
Hingga sore hari sudah mulai menjelang, senja mulai hadir menyelimuti dari terang mulai menggelap.
Acara akhirnya berakhir juga dengan lancar. Rasa lelah seharian harus menerima beberapa tamu yang datang juga menjamu mereka semua, Almira menepuk pundaknya yang terasa pegal.
Sambil sesekali menguap lelah dia menaruh anting dan gelang dari tangannya ke dalam wadah dan memasukkan ke dalam laci, sesekali dirinya menoleh ke arah cermin yang memantulkan sosok Wisnu yang sudah tertidur di kasurnya. Masih memakai kemeja putih dan meletakkan jasnya di pinggiran kasur. Terlihat pria itu sama-sama lelah seperti dirinya.
Posisinya yang tidur tengkurap dan memeluk bantal dengan wajah menghadap ke arah samping mengisyaratkan hal yang Almira pahami, bahwa Wisnu seorang pria dengan pribadi yang tertutup, pendiam dan kesepian.
Aku masih tidak percaya bahwa kamu itu sekarang sudah menjadi suamiku. Benar-benar gila.
Almira masih betah menatap pria yang seolah sudah meruntuhkan hidup dan masa depan yang sudah dia rancang sedemikian rupa.
Dengan helaan napas berat Almira segera berdiri, berjalan pelan tanpa suara mendekati lemari bajunya. Mengeluarkan satu stel baju dari dalam, sambil menoleh lagi kearah Wisnu yang terlihat menggeliat membuat Almira membeku dengan menahan napas memandang pria yang juga membalas pandangannya.
“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Wisnu sembari bangkit dan duduk, sesekali pandangannya memutar melihat isi kamar Almira.
“Oh? Kenapa memang?” sahut Almira balik bertanya sambil mengusap wajahnya yang mungkin saja terlihat bodoh saat ketahuan bengong menatap Wisnu.
Segera meraih pakaian dari lemari juga handuk yang menggantung di sebelahnya, Almira berjalan melewati Wisnu yang masih duduk santai memandang dirinya berjalan.
“Kamu masih bisa bersabar 'kan?” tanya Wisnu dengan suara sangat santai, masih memandang langkah Almira menuju ke luar kamar karena hendak mandi.
“Sabar? Bersabar untuk apa?” tanya Almira sambil menoleh mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
“Aku baru saja menjalani syarat wajib bagi muallaf, kau tahu 'kan? Aku rasa kau harus sabar untuk mendapatkan hakmu sebagai seorang istri,” lontar Wisnu sangat santai.
“Apa?!”
Almira berubah gugup dan berdecak kesal. Bisa-bisanya Wisnu dengan santai membicarakan hal memalukan seperti itu. Kenapa sikap isengnya bisa muncul kapan saja, membuat Almira harus terkejut setiap saat dengan lontaran kata-katanya.
“Ya, siapa tahu 'kan?” ledek Wisnu sembari tertawa melihat wajah Almira berubah merah merona karena malu.
“Hih! Kau lupa dengan janjimu?” sungut Almira mendelik kesal.
“Kau juga jangan lupakan permintaanku,” balas Wisnu seraya berdiri diiringi tawanya.
“Jih, tidak mungkin,” balas Almira bersungut merasa di ledek.
“Siapa yang tahu?” lontar Wisnu lagi dengan tawa makin menjadi.
“Mimpi saja terus,” decih Almira sambil membuka pintu dan keluar dari dalam kamar.
Wisnu masih tertawa sendiri. Sambil melangkah meninggalkan ranjang dirinya mengintari kamar milik Almira, meraih kursi dan duduk di sana.
Memandang piala yang berjajar, beberapa piagam penghargaan juga foto-foto kelulusan saat Almira sekolah SMA, keceriaan yang terlukis disana. Beberapa foto yang sengaja ditempelkan di dinding sebagai penyemangat. Wisnu merasa yakin bahwa Almira sosok perempuan yang pintar saat sekolah sekaligus murid teladan.
Bangganya punya istri seperti dirimu.
Wisnu berpikir dan merasa kagum dengan sosok Almira, semakin merasa bahwa wanita itu memang diciptakan Allah untuknya. Tipikal gadis yang dia sukai.
Wisnu mengambil album dari deretan buku-buku di rak, membukanya dengan rasa penasaran yang timbul. Kenapa di jaman modern seperti sekarang, dia masih mencetak foto-foto banyak dan menaruh di Album, banyak sekali album berderet yang ditaruh di rak buku itu. Wisnu merasa itu lucu dan unik.
Koleksi foto abu-abu.
Wisnu membaca judul sampul album foto itu, melihat satu persatu foto-foto Almira bersama para sahabatnya. Mengamati dengan detil hasil foto yang Wisnu yakin bahwa bakat bidang fotografi nampak terasa saat mengambil foto itu.
Tempat yang tidak asing baginya. Gedung olah raga dimana tempat favoritnya untuk menghabiskan akhir pekannya.
Terlihat diantara foto-foto Almira terdapat juga foto dirinya, saat bersama Depe di sana.
“Kita pernah bertemu, sebelum malam itu?” gumam Wisnu kaget dengan foto-foto yang tidak sengaja diambil Almira.
__ADS_1
Wisnu semakin membuka album itu dan masih saja bisa melihat dirinya ikut tertangkap kamera yang mengisyaratkan bahwa mereka sebenarnya sudah bertemu dulu beberapa tahun yang lalu tanpa mereka sadari sebelumnya.
“Pasangan yang membuatku iri,” ucap Wisnu lirih membaca caption yang tertempel di atas sebuah foto-foto beberapa pasangan sedang ada di taman.
Dengan mata terkejut juga merasa gugup memandang saat fotonya bersama Depe saat itu kembali hadir di sana. Wisnu menggelengkan kepalanya merasa sangat lucu, merasa menjadi bagian dari pasangan yang diidolakan Almira dimasa muda.
"Apa kau berdo'a saat mengambil foto ini? Berharap kau menggantikan wanita ini dan jadi pasanganku?" guman Wisnu tertawa sendiri sambil mengusap foto dengan jemari tangannya.
“Kau melihat barangku tanpa ijin?”
Suara Almira yang sudah menutup pintu dan masuk kamar membuat Wisnu berjingkat kaget. Dengan cepat dia menoleh ke arah Almira yang tampak mengusap rambut basahnya dengan handuk dan berjalan mendekat.
“Aku tertarik dengan album fotomu yang berderet di rak,” jawab Wisnu dengan suara gugup masih menatap Almira yang kini sudah berdiri di sampingnya menyelidik apa yang Wisnu lihat dari koleksinya.
“Ogh, aku hobi koleksi foto dari kecil. Semua foto aku cetak sebagai bentuk diary kenangan yang bisa aku jadikan sebagai kenang-kenangan,” sahut Almira menatap foto-fotonya dalam pose ceria bersama kawan-kawannya.
“Lalu, kenapa saat prosesi ijab qobul kita tadi malah sepertinya kau terlihat tidak suka saat akan diabadikan dengan berfoto?” adu Wisnu dengan nada suara keberatan.
“Itu … karena ... aku pikir tidak penting untuk diingat,” sahut Almira dengan suara terbata, tapi jelas memanaskan telinga Wisnu.
“Baiklah, kalau kau pikir seperti itu. Momen sakral yang dengan mudah kamu anggap sebagai main-main begitu,” balas Wisnu dengan nada menahan kecewa.
“Apa kamu berharap kalau kita bisa bahagia? Apa kamu pikir aku bisa menerimamu yang jelas memaksaku menerima pernikahan ini dengan ucapan syukur dan terimakasih, begitu?” sungut Almira dengan mata menatap tajam ke arah Wisnu.
“Kenapa tidak kamu jawab saja soal pernikahan yang terpaksa? Kenapa tidak kamu jawab saja secara jujur tadi saat penghulu bertanya padamu?” lontar Wisnu dengan suara menahan emosinya.
Wisnu menutup album foto dengan suara keras dan memukulkan telapak tangannya ke atas buku album itu dengan perasaan menahan dirinya. Sengalan napasnya terlihat naik turun.
“Baru beberapa jam kita menikah, dan kamu sudah berhasil menguji kesabaran suamimu, Almira?” lontar Wisnu dengan suara menekan.
Wisnu berdiri, meraih album itu dan mengembalikannya ke dalam deretan buku di rak. Mendorong pundak Almira mundur dan melewatinya, berjalan menjauh dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran besar bila dia teruskan.
Kenapa ujianmu sangat berat ya Allah? Apa aku bisa melaluinya dan lulus? Apakah aku memang salah, dengan memaksanya menikah?
Wisnu berdiri di depan pintu kamar, memandang sejenak gagang pintu di tangannya dan melepaskan perlahan. Membalik badannya kemudian pergi dari sana, keluar rumah mencari udara segar membuang himpitan perasaan emosi yang menyesakkan dadanya.
“Nak, kamu sedang apa di luar?” tanya Bu Halimah menepuk pundak Wisnu yang menyendiri duduk di teras samping. Wisnu sampai berjingkat kaget karenanya.
Bu Halimah yang kebetulan sedang ke teras samping hendak mengambil jemuran melihat Wisnu termenung sendirian di sana. Ibu Halimah merasa penasaran dengan apa yang dipikirkan menantunya itu.
“Bu?” sapa Wisnu menoleh dan segera berdiri.
“Sedang apa?” tanya Halimah lembut memandang Wisnu dengan sorot mata menelisik sebuah kejujuran.
Wisnu segera tersenyum dan menyugar rambutnya, dengan gelengan kepalanya dirinya meyakinkan bahwa dia tidak sedang apa-apa.
“Saya hanya sedang menikmati suasana malam di desa, Bu. Benar-benar malam yang menenangkan.”
“Baiklah, cepat masuk ya. Kita makan malam, ibu memasak makanan yang katanya Ihsan itu favorit kamu,” seloroh Halimah mengalah dengan sikap menantunya itu dengan bijak.
“Saya segera masuk,” jawab Wisnu dengan anggukan kepalanya.
“Dan mandilah dulu, pakaian gantimu sudah disiapkan Almira kok. Beberapa hari lalu dia pesan banyak sekali baju untukmu,” ungkap Halimah mengagetkan Wisnu.
“Baik, Bu,” jawab Wisnu mengangguk.
Ibu Halimah segera masuk ke dalam rumah sambil membawa keranjang cucian sambil memberikan senyumannya ke arah Wisnu, yang diam-diam menjadi anak laki-laki yang disayanginya.
“Sebenarnya bagaimana dengan hatimu? Haruskan aku bertahan hingga perasaan memaafkan bisa tertambat dihatimu ataukah mulai mengabaikanmu saat hatiku merasa lelah berjuang?”
Wisnu mendesah lirih dalam batin dan pikiran penuh beban.
__ADS_1
“Mas, ibu dan bapak sudah memanggil untuk makan bersama.” Suara Almira terdengar ragu tapi malah nyaman di telinga.
“Hem,” jawab Wisnu menoleh dan mengangguk.
Dengan canggung Almira masih berdiri di tempatnya belum beranjak, begitupula dengan Wisnu yang masih malas.
“Air panas sama baju ganti juga sudah aku siapkan, mandi dulu nanti keburu dingin,” ujar Almira masih dengan suara ragu dan canggung, Wisnu bisa melihat sorot mata malu Almira saat mengucap kata itu.
“Baiklah,” sahut Wisnu tersenyum. “Apa ibu mengomelimu?” ledek Wisnu yang sudah menduga kalau Almira anak yang patuh pada orang tuanya.
“Iya, sedikit,” jawab Almira menyusul langkah Wisnu yang berjalan melewatinya.
“Senang sekali punya mertua baik hati,” oceh Wisnu mendadak suasana hatinya berubah membaik. "Bahagianya dibela mertua," tambahnya lagi.
“Katanya kamu mau mengajakku ke kota kalau kita sudah menikah?” serobot Almira berlari kecil agar jarak mereka berjalan tidak jauh.
“Tentu saja, kalau perlu aku akan memboyong orang tuamu juga ke rumahku,” jawab Wisnu sembari menampakkan kilatan mata menggoda Almira.
“Jangan! Kita berdua saja.”
Wisnu menoleh lagi saat Almira membulatkan kedua bola matanya dan menggeleng tanda penolakan.
“Kamu aneh, bukankah akan menyenangkan saat bisa tetap tinggal bersama orang tua?” oceh Wisnu diberi kepalan tangan Almira di punggungnya.
“Bukankah kamu tahu kalau kita … ah sudahlah, mandilah. Bajunya sudah aku taruh di dalam kamar mandi, semoga kamu suka bajunya,” cicit Almira berhenti di depan pintu kamar mandi.
“Kamu tidak mau masuk sekalian?” lontar Wisnu berdiri tepat di depan pintu yang masih terbuka.
“Ish, mulai lagi,” sungut Almira menggeleng dengan perasaan malu.
“Sudah sah juga,” goda Wisnu lagi sambil meraih handle pintu hendak menutup.
“Bodo,” sungut Almira lagi membalik badan saking malunya.
Terdengar Wisnu menertainya, Almira menggelengkan kepalanya membuang perasaan yang mendadak ngeri bercampur malu. Sebuah perasaan yang hanya dia sendiri yang mengerti.
Bela aku, rasakan bebanku. Cobalah posisikan dirimu menjadi aku.
Aku tahu tidak ada seorangpun yang akan membela dengan sifat dan paras tampan seperti dirinya.
Mendadak datang dan memaksaku menerima sebuah tanggung jawabnya.
Kau pikir ini mudah, kau pikir dengan ini akan selesai.
Bahkan rasa sesak saat aku mengingat dengan desiran napas mencekat tenggorokanku, masih saja ingatan itu melekat kuat dikepalaku.
Aku membencinya bagaimana baiknya dirinya, dan tolong jangan salahkan aku.
Setiap pencapaian dan runtutan masalah yang bisa teratasi, kenapa itu harus dia? (Almira)
Bersambung …
Masih mau lanjut dengan kisah Wisnu? Boleh deh up 1 bab lagi ya
Terimakasih untuk Like, komentar positif, kritikan membangun juga vote yang luar biasa dari kalian.
Maaf juga tidak bisa selalu rutin update ya. Aku usahakan dobel kok ^_^
Salam Cinta dan persahabatan dariku ~ Syala Yaya🌹🌹
__ADS_1