
'Mbak Yashna, sakit maag pak Alan sepertinya kambuh. Beberapa hari ini beliau sakit, tidak selera makan, dan mengeluh tidak nyaman di bagian perutnya.'
Sebuah pesan teks masuk kala Yashna sedang mengisi acara kelas bareng teman sesama Komunitas Pecinta Alam dan beberapa penggiat literasi. Hari ini sebenarnya dia berencana tidur seharian setelah selesai melakukan serangkaian kegiatan belajar bareng anak-anak yang tinggal di rusunawa.
Gadis itu mendesah, helaan napasnya membuat pria yang duduk di sebelahnya langsung menoleh ke arahnya. Yashna yang menyadarinya segera melayangkan tatapan mengernyit hingga pria itu melepaskan senyuman samar.
“Ada apa?” Pria itu tidak lagi mendengarkan rekan satu tim komunitasnya yang sedang mendongeng di depan anak-anak.
“Aku boleh pulang lebih awal?” Yashna memasukkan ponselnya ke dalam ransel sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Saat ini masih pukul dua siang, ia yakin Alan belum pulang dari kantor.
“Ada masalah? Siapa yang menghubungimu?" Setyo bertanya sambil mengembuskan napas gelisah.
”Alan sakit,“ tukas Yashna tanpa minat untuk menjelaskan. ”Sampaikan ucapan maafku sama teman-teman, ya," pamitnya hendak beranjak.
“Dia bukan bayi, Yashna.” Tampak tangan Setyo berusaha menahan Yashna agar tidak meninggalkan tempatnya.
“Setyo, kita udah bahas masalah ini, 'kan?" Tatapan Yashna tidak kalah setajam pria di hadapannya.
”Bukankah dia udah nggak sama kamu? Sampai kapan kamu akan terjebak—“
”Aku pergi,“ potong Yashna menepis tangan Setyo lalu beranjak dari kursinya.
Gadis dewasa itu mengeram kesal. Dikelilingi oleh para pria yang seringkali memaksanya untuk menurut sudah tentu sangat menjengkelkan baginya. Setelah semakin lama mengenal, rasanya Setyo tak ubahnya mirip Alan yang memiliki kecenderungan suka berdebat. Ia lelah, merasa tidak ada satu pun pria yang bisa menghargai apa yang ingin dilakukan tanpa pikiran negatif terselip di dalam benaknya.
Yashna menyadari ketika jejak langkah terdengar mengikutinya ketika menyusuri koridor Rusunawa. Tanpa menoleh pun ia sadar bahwa Setyo pasti telah berjalan di belakangnya. Rasa kesal pun membuat Yashna terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.
”Biar aku antar!“ Setyo mencekal lengan Yashna agar memperlambat langkahnya menuju ke arah pintu keluar utama.
”Tidak usah.“ Yashna menjawab lesu. Lebih tepatnya tidak ingin membuat pria itu tersinggung.
”Apa sangat berat?“ Pertanyaan yang seperti menggantung sangat menjengkelkan bagi Yashna. Meskipun ia paham dengan arah pembicaraan pria itu, tapi rasanya sangat malas untuk menjawab.
”Yashna!“ Suara pria itu terdengar menuntut meski tidak membentak. ”Hubungan kita semakin dekat meski kamu dan aku tidak ingin mengikrarkan diri sebagai sepasang kekasih. Kita cukup dewasa untuk memahami apa tujuan dari ini, bukan?“
”Aku hanya ingin menjenguknya, Setyo!“ Yashna terpancing emosi.
”Kamu akan tenggelam dalam dilema lagi, dasar—“ Setyo menelan umpatannya. Rasa cemburu yang membakar dirinya seolah menyulutkan emosi ingin diluapkan.
”Aku sudah tidak bertemu dengannya dua bulan. Bagiku cukup untuk mengetahui apa arti dirinya.“ Yashna melepaskan diri lalu berjalan tanpa menghiraukan panggilan Setyo. Tidak ada yang salah, ketika ia memutuskan untuk tidak menjalin hubungan khusus dengan siapa pun. Ia merasa bebas untuk melakukan banyak hal tanpa merasa bersalah dan terkekang.
Yashna kini sudah berada di dalam Bus Kota yang akan membawanya ke kantor cabang Alan di kota Solo. Ia tahu Alan sengaja berkantor di wilayah kota tempat tinggalnya demi bisa sesekali menemuinya meskipun itu mustahil karena dia akan dengan cepat menghindar. Tidak ada yang salah, tetapi rasanya ia belum siap dengan ocehan pria itu mengenai pernikahan dan melihat begitu takutnya pria itu kalau cintanya teralihkan untuk Setyo. Sangat konyol bagi Yashna mengingat selama ini yang justru dirinya yang cemas Alan akan melepaskannya selama melihat bagaimana cara pria itu berteman dengan banyak wanita.
__ADS_1
”Skor kita 1:1, Alan.“ Yashna menggumam geli.
Sekretaris Alan mengabarinya kalau pria muda itu sedang sakit. Entah ada angin apa hingga ia merasa bahwa menemui Alan tidak ada salahnya ketika selama ini ia jago menghindar.
Kini Bus melewati persimpangan jalan raya, bangunan gedung tidak setinggi di Ibu Kota, tetapi kemacetan lalu lintasnya mungkin saja akan mulai menular ke kota ini, Yashna merasa yakin.
Yashna turun tepat di halte depan sebuah bangunan Hotel. Menyusuri jalan trotoar yang baru saja direnovasi dengan beberapa pepohonan yang mulai tumbuh subur memanjakan langkahnya. Rerumputan yang mengisi lahan kosong taman mulai menghijau dan terpangkas rapi. Yashna begitu menikmati perjalanan menuju ke tempat kerja Alan. Statusnya kini mulai membingungkan. Ketika ia merasa sudah putus dari pria itu, break sejenak, tetapi pria itu masih saja mengklaim bahwa ia masih tunangannya.
”Tunangan tanpa ujung?“ tanya Yashna pada semilir angin yang menyibak rambutnya yang kecoklatan. Ia sengaja mengubah warnanya karena selalu digoda teman kerjanya di sebuah minimarket bahwa ubannya sudah mulai mengintip. Ya Tuhan, usianya sudah hampir menginjak dua puluh sembilan tahun. Rasanya ia ingin menyerah untuk mencari pendamping hidup. Keinginannya untuk menikah dengan pria dewasa sepertinya hanya mimpi. Yang tersisa hanyalah pria rese yang mencoba untuk menggodanya bermain-main atau seorang suami yang menghinakan diri karena sudah mengkhianati istri-istri mereka. Yashna rasanya ingin meludah.
Siang ini tampak lautan biru menghiasi langit. Ia sudah menjejakkan kakinya di sebuah kawasan niaga di mana kantor Alan berada. Berbentuk bangunan ruko lantai tiga dengan desain eksterior bergaya Eropa. Yashna tertegun di depan pintu kaca sebelum masuk ke dalam ruangan.
”Bukankah sangat aneh kalau aku tiba-tiba berada di sini?“ gumamnya bermonolog. Belum sampai ia berbalik badan untuk pergi, salah satu OB yang bekerja di kantor Alan memanggilnya.
”Mbak Yashna!“
”Well, saatnya untuk bersikap dewasa sesuai usia,“ batinnya meyakinkan diri kalau apa yang sedang dilakukannya tidak akan membuat pria itu besar kepala.
”Eh, Roni,“ sapa Yashna berbaik badan menatap pria itu sambil tersenyum semringah.
”Mas Alan ada di dalam, Mbak. Masuk aja langsung,“ ucap pria ramah itu membukakan pintu kaca kantor Alan.
”Lantai tiga, ya, Mbak. Mas Alan selalu pesan, kapan Mbak Yashna datang, suruh langsung ke lantai tiga,“ urai pria itu berhenti menemani Yashna melangkah menyusuri tangga.
Yashna hanya mengangguk. Banyak karyawan yang bekerja untuk Alan. Perusahaan properti yang diwariskan orang tua padanya. Yashna melangkah ke arah yang dituju, ruangan Alan berada. Banyak bisikan yang sudah pasti dialamatkan padanya. Sayang sekali telinganya tidak begitu peka hingga mampu menembus hampa udara dan mendengarkan apa yang sedang mereka gunjingkan.
”Eh, Mbak Yashna datang!“ Seorang wanita cantik yang tadi mengirimkan pesan untuknya menyambut. Senyumnya semringah kala membawa Yashna menyusuri ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa kubikel tempat karyawan bekerja. Beberapa yang tidak terlalu sibuk melambaikan tangan padanya. Yashna cukup heran karena sebenarnya ia sendiri hanya datang ke kantor ini sekali, tetapi beberapa karyawan ternyata mengingatnya.
”Ruangan Pak Alan di sini, silakan masuk,“ ujar wanita itu seraya mengetuk pintu dengan hati-hati.
”Ya!“
Suara yang terkadang menjengkelkan bagi Yashna terdengar dari dalam ruangan. Ucapan manis anak muda yang dengan percaya diri menawarkan sebuah masa depan. Ia terkadang cukup ragu, bagaimana bisa orang yang harusnya ia bimbing kini malah tumbuh melampauinya? Yashna menelan ludah gugup.
”Mbak Yashna datang, Pak!“ Perempuan itu memutar kenop pintu.
Rasanya jantung Yashna ingin lepas dari tempatnya, begitu dibuka sosok pria yang dihindarinya selama ini sudah berdiri di ambang pintu menatapnya dengan tatapan sukar dibaca. Yashna balas memandang dengan kebingungan.
”Kenapa baru datang? Apa kamu tersesat?“ omel pria itu memberinya wajah masam.
”Sial! Harusnya aku tidak usah datang,“ dengus Yashna enggan bersikap ramah. Ia merasa bahwa pria itu sehat, hanya jiwanya saja yang mungkin saja tidak waras.
__ADS_1
”Eits! Mau ke mana? Masuk, sudah terlanjur datang!“ sergah pria bermata memesona itu menarik tangan Yashna agar masuk ke dalam ruangannya. Tidak lupa Alan tersenyum tipis sambil mengedipkan sebelah mata pada sekretarisnya.
”Akan kusiapkan es krim ukuran jumbo,“ ujar Risma—Sekretaris Alan, menggoda bosnya dan tertawa riang.
”Untuk apa?“ Yashna yang menurut mengikuti Alan yang menariknya masuk ke dalam ruangan menoleh ke arah wanita itu. Risma hanya tersenyum.
”Oh, itu ... untuk mendinginkan hawa panas tanteku tercinta yang kepanasan selama perjalanan ke sini,“ celetuk Alan segera menyeringai ketika tatapan tajam dilayangkan Yashna padanya.
”Tolong jangan mencubit! Aku sedang sakit,“ ringkus pria itu meraih pundak Yashna agar mengikutinya ke arah sofa.
Yashna yang sebenarnya secara spontan ingin menghentikan Alan dalam menggoda dengan cubitan sepintas tertegun. Ia mendongak menatap mata lembut pria muda itu saat menatapnya. Benar apa yang dikatakan Setyo, hatinya kembali goyah.
”Tidak parah, hanya GERD. Sungguh,“ ujar pria itu menyakinkan.
Yashna menghela napas, rasanya sangat kesal, ia pun membiarkan pria itu memeluknya meski tanpa niat membalas.
”Bunda pasti akan membunuhku,“ keluh Yashna dengan wajah muram.
”Tentu saja, aku sudah laporan kalau kamu tidak lagi mau menemuiku selama dua bulan ini,“ bisik Alan terdengar tawa ejekan di dalam kalimatnya. ”Kamu tidak menjagaku dengan baik selama aku tinggal di sini.“
”Bunda tidak akan percaya!“ Rasanya Yashna ingin meledak.
”Aku merindukanmu. Apa dua bulan belum cukup untuk menyiksaku?“ Pertanyaan itu sederhana, tetapi sanggup menembus dinding hati Yashna hingga membuatnya membeku.
****
'Bukan bidadari yang kuinginkan, karena cukup kamu saja di sisiku, rasanya sudah kutemukan sebuah kesempurnaan.'
(Kalandra Tama)
Noted : GERD (gastroesophageal reflux disease) atau penyakit asam lambung disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter yang terletak di kerongkongan bagian bawah. (Sumber : Hallodoc dan Google)
****
Hai semuanya 😍😍😍😍
Salam rindu dari aku yang menghilang cukup lama. Pasti kesel ya? apaan nih update suka-suka wkwkww ngeselin, ya 😅
Novel ini sebenarnya sudah tamat, aku aja yang rese memasukkan kisah Alan dan Yashna ke sini 🤭, hihihi. Gak pa-pa ya? buat mengobati rasa rindu.
Pokoknya kita nikmati aja kisah pahit manis mereka 🥰🙏
__ADS_1