Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 22 Kita Sah!


__ADS_3

Selamat membaca


Tidak pernah terbesit dalam pikiran Wisnu, masa muda yang kelam, masa muda dengan cinta yang terpendam dalam. Kini dengan dibantu orang-orang baik disekelilingnya, Wisnu sudah memantapkan hati, yaitu menikah.


Wisnu turun dari mobil disambut semua keluarga maupun tetangga rumah Pak Ramlan dan Ibu Halimah, mereka membantu menyiapkan pesta sederhana dan tanpa undangan itu.


Memandang hiruk pikuk kesibukan di rumah Almira ketika rombongannya datang, prosesi sederhana, tapi entah mengapa dirinya justru sangat menyukainya. Ketenangan, hidmat dan sakral baginya.


Duduk di kursi yang sudah disediakan, menghadap ke arah meja dihadapan penghulu ditemani sang keponakan di sisi kiri dan Ihsan di sisi kanannya. Hanya mereka berdua yang menemaninya.


Sesuai keinginan Almira.


Pikirannya kembali tenggelam, dengan pilihan jalan hidup baru bukan menikah di altar seperti angannya yang dulu, kini dirinya akan melakukan prosesi ijab qobul bersama Almira.


Dengan perasaan sukar dilukiskan dengan kata-kata, antara cemas, jantung berdebar dan telapak tangan beberapa kali harus diusap karena basah oleh keringatnya.


Wisnu menghela napasnya, mengurangi ketegangan dan rasa gugup yang terasa mulai melandanya.


Prosesi akad sederhana bagaimanapun tetap saja ramai bagi Wisnu, karena saudara maupun tetangga Almira banyak yang datang menyaksikan, sedangkan rombongannya sendiri malah cuma tiga orang termasuk dirinya sendiri.


“Apa Nak Wisnu merasa gugup?” tanya Pak Penghulu yang sudah datang sambil duduk sembari membenarkan kacamata yang bertengger di hidungnya dengan menyunggingkan senyumannya.


“Eumh? Iya,” jawab Wisnu mengangguk seraya membalas senyuman.


“Paman luar biasa, demi wanita itu sampai merubah keyakinan,” bisik Alan sambil mendekatkan kepalanya di pundak Wisnu.


“Kamu salah, aku melakukannya bukan karena mau menikah. Tapi, momennya saja yang ternyata membuatku menjadi semakin memantapkan hati,” sanggah Wisnu menghilangkan pikiran tidak benar keponakannya.


“Apa ... gara-gara Depe ya? Wanita muslim yang menikah dengan kakak tiri Krisna yang bernama Imran itu?” tanya Alan merasa penasaran.


“Salah satunya,” jawab Wisnu singkat tidak mau memperpanjang masalah masalalunya lagi.


Kini saatnya dirinya menebus dosa yang sangat dia sesali, dan harapannya semoga dia tidak menambah daftar dosa baru dengan menerima beberapa syarat dari Almira setelah mereka menikah nanti.


Suara ramai dari arah belakang membuat Wisnu menoleh, diikuti Alan dan Ihsan di samping kanan kirinya.


Tampak Almira berjalan dari dalam rumah tengah menuju ke ruangan rumah depan yang sudah dihias sedemikian rupa dimana prosesi pernikahan dan ijab qobul akan segera dilaksanankan.


Tampak dirinya cantik, anggun saat berjalan. Wisnu sedikit tidak mengenalinya dengan tatanan make up khas adat setempat, sangat natural. Wisnu tanpa sadar memandangnya dan berdecak kagum dengan gadis yang terpaksa menerima lamarannya karena malam sial itu.


Semua orang yang hadir segera ikut mendekat, dan memilih tempat duduk masing-masing. Beberapa mengikuti langkah pelan Almira yang ditemani adik dan temannya sebagai pendamping pengantin.


Sambil memandang Wisnu yang sudah duduk terlebih dulu disana, Almira menampilkan wajah senyum dengan mengingat semua apa yang diucapkan Wisnu untuknya.


Jangan mempermalukanku, karena aku disini untuk menjaga kehormatanmu dan keluargamu.


Almira mengangguk sejenak, menyapa Wisnu dan juga Alan beserta Ihsan.


Tiga hari yang dihabiskan Almira dipingit di rumah nyatanya malah membuatnya bisa memikirkan dengan tenang kehidupannya. Apa yang akan dia lakukan selepas statusnya berubah dari single menjadi menikah.


“Silahkan duduk, Nak Almira.”


Suara Penghulu menyadarkan Almira yang sejak tadi berdiri memantung menatap Wisnu yang terlihat tampan juga gagah memakai stelan jas, memakai kemeja putih semakin menambah nilai ketampanannya.


Sejenak Almira merasa salah tingkah sendiri, kenapa aura pria itu sangat berbeda sekali pagi ini. Perasaannya mendadak jadi gugup saat kedua mata mereka saling beradu.


Sehingga gelak tawa menggoda dari para saksi dan juga saudara juga tetangga yang datang untuk meramaikan acara sakral bagi laki-laki dan perempuan itu membuatnya semakin tersipu malu.


“Nanti kalau sudah sah, mau pandang-pandangan sehari semalam sudah boleh 'kok,” seloroh sang penghulu segera disambut gelak tawa lagi semua orang.


Tidak terkecuali Ihsan yang sejak tadi memang menahan tawanya. Wisnu segera memperbaiki posisi duduknya agar lebih relax walau jauh dilubuk hatinya ikut tertawa juga.

__ADS_1


Selama tiga hari dirinya latihan mengucapkan bacaan ijab qobul, nyatanya saat langsung berhadapan dengan Almira, Pak Ramlan dan Pak Penghulu apa yang sudah dia hafalkan terasa ambyar juga dari kepalanya.


Wisnu terlihat mengusap dahi serta wajahnya untuk membuang gugupnya dengan menunduk mengumpulkan ketenangan.


“Kita mulai ya acaranya?” ucap Pak Penghulu mulai membuka buku dan berkas-berkas di meja.


“Silahkan, Pak,” jawab Pak Ramlan berada di samping putrinya yang kini sudah duduk.


“Para saksi sudah siap?” tanya Penghulu itu menoleh ke arah Ihsan sebagai saksi dari Wisnu dan Pak Rt sebagai saksi dari Almira.


“Siap, Pak,” jawab mereka berdua berbarengan.


“Kedua mempelai? Masih sabar kan?” goda Pak Penghulu mengusir suasana canggung dan tegang diantara mempelai.


Wisnu hanya memandang dengan seulas senyuman, memandang sekilas Almira yang juga menatapnya tapi segera menunduk menghindari beradu pandang.


“Mari kita berdoa dulu sebelum prosesi akad nikah ini dilaksanakan,” ucap pak Penghulu memandang semua orang yang hadir.


Semua yang hadir nampak terdiam saat pak Penghulu memimpin do'a. Suasana menjadi lebih hening.


Setelah pengucapan do'a selesai, dengan serius Penghulu itu membuka berkas-berkasnya kembali.


“Memperlai Pria atas nama Wisnu Tama? Mempelai perempuan bernama Almira Putri?” tanya Penghulu mencocokkan data.


Terlihat Wisnu dan Almira mengangguk bersamaan. Pak Penghulu ikut mengangguk.


“Saksi atas nama Pak Ihsan Paundra dan Pak Wijaya?”


Ihsan dan Pak Rt juga serempak menjawab disertai anggukan kepala. Pak Penghulu ikut mengangguk lagi merasa yakin berkas dan syarat sah sudah lengkap.


“Jadi saya tanya sekali lagi untuk kedua mempelai saudara Wisnu Tama dan Almira Putri, anda secara sadar dan tidak dalam unsur paksaan saat melakukan pernikahan ini?” tanya Penghulu lagi memandang Wisnu dan Almira bergantian.


Wisnu terdiam tidak menjawab, sebagai orang yang baik dan baru saja memasuki agama Islam yang masih dangkal ilmunya, merasa kagum dengan pertanyaan ini. Pertanyaan yang membuatnya sejenak malu tidak mampu menjawab.


“Tidak ada unsur paksaan, Pak,” jawab Almira dengan suara tenang sambil memandang Wisnu yang segera menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.


“Baiklah, kita lanjutkan acaranya. Pak Ramlan, Apa anda sudah siap menikahkan anak Anda? Akan saya bimbing,” ucap Penghulu kemudian menoleh ke arah Pak Ramlan yang segera mengangguk tegas.


Pak Penghulu meraih tangan pak Ramlan dan Wisnu dan memberi isyarat untuk berjabat tangan di atas meja disaksikan oleh seluruh yang hadir disana dengan perasaan tegang bercampur haru.


“Saudara atau Ananda Wisnu Tama Bin Arya Tama. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Almira Putri Binti Ramlan dengan maskawinnya berupa Emas seberat 100 gram beserta uang senilai 25 juta dibayar, tunai.”


“Saudara Wisnu Tama?” panggil penghulu itu menoleh ke arah Wisnu.


“Saya terima nikah dan kawinnya Almira Putri Binti Ramlan dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai.”


“Bagaimana, saksi? Apakah Anda menyatakan sah?” tanya Penghulu menatap kedua para saksi.


“Sah, Pak,” jawab Ihsan mengangguk yakin.


“Saya menyatakan sah,” jawab Pak Rt dengan tegas.


“Bagi yang hadir disini, pernikahannya sah ya?” ucap Pak Penghulu dengan suara lantang.


“Sah … sah … sah,” jawab semua yang hadir secara serempak dengan wajah lega penuh suka cita dan penuh haru.


Kemudian Penghulu memimpin do'a kembali.


Entah mengapa batin Wisnu menjadi melo, perasaan haru menggelayutinya. Menatap suka cita, wajah bahagia semua orang yang hadir di sana seolah membuatnya tersihir, memandang Almira yang menatapnya canggung dan bingung mau tak mau membuat Wisnu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Apakah aku bisa menghancurkan syarat tidak terlihat darimu? Entah mengapa aku bisa merasakan desiran halus berupa perasan syukur ketika kata sah mengalir untuk pernikahan kita.

__ADS_1


Wisnu termangu menatap Almira yang berusaha melengos saat menyadari betapa dalamnya pandangan pria yang saat ini sudah sah menjadi suaminya itu saat menatap dirinya. Almira merasa jantungnya berdetak lebih cepat.


“Silahkan tanda tangan dulu, Pak Wisnu dan Almira,” ucap Penghulu menyodorkan berkas.


“Baik, Pak,” jawab Wisnu meraih pulpen dan kertas.


Segera membubuhkan tanda tangannya di beberapa berkas pernikahan diikuti Almira secara bergantian.


“Ingat tadi apa saja hak dan kewajiban suami istri 'kan?” tanya Pak Penghulu disela-sela acara tanda tangan.


“Ingat, Pak,” jawab Wisnu yang memang tadi membaca 4 kewajiban suami dan istri saat setelah prosesi akad nikah berlangsung.


“Almira ingat, kalau suami dan istri tidak saling memberi hak dan kewajibannya, tandanya apa?” tanya Penghulu membuat Almira mengangguk mengerti.


“Saksi dimohon tanda tangan, dan berkas dinyatakan sah. Kalian berdua mulai hari ini dinyatakan sah sebagai suami istri dihadapan Allah SWT dan juga dimata hukum dan dilindungi negara.”


Wisnu dan Almira mengangguk bersamaan.


“Boleh diperlihatkan buku nikahnya?” Penghulu menyerahkan kepada Wisnu dan Almira dua buku kecil dan meminta mereka berdua berdiri berjajar agar semua orang bisa melihat sekaligus mengabadikan momen itu dengan menfoto.


Keduanya nampak menyunggingkan senyuman yang membuat beberapa wanita kagum sekaligus iri dengan nasib Almira. Dipersunting pria dari kota yang terlihat sangat tampan dan baik pula.


“Silahkan, kalian saling memakaikan cincin pernikahan juga bila dirasa perlu,” ucap Penghulu mengingat jaman sekarang ada yang mulai menggunakan acara semat cincin setelah sah ijab qobul selesai dilaksanakan.


Wisnu menerima cincin yang diulurkan Alan untuknya, meraih tangan Almira dan memakaikan di jemari manisnya, begitu pula Almira melakukannya di jemari manis Wisnu.


Diiringi tepukan tangan, Wisnu menunduk tanda terimakasih dan berdiri disamping Almira sambil masih membalas senyuman.


Beberapa diantaranya yang mengambil foto ada yang iseng, cuma memfoto Wisnu saja tanpa Almira. Momen langka ada pria setampan itu ada didesa mereka.


Acara berjalan lancar, dilanjutkan dengan acara makan-makan, juga kumpul bersenda gurau. Alan dan Ihsan segera bergabung dengan pemuda kampung, saling membaur dan meninggalkan Wisnu dan Almira yang masih sibuk menyalami tamu dan saudara yang datang.


**


Andaikan dan andaikan saja apa yang kita alami bukan bagian dari cerita yang miris, hingga tidak ada tangis terlukis. Mungkin saja kita saat ini akan saling melempar senyuman manis, saling menguntai kata puitis hingga tidak ada syarat aturan hidup yang akan tertulis.


***


Tolong katakan ini nyata, katakan ini seperti yang terlihat apa adanya.


Saat ucapan selamat mengalir, saat wajah suka cita ikut hadir.


Saat do'a dan harapan terukir dari bibir.


Masihkah kamu berpikir bahwa ini bukanlah bagian dari takdir?


Bolehkah aku berharap tidak akan pernah ada ucapan dari kita untuk berakhir? (Wisnu-Almira).



Bersambung …


Terimakasih masih mendukung kisah Wisnu.


Terimakasih dengan bentuk dukungannya dengan membaca setiap bab serta memberikan like, komentar positif, kritik membangun juga vote yang luar biasa dari kalian.


Aku undang kalian semua masuk GCku ya, gabung disana kita saling menyapa. Ada adminku yang ramah, bar-bar tapi asyik.


Kak Dewi-Disa❤👍


Masih mau lanjut baca? Aku up 3 bab ya hari ini, semoga suka dan menghibur.

__ADS_1


Salam cinta dan persahabatan dariku ~ Syala Yaya🌷🌷


__ADS_2