
Almira dan Wisnu keluar dari ruangan kantor. Wisnu mengantarnya sampai lift dan melambaikan tangannya. Ia menyuruh istrinya pulang ke rumah dan ia yang akan mengurus sisanya. Pandangan matanya tajam ke arah kantor milik Johan. Langkahnya tergesa menuju ke sana.
Tanpa mengetuk pintu ia segera masuk ke dalam, Johan terperanjat kaget dengan kedatangan Wisnu ke dalam kantornya.
“Selamat pagi, Pak Wisnu. Apa yang membuat Anda mampir kemari?" tanya Johan membereskan berkas-berkasnya di meja. Wisnu menatap map coklat yang masih tergeletak di atas meja.
Dengan langkah cepat ia segera mendekatinya dan duduk santai di sofa. Ia mengambil map itu dan mengeluarkan isinya
”Pak Wisnu, bisakah Anda tidak membuka berkas yang bukan diperuntukkan untuk Anda," protes Johan berjalan mendekat.
Wisnu mengabaikannya dan terus saja membuka dan membaca file-file itu. Ia tersenyum dan melemparkan berkas itu di atas meja dengan kekesalan.
“Apa kamu menggunakan uang milik perusahaan untuk ini?" tuduh Wisnu menatap tajam Johan. Pria itu menatap gelagapan Wisnu.
Sambil membereskan berkasnya dia berdiri.
”Saya bisa jelaskan semuanya," sanggahnya mencari alasan.
“Berhenti bermain di belakangku. Apa kamu yakin kalau aku tidak tahu apa-apa? Kamu menggunakan umpan anakmu untuk menggangguku?" tukas Wisnu tersenyum sinis.
”Soal Delia, dia sungguh menyukai Anda, Pak Wisnu," terang Johan membela putrinya.
“Lalu apa yang kamu bicarakan tadi dengan istriku, Almira?" tanya Wisnu bersikap tenang.
”Istri Anda?" tanya Johan terkejut, ia tidak menyangka perempuan yang dia harapkan sudah menikah dengan pria yang disukai anak perempuannya.
“Terimakasih, rencana kalian sangat keren. Kau rasa Anda perlu dimutasi di Hotel saya di pelosok negeri agar berkembang pesat seperti di kota ini," lontar Wisnu semakin membuat Johan terkejut.
Wisnu berdiri dari tempatnya. Ia merasa cukup puas dengan apa yang dia dapatkan di dalam kantor managernya itu. Sambil berjalan mengitari ruangan ia memandang foto-foto di dinding.
”Usia anakmu sama dengan istriku, seharusnya kamu sadar akan hal itu."
“Apa maksud, Anda?" tanyanya pura-pura bingung.
Wisnu memiringkan kepalanya sambil tersenyum. Ia berjalan mendekati Johan dan berdiri berhadapan dengannya. Ia meraih dasi yang dikenakan pria itu dan membenarkan letaknya.
”Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan terhadapku dan terhadap Almira. Jangan pura-pura tidak tahu," desis Wisnu.
“Saya tidak tahu apa-apa masalah ini," sahutnya masih bersikap tenang.
__ADS_1
”Aku rekam apa yang kamu bicarakan dengan Almira, jadi aku gunakan itu untuk mengancammu," lontar Wisnu tegas.
Johan mundur selangkah menjauh, ia gelagapan dalam menjawab semua tuduhan dari Wisnu untuknya. Sambil merapikan dasinya kembali dia menelan salivanya dengan susah payah.
“Mau apa, Anda?" tanya Johan paham.
”Tutupi apa yang terjadi malam itu. Aku tahu kamu pura-pura tidak tahu masalah ini. Aku tahu bahwa kamu sedang bergerak melawanku. Jauhkan anak perempuanmu itu dariku, dan anggap kita tidak ada masalah apa-apa, maka apa yang sedang kamu lakukan, aku akan anggap tidak tahu apa-apa, bagaimana? General Manager?"
“Baiklah, tapi Anda benar-benar tidak akan menyelidiki masalah dana itu?" tanya Johan sedikit gentar, ia tahu Wisnu pasti menyimpan bukti lebih dari ini.
”Tentu saja, aku pria sejati yang selalu memegang teguh janjiku. Tapi kalau kamu berbuat macam-macam, kamu tahu masa laluku seperti apa, bukan? Menyingkirkan mu bukan hal sulit untuk aku lakukan."
“Baik, Pak Wisnu. Anda tidak perlu khawatir."
”Baiklah, aku pergi."
Wisnu tersenyum sebelum meninggalkan ruangan Johan. Setelah membalik badan senyum Wisnu lenyap seketika. Ia bergegas ke dalam ruangannya yang sudah ditunggu Ihsan di sana.
“Siapkan acara resepsi pernikahanku. Sertakan di buku undangan tanggal aku melakukan ijab Qabul. Jangan ada masalah, dan juga urusi masalah Johan kalau di berupaya macam-macam, kamu tahu 'kan apa yang harus dilakukan," perintah Wisnu segera diberi anggukan mengerti oleh Ihsan.
”Berikan padamu seluruh laporanmu," pintanya lagi sambil duduk.
”Lalu?" tanya Wisnu menatap tajam.
“Sudah saya tangani dengan baik, Tuan Wisnu," kelakarnya membuat Wisnu tersenyum kecut.
”Dia aman 'kan pulang? Kenapa tidak naik Taxi malah naik Bis?" geram Wisnu mengomentari kebiasaan istrinya.
“Ternyata pesona janda itu berbeda ya?" celetuknya membuat Wisnu kembali memandang heran Assisten-nya.
”Kamu naksir sama Depe?" tanya Wisnu menggeleng heran.
“Memang tidak boleh? Dia sudah bebas juga. Lagian saya malah dapet bonus anaknya," tambahnya lagi membuat Wisnu tersenyum geli.
”Yakin kamu? Tidak cari yang masih gadis?" tanya Wisnu menggoda.
“Ish! Nanti dipikirkan. Masa saya harus punya istri dua biar bisa merasakan semua," ocehnya lagi sukses membuat kepalanya ditimpuk pulpen.
”Bicara hati-hati, pilih sesuai hati nurani. Istri dua ... aku geprek tahu rasa kamu," decak Wisnu membuat Ihsan tertawa. Ia meraih pulpen dari lantai dan ia gunakan untuk mengerjakan tugasnya. Wisnu diam-diam memandang Ihsan penuh senyuman.
__ADS_1
***
Sore hari menjelang saat Wisnu sudah berada di rumah. Memandang Almira yang kini sedang merapikan kamar mereka berdua. Lama ia memandang dan akhirnya ia membantu merapikan sprei yang sedang dipasang istrinya, saling melempar senyuman manis mereka mengerjakan bersama-sama.
“Minggu depan kita adakan acara resepsi pernikahan kita. Kamu sudah mengabari ibu di rumah?" tanya Wisnu meraih pinggang istrinya dan memeluknya dari belakang.
”Hem? Sudah, aku hanya ingin acara sederhana. Yang penting orang tahu kalau kita sudah menikah," jawab Almira segera diberi anggukan Wisnu.
“Aku tahu, hanya rekan dan kolega saja yang kita undang kok," sahut Wisnu menenangkan.
”Terimakasih, sudah mau bertanggung jawab walau jelas aku bukan levelmu," ungkap Almira membuat Wisnu tersenyum simpul.
“Terimakasih juga sudah menerimaku walau kamu tahu, masa laluku sangat mengerikan," balas Wisnu penuh syukur.
Almira memutar tubuhnya dan memeluk Wisnu dengan segenap hatinya. Ia sangat bersyukur bahwa malam menyedihkan itu bisa dia lalui bersama pria baik ini.
”Mulai hari ini kita lupakan masa itu ya? Kita lupakan dan buka lembaran baru. Aku cuma mau menunjukkan bahwa apa yang terjadi malam itu tidak sepenuhnya keinginan kita, dan kita bisa belajar dari masalah itu," ungkap Wisnu segera diberi anggukan mengerti Almira.
Almira menatap lembut suaminya, ia memandang raut wajah tampan itu dengan penuh syukur. Mereka saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain.
"Aku mau memberimu hadiah, tutup matamu sebentar," pinta Almira tersenyum manis.
"Tidak mengerjaiku?"
"Kapan aku mengerjaimu, Bos?" goda Almira segera diberi senyum simpul.
Almira segera menggigit bibir bawahnya saat suaminya mulia memejamkan mata, sambil berjinjit ia segera mengecup lembut bibir suaminya.
Wisnu segera meraih pinggang istrinya, ia tidak mau melewatkan momen berharga ini dengan tidak menyambut maupun membalasnya. Dengan lembut dia membalas ciuman itu dengan lembut. keduanya saling memagut, menyalurkan perasaan tulus yang ada dihati.
Bersambung.
Terimaksih semuanyaaa.
Jangan lupa Follow IG @Syalayaya untuk info Novel baruku yaa
__ADS_1
Salam Persahabatan dari ~ Syala Yaya🌻🌻