Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 91 Cinta yang Sederhana


__ADS_3

Hampa, kerinduan, dan keinginan untuk terus bertemu. Pelepasan dari wujud sebuah cinta. Kini, Alan menyadari bahwa Yashna memang terpatri kuat dalam hati. Baru dua minggu berlalu, dan rasanya semakin gila ketika kekasihnya itu sulit untuk dihubungi.


Selama ini baginya cukup mudah. Bisa memeluknya kapan saja, seenaknya. Ia begitu merasa Yashna sudah miliknya hingga hal seperti itu tidak pernah satu kali pun absen dari hari ke hari. Mungkin itu sebabnya ia menjadi tidak begitu lagi peduli apakah Yashna nyaman dengannya, tanpa ikatan.


“Kamu berantakan!"


Suara keras Kartika tak juga mampu mengalihkan lamunan Alan. Ia masih tidur telungkup tidak mengindahkan kehadiran sang ibu. Baginya tanpa Yashna semua tidak ada artinya. Dunianya berhenti dan ia merasa terpuruk.


”Kamu hanya akan begini?“ tanya Kartika mulai membereskan barang milik anaknya yang berantakan.


Perempuan yang memilih menghabiskan waktu sendiri tanpa menginginkan pasangan hidup lagi itu pun membuka tirai jendela kemudian menghela napas panjang.


”Lalu apa yang bisa kulakukan?“


”Menyusulnya kalau kamu masih merasa punya alasan.“


Alan menggulingkan tubuhnya untuk menoleh sang ibu, ia tidak percaya ibunya malah menyarankan hal yang selalu ditahannya selama ini. Menyusul Yashna.


Sejatinya ia ingin memberikan pelajaran terhadap perempuan kesayangannya itu bahwa tanpa dirinya pasti hari-hari akan terasa berat. Namun, apa yang terjadi? Justru ia sendiri yang merasa buruk.


”Kamu tahu, dia memposting kebahagiaan setiap waktu. Bersama anak-anak dan kaum muda,“ ungkap Kartika membuat Alan menatap tajam ke arahnya.


”Aku tidak bohong.“ Kartika kembali memberi informasi yang tidak didapatkan Alan sama sekali. Semua akunnya ternyata telah diblokir.


”Kurang ajar!“ desisnya kesal.


”Kamu marah? Astaga jangan lebay, Alan Sayang,“ ledek sang ibu segera berjalan keluar kamar hendak meninggalkan anaknya untuk berpikir.


”Lebay? Astaga!“


”Kenapa kamu marah Yashna dekat dengan komunitas sosial kalau kamu sendiri juga menyukai komunitasmu.“


”Itu jelas beda!" sungut laki-laki itu dipenuhi api cemburu.


“Jangan konyol, Alan. Kamu pikir ketika kamu dekat dengan wanita yang kamu anggap hanya sesama anggota komunitas Yashna tidak merasakan hal yang sama?” lontar sang ibu membuatnya terdiam.


Ia tercenung sesaat. Kalimat ibunya yang mengatakan bahwa ia dan Yashna merasakan hal yang sama sangat membelit hatinya. Selama ini hanya dia yang terus saja berbuat sesuka hati. Ketika perempuan lebih tua darinya itu hanya memilih untuk diam di rumah selepas kerja, ia akan nongkrong bersama komunitasnya seharian suntuk di akhir pekan. Ia hanya akan memeluk wanitanya untuk meminta maaf dan merasa hubungan mereka baik-baik saja ketika Yashna hanya akan diam dan mendengarkan apa yang tengah dialaminya.


“Ah! Bodoh, dia membalasku?” decaknya tidak percaya Yashna akan bersikap kekanak-kanakan seperti itu.


Pria itu kemudian bergerak dari tempat tidur. Mencari pasport dan menarik dua buah buku tabungan dari dalam laci. Minggu ini ia akan mengajukan visa dan menyusul Yashna ke Indonesia. Ia tidak menyangka bahwa Yashna akan salah paham terhadap apa yang dilakukannya selama ini.


“Apa dia menyangka aku bermain di belakangnya? Astaga!" geramnya kesal sendiri.


****


Matahari kota Solo bersinar terik. Bau asap knalpot kendaraan yang berlalu lalang menambah pengap persis seperti apa yang dirasakannya. Yashna menjatuhkan dirinya di bangku taman. Sungguh, berbeda sekali udara yang masuk ke dalam paru-parunya kini terasa segar.


”Alan lagi?“ keluhnya saat menatap layar ponsel yang menyala.


Ia kini sedang menguji pria itu. Bagaimana bila hidup tanpanya? Apakah memang perasaannya murni cinta ataukah hanya sebuah ketertarikan seorang pria kepada wanita yang masih belum mampu ia luluhkan.


Yashna menyeringai tipis. Kata menaklukkan rasanya tidak pantas, karena sejak saat Alan berada di sisinya saat ibu kandung yang telah melahirkannya terlihat menolak dan mengutuk kelahirannya justru Alan yang dengan keberanian membela. Sejak saat itu ia merasa berarti dalam hidup. Ia telah takluk bagai seorang manusia, tetapi tidak sebagai seorang wanita.


”Yashna, kumohon jemput aku di terminal."


Yashna membaca pesan dari Alan dengan kening mengerut. Bagaimana bisa ia menyebutkan tempat dengan kata terminal sedangkan yang ia tahu bahwa pria itu sedang ada di Australia.


“Angkat telponku, aku mabuk.”


Yashna kemudian mengangkat telepon dari Alan setelah membaca pesan yang baru masuk. Ia cukup terkejut karena Alan ternyata menyusulnya juga.


“Jemput aku, Yashna, atau aku mati,” ucapnya begitu Yashna mengangkat telepon.


“Terminal? Bagaimana bisa?” decak Yashna merasa Akan sangat aneh.


Pria itu diam, kemudian terdengar suara air mengalir dan muntah-muntah. Yashna seketika menjadi cemas. Ia pun bergegas berjalan ke arah jalan raya masih setia mendengar Alan yang belum kembali berbicara dengannya.


“Yashna ....”

__ADS_1


“Iya, aku akan ke sana. Sebentar, perjalanan memakan waktu jadi duduklah di ruang tunggu terminal aku akan ke sana sekarang.”


Yashna pun mematikan telepon kemudian memesan taksi online dan tidak begitu lama mobil yang dipesan sudah datang.


Ia masih belum percaya bahwa apa yang telah dialaminya adalah nyata. Bahkan sesekali ia mencoba untuk mencubit pipinya sendiri untuk memastikan ini semua bukan mimpi.


“Kenapa nggak minta jemput di Bandara malah terminal?” tanya Yashna melalui pesan teks.


Alan hanya membalasnya dengan emot tertawa. Yashna mendengus kesal, kenapa juga ia harus sepanik itu saat mendengar Alan sedang tidak sehat. Harusnya ia menjaga image dengan pura-pura tidak peduli.


Perjalanan memakan waktu tiga puluh menit. Yashna segera mencari Alan di ruang tunggu terminal terbesar di Kota Solo itu pada bagian peron menuju ke kota Wonogiri. Sungguh, kepalanya pusing ketika harus melewati banyak peron yang menghubungkan antar kota meski penempatannya sangat terintegrasi dengan baik.


“Yashna!" Teriakan dari salah satu pria membuatnya menoleh. Sungguh tidak menyangka, salah satu anggota yang ada di taman pintar bertemu dengannya di sini.


”Mau ke mana?“ tanya Yashna begitu pria itu mengulurkan tangannya.


”Mau ke Wonogiri, kamu sendiri?“


”Aku ... lagi jemput -“


”Calon suami!" tegas Alan yang kini malah sudah berdiri di belakang Yahsna.


“Oh, ini pacar kamu?" tanya pria bernama Aris itu mengulurkan tangan.


”Iya, kenalkan namanya Alan.“ Yashna membiarkan Alan mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah teman laki-lakinya.


”Aris, Mas.“


”Ya, sudah. Hati-hati, ya selama perjalanan. Aku permisi dulu.“ Yashna pamitan seraya menarik Alan untuk berjalan menjauh.


Ia tidak berbicara lagi, tangannya bergerak untuk mengambil alih tas ransel milik Alan dan membawanya meski berat. Ia tahu wajah Alan yang pucat sudah menggambarkan apa yang tengah dialami pria itu.


”Aku sampai Jakarta pagi tadi, kemudian mengambil penerbangan ke Solo siang ini.“


”Kok nyasar di terminal?“ sindir Yashna yang sebenarnya sangat geli melihat keadaan Alan yang biasanya sangat keren.


”Aku nyoba kayak kamu, dari Bandara lalu ke tempat Kosmu dengan naik bus ke terminal.“


”Kamu blokir akun aku kenapa?“ protesnya saat kini sudah berada di dalam taksi online yang dipesan.


”Biar aku tenang,“ jawab Yashna dengan suara datar.


”Tenang posting sama cowok-cowok maksudnya!"


“Iya, nggak apa-apa, dong. Masa cuma akun kamu aja yang bisa posting sama cewek-cewek,” balas Yahsna dengan suara nyaris sangat tenang.


Alan mendengus menahan kesal. Sungguh, rasanya ia sudah tidak sabar untuk menghabiskan saja perempuan itu agar tidak lagi bisa membuatnya cemburu.


“Kamu membalas?”


“Nggak, cuma menantang diri aja, sih.”


“Maksudnya apa, tuh!"


Alan sudah tidak sabar untuk terus mendebat Yashna. Meski sekarang mereka berdua sedang berada di dalam taksi, rasanya ia sudah ingin sekali bertengkar.


”Semua orang menganggap remeh aku, sempat down, sih. Setelah aku di sini dan beberapa mengajakku berhubungan serius, rasanya, kok, aku nggak buruk-buruk amat.“


”Astaga, Yashna." Alan menelan ludahnya dengan penuh perjuangan. Ia tidak menyangka Yashna akan senaif itu hingga melakukan hal yang menurutnya sangat keterlaluan. Ia pun diam, tidak lagi mengajak bicara Yashna hingga sampai di tempat tujuan.


***


Yahsna menunggu Alan di lobby Hotel Novotel tempat kekasihnya akan menginap beberapa hari. Sesekali menatap beberapa tamu yang datang dengan wajah gelisah. Ia tahu, tempat ini merupakan salah satu hotel terbaik di kotanya. Namun, dengan pakaian yang sedang ia kenakan hari ini rasanya sangat buruk berada di tempat ini.


“Kita nggak masuk dulu?” tanya Alan kini sudah kembali menemuinya.


“Aku pulang, ya? Kamu istirahat saja, aku tahu aku jetlag,” pamit Yashna segera dicegah Alan. Ia masih merindukan kekasihnya itu, berharap masih ada waktu untuk sekadar ngobrol bersama.


Yashna mengurungkan niatnya beranjak dari tempatnya duduk membiarkan Alan menggenggam jemari tangannya.

__ADS_1


“Apa yang bisa buat kamu selalu ada di sisiku?” tanya pria itu dengan mata berkabut. Bahkan Yashna bisa melihat kerinduan yang menggebu dari sorot mata kekasih lima tahun lebih muda darinya itu. Namun, apa yang menjadi keputusannya tidak akan goyah.


“Susah kukatakan, berat.”


Yashna kini memilih melepaskan tautan tangan itu kemudian melambaikan tangan untuk pamitan. Alan tidak mencegahnya kali ini, ia membiarkan Yashna untuk menata perasaannya lagi, setelah pertemuan yang menyisakan perdebatan.


Bagaimana perasaan Alan begitupun dengan Yashna. Ia sedang memberikan Alan pilihan yang tidak akan menyakiti siapa pun. Kalau ingin menggapainya, maka jalan satu-satunya hanya dengan meresmikan hubungan atau tidak ada hubungan sama sekali. Ia tahu Alan memiliki cinta yang menggebu, tetapi Yashna bukan anak kemarin sore yang hanya butuh cinta dan bukan komitmen untuk melangkah ke arah lebih jelas. Dua tahun sudah cukup baginya untuk berada di sisi tersulit Alan dan kini saatnya ia menata hidupnya sendiri.


“Kita cuma butuh menikah 'kan? Mari kita lakukan, Yashna. Kalau itu yang bisa membuatmu nyaman bersamaku.”


Sebuah pesan yang membuat Yashna muak. Selama ini ia tidak pernah mengemis sebuah pernikahan darinya. Hanya sebuah komitmen, itu saja.


Ia tidak mau lagi membaca pesan Alan setelah ini. Sangat arogan bila Alan merasa bahwa ia tidak bisa hidup tanpanya. Pria itu sama sekali tidak tahu apa yang ia inginkan dari sebuah kalimat cinta.


Yashna memilih memakai bis kota Damri ketika kembali ke indekos. Menunggu di halte yang telah disediakan seraya mengamati keramaian kota indah yang membawa kenangsan kehidupannya dari usia muda.


“Abiyu, bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah besar? Apa Wisnu pernah menemuimu?” gumamnya dengan kepala tertunduk.


Tidak sampai menunggu lima menit akhirnya bus yang ia tunggu tiba. Rintik hujan mulai menghiasi kaca hingga kini menjadi buram, seperti apa yang tengah ia rasakan. Tenyata selama ini Alan belum bisa mengerti apa yang menjadi kemauannya. Hanya sederhana.Ia pun cukup kesal dengan keras kepala yang ia miliki. Bahkan sebelum Alan bisa memahami apa yang ia inginkan selama ini, ia akan tetap pada pendiriannya.


****


Sementara itu di rumah Almira...


Wisnu mencuci mobil ditemani sang istri. Keduanya beberapa kali mendebatkan nama yang akan diberikan untuk anaknya kelak kalau sudah lahir.


Banyak yang disodorkan Wisnu untuknya, tetapi hampir semua ditolak Almira dengan alasan kurang pas.


“Mau kuberi tahu anak kita nanti cewek apa cowok?” tawar Almira membuat Wisnu yang masih mengeringkan body mobil menggunakan kanebo menoleh dengan gelengan kepala tegas.


“Berapa kali mas ngingetin, nggak ada yang boleh bocorin.”


“Ya, biar mudah nyari namanya, Mas,” rengek Almira merengut dengan tangan bersedekap tangan dari tempatnya duduk.


“Ya 'kan, tinggal nyiapin dua mana, satu cewek dan satu cowok maka semua masalah kelar,” sahut Wisnu santai, ia hanya menanggapi istrinya dengan senyuman tipis.


“Terserah, deh. Pokoknya terima jadi. Cuma, Ira pingin namanya nggak usah sok inggris, aku maunya yang indo-indo jawa meskipun nanti wajahnya bakal kayak artis turki atau artis korea,” sahut Almira sontak membuat Wisnu tertawa.


“Kenapa malah tertawa? Tahu nggak, aku sering nonton drama asia.”


“Iya, percaya. Lagipula bapaknya ganteng begini pasti anaknya ya cakep,” balas Wisnu gantian diberi tawa Almira.


“Aku yang cantik, Mas.”


“Iya, kalau nggak cantik masa mas Inu mau,” balas Wisnu tersenyum.


“Ya, ya, ya, nyerah pokoknya kalau Mas Inu udah mulai nggombal,” sahut Almira mencibir.


“Dosa, lho. Masa suami sendiri dikatai nggombal.”


“Lha apa? Nanti ujungnya juga merayu,” debat Almira hafal dengan tingkah suaminya dalam melancarkan aksinya dalam meminta kesenangan.


“Ujungnya apa? Ya ampun!"


”Ya, itu ....“ Almira menjeda kalimatnya karena ia malah sudah tertawa karena geli melihat suaminya yang sudah berjalan mendekat. ”Eh, stop. Nggak sekarang!"


“Apaan, sih, Dek Ira? Mau ambil minum disangka mau apa?”


“Heleh, sok alim.”


“Cieh, yang lagi pengen pinter berkelit,” ledek Wisnu kini sudah ikut duduk sembari meneguk minumnya.


“Fitnah! Idih!" elak Almira dengan wajah merah padam.


****


'Cinta itu sederhana, kau hanya butuh mengatakan bahwa dirimulah yang lebih menginginkan, maka tidak perlu lagi ada perdebatan tentang siapa yang lebih mencintai. Karena sungguh, apa yang dimulai dari diri sendiri lebih mudah daripada menunggu dari orang lain. Karena hakekat cinta itu memberi kesenangan bukan disenangkan.'


(Syala Yaya)

__ADS_1


Update setelah sekian lama, heheehe. Akan selalu kulakukan ketika aku merindukan kalian para pecinta Bang Inu yang bakalan punya Baby Inu&Ira 😍. Komen please, hehe


__ADS_2