Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 106. Menyamakan Cara Pandang


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Alan duduk memangku Sekar saat berjemur di halaman rumah bersama Almira. Wisnu masih tidur karena kelelahan perjalanan pulang pergi Solo-Pacitan selama sepekan. Biasanya semua anggota keluarga akan membiarkan Wisnu menikmati masa liburan sesukanya ketika pulang. Tidak akan membebani pria itu dengan membiarkannya tidur lagi setelah shalat subuh.


Pagi ini Yashna sedang membantu Halimah memasak di dapur. Kesempatan ini digunakan Alan untuk meminta petuah nan bijak dari bibinya yang cantik jelita. Sebenarnya ia cukup malu, tetapi rasa penasaran yang besar terhadap kisah pertemuan singkat yang membawa keputusan penting seorang Wisnu terhadap pernikahan membuat Alan menekan kuat rasa itu.


“Bibi sama paman nggak pernah bertengkar?”


Almira yang sedang mengusap lembut pipi Sekar yang menggeliat di pangkuan Alan menoleh dengan kening berkerut. Almira terkekeh geli saat menyadari Alan menatap malu ke arahnya.


“Aku sama Ersa saja sering bertengkar, padahal satu bapak dan ibu, apalagi sama Mas Inu. Uhh, kami adu argumentasi tiap ketemu malah,” jawab Almira tertawa. “Tapi nggak bertengkar yang bikin pisah loh ... tapi bertengkar yang saling menggoda.”


“Apaan tuh! Sama kayak jawaban paman. Kalian kompak bener," gerutu Alan merasa iri.


”Kamu kenapa?“


”Nggak, sih. Hanya sedang berpikir lebih maju. Kami berdua sepertinya terhalang sebuah sudut pandang, Bi,“ ungkap Alan menatap Almira dengan senyuman kecut.


Almira pun mengangguk mengerti kegundahan hati Alan dan Yashna. Keduanya hanya salah menyatukan makna dalam mencintai yang sebenarnya. Merasa kurang dan tidak menerima apa adanya kekurangan dari masing-masing pihak. Merasa tindakan sudah benar dan berkorban paling banyak.


”Bukankah kak Yashna sudah selangkah lebih maju dalam memahamimu, ya?“


Alan mengangkat wajahnya, menatap Almira seakan tidak percaya dengan apa yang dipikirkan bibinya. Terdengar begitu enteng, Yashna memahaminya, padahal yang terjadi malah perempuan itu sedang membalas dendam padanya.


”Lucu!“ decak pria itu menggeleng samar. Ia tidak setuju terhadap penilaian bibinya mengenai Yashna.


Almira menelengkan kepalanya ke arah Alan sembari terkekeh pelan. Sungguh rasanya senang bisa memutar kalimat hingga sukses membuat Alan bereaksi demikian. Dugaannya ternyata benar, sudut pandang mereka berbeda dalam memaknai sebuah tindakan.


”Bagian mana yang lucu?“ tantang Almira. ”Aku rasa justru cara berpikirmu itu yang lucu.“


Decakan terdengar keluar dari mulut Alan, tetapi tidak membatah ucapan Almira sama sekali. Pria itu pun menarik napas dalam, mengalihkan pandangan ke arah bayi cantik itu seraya mengangkat tubuh gembul Sekar sambil bangkit dari tempatnya. Tatapan mata itu jelas menyiratkan sebuah kelembutan, Almira yakin, Alan akan menjadi sosok ayah yang luar biasa nantinya. Sama-sama belajar merawat luka dari masa lalu. Almira merasa Wisnu dan Alan sosok yang memiliki kemiripan.


”Yashna sudah berubah.“ Alan berjalan menjauh.


Panas mentari pagi sudah terasa menyengat kulit, pria itu segera membawa Sekar ke arah teras untuk berteduh. Almira pun kembali tersenyum penuh arti.


”Iya, dia berubah demi kamu.“ Almira menyusul Alan dengan langkah pelan.


Menatap pria tampan yang terus bersikukuh tidak ingin melepaskan wanita yang namanya sudah tertanam di dalam hati. Almira mengingat lagi sosok suaminya yang berlaku demikian. Memegang teguh jalinan pernikahan meski di dalam hatinya dulu penuh dengan kemarahan dan rasa jijik yang mendalam. Sebuah ketulusan yang mampu meluluhkan hatinya.


”Bibi!“ Alan memberi tatapan kesal bukan main.


”Kamu marah, kak Yashna ikut kegiatan yang sama persis dengan apa yang pernah kamu lakukan?“ tanya Almira dengan suara sangat lembut, mencoba untuk menarik pikiran Alan agar lebih terbuka.


”Ya. Dia membalas dan mengibarkan bendera perang seolah berkata bahwa 'bukan cuma kamu saja yang bisa, aku juga bisa' seperti itu.“ Alan pun mengatakan apa yang dipikirannya mengenai tindakan Yashna selam break dengan wajah bersungut.


Tanpa disangka, Almira memberi tanggapan dengan terkekeh geli. Menepuk pundak Alan beberapa kali karena saking gemasnya.

__ADS_1


”Ah! Bibi!“


”Habisnya, kamu lucu.“ Almira masih terkekeh meski pria itu sudah kesal bukan main.


”Kamu tahu nggak, kenapa Yashna melakukan apa yang dulu pernah kamu lakukan?“


”Jelas! Karena balas dendam!“ geram Alan mengembus napas.


”Kamu salah. Bukan seperti itu yang dia pikirkan, Alan.“


”Lalu?“


”Dia ingin tahu dunia kamu yang sebenarnya. Aktivitas yang tidak dipahaminya. Ia ingin membuktikan bahwa kamu benar dan dia yang salah menilai selama ini. Dia ingin mematahkan anggapan bahwa kegiatan kamu hanya bermain tidak guna. Yashna sedang mencoba memosisikannya dirinya jadi kamu, mengenalmu lebih dalam dengan caranya karena kamu tidak pernah melibatkan dirinya dalam lingkup persahabatanmu. Paham?“


Alan tercengang mendengar penuturan Almira. Perempuan cantik itu segera meraih Sekar dalam gendongan kemudian memandang Alan dengan memberi anggukan kepala untuk memberi dukungan.


”Berjuanglah, tapi jangan menggebu. Yang perlu kamu lakukan hanya satu ....“


”Apa?“


”Meyakinkan.“


Suara hati Alan menyerukan perintah untuk segera menyingkir dari sana. Menemui Yashna dan meminta konfirmasi yang jelas. Ia kini sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya. Baru saja ia hendak beranjak menuju ke arah dapur, langkahnya berhenti saat berpapasan di ruang tengah rumah dengan Yashna.


”Mau ke mana?“ tanya Alan menghalangi jalan perempuan itu.


”Ke rumah depan,“ jawab Yashna dengan suara datar.


Yashna mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan pria lima tahun lebih muda darinya itu begitu saja. Alan mematung, menatap punggung wanita yang selalu terlihat indah sejak pertama kali bertemu itu sambil tersenyum.


“Ok, saatnya meyakinkan.”


Alan pun berlari kecil menuju tempat Yashna dan Almira berada. Tawa kecil tercipta kala sedang memainkan pipi Sekar yang gembul, sedang memainkan air liur dan bergerak lincah di dalam pangkuan Yashna.


“Nanti kita balik jam berapa?” tanya Alan duduk di samping Yashna, seakan merangkul karena kini tangannya ikut menyentuh dan merapikan rambut sang bayi.


“Setelah dari rumah Setyo, udah janji mau ke sana,” jawab Yashna datar.


“Boleh menemani?” Alan memandang sisi wajah Yashna. Tampak cantik dan tenang, ia kemudian menunduk, karena dalam hatinya diliputi bunga-bunga indah saat mendengarkan penuturan Almira mengenai Yashna. Wanita itu sedang mencari celah untuk memasuki dunianya.


“Boleh, ikut aja,” sahut Yashna tanpa menoleh.


“Ok.” Alan menganggukkan kepala, mengulum senyuman. Tatapannya kini mengarah kepada bibinya yang mengerlingkan sebelah matanya, seraya memberikan jempol sekilas.


“Shit! Berjuang dengan gaya elegan, Al. Jangan menggebu,” batin pria itu ingin tertawa.


“Kamu nggak akan buat keributan di rumah Setyo, 'kan?” goda Almira melipat bibirnya untuk menahan gelak tawa karena Alan langsung mendelik.

__ADS_1


“Nggak usah ikut aja kalau iya,” sahut Yashna menolehkan kepalanya ke arah Alan yang kini langsung memasang wajah penuh senyuman.


Dadanya berdesir, jiwanya berteriak. Wajah cantik yang selalu membuatnya jatuh cinta kini tengah memandangnya dengan tatapan yang sangat lembut dengan jarak dekat. Alan menelan ludahnya sembari menjauhkan tubuhnya kemudian menundukkan pandangan.


“Janji, aku akan kalem,” ucapnya kemudian.


“Berandalan mana bisa kalem,” celetuk Almira segera disambut kekehan Yashna.


“Iya, berandalan dia." Yashna tertawa. "Kamu tahu awal jumpa sama dia bagaimana?” ungkap Yashna membuat Alan menunduk sambil menggeleng. “Tanya Wisnu sama Isna, kamu pasti tertawa.”


“Oya?” Almira terkekeh geli.


“Aku pura-pura dilecehkan sama dia, buat ambil dompetnya,” kenang Yashna sambil tertawa terpingkal-pingkal.


“Wah! Seru, tuh.”


“Karena gayanya tengil dan menyebalkan!” Yashna semakin tertawa bersama Almira.


“Wah! Jadi kepo sama gaya Alan jaman dulu.” Almira menyahut, menatap Alan yang menggeleng malu.


“Jadi ... Ck! Bener 'kan? Aku nggak nyentuh kamu sama sekali. Dasar!” Alan terkesiap sekaligus jengkel hingga meraih pundak Yashna dan mengguncang tubuh wanita itu dengan gigi gemerutuk.


“Aduh, Sekar nanti jatuh!” elak Yashna masih tertawa. Ia menyentuh lengan kokoh itu untuk berpegangan.


“Benar-benar!” Alan mendesis, tetapi bila mengingat saat itu, mendadak ia pun ingin tertawa.


“Kata Isna, berandal ini nembak kamu di kantin kampus, ya?” ledek Almira tertawa lepas.


“Tanya aja. Tuh, berandalnya ada di sini,” sahut Yashna menunduk, menjaga Sekar yang terlihat ikut tertawa sendiri khas celotehan bayi dalam pangkuannya.


“Ishh!” Alan hanya bisa melengos malu.


Kedua wanita itu masih tertawa dengan saling sahut membicarakan gaya Alan selama ini. Lama-lama Alan pun ikut tersenyum juga.


“Ah, separah itukah?” batinnya mulai menertawai diri sendiri.


****


'Pelan, tapi mematikan. Jurus cinta tarik ulur yang biasa kulakukan. Namun, kini aku akan memasrahkan pada bahasa tubuh. Menyentuh bukan lagi pada ragamu untuk meyakinkan bahwa aku mencintaimu. Kini, aku akan menunjukkan semuanya dari bahasa cinta yang lebih indah, mengalir, dan dinamis hingga tanpaku hidupmu akan terasa hampa.'


(Kalandra Tama)


Salam big luv dari Syala untuk semuanya.


Jaga kesehatan ya. Jangan lupa untuk selalu melakukan yang terbaik, bersyukur, dan bahagia dalam keadaan apa pun. Karena jalannya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Numpang promo, ya gaess! hehehe piss ✌️✌️ othornya polos. 🙃🙃



__ADS_2