
Almira dan Wisnu segera turun dari mobil, saling bergandengan tangan menyusuri parkiran dan berakhir di lobby mall masih saling bertautan tangan. Banyak pasangan juga melakukan hal yang sama, tapi jelas mereka berdua berbeda karena statusnya saat ini sudah pasangan yang telah menikah.
“Kita ke lantai atas,” ajak Wisnu diberi anggukan Almira.
Mereka melewati lift sambil memandangi keramaian Mall sore hari ini dari dindingnya yang tembus pandang. Almira begitu bersemangat sekali saat berjalan keluar dari lift menuju ke tempat di mana gedung bioskop berada. Wisnu merasa sangat senang melihat antusias istrinya.
“Beli popcorn dulu, Mas,” bisik Almira kepada Wisnu.
“Ok. Minumnya apa?” tanya Wisnu masih menggandeng jemari lentik Almira.
“Minuman bersoda aku suka,” jawab Almira menoleh dengan senyuman.
Wisnu segera menggeleng cepat, dia tidak memperbolehkan Amira meminum minuman tidak sehat itu. Almira merasa sedikit kecewa dibuatnya.
“Air mineral saja, ya?" tanya Wisnu menawarkan menu lain.
“Lebih seger minuman bersoda,” rengek Almira merayu.
“Minum jus saja bagaimana?” tawar Wisnu lagi masih tidak mengijinkan istrinya minum minuman yang membuatnya takut kalau bisa mengganggu programnya untuk punya bayi secepatnya.
Almira menggeleng lesu, akan tetapi Wisnu tidak menggubris sama sekali celotehan sikap Almira yang lucu baginya itu.
“Kamu tunggu di sini, aku akan segera kembali," pesan Wisnu mendorong dan mendudukkan Almira di kursi tunggu.
Almira hanya menurut sambil memandang beberapa pasangan yang berlalu lalang melewatinya. Perasaannya senang, ia tidak menyangka akan melakukan kencan manis saat sudah menikah. Keinginan menikah saat usia sudah mencapai di atas dua puluh lima tahun nyatanya harus dia langgar sendiri, setidaknya dia tidak menikahi pria yang salah, itu merupakan hal yang melegakan baginya.
“Ira, kamu di sini?” tanya seorang pria yang tanpa Almira sadari sudah berdiri di hadapannya.
Almira memandang sepatu putih yang jelas ujungnya menyentuh sepatu yang ia kenakan, hingga membuatnya memundurkan letak kakinya dan mendongak cepat menatap pemilik suara yang sangat familiar di telinganya.
“Mas Bagus,” sapa Almira menatap tidak percaya sosok pria itu bisa bertemu dengannya di tempat ini.
“Sendirian?” tanya Bagus menyunggingkan senyuman. Ia masih betah belum bergeser dari tempatnya berdiri.
“Tidak,” jawab Almira menggeleng.
Almira segera berdiri dan menggeser tubuhnya ke arah samping menjaga jarak dari tempat Bagus berada. Bagus menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Almira untuk menjaga dirinya saat ini.
“Kamu bahkan sekarang menjaga jarak denganku?” ejeknya mengulas tawa sinis terhadap wanita yang selama lebih dari setahun menjadi kekasihnya itu.
Almira hanya diam tidak menyahut, dia tidak merasa harus menanggapi ucapan Bagus. Baginya dia merasa bingung sendiri menjelaskan bagaimana hubungannya saat ini dengan pria itu. Nyatanya perasaannya semakin dalam terhadap sosok Wisnu suaminya.
“Kamu diam tidak bisa menjawab?” desis Bagus membalik tubuhnya dan menarik tangan Almira agar mengikutinya, dengan cepat pula Almira menarik tangannya dan mundur menolak ajakan Bagus.
“Kamu melawanku?” tanya Bagus terlihat kecewa terhadap penolakan Almira terhadapnya.
“Maaf, Mas. Jangan melakukan hal sesukamu lagi. Aku sudah menikah dan aku harap Mas Bagus menghormati kehidupan baruku saat ini,” terang Almira menatap Bagus yang menampilkan wajah kecewa dan marah terhadapnya.
“Omong kosong. Kamu bilang akan kembali padaku setelah pernikahanmu berjalan sebulan. Nyatanya kamu mengingkari semua ucapan mu sendiri," lontarnya dengan mata menatap penuh amarah terhadap Almira.
Almira menelan salivanya yang terasa kering, sesekali menatap ke arah Wisnu yang membelikan makan ringan untuknya. Dia tidak mau sampai Wisnu menatap interaksinya bersama Bagus dan salah paham dengan pertemuan tidak sengaja itu. Ia merasa cemas.
“Apa kamu menikmati hubunganmu bersama pemerkosa itu?” ucap Bagus mengagetkan Almira.
Dengan tatapan terkejut Almira mundur dan menatap gelisah ke arah Bagus. Ia tidak percaya, bagaimana bisa Bagus mengetahui rahasia yang bahkan hanya Wisnu dan Ihsan saja yang tahu masalah itu. Selebihnya semua itu hanyalah sebuah rahasia yang tersimpan rapi.
“A-apa maksud ucapan Mas Bagus?” tanya Almira menatap gelisah pria yang kini sedang menatapnya bersama pandangan menyapu ke seluruh tubuh Almira dari kaki hingga ujung kepalanya.
Darimana dia tahu masalah antara aku dan mas Inu? Bukankah seharusnya hanya aku dan mas Inu yang tahu hal ini.
Almira terdiam, pikirannya menjadi gelisah, ia merasa sangat risih dengan cara Bagus memandangnya. Ada segurat pandangan merendahkan terlihat dari sorot matanya.
“Kamu tahu, berita sangat mudah tersebar luas?” tanya Bagus tertawa.
__ADS_1
Sebuah pertanyaan dari bagus yang nyatanya malah seperti bentuk lontaran ejekan terhadapnya. Almira masih terdiam tidak menyahut sama sekali.
Bagus mencoba meraih pundak Almira tapi Almira berhasil mundur menghindar, hingga tangan Bagus berhenti dan menggantung di udara. Tawanya terdengar mengejek yang membuat Almira menahan sekuat hati agar jangan sampai dirinya memukul wajah mengesalkan itu. Wajah pria yang dulu sempat mencuri hatinya.
“Sampai sekarang masih saja sok suci kamu, ya, ternyata?” ejeknya sambil menarik kembali tangannya disertai tawa yang jelas membuat Almira merasa terintimidasi.
“Pergilah, Mas. Jangan membuat keributan di sini. Aku rasa apa yang terjadi malam itu mengajarkan aku pada satu hal, bahwa seorang pria yang mengajak seorang wanita ke tempat tidak semestinya haruslah di jauhi sebisa mungkin,” lontar Almira menohok perasaan pria bernama Bagus itu hingga menarik tangan Almira cepat.
“Dan seharusnya, malam itu menjadi penentuan dimana hubungan kita tidak semestinya berakhir dengan kehancuranku seperti ini, kamu paham,” desisnya marah.
“Apa hubungannya antara kehancuranmu dan aku. Lepas. Semua orang memandang kita, lepaskan tanganmu,” protes Almira mengibaskan tangan Bagus yang mencengkeram erat pergelangan tangannya.
Bagus masih memandang sengit Almira, tidak mau melepaskan, dia tidak menggubris sama sekali pandangan mata dari orang-orang yang memandang kelakuannya.
Hingga sebuah dorongan kuat terhadap tubuhnya memaksa Bagus melepaskan cengkeraman tangannya. Tubuh pria itu terhuyung kebelakang dan terduduk di kursi tunggu yang sudah lengang karena banyak pengunjung yang sudah mulai memasuki gedung bioskop.
“Sudah pernah aku peringatkan, jangan sampai kamu menyentuh walau seujung rambut pun istriku, apa kamu sudah bosan hidup?!” geram Wisnu memandang tajam Bagus.
Wisnu mendorong pundak Bagus hingga pria itu terjerembab di kursi. Wisnu menaikkan satu kakinya ke atas kursi dan meraih krah baju Bagus dan mencengkeram erat lehernya dengan wajah menggeram merasa miliknya sudah diusik. Bagus menahan tangan Wisnu dan sama-sama memberi rona ketegangan diantara keduanya.
Almira hanya bisa menatap bingung cara melerai kedua orang itu tanpa ikut terluka. Dengan wajah panik jelas dia bingung sendiri harus berbuat apa.
“Kamu sembunyi dibalik wajah sok tidak berdosa mu, Wisnu Tama,” lontar Bagus berdecih. Tangannya masih mencoba menahan cekikan jemari Wisnu yang kuat. Sorot mata dingin dan kemarahan yang bertumpuk membuatnya terlihat sangat menakutkan, tapi dalam hati Bagus mencoba tidak getar sama sekali.
"Jangan pernah menyentuh istriku lagi, kamu paham!" ancam Wisnu tanpa mengendorkan cengkeraman tangannya terhadap Bagus. Mereka berdua masih beradu ketajaman mata.
"Sudah, Mas. Kita abaikan saja dia. Kita sudah terlambat masuk ke dalam," bujuk Almira kepada Wisnu, ia tidak mau suaminya mendapat masalah karena bertengkar dengan mantan pacarnya.
Almira mencoba menenangkan kemarahan Wisnu dengan mencoba meraih lengannya. Ia menariknya lembut disertai usapan lembut di punggungnya sebagai gerakan mencoba menenangkan.
"Jangan pedulikan ucapan orang gila," bujuk Almira lagi mencoba membuat Wisnu menghentikan kemarahannya.
Terdengar Wisnu menghembus nafas panjang.
Almira bernapas lega saat Wisnu mulai melepaskan cengkeraman tangannya. Dengan kasar Wisnu menghempaskan Bagus hingga punggungnya menyentuh sandaran kursi.
“Kita masuk saja, Mas. Sudah, jangan ladeni dia lagi," ajak Almira mencoba menyeret langkah suaminya agar segera masuk ke dalam ruangan dan bisa memisahkan keduanya.
Tampak wajah Wisnu masih bersungut kesal mengikuti langkah istrinya menjauhi Bagus yang masih memandangnya penuh tebaran mengancam.
Wisnu mengembuskan napas panjang membuang emosi. Deru nafas naik turun terasa sekali bahwa pria itu sangat mencoba menekan emosinya yang meledak.
Almira masih menyeret langkah Wisnu dan berusaha mencari tempat duduknya dan menunduk maaf saat harus lewat dah mengganggu orang lain.
“Aku benar-benar kesal,” keluh Wisnu masih berjalan menurut langkah Almira yang menggandeng tangannya ke tempat dimana deretan tempat duduknya sesuai tiketnya berada.
“Sudah, kita nonton saja, lupakan masalah yang tadi," bisik Almira menarik tangan Wisnu dan duduk di kursi empuk itu.
“Gara-gara mantan sialanmu itu, Popcorn dan minumannya aku buang sembarang,” omel Wisnu duduk kesal dengan wajah masih memerah.
“Jadi kamu masih marah gara-gara Bagus atau Popcorn?” goda Almira duduk di tengah deretan kursi yang masih kosong.
“Popcorn lah, kenapa aku harus menahan marah hanya kepada mantanmu, seperti tidak ada kerjaan saja,” jawab Wisnu segera diberi cibiran beserta kepala manggut-manggut dari Almira.
“Ssssst! Kalian bisa diam tidak?” protes seorang wanita yang merasa terganggu dari arah depan tempat duduk dimana Almira dan Wisnu berada.
Almira segera meminta maaf dan mengarahkan jemari telunjuknya ke arah Wisnu agar berhenti menggerutu. Ia segera bersiap menikmati film yang sepuluh menit lagi akan segera mulai diputar. Wisnu hanya bisa menanggapi sikap Almira masih dengan kekesalan.
“Sebenarnya aku tidak suka nonton film,” lontar Wisnu dengan nada kesal. Almira menoleh kesal juga kearahnya.
Wisnu masih santai menatap Almira, baginya menonton film membuatnya mengantuk, ia lebih suka tidur dan bermimpi jadi tokoh filmnya daripada baper karena hanya bisa memandangi tanpa bisa memiliki.
“Hiuhh, ck! Benar-benar suami menyebalkan,” sahut Almira kesal sendiri.
__ADS_1
“Tapi sepertinya kali ini aku punya cara asyik agar tidak bosan. Aku sudah menyiapkan segalanya, walau tadi hampir saja gagal karena kelakuan mantanmu tidak berakhak itu,” omelnya lagi membuat Almira kembali harus menghela nafas sabar, tangannya tidak lupa memberi isyarat kepadanya agar mengecilkan volume suara agar tidak mengganggu orang-orang di sekitarnya.
“Kenapa?" tanya Wisnu membuat Almira dengan kesal meraih dagu Wisnu dan membungkam mulutnya dengan jemari tangan agar tidak berisik.
Wisnu meraih jemari tangan Almira dan melepasnya dari mulutnya, mengibaskan jemari Almira dengan gigi gemerutuk menahan gemas.
“Diam, kamu mau di usir ya?” bisik Almira kesal sendiri.
“Siapa yang berani mengusirku? Kamu tau di deret kursi kanan kiri kita sudah aku booking semua," bisiknya membuat Almira membelalak mata. Dengan kesal ia memukul dada bidang suaminya.
Wisnu terkekeh geli memandang reaksi istrinya yang menggemaskan.
“Dasar pemboros,” komentar Almira kesal.
“Demi kebahagiaan istri tidak masalah,” sahut Wisnu menahan tawa.
“Uang darimana?” bisik Almira benar-benar kesal kerena suaminya menghamburkan uang untuk membooking tempat duduk untuk menonton film.
"Jangan katakan besok kita tidak bisa beli beras," desis Almira merasa khawatir.
“Dari seluruh tiket promo yang seharusnya diberikan cuma-cuma kepada seluruh karyawan hotel. Demi kamu akhirnya aku bawa semua, aku pake setengahnya untukku sendiri,” ungkap Wisnu semakin membuat Almira membelalak mata tidak percaya dengan kelakuan jahat suaminya.
"Karyawan macam apa kamu ini?"
Wisnu segera menyandarkan bahunya santai ke arah depan dimana layar sudah mulai dipersiapkan untuk memutar film. Almira menggelengkan kepala nya merasa sangat heran.
“Lampu akan segera dimatikan, ayo kita mencuri waktu,” bisik Wisnu mendekatkan wajahnya ke arah Almira hingga istrinya itu segera menjauhkan wajahnya dan mendelik ke arahnya.
“Astaga, lampunya semakin meredup tapi kamu malah terlihat semakin cantik,” goda Wisnu berbisik.
“Kamu kira aku apa? Cantik saat lampu semakin redup?” protes Almira berbisik.
Lampu semakin meredup dan layar mulai memutar film, semua kebisingan mulai sirna disambut sorot mata memandang ke depan, begitu pula dengan Almira, Wisnu memandang dari samping istrinya yang begitu menikmati ulur cerita. Dengan hembusan nafas Wisnu merelaxkan pikirannya sendiri.
“Karena jatah semua rekan kerja kamu pakai semua, maka jangan lupa balas jasa kebaikanku dengan baik, oke?” bisik Wisnu menggoda konsentrasi istrinya.
“Jasa apa sih?” sahut Almira tanpa menoleh sama sekali, Wisnu berdecak kesal sendiri.
“Jasa ya jasa, masa tidak paham?” bisik Wisnu lagi masih betah menggoda, baginya menatap raut wajah istrinya saat menonton film lebih mendebarkan daripada menonton film itu sendiri.
“Tidak paham. Diamlah, aku sedang nonton seru-serunya,” bisik Almira kesal dengan jemari tangan suaminya yang memainkan anakan rambut di sisi wajah dan menyelipkan di telinganya yang jujur saja itu sangatlah mengganggu konsentrasinya saat menonton.
Cup
Wisnu mencium pipi Almira hingga istrinya itu melonjak dan menatap terkejut Wisnu. Gerutu bercampur kekesalan yang terlontarr hanya membuat Wisnu pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangannya ke arah depan. Almira ikut memandang ke depan dengan gerutu disertai senyuman samar.
Bersambung
Jika keharmonisan hubungan bisa kita ciptakan jangan biarkan perselisihan menyertainya.
Tidakkah kamu sadari, bahwa setiap kalimat yang aku ciptakan selalu mengisyaratkan sebuah bahasa kasih sayang, hingga semua kepahitan yang pernah tertoreh bisa segera sirna bersama gulir sang waktu, membawa cinta yang kita usahakan agar tetap terjaga dan selalu kuat menyatu. (Wisnu&Almira)
By. Syala Yaya.
Bersambung.
Terimakasih semuanya atas kesetiaan mengawal kisah Wisnu&Almira.
Selalu berikan dukunganku dengan ketik Like, komen positif dan juga vote ya😍
Aku mau promo novel keren dari Sabahat ku, mari mampir ya, seruu lo
__ADS_1
Salam Love dariku ~ @Syalayaya