
'Jodoh, kita nggak pernah tahu, tapi mempersiapkan segala kemungkinan itu perlu.'
--Syala Yaya--
Wisnu terlihat duduk di meja sebuah restoran seorang diri. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang dan kini ia belum bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Saat ini dirinya sudah selesai bertemu dengan sahabatnya Dirga --orang yang sempat membuat kekesalannya berada di puncak emosi karena menyangka pria itulah otak di belakang kejadian malam bersama Almira. Setelah sekian lama akhirnya mereka pun sepakat untuk bertemu dan melupakan segalanya.
Selepas Dirga pergi, Wisnu akhirnya memilih sejenak melupakan penat, memesan kembali teh peppermint untuk meredakan stresnya beberapa bulan belakangan ini. Ya, kehamilan istrinya yang kian mendekati hari kelahiran yaitu enam minggu lagi jujur saja membuatnya khawatir dengan persiapan. Juga mood Almira yang berubah setiap saat dengan kenyamanan terhadap dirinya yang nyaris menghilang.
Ia sejenak tersenyum sendiri. Mengingat perdebatan setiap hari yang menimbulkan kesalahpahaman. Ia menggeleng karena masih saja belum mampu mengerti kepolosan pikiran istri tercintanya itu.
“Pokoknya aku mau kita tetap sewa jasa ART dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Titik." Wisnu mengingat jelas ucapannya pagi tadi.
Ia sadar bahwa Almira lelah dengan aktivitas di rumah sementara perutnya sudah membesar. Besarnya kecemburuan juga menimbulkan permasalahan baru dengan kesibukan Wisnu di luar rumah dengan semakin berkembang baik bisnis perhotelan miliknya.
"Kenapa nggak sekalian aja toh, Mas? Yang lembur tinggal di sini?" oceh Almira cemberut seraya merapikan dasinya tadi pagi.
"Kamu nggak pernah nonton sinetron pasti ya?" goda Wisnu sembari mengusap kening istrinya dengan anakan rambut yang memburai.
"Males, aku suka drama sama film Jepang," jawab Almira tersenyum dan memandang Wisnu.
"Mulai hari ini banyakin nonton sinetron deh." Wisnu meraih pinggang Almira dan duduk di kasur, menariknya hingga jatuh ke pangkuan.
"Berat tauk," protes Almira sambil terkekeh, kedua tangannya dengan mesra berpegangan dengan melingkar di leher suaminya.
"Karena kamu bawa anakku," goda Wisnu membuat Almira nyengir.
"Kamu tahu, aku belajar banyak dari teman dan pengalaman hidup beberapa orang di sekitarku. Setiap waktu," ungkap Wisnu membuat Almira mengangguk, sorot matanya masih menyisakan tanda tanya.
"Banyak seorang suami, seorang ayah tega merusak kehormatannya hanya karena urusan sepele, dan aku nggak mau itu terjadi sama kita."
”Masalah apa sih?" Almira mengernyit bingung.
"Kasus perceraian sahabatku, juga ada yang kini menuju ke sana hanya karena sepele itu tadi, Dek Almira," jelas Wisnu lagu sambil menyatukan kedua hidung mereka hingga membuat Almira mengurai gelak tawa geli.
"ART tadi?" tanya Almira.
"Salah satunya, dan aku hanya menghindari kita jadi salah paham nantinya," jawabnya sukses membuat Almira terdiam.
"Nggak semua orang itu jahat, Mas Inu?" sanggah Almira.
"Dan kata khilaf akan jadi senjata Pamungkas, alasan klise. Aku hafal alasan sahabatku.“
”Begitu?"
"Begitu. Masih maksa ambil ART 24 jam?" tanya Wisnu memastikan.
Almira menggeleng dengan wajah menatap sungguh-sungguh suaminya. Ia mendadak merasa heran sekaligus terharu, kenapa ada seorang pria berkepribadian seperti dirinya. Menjaga diri seperti sebuah kaca yang mudah pecah.
"Aku sangat bahagia, Mas Inu. Aku sungguh-sungguh percaya Mas Inu," ucap Almira dengan senyuman, sorot matanya tersirat kesungguhan dan kejujuran.
__ADS_1
Sebuah kata sederhana yang yang terlontar dari Almira mampu menggetarkan hati seorang Wisnu. Bukan kata cinta melainkan kata yang seolah 'melegitimasi' semuanya. Kata bahagia yang sungguh ia harapkan di dalam hidupnya. Bahwa Almira bersyukur telah memilikinya, semua ketulusannya membuahkan hasil bahwa istrinya bahagia sudah menikah dengannya. Untuk pertama kali ia merasa bangga menjadi dirinya sendiri -merasa diinginkan, dicintai.
“Wisnu!" seru seorang wanita mengibaskan jemari tangan, sudah berdiri tepat di hadapannya.
Lamunan Wisnu seketika buyar, berganti pemandangan wanita cantik yang kini tengah menyilangkan kedua tangannya di dada, bersikap seolah jumawa dengan tawa kecil yang menghias hingga kedua sudut matanya menyipit.
”Apa aku sedang mimpi buruk?" lontar Wisnu memalingkan wajah. Wajah Almira menari di pelupuk mata kini menghilang sudah.
"Woi, Pak Wisnu Tama. Sombong amat," omelnya merasa kesal bercampur geli.
"Bagaimana kabarmu," balas Wisnu kemudian sembari menguntai senyuman tipis.
Mereka saling bersalaman kemudian tertawa bersama. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali wanita dari masa lalunya setelah hampir tiga tahun berlalu.
"Kabarku selalu awet muda," jawabnya sembari memberi isyarat meminta izin untuk ikut bergabung.
"Duduk, aku tidak sedang menunggu tamu," jawab Wisnu mempersilakan.
"Kamu menikah tanpa mengabariku?" omelnya memasang mimik wajah memprotes Wisnu yang kelewat melupakannya.
"Bukan begitu, terlalu cepat aku menikah dan kami hanya melangsungkan akad sederhana. Alan datang sebagai saksi."
"Gila! Siapa wanita beruntung yang sanggup membuat Wisnu bertekuk lutut dan menikahinya buru-buru?" celoteh Yashna belum sepenuhnya percaya, bahkan ia tahu betul Wisnu bukanlah pria yang semudah itu jatuh cinta.
"Namanya Almira Putri, enam minggu lagi, malaikat kecil kami akan lahir," ungkapnya terlihat sangat bahagia.
Yashna sekali lagi bisa melihat perubahan signifikan dari seorang Wisnu sebelum ia memutuskan untuk mundur teratur dan menerima lamaran Alan dan tinggal bersama Kartika. Diam-diam dia ikut tersenyum dan bersyukur pria itu menjalani kehidupan yang baik.
"Aku kira kamu belum memaafkan aku?" lontar Wisnu pelan. "Terima kasih ucapannya."
"Itu bukan salah kita, bukan?"
"Ya, kita harus belajar banyak dari masa lalu kita," ujar Wisnu.
Yashna mengangguk sembari menunduk. Sejenak mereka hening hingga seorang pramusaji datang menghampiri, --memberikan buku menu kepada Yashna.
"Aku sudah makan," ucap Wisnu memberikan kode.
"Aku datang bersama Alan. Aku menunggunya karena dia meeting di gedung samping resto ini," sahut Yashna mencibir.
"Oya? Kapan dia kembali, kurang ajar tidak memberi kabar," geram Wisnu. Keponakannya tidak memberitahu kedatangannya sama sekali.
"Dua minggu yang lalu. Dia sibuk sekali."
"Aku kira hubungan kalian tidak berjalan baik."
"Seperti Dhepe denganmu? No way. Aku lebih cerdas darinya dengan memilih Alan ketimbang kamu." Yashna mengejek telak.
"Sialan!" umpat Wisnu segera diberi kekehan Yashna sambil menatap pria di hadapannya itu memasang wajah masam.
__ADS_1
"Aku puas saat ternyata Dhepe mencampakkan kamu dan milih nikah sama saudara Tuan Krisna."
"Bukan mencampakkan, lebih tepatnya kami tidak berjodoh," ralat Wisnu percaya diri.
"Sial! Harga dirimu sudah jatuh masih saja sok ganteng?" Yashna menggeleng kepala mengejek pria yang dulu dikenalnya sebagai manusia miskin ekspresi.
"Jodohku Almira," ucap Wisnu seraya menyesap tehnya.
"Ck! Kalau Wisnu sudah jatuh cinta ternyata bisa juga, ya, semanis ini?" ledek Yashna tidak bisa berhenti untuk menggoda pria yang dulu pernah mengisi hatinya dengan debaran yang menyiksa karena menyukainya.
"Aku romantis, kok," sahutnya menahan senyum.
"Ah, diam! Besok aku akan mampir ke rumahmu bersama Alan. Akan aku obrak-abrik hati istrimu biar cemburu," ancam Yashna membuat Wisnu melemparkan tawa.
"Dia bahagia menikah denganku. Aku harap kamu juga bahagia dengan Alan. Aku dengar kalian kembali ke negara ini untuk persiapan pernikahan kalian?" Wisnu kembali serius dan diikuti Yashna.
"Hem, aku merasa beruntung mendapatkan limpahan cinta dan kasih sayang darinya, walau tahu lah, usia dia lebih muda dariku," ungkap Yashna menampilkan senyum.
"Aku berdoa untuk hubungan kalian." Wisnu mengucapkannya dengan tulus.
"Terima kasih. Lalu, bagaimana dengan kabar Dhepe?" tanya Yashna canggung.
Ia mendengar kabar dari Isna bahwa suami Dhepe meninggal karena serangan jantung.
"Mungkin saja sebentar lagi kabar baik akan kita dengar, semoga saat pernikahanmu berlangsung dia akan datang dengan pasangan barunya." Wisnu tersenyum simpul.
"No way? Really? My God ... laris benar?" ucapnya dengan tawa pecah.
"Aku dengar kamu juga laris di Sidney?" ledek Wisnu.
"Pasti Alan cerita macam-macam? You know lah, terbalik. Alan masih muda dan aku harus mengikuti gayanya dengan sejuta teman dan wanita yang hilir mudik menggodanya. Sungguh melelahkan," urai Yashna panjang lebar.
Wisnu tertawa menanggapi. “Jadi, kamu main drama agar dilamar keponakanku? Astaga!" desis Wisnu membuang muka demi bisa tidak meledakkan tawanya lagi.
"Beberapa iya, beberapa asli," jawab Yashna juga menunduk demi bisa menahan geli sendiri dengan kisah percintaannya.
Percakapan asyik mereka berdua baru berhenti saat Alan datang dan menyapa mereka berdua dengan senyuman tampan. Wisnu melirik ke arah Yashna dan memberikan jempolnya. Ia merasa selera Yashna luar biasa, keponakannya sangat tampan dan dewasa di usianya kini menginjak 22 tahun.
"Apa 22 dan 27 adalah usia yang keramat?" lontar Wisnu membuat Yashna dan Alan mengerutkan keningnya.
Ya persis, ia dan Almira menikah saat usia mereka segitu.
**Untuk tahu lebih jelas hubungan masa lalu Wisnu, Yashna, Alan dan Dhepe silakan baca novel pertama saya, judul -- Istri Kedua Tuan Krisna--
__ADS_1
Terima kasih Inu&IraLovers❤️❤️
Salam manis dari --Syala Yaya--