
🌻🌻🌻🌻🌻
Suasana sepi, lengang. Wisnu merasa hari ini sangat berbeda dari hari biasanya. Jalan yang dilewatinya hampir tidak ada orang lain yang lewat. Hujan gerimis pun mulai kembali melanda, bulir-bulirnya menerpa kaca mobil.
“Untung kamu punya mobil, Nak,” ungkap Halimah kepada sang mantu.
“Kenapa, Bu?” tanya Wisnu masih fokus menyetir dengan tangan gemetar mencemaskan Almira yang terus saja mengatur napas.
“Kadang kalau udah nggak sabar nunggu carteran mobil, warga yang hendak melahirkan cuma naik motor,” ungkap Halimah pelan.
“Alhamdulillah, Bu. Ini rezeki Wisnu dan Almira,” balas Wisnu diberi anggukan Halimah penuh syukur.
Halimah tidak pernah lupa memanjatkan rasa syukur yang tidak terhingga. Melihat Almira hidupnya baik dan melihat bagaimana cara suaminya memperlakukan dirinya penuh kasih sayang membuatnya sangat bahagia. Ia tidak pernah meminta anak-anaknya untuk mendapatkan orang kaya, tetapi hanya laki-laki yang tulus mencintai. Ia sangat penasaran dengan sedikitnya cerita Wisnu mengenai keluarganya selama ini.
“Belok kiri, Nak. Nanti ada plakat Bidan Hesti Yuliana.”
“Iya, Bu.”
Mobil yang mereka tumpangi kini sudah parkir di depan rumah prakteknya bidan Hesti. Terlihat rapi dan bersih. Wisnu yang sempat berpikiran buruk kini bisa bernapas lebih lega. Tempatnya tidak seseram yang ia pikirkan.
“Ayo, mas bantu turun,” ajak Wisnu kini membuka pintu.
“Aku masih bisa jalan,” jawab Almira terlihat meringis menahan rasa nyeri.
“Nggak, mas gendong, masih kuat,” tolaknya masih memaksa Almira untuk menurut.
“Pakai kursi roda aja, Mas. Malu,” bisik Almira memeluk leher sang suami yang bersiap untuk menggendongnya.
“Kenapa malu?”
“Berat badanku naik dua puluh tiga kilo,” bisiknya tertawa.
“Masih mikirin itu?” sungut Wisnu malah diberi kekehan Almira.
Wisnu pun akhirnya mengalah, Almira memaksa jalan kaki untuk menjangkau teras klinik tempat bidan Hesti praktek setelah meyakinkan kalau dia mampu.
Seorang wanita muda pun segera menyambut kedatangan Almira dan Wisnu setelah Halimah masuk terlebih dahulu untuk mendaftar ke dalam.
“Silakan memakai kursi roda, Bu,” pintanya ramah.
“Terima kasih,” jawab Wisnu mengambil alih kursi dan mendudukkan Almira dengan perlahan.
Ia pun kini mendorong kursi roda yang membawa Almira menuju ke dalam ruangan berdinding kaca. Di dalamnya terdapat kursi tunggu yang terdapat di dalamnya sebuah bilik berdinding kaca untuk mendaftar. Halimah tampak sudah di sana, menyambut Almira setelah melihat anaknya berada di ruangan itu.
“Silakan ke dalam ruangan sebelah sana, kami akan memeriksa dulu selagi bidan Hesti bersiap,” katanya bidan muda tersebut menunjukkan jalan.
Wisnu pun mengikuti langkah bidan muda itu ke dalam ruangan. Ruangan itu tampak bersih meski tidak terlalu luas. Almira pun diminta untuk pindah ke atas ranjang pasien untuk diperiksa.
“Silakan bapak keluar sebentar, ya? Saya akan memeriksa ibu Almira terlebih dahulu untuk memastikan.”
“Saya nggak boleh tetap di sini?” tanya Wisnu merasa keberatan.
“Maaf, Pak. Prosedurnya memang seperti itu. Tunggu sebentar nanti boleh masuk lagi setelah saya selesai memeriksa,” ucap wanita itu penuh pengertian.
“Mas Inu keluar dulu, ya?” pamit Wisnu lembut.
“Iya, Mas,” jawab Almira mengangguk.
Wisnu keluar dari ruangan. Menatap sendu mertuanya yang kini menunduk di kursi tunggu sambil bergumam. Ia yakin, terucap doa tulus terpajat untuk putri sulungnya yang kini sedang ada di dalam ruangan pemeriksaan.
Wisnu pun mematung, mendengarkan percakapan yang berasal dari dalam ruang. Terdengar pertanyaan juga Almira ucapkan tentang keadaan bayi di dalam kandungannya.
Wisnu merosot, berjongkok di lantai dengan tangan mengusap wajah. Ia kini berada dalam kegelisahan yang dalam. Ia sangat takut dengan keadaan Almira. Sedangkan ia tidak biasa berbuat apa-apa.
“Shalat subuh dulu, Le. Nanti biar ibu yang jagain. Mohon kepada Allah kelancaran Almira melahirkan anak kalian,” ucap Halimah dengan lembut seraya mengusap pundak menantunya yang terduduk lemas.
“Iya, Bu,” jawab Wisnu menoleh.
“Tuh, ada mushala. Ibu tadi sudah,” terang Halimah kini menegakkan tubuhnya dan mulai menjauhi Wisnu dan berjalan ke bagian pintu, ia berdiri di sana.
Wisnu menunaikan shalat subuh. Sengaja berdiam diri di sana selama setengah jam untuk menenangkan perutnya yang kini sedang bergolak. Tubuhnya rasanya sangat tidak nyaman. Selain karena semalam kurang tidur, kini malah rasa mual dan mulas melandanya.
“Astagfirullah." Wisnu memejamkan mata saat menuju ke luar mushala. Kepalanya sangat pusing.
”Bapak tidak apa-apa?“ tanya seorang pria juga selesai shalat menghampirinya.
__ADS_1
”Nggak apa-apa, Pak. Cuma agak mual,“ jawabnya memaksa senyuman.
”Duduk dulu aja, Pak.“
Wisnu hanya mengangguk dan kembali melangkah ke arah ruangan istrinya berada. Langkahnya kini semakin cepat, memaksanya diri di tengah rasa mual, gelisah, dan punggung yang pegal. Ia sangat kesal dengan keadaannya. Saat istrinya sedang berjuang untuk melahirkan buah cintanya, kenapa mendadak dirinya malah tidak pada keadaan yang baik seperti layaknya pria sejati.
Saat memandang Almira yang kini duduk sambil memejamkan mata dengan keringat membasahi kening membawa rasa sakit pada diri Wisnu. Rasanya ia sudah ingin menangis dan memeluk tubuh istrinya. Suara istighfar lebih sering ia dengar daripada sekadar keluhan.
”Ira,“ bisik Wisnu meraih kemari sang istri.
”Mas,“ panggil Almira membuka matanya yang sayu.
”Mas bantuin apa? Mas bingung, bagaimana cara -“
”Doain dedeknya sehat, ya, Mas. Ira nggak apa,“ lirih Almira berucap.
”Apa kita pindah rumah sakit saja?“ tanya Wisnu kini mengusap lembut perut Almira yang sudah merosot jauh ke bawah.
”Enggak, kita percayakan semua sama Bidan dan Allah, ya,“ ucap Hana dengan napas kembali tersengal.
Wisnu bahkan bisa merasakan kuatnya Almira saat menggenggam jemari tangannya. Gemerutuk gigi menggeram pun lolos dari bibir Almira.
”Mas, astagfirullah.“
”Ya Allah, Ira.“ Bibir Wisnu bergetar. Ia sudah tidak sanggup lagi melihat penderitaan sang istri. Rasanya ia sudah tidak tahu apa yang bisa melegakan perasaannya.
”Istighfar, Wisnu. Istighfar Almira. Jalan kehidupan semua anak manusia memang seperti ini. Prosesnya tidaklah mudah, tapi syurga sudah dijanjikan Allah. Inilah proses ibadah seorang wanita kepada Allah juga sebagai bakti seorang istri kepada suaminya. Pada kesempatan ini, ibu mohon padamu Wisnu ... setelah tahu pertaruhan nyawa untuk melahirkan anakmu. Jaga dan sayangi anak ibuk ini seperti dia membaktikan hidupnya untukmu ya, Le,“ ucap Halimah seraya mengusap kening anaknya dengan kain jarit untuk membuang tetesan keringat.
”Nggih, Bu,“ sahut Wisnu dengan mata berkaca-kaca. Ia berjanji dalam hatinya bahwa akan menjaga istrinya dengan nyawanya. Kini rasa tidak tega dengan proses kesakitan lama yang mendera Almira belum juga berakhir.
”Panggil bidan, Nak!“ perintah Halimah saat melihat Almira merebahkan tubuhnya. Memiringkan tubuhnya dengan mata terpejam dan gigi menggertak.
”Mas, Inu ... sakit. Astagfirullah!"
“Bagaimana ini, Bu?” tanya Wisnu bingung saat istrinya melepaskan tangannya.
“Panggil Bidan, Ira mengalami kontraksi,” pinta Halimah kini meraih tangan anaknya menggantikan Wisnu.
“Nggih, Bu.”
Wisnu pun segera berlari meninggalkan ruangan Almira dan berjalan ke arah ruangan bidan yang ada di seberang. Dua orang wanita sedang bercakap sembari mengerjakan berkas.
“Oh, iya, Pak.” Salah satu dari mereka segera mengikuti langkah Wisnu dengan menggunakan sarung tangan karet.
“Hubungi Bu Hesti!” pinta wanita itu kepada satu rekannya.
Bidan itu segera masuk ke dalam ruangan bersama Wisnu. Tampak Almira masih berada pada posisi yang sama. Meringkuk ke arah kiri dengan wajah gelisah menahan sakit.
“Bu Almira, biar saya periksa,” ucap bidan itu menyentuh perut Almira.
“Berbaring, ya. Saya cek dulu.” Bidan itu pun mulai meletakkan tangannya ke atas perut Almira.
“Saya cek pembukaannya dulu,ya?” ucapnya meminta izin.
Almira membuang rasa malu. Ia bahkan sudah setengah nyawa rasanya menahan rasa sakit yang menjalar setiap kontraksi yang secara berkala datang dan pergi.
“Bagaimana, Mbak Ani?” tanya seorang wanita kini memasuki ruang.
“Sudah siap, Bu. Pembukaan sudah delapan, masuk panggul, posisi bayi bagus, air ketuban ok, hanya tinggal menunggu,” jawab Bidan Ani menatap bidan Hesti.
“Bagus, persiapkan semuanya." Bidan itu menatap bidan Ani kemudian beralih menatap Almira, "Ini persalinan pertama, ya, Bu?” ucap Hesti segera diberi anggukan Almira.
“Nggak apa-apa. Jangan tegang, ya. Relax biar jalan lahirnya juga relax. Tarik napas dalam dan embuskan. Ambil napas dari hidung, embuskan pelan dari mulut ya ... nah, bener begitu.”
Hesti dan bidan Ani mulai mempersiapkan semuanya. Dibantu dua assisten bidan yang mempersiapkan kelengkapan bayi.
“Usia tiga puluh sembilan minggu, ya?” tanya Hesti mengajak bicara Almira.
“Iya ....” jawab Almira dengan napas tersengal-sengal.
“Bu Ani, sepertinya sudah siap,” ucap Hesti sudah pada posisinya.
“Ahh! Astagfirullah ... hhhh!”
“Ayo, Bapak dan Ibu mohon menunggu di luar saja, ya. Biar kami yang akan menjaga Bu Almira,” pinta salah seorang assisten meraih tangan Halimah dan Wisnu agar bersedia keluar dari ruang bersalin.
__ADS_1
Wisnu pun tidak banyak protes, ia keluar dari ruangan dengan segera duduk berjongkok di dinding sisi luar dengan wajah memerah menahan tangisnya.
“Almira, kamu harus kuat,” bisiknya lirih.
Wisnu hanya bisa mendengarkan aba-aba bidan Hesti dari luar. Mendengar rintihan Almira yang berkali-kali gagal dan harus mengulang dari awal proses mengejan membuatnya seolah menjadi pria penyebab sang istri harus melalui rasa sakit itu.
“Maaf, Ra. Mas nggak bisa ikut nunggu kamu di dalam. Mas nggak akan melupakan momen ini seumur hidup, sampai mati,” batin Wisnu menutup wajahnya dengan lengan. Ia menelungkupkan wajah. "Ya Allah, berilah kekuatan dan keselamatan untuk istri dan anakku,“ gumam Wisnu tenggelam dalam doa.
”Ayo, semangat Bu Almira. Lihat itu rambutnya udah kelihatan. Sedikit lagi, ya? Dedek nggak sabar 'tuh pengen dipeluk Bunda ... Yuk, atur lagi, ya,“ instruksi bidan Hesti memberikan dorongan. Almira mulai kelelahan, kontraksi yang timbul tenggelam membuat tenaganya mulai terkuras habis.
”Hhh!! Bu!“ seru Almira seraya mencoba berpegang pada pinggiran ranjang, tetapi assisten bidan segera menuntunnya untuk berpegangan pada lututnya sendiri.
”Ayo, sekali lagi, Bu Ira yang hebat! Adek udah kelihatan ini ... Pas ada tekanan kontraksi datang ibu tarik napas dalam, dorong kuat ayooo ... bagus sekali. Ayoo tambah lagi, kepalanya jangan diangkat.“ Tak henti-hentinya bidan Hesti dan bidan Ani memberi aba-aba.
”Hhhahhhhh!!“ erang Almira mendorong dengan sisa-sisa tenaganya yang ada.
”Bagus, terus ... dorong lagi dan jangan angkat pinggulnya!“
”Emmm hhhh!!“
”Bagus, yuk dorong terus Ibu hebat!“ seru Hesti memberikan semangat dengan penuh kesabaran.
”Oe ... Oe ... Oe ...“
”Alhamdulillah!“
Semua orang yang ada di dalam ruangan mengucap puji syukur penuh kelegaan.
”Bayinya sehat. Cewek ya, Bu.“
”Alhamdulillah,“ sambut Almira menatap sang bayi yang kini sudah didekatkan padanya setelah diperiksa terlebih dahulu.
”IMD, ya, Bu. Selagi kami membersihkan Bu almira,“ ucap asisten bidan kini meletakan tubuh kemerahan bayi yang baru lahir tersebut ke atas bagian dada Almira.
Bidan segera menutup selimut bagian bawah Almira selagi mereka membersihkan sisa darah dan kotoran yang terbawa dalam proses persalinan.
”Panggil suaminya, Bu.“ Hesti menatap asisten yang satunya untuk memanggil Wisnu.
”Baik, Bu.“
Almira membelai lembut rambut basah bayinya. Membiarkan sang putri mencari sumber kehidupannya. Pintu yang terbuka dari luar membuat Almira mendongak, Wisnu berjalan pelan dengan mata basah. Ia bahkan tidak menyangka suaminya menangis. Bahkan ini mungkin pertama kalinya ia melihatnya dalam keadaan seperti itu.
”Terima Kasih, Almira. Kamu masih berada di sisiku,“ ucapnya menciumi kening sang istri. Ia bahkan membuang rasa malu, tidak peduli bahkan ketika mungkin saja keempat bidan yang berada di dalam kini memandangnya.
”Aku cemas, rasanya kayak ikutan mau mati,“ bisiknya terisak-isak.
”Enggak, Ira udah baik-baik saja, Mas. Ini ... bayi kita perempuan, nggak apa-apa, ya?“ ucap Almira menepuk-nepuk punggung Wisnu yang membenarkan kepalanya di ceruk lehernya, bersebelahan dengan bayinya yang mulai mendapatkan sumber hidupnya untuk yang pertama kali. Menghisap lembut hingga Almira merasakan bayinya sangat lincah dan cerdas.
”Alhamdulillah,“ ucap Wisnu mengusap wajahnya, dengan masih dengan badan membungkuk ia pun meraih jemari anaknya.
”Adzani dulu, Mas,“ bisik Almira segera diberi anggukan kepala Wisnu.
”Dan berikan nama yang baik untuk anak kita. Tidak perlu rumit, tetapi sederhana penuh do'a,“ pinta Almira menatap mata putrinya yang kini sudah mampu membuka. Ia sangat terpukau hingga rasa sakit selama tiga belas jam sejak kemarin kini terbayar lunas dan luar biasa dari Allah.
”Namanya Sekar Inurra Tama.“
”Bagus, Ira suka,“ sahut Almira tersenyum.
”Terima kasih, Sayang,“ bisik Wisnu kembali mencium kening Almira setelah selesai mengadzani dan memberi nama putri kecilnya.
”Sekar, sehat, ya, Nak. Ayah bangga memiliki kalian berdua,“ ucap Wisnu penuh syukur.
*******
”Ini, ayah, Sayang. Kita kenalan, kita akan bergandengan tangan bertiga mulai hari ini hingga selamanya. Ayah tidak akan pernah melepaskan jemari ibumu hingga maut memisahkan dan tidak akan pernah juga melepaskan jemari tanganmu selain kepada laki-laki yang kelak akan menjagamu dengan tulus seperti kami orang tuamu. Jadilah anak yang akan membawa warna kebahagiaan di manapun kamu berada. My little Angel, Sekar Inurra Tama.“ (Wisnu Tama)
Note author
Calon ayah pun bisa merasakan mual, muntah, sakit punggung, pusing bahkan ngidam seperti ibu juga saat menunggu proses persalinan. Nah, ini dikenal dengan sebutan couvade syndrome atau sindrom “kehamilan simpatik”
IMD (Inisiasi Menyusu Dini)
Sumber : Halo doc / google
__ADS_1
#Nama Sekar terinspirasi dari sebuah kecamatan yang berada di kabupaten Bojonegoro.
Kalau kalian sedang berkunjung ke Bojonegoro silakan kunjungi sebuah kawasan wisata alam nan eksotis yang sangat terkenal di kecamatan Sekar, ya. Bisa Googling dan dijamin keren tempatnya 🥰 🙏🙏