Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 85 Extra Part Lanjutan


__ADS_3

Reuni? Bisa dibilang demikian.


Sosok Wisnu berubah. Iya, bagi teman-temannya.


Pria dingin dan cuek itu kini berubah hangat dan menyebalkan. Walau pada kenyataannya, perubahan itu hanya ditujukan untuk sang istri, Almira.


Malam itu setelah mengerjakan kewajiban sebagai umat muslim, Wisnu segera menemui para sahabatnya di taman belakang. Menemani Almira tentu saja.


Istrinya sangat ramah dalam menyambut mereka dan itu membuat Wisnu sangat bangga terhadap sikapnya.


Bagaimana tidak, saat Almira sedang hamil, tetap saja dengan sigap mampu menjaga suasana rumah tetap menyenangkan.


"Udah mau jadi Hot Daddy, nih, Nu," serobot Anggen sambil duduk di kursi kosong sebelah Wisnu.


"Alhamdulillah, iya," jawab pria itu tersenyum senang.


"Cowok apa cewek?“ Nafa ikut menyahut.


”Belum tahu,“ jawab Wisnu sembari menatap Almira yang sedang asyik tergelak bersama Dephe dan Ihsan di depan grill.


”Periksa, dong, Nu. Masa kelahiran anak pertama kayak nggak antusias, sih, Lo,“ komentar Anggen merasa sikap Wisnu baginya kurang heboh bagi seorang suami.


”Udah, kok. Cuma ... aku ngerasa lebih spesial aja kalau pas lahir aku dikasih tahu sama dokter,“ jawabnya penuh ketenangan.


”Sweet banget sih, Lo. Basi, deh. Pengen nyekek,“ lontar Anggen segera ditimpuk Nafa kepalanya.


”Suami orang, woiii ... main cekek aja kayak ayam.“ Nafa mendadak gemas dengan tingkah absurd teman bar-barnya itu.


Tentu saja, Wisnu hanya bisa ikut tersenyum.


Persahabatan yang aneh baginya. Bagaimana bisa ia terjerat pertemanan dengan para wanita aneh itu?


Entahlah, kalau bukan karena dulu dirinya pernah menjadi bodyguard Elite sudah tentu mereka semua tidak akan mau mengenalnya dengan suka rela.


”Ira, kalau capek aku anterin istirahat, yuk. Pusing juga punya temen nggak peka ada suami yang udah kangen peluk istrinya, malah betah aja nongkrong,“ celetuk Wisnu sukses membuat para sahabatnya tercengang kemudian tertawa dengan kelakuan Wisnu.


Kemana Wisnu yang selalu menjaga image itu? Mereka tidak menyangka sikapnya berubah menjadi blak-blakan.


”Gila, ngusir kita-kita, Lo?“ ujar Dhepe menggeleng tidak percaya.


”Iya, lah,“ jawab Wisnu terang segera ditimpuk kesal Almira yang kemudian mendekat dan duduk di sampingnya.


”Nggak sopan.“ Almira tidak percaya suaminya bisa bertingkah seperti itu.


Wisnu terkekeh ringan. Hanya supaya istrinya tidak asyik sendiri, ia melakukan hal konyol dan tidak sesuai karakternya itu.


”Ya udah, kita cabut, yuk,“ ajak Anggen kemudian.


Almira segera bangkit, menatap bingung ke arah tamu yang sudah menyiapkan diri untuk pulang dari rumahnya. Dengan tatapan kesal dan bibir mengerucut ia menatap ke arah suaminya yang malah menyandarkan punggung dengan tenang.


”Tuh, temenmu malah pada pulang,“ gerutunya.


”Ya, biarin. Udah waktunya mereka pulang. Suami mereka pasti udah pada panik nyariin.“ Wisnu berucap santai seraya menarik jemari istrinya agar kembali duduk.


”Tapi, kan ...“


”Nggak ada tapi,“ tegas Wisnu merangkul pundak itu kemudian memainkan rambut Almira yang menjuntai melewati bahu.


Satu persatu sahabatnya pulang, menyisakan Ihsan yang membantu membersihkan kekacauan kemudian pamitan dengan mengemban tugas mulia untuk menutup pagar.


Menyelonjorkan kaki, menyandarkan punggung di kursi malas sambil menatap bebas langit malam lepas. Perasaan Wisnu saat ini diliputi rasa syukur tidak terkira.

__ADS_1


Bersama sang istri yang dicintainya sepenuh hati, tentu saja sebagai sumber utama kebahagiaannya.


”Aku nggak tahu, kalau nggak kenal sama kamu hidupku bakal gimana, Ra,“ ungkapnya membuat Almira menoleh.


Pandangan yang sejak tadi mendongak menatap pijar bintang berwarna paling kemerahan kini beralih kepada sang suami.


”Ngomong apaan, sih?“ komentar Almira tidak mengerti.


”Kamu pasti marah, bingung, kesal, kecewa, dan mungkin saja bertanya-tanya. Ya, nggak?“


Kini Wisnu sudah beralih posisi dengan menatap lekat istrinya. Menyelipkan rambut yang terberai oleh embusan angin ke belakang daun telinga.


”Kamu wanita paling cantik di mataku, jadi jangan ada terselip rasa yang membuatmu tidak nyaman dengan keadaan dirimu, Almira,“ ucap Wisnu dengan suara lembut.


Almira menunduk, menghindari hunjaman manik mata suaminya saat menatap. Dalam hati, ia cukup merutuki pikiran yang sempat tebersit. Membuatnya memendam sebuah kegelisahan.


”Mereka hanya sahabat, aku nggak punya mantan kayak kamu,“ lontar Wisnu.


Almira mendongak cepat. Kenapa malah membahas masa lalunya? Setelah cukup tenang dengan ucapan suaminya, kini ia mendadak menjadi bersungut kesal.


”Mantan pacar memang aku punya, lagian temenku banyakan cewek, dan juga teman priaku cuma beberapa dan itu pun bisa dihitung jari, nggak kayak kamu,“ sungutnya membalas.


”Mendingan punya sahabat banyak daripada punya mantan pacar.“ Wisnu menampakkan cibiran.


”Mending apanya?"


“Nggak punya kenangan. Coba bayangkan? Aku bekas sisanya siapa?" adu Wisnu sanggup memerahkan telinga Almira.


”Wah! Bekas?“ Mata Almira sukses melotot tajam ke arah suaminya.


Wisnu terpancing? No! Pria itu bersedekap tangan, menantang sungutan sang istri. Baginya sebuah perdebatan kecil yang lucu sanggup menyegarkan hubungan mereka.


”Coba ingat! Ciuman untukku, bagi kamu sudah yang keberapa kali?" Wisnu memandang Almira dengan sungut di wajah.


“Dasar rese, tukang php, kenapa nanya hal yang nggak masuk akal kayak gitu?"


”Tukang php? Jiahh ... nggak pernah ada di dalam kamus hidupku,“ sanggahnya mencibir.


”Terus kak Dhepe? Yashna?“


”Kemudian Rio, Leon, Bagus -“


Almira membungkam mulut suaminya dengan satu jemari tangan. Duduk beringsut lebih dekat dengan memeluk satu tangan yang lain untuk memeluk suaminya.


”Shhttt! Kenapa mengeja barisan para mantanku, sih?" geram Almira.


Wisnu menahan tawa, entah kenapa rasanya senang sekali saat melihat istrinya kelabakan.


Rasanya cukup penasaran, apa dan kenapa istri cantiknya bisa putus dari pacarnya.


“Jelas aku masih suci,” ucap Wisnu selepas Almira melepaskan tangan.


“Mana ada manusia suci, yakin?”


“Masih mending, kamu yang kedua,” jawabnya iseng.


“Maksudnya?”


“Ya ... begitulah.” Wisnu mulai menggoda.


“Wah! Di antara kak Depe dan Yashna? Salah satunya sudah pernah berciuman denganmu?” berang Almira.

__ADS_1


“Salah duanya," godanya lagi.


”Heh!" Almira memandang kesal Wisnu, menggembungkan pipi menampakkan rasa marah.


“Kenapa?”


“Pengen nyekek,” sungutnya.


“Siapa?"


”Kamu!"


Mau tak mau mereka saling memandang, kemudian sama-sama tergelak tawa.


“Kampungan," rutuk Almira.


”Siapa?“


”Kita,“ jawab Almira mengulum tawa.


”Kamu aja, aku enggak,“ koreksi Wisnu.


”Iya, kamu aja. Aku enggak,“ balas Almira segera diraih pundaknya. Wisnu memeluknya penuh rasa gemas.


”Play girl,“ bisiknya di telinga.


”Php kampret,“ balas Almira belum mau kalah.


”Istri cantikku mantan play girl. Ck! Jangan sampai menuruni anakku,“ bisiknya lagi.


”Suamiku tampan, baik hati, setia, pokoknya terbaik,“ puji Almira sanggup melambungkan hati Wisnu.


”Begitu?"


“Hooh.”


“Masuk kamar, yuk.”


“Mau ngapain?” tanya Almira merenggangkan pelukan.


“Bonus chapter cut sampai di sini," jawab Wisnu mengingatkan.


”Oh, begitu?“


”Hooh, kita sambung besok lagi.“


”Ok, yukk.“


****


Hai teman-teman terlope-lope 😍😍😍


Baca novel baruku juga ya???


Tuan Muda Play Boy Vs Pelayan Kesayangan Kakek.


Semoga terhibur dengan tingkah kocak Anjani dan Arjuna.



Byeee, Next Bonus Chapter selanjutnya, ya.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2