
🌻🌻🌻🌻
Wisnu mengecup kening Almira, memeluk hangat istrinya yang kini masih malas-malasan di sofa, keduanya tertawa saling menggoda. Setelah selesai sesi memadu cinta akhirnya Wisnu melepas istrinya untuk segera mengenakan kembali pakaiannya.
"Aku baru ingat ada mertua," bisik Wisnu di telinga Almira. Istrinya itu segera menyikut dengan gemas.
Dengan mengunci pintu sudah pasti Almira paham apa yang ditakutkan semua pasangan yang hendak mesra-mesraan. Sungguh konyol, ucapan menggoda dari suaminya itu membuatnya gemas sendiri.
"Mas Inu masih punya hutang," lontar Almira mengingatkan. Wajahnya mendongak ke arah Wisnu.
"Hutang apa? Cicilan rumah sudah lunas," jawab Wisnu menampilkan lengkungan bibir membanggakan diri.
"Cuami idaman," balas Almira dengan bibir gemerutuk gemas.
Tidak lupa wanita yang kini menyandang sebagai nyonya Tama itu mencubit ke dua pipi suaminya hingga wajahnya tertarik melebar lucu.
"Istri nyidaman," adu Wisnu juga meraih kedua pipi Almira dan membalas cubitan tidak kalah gemerutuk.
Almira menggelengkan kepala berusaha melepaskan dirinya, kata-kata nyidaman membuat bibirnya mengerucut protes. Tentu saja arti beda, itu yang kini menjadi bahan perdebatan lainnya kalau saja Wisnu tidak segera melengkungkan bibirnya, bibirnya terkatub menahan senyuman jahil yang sukses membuat Almira mengembus napas.
"Cepat ceritakan pas Mas Inu nyampe di kedai nasi goreng itu," perintah Almira bersedekap tangan. Wajahnya yang cemberut semakin membuat Wisnu tergelak.
"Aku tidak menyangka wanita yang membuatku mundur teratur itu menjadi milikku juga," ocehnya membuat teka-teki.
"Ada apaan sih?" Almira menjadi semakin penasaran dengan pertemuan itu.
Jujur saja, sejak dirinya mengenal pria bernama Bagus, dunianya berhenti. Ia tidak lagi peduli dengan semua kehadiran laki-laki di sekitarnya. Untuk bisa bersanding dan menjadi pacarnya merupakan keberanian dan penuh pengorbanan. Jadi ia tipe perempuan yang akan berhati-hati jangan sampai Bagus cemburu, marah dan memutuskan hubungan dengannya. Itulah mengapa sosok Wisnu segera lenyap setelah tugasnya membuntuti pria yang kini menjadi suaminya itu berakhir dan Dhepe menikah.
"Saat itu aku melihat kamu berada di dalam," jawab Wisnu sukses membuat Almira menoleh.
Wajah Almira tersenyum dan merasa antusias untuk mendengar lebih lanjut cerita yang jujur saja sudah ia lupakan.
"Terus?"
"Kamu duduk bersila, memainkan ponsel sambil menunduk serius tanpa menyadari kalau aku duduk tepat di hadapanmu," terang Wisnu membuat Almira membelalak mata.
"Bohong!" seru Almira tidak percaya.
"Serius," jawab Wisnu bersikukuh dengan ceritanya.
"Masa aku segila itu sampai-sampai ada lelaki setampan kamu berada di hadapanku, tapi aku tidak melihat," sela Almira merubah posisi duduknya hingga tepat berhadapan dengan suaminya.
Ia mencoba mengingat-ingat kejadian sesuai apa yang diceritakan suaminya. Ia merasa tidak percaya, bisa saja pria itu hanya bercerita bohong hingga bisa membuat hatinya berbunga-bunga.
"Saat itu kamu memakai ponsel dengan casing gambar artis 'kan?" tanya Wisnu meyakinkan.
"Iya, tapi kenapa kamu tidak memukul saja keningku? Tidak kusangka, aku mengabaikan jodohku?" Almira mengembus napas gemas sendiri.
"Ya nggak mungkin 'lah, Sayang. Memangnya aku pria gila," sungut Wisnu dengan pikiran konyol istrinya.
__ADS_1
Almira beringsut dari kursi, ia segera merosot duduk di karpet bawah kursi dan kembali menjumput makanan ringan di meja dan mulai menikmatinya kembali. Ekor matanya memberi isyarat Wisnu untuk melanjutkan cerita.
"Saat itu aku ingin menyapamu, tapi sayang aku tidak punya bahan pembicaraan yang layak untuk aku bagi denganmu," terang Wisnu mulai melanjutkan ceritanya dengan suara serius.
Almira menghentikan mulutnya mengunyah, tentu saja ia percaya dengan apa yang sedang diceritakan Wisnu, pria itu kaku dan dingin, tidak pandai bicara.
"Apa aku membuat kesalahan?" tanya Almira pelan.
"Menu kita tertukar," lanjut Wisnu.
"Apa! Hahahaha ...."
"Level makananmu sangat pedas, sedangkan aku bukan tipe penyuka makanan yang selalu membuat perutku tidak nyaman setelah memakannya," terang Wisnu tersenyum.
Wisnu meraih pucuk kepala Almira dan mengusapnya lembut, pandanganya juga terlihat lebih lembut hingga membuat istrinya itu mendongak menatap polos ke arahnya, memberi kerutan kening dengan wajah bertanya-tanya.
"Aku merasa berada di dekatmu akan memberiku masa-masa penuh kejutan, aku dan kamu bisa terluka tanpa disadari, aku merasa kesialan mendera saat berada di dekatmu," ungkap Wisnu membuat wanita itu segera menunduk.
"Maksudnya?"
"Setiap bertemu, kita selalu berada di momen yang tidak menyenangkan. Aku merasa kita selalu sial, dan tanpa sadar saling merugikan."
"Jadi itu membuat Mas Inu saat itu mundur?" tanya Almira merasakan perasaan yang aneh. Rasa ketika masa lalu suaminya itu mundur dari niatnya mengejar cinta ternyata cukup menghantam perasaannya. Ia merasa patah hati.
"Aku sempat berpikir seperti itu, dan alasan itu salah satunya. Tapi yang membuat aku yakin akan mundur ketika satu temanmu datang dan menanyakan perihal hubunganmu dengan seorang pria dan jawabanmu tentang rencana pertunangan. Aku bukan perusak hubungan orang, Almira. Jadi aku mundur mengejarmu saat itu dan melupakan angan untuk mengenalmu lebih jauh."
"Tapi kenapa Mas Inu bilang kalau tanpa malam itu terjadi, Mas tetap akan mencari ku?" protes Almira dengan alasan Wisnu yang jujur saja cukup membuatnya patah hati.
Almira ikut tersenyum memandang, ia tidak menyangka sifat rese yang awalnya ia sematkan untuk pria yang kini menjadi suaminya itu termentahkan oleh cerita manis yang tersirat di dalamnya.
"Mas Inu bukan pria rese," tegas Almira.
Wisnu segera tersenyum, ia mengingat kembali saat wanita itu mengatainya pria rese, ia merasa maklum karena apa yang telah dilakukannya benar-benar merusak masa depan istrinya.
"Setelah penyelidikanku usai, otak dari kejadian malam itu adalah kekasihmu sendiri dan juga karyawan hotelku, maka aku memutuskan untuk mengikatmu kuat di dalam pernikahan, entah bagaimanapun penolakan itu kamu lakukan, karena aku memiliki sebuah sumpah yang harus aku tepati," terang Wisnu lagi.
Pria itu yang tadinya masih duduk di atas kursi kini beralih merosot dan ikut duduk di karpet bersanding dengan Almira, ikut menikmati makanan ringan hingga sesekali ia menyuapkan makanan itu untuk Almira yang tertegun mendengar ceritanya.
"Sumpah apa, Mas?" tanya Almira merasa sangat penasaran.
"Saat kejadian aku menodaimu, itu juga bertepatan dengan hari mengenang kematian orang-orang yang aku sayang, yaitu keluargaku, keluarga Isna dan juga Isna sendiri. Aku bersyukur Isna ternyata lolos dan masih hidup. Jadi aku merasa jatuh terpuruk malam itu, dan memutuskan untuk mengakhiri hidupku saja," kenangnya dengan mata menerawang. Pandangannya kini ke arah langit-langit ruang.
"Jadi itu alasan kenapa Mas Inu melukai diri sendiri?" tanya Almira meletakkan makanannya ke atas meja, ia memandang Wisnu yang menoleh ke arahnya disertai anggukan.
"Aku tahu kamu terluka, aku sangat tahu. Kamu wanita baik-baik. Tapi, saat itu juga bukan merupakan keinginanku dan aku marah karenanya. Kesalahan yang tidak bisa diperbaiki sama sekali, benar tidak?"
"Ehmm ... iya," jawab Almira menunduk lemah.
"Saat itu aku pasrah pada Tuhan. Dia pemilik hidupku, walau aku tahu apa yang aku lakukan terkesan bodoh, tapi aku tidak memiliki siapa-siapa untuk membagi kisah hidupku."
__ADS_1
Almira menghela napas, segera meraih pundak Wisnu dan memeluknya erat, mereka saling tersenyum memeluk satu sama lain. Saling memberi kenyamanan yang mengalir dan mengisi perasaan masing-masing.
"Saat aku diambang kematian, aku bersumpah untuk menjaga dan memberikan hidupku untuk siapa saja yang menolongku, kalau pria dia akan aku jadikan saudara, kalau perempuan lajang akan aku jadikan istriku bagaimanapun caranya," ucap Wisnu lagi semakin mempererat pelukannya.
"Jadi itu sebabnya Mas Inu datang melamar walau aku bersikap ketus?"
"Ehmm ... aku terkejut saat tahu kamu yang menolongku. Aku berhutang banyak sekali padamu. Dan entah kenapa, aku merasa sangat bersyukur ketika tahu wanita penolong itu kamu."
"Malam itu justru Mas Inu yang jadi penolongku. Aku tidak bisa membayangkan pria tua itu yang menjadi suamiku, astaga ... sial sekali," balas Almira sukses membuat Wisnu tertawa.
"Aku masih mending, ya, dapat wanita sexy, lah kamu dapat aki-aki," goda Wisnu sukses mendapat cubitan kesal Almira.
"Jahat," sungut Almira. "Jangan salah, aku akan menculik Mas Inu," bisik mesra Almira kemudian.
"Masa?" goda Wisnu melepaskan pelukan dan beralih menatap Almira yang malu-malu setelah mengatakan hal konyol itu.
"Kalau sudah menculikku, terus aku mau kamu apain?" goda Wisnu lagi semakin membuat Almira merasa malu dan salah tingkah, wajahnya memerah dengan arah pandang mata mencoba menghindari sorot mata geli suaminya.
"Mau kamu cium begini?" goda Wisnu lagi memberi kecupan singkat di bibir Almira.
"Apaan sih? Enggak!" sanggah Almira mengusap bibirnya dengan lengan dan melotot kesal bercampur malu.
"Siapa yang tahu, pikiran Almira penuh kejutan," timpal Wisnu lagi masih betah menggoda.
"Hentikan. Apaan juga? Aku menculikmu maksudnya bukan itu," protesnya lagi.
"Ngajak selingkuh?" adu Wisnu lagi.
"Enggak!"
"Ngajak diam-diam mesra-mesraan?"
"Astaga, enggak! Diem ah, ngaco terus." Dengan gemas Almira membekap mulut Wisnu dengan jemari tangannya agar suaminya itu berhenti menggoda dan melontarkan pikiran konyol yang jujur saja membuatnya malu sekaligus tertawa.
"Kamu bukan orang rese, Mas." Almira gemas memeluk suaminya dengan jemari tangan kanan masih membekap mulut suaminya agar tidak mengeluarkan ucapan konyol lagi.
Wisnu menggeleng, meraih jemari Almira dan sukses terlepas. Dengan iseng ia segera mengecup pipi memerah karena malu itu sekilas.
"Kalau sama kamu, penginnya rese terus," lontarnya sukses membuat mata Almira melirik dengan wajah cemberut.
🌻🌻🌻
Rese dan iseng menjadi hal penting bagiku yang hanya akan kulakukan kepadamu saja. Itu adalah salah satu caraku untuk mengungkapkan rasa sayang, cinta, kerinduan, dan syukur, karena kamu adalah wanita pilihan yang dengan susah payah aku dapatkan hingga akhirnya berhasil aku jadikan pendamping hidupku. (Wisnu Tama)
By, Syala Yaya
__ADS_1
Akan segera hadir yaaa ...
Salam segalanya dariku Syala Yaya 🌻🌻