang tertutup rapat menambah tingkat kecemasan, perasaannya berubah menjadi tidak nyaman. Ia tidak akan memaafkan istrinya kalau sampai pergi dari rumah tanpa izin, yang mungkin saja dengan menumpang salah satu mobil salah satu temannya yang berkunjung.
"Almira nggak punya sahabat anak orang kaya, kecuali Bagus sama Delia," gumam Wisnu mencoba menenangkan diri.
Tangannya dengan cekatan memutar handle pintu, melongok kepala untuk mengamati keadaan ruang tamu rumahnya.
Kosong, tidak ada siapa-siapa.
Jam sudah menunjuk hampir pukul enam sore, bahkan kumandang azan sudah mulai terdengar dari Masjid area kompleks perumahan tempat tinggalnya. Wisnu mengembus napas saat memasuki rumah.
Sambil mengamati bagian dapur yang masih bisa terlihat dari ruang tengah, bidikan matanya mencoba mencari keberadaan sang istri, tetapi nihil. Masih saja Wisnu mengedepankan pikiran positifnya dengan keyakinan bahwa bumil itu sedang berada di kamar, tertidur karena kelelahan.
Tidak! lalu barisan mobil itu?
Wisnu memilih memastikan keberadaan Almira dengan menyusuri anak tangga menuju ke arah kamar dengan tergesa. Gerakan lari kecil itu segera berhenti tatkala indera pendengarannya menangkap sayup-sayup tawa dari arah belakang rumah. Pria itu mematung beberapa saat untuk memastikan suara itu berasal dari rumahnya sendiri.
Benar saja, semakin lama suara itu diindahkan, semakin jelas pula sahutan yang lain menyambut ramai ledekan saling menimpali. Wisnu segera membalik badan, mengurungkan niat untuk pergi ke kamar, beralih mengecek ke arah sumber suara.
"Siapa yang berkumpul di taman belakang rumah?" gumamnya terdengar penasaran.
Wisnu kini melangkah menuju pintu belakang yang berada di samping dapur. Sebuah ruangan yang baru dua minggu lalu selesai dibangun. Sesuai permintaan Almira, ia membangun sekaligus mendesain tanah kosong di belakang rumah sebagai arena taman tersembunyi untuk bermain anak-anak.
Mereka berdua sengaja merancang area terbuka dikelilingi tembok bangunan rumah milik tetangga itu sebagai area alami pelepas penat keluarga kecilnya, saat bayi itu lahir kelak. Membayangkan saja, rasanya pria itu sudah tidak sabar menyambut sang buah hati.
Benar sesuai dugaan, tampak area taman belakangnya kini sedang ramai. Celotehan mereka semua bahkan membahana, seolah sudah saling akrab satu sama lain tanpa ada kecanggungan saat ledekan demi ledekan tercipta hingga mampu menciptakan tawa.
Wisnu mematung di depan pintu, menatap interaksi para wanita sedang santai di area yang terdapat peralatan grill untuk memanggang --terletak di pojok taman. Sedapnya aroma ayam bakar kini menyeruak menambah keroncongan perut pria tampan berusia dua puluh delapan tahun itu.
Tampak Almira sedang duduk bercengkrama dengan Ihsan menghadap ke arah panggangan. Sesekali tangannya membalik daging di permukaan grill, iringan tawa juga terlihat lepas dari bibir keduanya.
Wisnu hanya bisa bersedekap tangan, belum berniat untuk bergabung. Apalagi, pandangan matanya segera mengenali satu per satu wajah sahabatnya. Para wanita yang sudah tidak pernah ditemuinya sejak keluar dari rumah Krisna.
Tya Gunawan, si elegan yang membantunya saat tengah berada di masa sulit. Wisnu menebak, pasti dialah pemilik mobil Lamborghini itu.
Pandangannya kini beralih pada Nafasal, si cantik yang kabarnya sedang getol mengejar cinta seorang dokter spesialis bedah umum bernama Ryu. Wisnu tidak menyangka, seleranya selalu seorang dokter. Setelah ditinggal oleh kembaran Damian ternyata otaknya menjadi tambah korslet, menjadi terobsesi dengan semua dokter tampan yang ditemuinya.
Anggen? Wisnu menggeleng saat mengamati satu sahabat paling bar-bar dan rempong mengalahkan Dhepe itu. Wanita yang sempat salah paham dengan Isna gara-gara nama suami mereka sama --Krisna. Wanita itu masih saja belum berubah. Celotehan absurd ciri khasnya mampu mengundang tawa. Apalagi kini dunianya menjadi halu karena terus memikirkan seorang anak muda tampan anggota dari gengster bernama Kiandra. Wisnu hanya berharap sahabat bar-bar itu tidak mendapat hukuman dari Krisna dengan mengurusi koleksi ikan cup-pang sebanyak 1599 ekor. Wisnu merasa ngeri saat membayangkan Anggen harus memandikan ikan sebanyak itu satu per satu. Betapa lelahnya hayati.
Kini pandangannya beralih menatap Dhepe? Entahlah, Wisnu tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya terhadap janda beranak satu itu.
Yang pasti, pernah terlibat saling PHP, sebelum akhirnya sama-sama menyerah dan menjalani hidup masing-masing. Bagi Wisnu, Dhepe wanita yang gigih dalam membangun karir hingga selalu mengajarkan padanya bahwa memulai sesuatu dari minus bukanlah hal yang memalukan. Pria itu terkagum bila mengingat saat pertama kali mantan istri Imran itu sedang merintis usaha sebuah kafe dengan 37 aneka rasa. Usaha Dhepe juga terseok-seok, sama seperti saat dirinya memimpin sebuah hotel kecil yang kini sudah berhasil naik level sebagai salah satu hotel bintang lima terbaik di kota ini. Mereka berdua bahkan sama-sama korban kekejaman orang tua.
Wisnu menarik napas, masih belum beranjak dari tempatnya. Pria itu menyimak keakraban istri beserta para sahabatnya sambil tersenyum samar.
__ADS_1
"Gue bingung milih, deh, Guys. Gue minta masukan, dong," oceh Dhepe sambil menyodorkan bakwan untuk yang ke sekian kalinya dari piring ke mulut Anggen.
"Dibalik aja, urusan kelar. Ngapain bingung," sahut Anggen sambil menggigit besar gorengan tersebut hingga memenuhi mulutnya.
"Emangnya bakwan, dibalik-balik?!" ketus Dhepe memasang wajah kemayu menanggapi komentar Anggen dengan bibir mengerucut.
"Biasa aja kali, nggak usah gegayaan mengerucut gitu. Bibir Lo juga udah nggak perawan lagi!" ledek Nafa akhirnya ketularan monyong mengikuti gerak bibir Dhepe yang memprotes cibiran dari dirinya.
"Biarpun udah nggak perawan, yang penting udah berpengalaman. Okay!" desisnya segera diberi timpukan cireng Tya hingga bibirnya sukses tersumpal makanan gurih itu. Sambil mengunyah kesal, ia pun melotot ke arah wanita berhidung mbangir itu.
"Ape, sih, Lo?" tolehnya ke arah Tya yang kini meneguk dengan kesal minuman bear brand hingga mengakibatkan kaleng botol itu penyot seketika.
"Gue Frustrasi, ngerti nggak?" ungkapnya meletakkan kasar botol penyot itu ke atas meja dengan pandangan menyedihkan.
"Kenape lagi? Masih soal Alex? atau Aryan? atau Youngplash?" seruduk Dhepe mulai mengeja satu persatu mantan Tya dengan jerengan mata mengandung berjuta rasa penasaran yang melanda. Sambil mengunyah cireng dengan tenaga extra, ibu dari Azka Nalendra itu pun menfokuskan pandangan ke arah Tya.
"Soal Ken," jawab Tya merengut.
"Kenapa? Bukankah hubungan kalian baik-baik aja?" serobot Nafa ikutan nimbrung.
"Dia sudah punya gebetan baru!" serunya sambil histeris.
Wanita itu mengentak kaki sembari memukul-mukul meja dengan kesal. Saking kencang dan kuatnya, getaran itu hingga mengakibatkan semangkuk es cendol di atas meja oleng dan meluncur bebas jatuh tumpah ruah tersebar ke atas rumput di bawahnya.
"Oh My God, sayang banget. Kasihan," ucap Dhepe dengan suara hampir menangis, Tya ikut mengusap wajahnya yang tadinya sedih kini merasa bahagia karena mendapatkan simpati dari sahabat somplaknya itu.
"Kasihan banget, kan, gue?" ucap Tya lagi setengah terisak.
"Iya, banget. Oh, Tuhan. Padahal minuman bercita rasa manis ini khusus gue pesan dari Ponorogo, lho. Diracik dengan bahan-bahan berkualitas, dimasak dengan panas api tepat di angka tujuh puluh derajat Celcius dan didinginkan selama lima jam, bahkan sebelum dikemas harus melalui proses deteksi kesempurnaan rasa yang melibatkan sebanyak lima puluh sembilan tenaga ahli, ditimbang persis seberat enam ratus dua belas mililiter agar komposisinya sempurna hingga tercapai kepuasan yang membuat konsumen menjadi candu hingga order lagi dan lagi. Huhu ... tapi sayangnya, baru seteguk kunikmati gelora goyangan lidah karena sensasi rasa yang tercipta, Es Cendolnya keburu tumpah!" Dhepe akhirnya ikut menjerit tangis bersama Tya.
"Dhepe!" teriak Tya kesal karena menyadari yang ditangisi bukan kisahnya melainkan es cendol yang kini sudah terempas ke bawah kolong meja.
Wanita itu pun meluapkan kekesalan dengan memukul kembali benda berbahan kayu itu hingga goncangannya terasa lebih dahsyat, untung saja dengan sigap Anggen segera membuat gerakan akrobatik untuk menyelamatkan lima nampan berisi masakan Ayam Goyang Zaenudin yang dibakar dadakan, diolah dengan menggunakan bumbu saus pilihan berupa cem-ceman foto oppa-oppa cogan agar tidak mengalami nasib serupa dengan es cendol.
"Haishh! Yeeeee ... selamat!" teriak Anggen suka cita, tubuhnya bergoyang ala Shakira saking senangnya.
"Elo emang keren, Anggen!" timpal Nafa memberi jempol seraya ikut memutar badan dan bergoyang ala Abang ayam jago, mereka berjoget selayaknya membentuk sebuah kolaborasi gerakan goyang patah-patah pinggang pegal keseleo akibat kebanyakan gaya.
"Kalian ini gimana, sih?" rengek Tya, wajahnya kembali merengut hendak memukul meja.
"Eits sabar," bujuk Dhepe sembari mencekal tangan Tya dan mengelusnya mirip seperti simbah-simbah kepada cucunya.
"Gimana mau sabar. Aku nggak punya cogan lagi, dong? Syedih," keluhnya lagi.
"Nanti aku donasikan salah satu calon gandengan yang udah aku eliminasi!" jawab Dhepe dengan suara tegas dan meyakinkan.
"Siapa?" tanya Tya terkesiap menghentikan tangis.
Anggen, Nafa, Almira seketika mendekatkan diri, menghentikan kegiatan masing-masing. Menyimak siapa nama pria bucin pecinta Dhepe yang ternyata sudah tereliminasi dengan cara yang absurd.
"Antara si Jejaka dan Duda, Elo pilih siapa?" bisik Almira penasaran.
"Hooh, siapa?" timpal Nafa semakin menempelkan pipinya ke arah Anggen.
"Ish! cepetan, kasih tahu. Keburu Nafa semakin khilaf menodai pipi gue," celetuk Anggen diberi sungutan Nafa.
__ADS_1
"Mending khilaf sama Teshar Indira atau dokter Ryu, deh, jelas Cogan dari pada ama Elu," cibir Nafa menggoyangkan wajah ayunya.
"Jadi, siapa?" desak Tya semakin memajukan wajah demi bisa mendengar dengan jelas nama yang akan dibeberkan oleh si janda somplak itu.
"Dia itu --"
"Awas, kalau sampai namaku tereliminasi! Azka jelas milih tinggalnya sama aku," potong Ihsan sudah ikut masuk ke lingkaran para wanita elegan duduk mengelilingi meja.
"Ciehhhh ... mendapat ancaman manis, niyeee ...." Serempak semua menyahut membuat Dhepe dan Ihsan seketika wajahnya menjadi merah padam.
"Uwuuuu ... Lamborghini, loh, seserahannya," timpal Nafa sambil mencolek lengan Ihsan. Pria itu seketika menjadi tersenyum malu.
"Nikahnya kalau cicilan mobilnya udah lunas!" tatar Dhepe berhasil membungkam manisnya senyuman Ihsan.
"Sayang, kok gitu," rayu Ihsan memandang Dhepe dengan lembut.
"Apa!" sahut Dhepe ketus.
"Jangan eliminasi namaku, ya? Azka udah mulai suka sama aku. Aku udah merayu anak itu mati-matian, lho," bisik pria memajukan tubuhnya.
"Jangan, Dhe. Lamborghini Lho," goda Anggen kembali mencolek lengan Dhepe.
"Apaan, sih," sahut Dhepe mau tak mau wajahnya merona malu diledek teman-temannya.
"Dhe, nanti aku anterin pulang sampai depan kamar, deh," rayu Ihsan lagi.
"Kagak mempan, situ yang untung!" sahut Dhepe masih berujar ketus manjah.
"Untungnya apa?" Ihsan mengernyit.
"Ya ... kan, jadinya kamu bisa ngintip warna sarung gulingku apa," sahut Dhepe menjadi salah tingkah.
"Ciehhh, nggak reques guling yang ada nyawanya, nih, merk ongbes gitu?" celetuk Anggen sukses dibungkam Dhepe dengan jemari tangan.
**Pengen lanjut ke part Somplak Berkumpul bagian ke 2 nggak? hehehehe
Persahabatan tidak diukur dari seberapa banyak kalian menerima, tetapi seberapa banyak kalian menjaga. Bukan seberapa kuat kalian bersaing, tetapi seberapa kuat kalian memberi dukungan.
Terima kasih untuk readers semua, kalian sahabat Syala yang hebat.
Semoga terhibur dengan extra part ringan kali ini, ya. Salam rindu dari Syala.
Mengandung iklan yaa.. terdapat clue tokoh
Ken (Tya Gunawan),
Dokter Ryu (Nafasal),
Kiandra (Linanda Anggen),
Teshar (Syala),
Si Jejaka atau duda (Tokoh Misterius Aldheka Dhepe)
Nantikan novel kami berlima 😍👍
__ADS_1