
Almira menunduk setelah memberikan anggukan membenarkan. Kebenaran bahwa apa yang dia lakukan di masa itu malah membawa kehidupan orang lain menjadi tidak berjalan semestinya.
“Apa kamu menyesal?” tanya Wisnu merubah cara pandangnya menjadi ambigu bagi Almira.
Tangan yang kini menyentuh pundak Almira ia rekatkan dan memberi tekanan hingga istrinya itu kembali mendongakkan kepala menatap ke arahnya.
Sorot mata Almira bisa Wisnu baca sebagai reaksi terkejut dengan sikapnya yang seolah memberikan sinyal intimidasi, keseriusannya dalam bertanya dan berucap.
“Aku … aku tidak … tahu,” jawab Almira menggeleng lemah, lidahnya kelu dalam menjawab.
“Kenapa tidak tahu? Apa kamu belum bisa membedakan mana yang menyukai dan mana yang mencintai?” tanya Wisnu lagi dengan masih bersikap serius.
“Tidak tahu,” jawab Almira menggelengkan kepalanya berulang.
Sungguh, suaminya ini pandai sekali mengaduk perasaannya. Sikapnya yang sulit ditebak setiap pertemuan membuatnya bingung sendiri.
Dalam satu sisi pernikahannya belum merasuk ke dalam hatinya, pernikahan yang baginya hanya sebagai penyelamat dirinya yang sudah ternoda. Di sisi lain, sepertinya perasaannya sudah mulai mencoba menerima perasaan suaminya yang selalu menunjukkan ketulusannya.
“Mulai besok cari tahu semuanya. Perasaanmu kepadaku, rasa cinta yang mungkin kau ukir tapi kamu berusaha mengelaknya,” lontar Wisnu melepaskan jemari tangannya dan merosot meraih jemari tangan Almira.
“Apa maksudnya?” tanya Almira belum mengerti.
“Satu, bagaimana pernikahan kita selanjutnya? Aku punya harapan untuk mengarungi rumah tangga bersamamu tapi sepertinya bagimu ini sulit. Kedua, kamu punya masalah yang tidak kamu bagi denganku, padahal aku adalah suamimu, bukankah ini tanda bahwa kamu belum sepenuhnya menganggap aku sebagai suamimu?” tanya Wisnu menggenggam erat jemari tangan Almira dan memandang istri yang masih mematung di hadapannya ini.
“Baiklah, aku akan mengatakan apa yang salah dimasa lalu,” ungkap Almira meyakinkan diri.
“Coba katakan, aku akan mendengarkan,” sahut Wisnu mengukir senyuman.
“Aku ... aku saat itu mengatakan kepada kak Dhepe … kalau Mas Inu berencana menikah dengan kakak perempuan cantik bernama Yashna dan pindah ke Australia,” jawab Almira membuat Wisnu terkejut sekaligus tertawa.
Ingin sekali dia menggoyangkan tubuh istrinya dan mencubit pipinya dengan gemas. Tapi Wisnu sebisa mungkin menyembunyikan reaksinya yang kelewat kekanakan baginya itu, dia tidak menyukai orang lain melihat sisi sifatnya yang lain.
“Atas dasar apa, kamu mengira kalau aku akan menikahi Yashna dan pindah ke Australia? Info menyesatkan,” desis Wisnu berpura-pura marah pada aksi menguntit Almira dimasa lalu. Padahal batinnya ingin sekali dia tertawa lepas.
“Karena saat itu … aku melihat Mas Inu pergi ke Hotel dimana kak Yashna berada, aku juga melihat Mas Inu mengurus Visa di kedutaan besar Australia. Bukankah itu tandanya kalian berdua akan tinggal disana?” tanya Almira melipat bibirnya karena merasa salah tebak.
“Pfffftttt,” tawa Wisnu tertahan. “Penguntit amatiran,” cibir Wisnu masih menahan tawa.
Almira semakin tertunduk, merasa aneh dengan reaksi suaminya yang malah memberinya tawa, bukankah seharusnya dia marah?
“Seharusnya kamu tanya langsung ke aku, apa yang sedang aku lakukan, jadi jelas,” seloroh Wisnu memandang lucu sosok istrinya yang kelewat polos. “Sok tahu.”
“Kamu itu orangnya dingin, kaku, tidak ramah alias sombong dan tidak pernah menoleh kesana kemari, aku sudah mencoba beberapa kali mendekatimu tapi bahkan rambutku sehelai saja tidak pernah kamu perhatikan,” sungut Almira menatap Wisnu dengan sengit, bibirnya mengerucut. Dirinya memprotes ucapan suaminya tentang sikapnya yang sok tahu dimasa itu.
“Wahh … kapan ya? Aku lupa kapan kejadiannya,” sahut Wisnu merasa sangat senang mendapatkan kenyataan bahwa Almira ingin berkenalan dengannya dimasa lalu. Ingin rasanya dia memeluk istri ketusnya itu sampai engap kehabisan napas.
“Saat … Mas Inu berada di kafe kak Depe, saat di taman setiap Mas Inu berolah raga, juga saat …,” keluh Almira tidak melanjutkan menjawab, ia masih bersungut kesal mengingat masa penyelidikannya itu berakhir buruk.
“Kapan? Aku tidak ingat,” jawab Wisnu merasa sangat tertarik dengan ocehan Almira, ocehan yang selalu membuat istrinya itu terlihat masih muda dan polos dalam bercerita.
“Apa … Mas Inu akan marah karena masalah ini?" ucap Almira melepaskan diri dan bergerak menjauhi suaminya.
“Kamu ingin jawaban seperti apa?” tanya Wisnu mencoba menguji perasaan istrinya.
“Aku akan mengalah bila Mas Inu ingin aku memperbaikinya,” jawab Almira yang malah membuat perasaan Wisnu terkoyak.
“Aku akan mengalah dan pergi kalau Mas Inu menginginkanya,” ulang Almira dengan wajah tegar memandang.
Apa katanya tadi … mengalah? Apa maksud dari kata mengalah?
__ADS_1
Wisnu terdiam tidak menyahut ucapan istrinya, dirinya memilih diam tidak mau melanjutkan percakapan yang sudah dia duga sebelumnya. Istrinya tidak berniat serius dalam pernikahan berat sebelah ini, cintanya kembali bertepuk sebelah tangan.
“Aku permisi tidur duluan, Mas. Sudah malam,” pamit Almira meneruskan langkahnya meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung seperti tidak bernyawa lagi.
Gerak langkah kaki Almira semakin menjauh dan menghilang saat dirinya sudah berada di luar ruangan kerja Wisnu.
Wisnu hanya bisa menunduk dan melanjutkan tawa mirisnya. Pikirannya menjadi terbuka saat istrinya menemuinya disana, menceritakan hal ringan yang ternyata malah menusuk perasaannya.
“Mau mengalah kamu bilang?” desisnya mengingat ucapan Almira barusan.
Dengan kepalan tangan dia membalik badan dan berjalan penuh emosi ke arah meja kerjanya, duduk dikursinya dengan tangan mengusap rambutnya penuh kekesalan diubun-ubun.
“Bukankah aku sudah bersikap baik padamu? Bersabar menghadapimu? Semua aku lakukan agar kamu merasakan semua cinta sudah sepenuhnya aku berikan untukmu?” keluhnya dengan deru napasnya menahan geram karena ucapan istrinya.
“Apa kurang perhatianku, caraku menunjukkan cinta?” geramnya lagi meluapkan emosinya yang terpendam jauh didasar hatinya.
“Beraninya dia bilang mau mengalah? Apa dia pikir, dia berhak menentukan hidupku, dengan siapa aku akan hidup, dengan siapa aku akan memilih?" gumamnya lagi dengan tangan terkepal berada di atas meja.
Wisnu menatap layar laptopnya, menatap gambar yang menampilkan gambar Delia dan Bagus yang sedang duduk di sebuah pojokan area Bar di dalam Hotelnya dengan geraman yang nyata, seringai dingin nampak menakutkan saat menatap layar.
Brakk!
Tangan Wisnu meraih buku-buku yang tertata rapi di meja dan melemparnya dengan kekesalan hingga berhamburan dan menimpa vas bunga serta guci yang berada pojokan ruangannya.
Pyarr!
Bunyi gaduh di malam yang sebenarnya sangat sunyi di rumahnya. Wisnu mengacak-acak apa yang ada dimejanya sampai dirinya bisa merasa puas dan lega.
Dengan kemarahan Wisnu meraih semua yang ada disekitaran dan membantingnya melepaskan tekanan batin yang menyikasnya.
Traumanya kembali membelit dan menguasai ketakutan yang bersemayam dihatinya. Harus menelan pil pahit lagi bahwa wanita yang dia cintai akan melepaskannya dan memilih pria yang lain.
Pyarrr!
Wisnu menghela napasnya mencoba menenangkan emosinya sendiri.
“Mas Inu?!” teriak Almira setengah berlari kembali ke dalam ruangan kerja suaminya.
Suara gaduh dari dalam ruang kerja membuat ia mengingat kembali malam dimana suaminya hendak bunuh diri. Tidak mau kecolongan lagi, Almira segera kembali kesana.
Mata Almira membelalak kaget dengan keadaan disana yang kacau dengan buku dan pecahan keramik dari guci pecah berceceran dilantai, juga pecahan gelas berserak kemana-mana. Almira memandang Wisnu yang terkihat sedang dilanda kemarahan.
“Ada apa, Mas Inu tidak kenapa-kenapa 'kan?” tanya Almira melangkah masuk ke dalam ruangan, langkahnya pelan dengan rona wajah takut, hatinya berdesir ngilu menatap keadaan.
Wisnu masih membisu dengan kepalan tangannya, menahan deru napasnya yang naik turun menutup aliran kewarasan saat dirinya dilalap api amarah.
Almira segera berjongkok mengambil beberapa buku yang berserak dilantai dengan hati-hati. Menjumput dua buah buku kecil berwarna merah bata dan biru pucat yang terserak bersama pecahan keramik, ia menggenggam erat dengan jemari tangannya.
Dadanya bergolak, buku pernikahan yang baru saja mereka berdua dapatkan sebagai bukti sah hubungan mereka di mata hukum juga menjadi korban kemarahan suaminya.
“Jangan dibereskan,” lontar Wisnu dengan suara ketus.
Almira membeku sejenak, tanpa sadar tangannya masih meraih beberapa buku yang berada di sekitaran tempatnya berjongkok.
“Aku bilang jangan membereskan apapun di sini!” bentak Wisnu menoleh tajam ke arah Almira hingga istrinya itu berjingkat.
Wisnu menunduk menahan dirinya agar tidak sampai melukai siapapun di sekitarnya, kekecewaan yang menderanya sangat menyesak di dada. Kata mengalah seakan meremas hatinya seperti akan dicampakkan begitu saja oleh istrinya sendiri, dia teramat sangat marah mendengar semua ini melebihi semua kesalahan Almira tentang Dhepe dimasa lalu.
“Pargi dari sini sebelum sabarku menipis,” seloroh Wisnu dengan suara menahan tekanan kemarahan yang masih menyiksa.
__ADS_1
“A-aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba Mas Inu marah.”
“Diam dan pergi dari sini,” ucap acuh Wisnu mengubah arah pandangannya dari Almira, dirinya teramat kecewa dengan pikiran polos istrinya.
“T-tapi, Mas ….jangan melukai diri sendiri lagi.”
“Kenapa? Bukankah kamu tidak peduli denganku? Heh?” ucap Wisnu tersenyum sinis ke arah Almira, istrinya menjadi bingung dalam bereaksi karena tidak tahu letak salahnya dimana.
Kenapa tiba-tiba Mas Inu mengerikan begini? Salahku dimana. Apa … karena gara-gara aku, dia tidak bisa bersanding dengan Kak Dhepe?
Almira menelan salivanya yang terasa serak dan kering. Meletakkan buku itu di lantai, memilih menyimpan buku nikahnya yang dia genggam erat di tangan kanannya. Ia kembali berdiri dengan kaki setengah gemetar. Suaminya malam ini terasa sangat berbeda dari beberapa jam yang lalu.
“S-siapa yang … yang bilang kalau aku tidak peduli sama Mas Inu,” protes Almira dengan gugup, merasa kalau suaminya asal menuduh.
“Kamu bilang mau apa?” tantang Wisnu dengan semburat wajah memerah, mata tajam dan suara dingin menyentak perasaan Almira.
“Mau apa? Ak-aku tidak bilang apa-apa,” jawab Almira gugup belum mengerti.
Wisnu tersenyum sinis, memandang kesal kepolosan yang istrinya nampakkan. Sangat memuakkan baginya. Dia benci sikap itu.
“Baiklah, lakukan semua sesukamu. Aku juga akan melakukan semua hal sesukaku,” tegas Wisnu dengan masih memandang sinis ke arah Almira.
Almira memandang bingung lontaran ucapan kemarahan yang dia terima dengan tiba-tiba dari suaminya, pikirannya kalut dan terasa lambat dalam mencerna semua kemarahan yang diarahkan kepadanya dengan tiba-tiba.
“Kau bilang tadi apa? Melepaskanku?” Seringai nampak terlihat jelas di wajah Wisnu, dirinya segera melangkah pelan ke arah dimana Almira masih memandangnya dalam diam.
Almira membeku menatap langkah pelan pria yang kini kembali menjadi sosok lain, kemarahannya nampak jelas tersirat menakutkan baginya.
Aku harus bagaimana ini? Dia mendekatiku? Apa dia akan memukulku? Kenapa kakiku rasanya berat sekali bahkan hanya untuk menggeser sedikit saja?
Almira masih membeku dengan dentuman dada memacu, aliran darahnya terasa lebih cepat, tanggannya terasa berkeringat dan basah.
“Coba saja, coba saja kalau kamu bisa,” tantang Wisnu masih menampakkan seringai ke arah Almira.
Almira menjadi bingung, dia tundukkan kepalanya tanpa berani memandang.
Apa aku tadi salah berucap? Bukankah harusnya dia senang saat kesalahan masa itu akan dia coba perbaiki? Kenapa dia malah marah begini?
“Kita lihat saja, aku yang berhak mencampakkan bukan kamu,” lontar Wisnu mendorong pundak Almira dan berjalan pergi melewatinya.
Bersambung …
Jangan kira dengan pisau kau baru bisa melukaiku.
Jangan kira dengan pedang terhunus dan menusuk tubuhku kau baru bisa membunuhku.
Karena, cukup katakan kau akan melepaskanku.
Cukup katakan kau tidak menginginkanku lagi.
Cukup dengan itu saja kau sudah berhasil melukaiku, kau sudah berhasil membuatku seperti ingin mati. (Wisnu-Almira)
Hai semuaa terimakasih yaa sudah sampai bab ini menemari kisah Wisnu dan Almira.
Terimakasih untuk semua like, komentar positif penyemangatku, juga vote yang luar biasa dari kalian semua. Love love pokoknya.
Jangan bosan ya mengawal kisah mereka berdua.
Oh iya, baca juga dong kisah kolaborasi Syala dan Trio Somplak and the gank dalam novel Walingmi yang jelas beda dan bikin ngakak pastinya. Tinggalkan jejak kalian yaa biar kami tambah semangat nulisnya.
__ADS_1
Salam Cinta dariku IG @Syalayaya