Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 17 Menggoda Pak Bos


__ADS_3

Sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah juru parkir Hotel miliknya Wisnu selempar senyuman ke arah pria itu, perubahan sikapnya menjadi lebih hangat malah membuat pria juru parkir itu cemas karena merasa Wisnu pasti punya maksud terselubung, memecatnya mungkin. Wisnu hanya bisa memandang dengan menahan tawanya.


Wisnu berjalan cepat ke arah lobby, disapa semua karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya, dia hanya melempar senyuman tipis.


Hingga langkah General Manager Hotel miliknya itu terlihat berjalan juga menuju lift yang sama dengannya. Wisnu hanya menatap sekilas bawahannya itu dengan santai.


“Selamat pagi, Pak Wisnu,” sapanya hormat dengan menunduk kepalanya.


“Pagi juga,” jawab Wisnu singkat dan membiarkan GMnya itu memencet tombol lift.


Johan, General Managernya itu tersenyum canggung dan lurus menatap ke depan.


“Apa keadaan Hotel saat ini baik-baik saja?” tanya Wisnu dengan nada datar dan tenang seperti dirinya biasanya. “Kasus di Bar bagaimana?” imbuhnya dengan nada dingin.


“Semua pengunjung yang terluka sudah mendapatkan uang kompensasi, yang melakukan onar sudah ditangkap polisi,” lapornya dengan nada hormat. “Anda tidak perlu khawatir, Pak Wisnu.”


“Lalu, apa ada kasus lain?” tanya Wisnu menoleh dengan tatapan lebih serius.


Terlihat wajah Johan, General Manager yang berdiri tepat disamping Wisnu segera memandang dengan wajah gelagapan.


“Tidak ada, Pak. Semua aman terkendali.”


“Bagus, kau bekerja dengan baik. Aku suka kinerjamu,” puji Wisnu tersenyum manis.


“Terimakasih, Pak,” jawabnya menunduk senang dengan ekspresi senyuman kaku.


Setelah pintu lift terbuka, Wisnu segera melangkah meninggalkan Johan yang masih mematung disana, memandang punggungnya.


Wisnu mengabaikannya, terus berjalan menyusuri koridor menuju kamar tempatnya dulu dimana melakukan hal yang menyeretnya pada tindakan kriminal. Malam sial itu.


Dengan langkah semakin melambat dan berhenti di depan pintu, sejenak dirinya mematung di sana. Tangannya menarik handle pintu perlahan dan membukanya


Dengan helaan napasnya yang berat dan tubuh sedikit gemetar dirinya segera masuk dan menutup pintu itu dengan perlahan, dia tidak lupa menguncinya.


Keadaan ruangan sudah bersih tanpa jejak apapun, pasti Ihsan membereskan kekacauan di kamar itu dengan segera malam itu.


Wisnu merasa aneh, kenapa tidak ada desas-desus yang terdengar mengenai apa yang terjadi dengan dirinya.


Dengan langkah pelan dia menghampiri kasur dan duduk disana, mengusap sprei berwarna putih polos itu dengan jemarinya. Dirinya menghela napas, mencoba mengurangi rasa sesak membayangkan kekasarannya.


“Aku tahu, tidak akan mudah untuk mengatasi rasa traumamu dan memaafkan aku, Ira. Tapi, bukankah akan sangat menyakitkan bila apa yang kita alami ini tidak terjadi? Seperti apa cerita hidup kita kedepannya?”


Wisnu berbicara sendiri, tersenyum sendiri dengan kenyataan yang baru saja dia peroleh dari Ihsan.


Sebuah kebenaran yang membuatnya ingin mengacungkan senjata dan melesakkan tepat ke dada, melempar sebuah pisau tajam dan mengoyak tubuh seseorang yang sepertinya bermain-main dengan hidupnya itu.

__ADS_1


“Astagfirullah ….”


Wisnu memejamkan matanya, mencoba menahan dirinya, mencoba mengucapkan apa yang sudah dia pelajari. Mengucap kata saat dirinya merasa sangat tertekan kalut dan ingin berbuat tidak baik, mengucap istighfar.


Dengan hembusan napas, mencoba menguasai dirinya Wisnu meremas sprei dan mengatur napasnya lagi.


Tunggu saja, hingga kebenaran itu aku ungkapkan tepat di depan matamu.


Segera Wisnu pergi dari sana menuju bagian kantor di Hotel itu. Berjalan dengan langkah tegas. Menatap para karyawan yang sedang bersliweran dan juga sibuk berkutat mengerjakan pekerjaan sesuai tugas dan jabatan masing-masing.


“Pak Wisnu, di Lobby ada seorang tamu sedang menunggu Anda,” ucap Ihsan mendekat.


“Siapa?” tanya Wisnu menoleh ke arah Ihsan yang baru saja keluar dari ruangan kantornya.


“Ehmm ... Delia,” bisik Ihsan mendekatkan tubuhnya.


Ihsan tidak mau sampai karyawan Wisnu mendengar rumor apapun mengenai Wisnu dengan putri dari Johan, General Manager Hotel itu.


Wisnu menipiskan bibirnya dengan decakan lirih. Dia segera meninggalkan Wisnu dan mengabaikannya, tidak menemui tamunya itu.


Ihsan mendesah lirih dan segera menyusul langkah Wisnu memasuki ruangan kantor, meletakkan map di atas meja. Dengan santai Wisnu menarik kursi dan membukanya dengan cepat.


“Sudah kau siapkan dimana butik tempat Ira akan melakukan fitting?” tanya Wisnu menoleh ke arah Ihsan yang sedang menyimak berkas juga dimeja kerjanya.


“Hem?” Ihsan terhenyak seketika memandang Wisnu. Dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia menggeleng sambil meringis, menampakkan deretan giginya yang rapi.


“Hahha … bukankah Anda butuh ditemani ke dokter?” ungkap Ihsan masih meringis geli.


Wisnu hanya bisa berdecak lirih dengan raut wajah memudarkan senyumannya. Dengan sikap serius lagi dirinya memperlajari laporan kinerja para bawahannya.


“Jam 4 sore, Pak,” ucap Ihsan dengan suara dibuat-buat agar didengar bos kaku itu.


“Paaak, jam 4 sore,” ucap Ihsan lagi dengan lirikan mata dan bibir mengatup menahan tawa.


“Ck! Iya, aku dengar,” sahut Wisnu kesal sekaligus malu.


Dengan lipatan bibir kuat menahan tawa Ihsan menunduk dalam, Wisnu yang menyadarinya segera melemparkan pulpen kearahnya.


“Bisa diam?!” gertak Wisnu memicingkan matanya ke arah Ihsan yang malah meledak tawa. "Atau kau mau menggantikanku?"


“Maaf, Pak. Saya hanya sedang memikirkan dokter Juna. Hahaha … bagaimana reaksinya saat menatap Anda.”


Ihsan semakin tertawa tidak bisa menahan geli dihatinya. Hingga harus berdehem beberapa kali agar dirinya bisa kembali tenang dan menahan diri agar tidak menatap Wisnu.


“Awas, kamu ya, menertawaiku lagi!” Wisnu masih memandang kesal tapi malah ekspresinya itu menambah gelitik dihati Ihsan. Pria itu sesekali masih saja terkekeh pelan di meja kerjanya.

__ADS_1


“Saya sudah mengirim kenalan saya ke rumah Almira, Pak. Semua koleksi terbaru akan dibawa ke rumahnya, jadi kita tidak perlu mendengar ucapan ketusnya untuk sementara waktu,” oceh Ihsan dengan tatapan mata berbinar dan merasa bangga dengan idenya. Ihsan sudah menguasi diri dan serius kembali bekerja.


Wisnu manggut-manggut merasa senang dengan ide brilian yang ditunjukkan Assitennya itu, dengan senyuman dan jempol mengacung ke arah Ihsan.


“Kira-kira bagaimana cara anda menghadapi sifat ketusnya itu ya, Pak, kalau anda sudah menikahinya nanti,” ungkap Ihsan menghembus napas.


“Kenapa kau berpikir sejauh itu?” tanya Wisnu kembali menatap mapnya.


Kembali Wisnu merasa Ihsan mirip emak-emak yang memikirkan anaknya saja. Dia sendiri malah belum memikirkan itu terlalu jauh.


“Oh iya, sampai lupa. Ini Pak, saya belikan sarung dengan kualitas bahan terhalus yang ada dipasaran,” ujarnya sambil meraih paper bag yang dia letakkan di bawah kolong meja kerjanya.


Sambil menggeser kursinya kebelakang dirinya berdiri dan menyerahkannya kepada Wisnu. Wisnu hanya melirik sekilas dan kembali menatap berkas ditangannya.


“Bukankah menunaikan Shalat tidak harus memakai sarung? Bahan terlalu halus juga akan membuatku kesulitan kalau memakainya,” ucap Wisnu dengan nada santai terdengar mengejek kekonyolan Ihsan.


“Siapa bilang itu untuk shalat,” sahut Ihsan menampakkan ucapan menekan penuh arti. Ihsan melengos dengan bibir mengerucut.


“Lalu, untuk apa?” desis Wisnu meraih paper bag itu dan membukanya, melirik isinya berbungkus kertas karton, mengeluarkannya.


“Itu untuk mengamankan pusaka Anda,” lontar Ihsan dengan suara sengit.


“Ihsan, apa kau cari mati? Kenapa warnanya harus menyala begini!” decak Wisnu menghentak meja dengan sorotan mata tajam ke arah Ihsan yang lagi-lagi berhasil meledeknya.


Dengan tangan membekap mulutnya sendiri Ihsan menahan tawa agar tidak terlepas.


~Cinta akan menerjang meluapkan rasanya, meledak saat panah asmara melanda. Pertemuan ini salah dan mari kita luruskan. Mari kita satukan kesalahan ini dan mencari alasan kenapa harus tercipta. Apakah kita akan tetap bersama ataukah bersikap tidak pernah ada?~ By. Syala Yaya.


Bersambung …


Terimakasih ya sudah mendukung Wisnu dan kisah cintanya.


Jangan lupa berikan Like, komentar juga vote seikhlasnya ya.


Gabung yuk ke GCku, aku tunggu. Ada event lhoo … kalian bisa ikutan dan dapatkan hadiahnya juga.


Rekomendasi novel karya sahabatku yang pastinya seruu 😊





__ADS_1


Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌹🌹


__ADS_2