Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 53 Bercanda Sejenak


__ADS_3

Saat ini Ihsan dan Almira sedang berada di lobby hotel untuk melakukan wawancara kerja. Keduanya saling memandang sejenak dengan pikiran masing-masing.


“Mari aku antar kamu ke tempat kerja kamu,” ucap Ihsan sambil menutup map yang berada di tangannya.


Ia segera berdiri dan melambaikan tangannya ke arah pegawai yang segera mendekat ke arahnya. Ihsan menyerahkan map tersebut pada orang itu tanpa sepatah katapun terucap, Almira hanya memandang wajahnya bingung.


“Resto berada di ujung sana,” tunjuk Ihsan sembari menunjuk arah dan mempersilahkan Almira jalan terlebih dahulu.


Almira segera berdiri dan melangkah ke arah yang sudah ditunjukkan oleh Ihsan. Mereka berjalan beriringan tanpa berbicara. Sesaat Almira sendiri juga merasa kalau kedua pria itu --suaminya dan Ihsan-- sama-sama orang yang tertutup. Terbesit niatan untuk menanyakan hal tentang suaminya kepada sahabat Wisnu itu, tapi Almira sendiri bingung bagaimana cara yang sopan saat menanyakannya.


“Pak Ihsan mengenal mas Ibu sudah lama?” tanya Almira ragu dan pelan.


“Lebih dari dua tahun,” jawab Ihsan menoleh ke arah wanita yang berjalan sejajar di samping nya itu sekilas.


“Wah, ternyata masih lama aku,” jawab Almira tersenyum sendiri.


Ihsan menoleh cepat. Ia sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya tentang pertemuan bos-nya dengan istrinya.


“Bukankah kalian berdua baru bertemu pada malam itu, ya?” tanya Ihsan ragu.


Almira tersenyum tipis menanggapi dan tak mau berbagi lebih jauh lagi. Ihsan hanya bisa menatap dengan rasa penasaran.


Almira lagi-lagi dibuat kagum dengan desain interior restoran yang akan menjadi tempatnya bekerja nantinya. Saat matanya memandang deretan kursi yang sangat rapi, rasa bahagia jelas terpancar dari raut wajahnya. Ihsan hanya tersenyum menanggapi. Ia mempersilahkan Almira untuk terus melangkah menuju bagian belakang. Mereka menuju pantry chef berada.


“Silahkan kamu menyapa semua rekan kerjamu. Aku akan menghubungi Wisnu agar menemuimu di sini,” ungkap Ihsan membuat Almira sumringah memandang.


“Bisakah?” tanya Almira merasa sangat antusias. “Bisakah aku menemui mas Inu di sini?”


“Bisa dong, Ihsan gitu,” ucapnya sombong.


Almira tertawa kecil menatap Ihsan yang sudah menempelkan ponselnya di telinga dengan gaya sok keren. Ihsan terlihat menunduk, ia sibuk dengan panggilan yang sedang dilakukannya. Almira memilih segera meninggalkan Ihsan dan menyapa hangat rekan kerjanya dengan masuk ke dalam.


Hanya butuh beberapa detik panggilannya terjawab bosnya. Ihsan tersenyum sendiri dengan ide yang tiba-tiba tercipta di dalam pikirannya.


“Pak Wisnu, maaf mengganggu, Pak,” sapa Ihsan dengan suara lantang, terdengar Wisnu berdecih dari seberang.


“Saya sedang mengantar Almira ke resto tempatnya bekerja mulai besok,” lapornya kepada Wisnu.


“Aku tahu,” jawab Wisnu singkat. "Ada apa?"


“Pak Wisnu tidak mau menemuinya dulu ke sini? Rame lho, Pak,” goda Ihsan meringis sendiri menahan perasaan gelinya membayangkan juteknya wajah sang bos saat ini.


“Untuk apa? Kau ini … sudah membiarkan Delia gentayangan di kantorku. Mau kamu, posisimu digantikan dia?!” decak Wisnu terdengar kesal.


“Wahh itu diluar kuasa saya, Pak. Tapi tenang saja, Almira akan selalu menjaga Anda,” seloroh Ihsan menenangkan kemarahan Wisnu.


“Ck! Benar-benar membuatku kesal saja,” keluh Wisnu terdengar berdecak.


“Ternyata istri Anda sangat ramah, Pak,” bisik Ihsan mendekat ke dalam pantry dimana Almira sedang bersenda gurau bersama para karyawan resto. "Semua orang menyukai kedatangannya," tambah Ihsan lagi.


Suara saling memuji saling menggoda jelas terdengar di telinga Wisnu dari speaker ponsel milik Ihsan. Ihsan dengan sengaja memanas-manasi bosnya agar mau datang dan bergabung. Terlalu stres ketika harus berkutat dengan rutinitas pekerjaan.


Ihsan merasa ada kalanya bosnya itu butuh sedikit candaan ringan untuk membuang tekanan barang sepuluh menit untuk ikut tertawa bersama. Bosnya sangat kaku mengenai hal ini.


“Pak Wisnu bisa mendengar tidak? Sepertinya Almira cocok sekali bekerja di sini,” ucap Ihsan masih bernada menggodanya.


“Wahh jangan membuatku tambah kesal ya kamu?” desis Wisnu terdengar suara gerak langkahnya.


Ihsan yakin pasti saat ini bosnya sedang menuju ke tempat dirinya berada saat ini. Dalam hati ia bersorak riang sambil mendekati Almira.


Terlihat Almira sedang memperkenalkan diri dan saling menyapa penuh keakraban. Ihsan jelas hafal semua karyawan resto tempatnya sering nongkrong sepulang kerja untuk menggoda salah satu karyawan dan mendapat jatah makan gratis dari chef andalan di resto itu.


“Nino, usia Almira masih dua puluh dua tahun lho, bukankah kamu baru dua empat , kan?” ucap Ihsan nimbrung pembicaraan asyik mereka semua.


"Selisih dua tahun, Bro. Wah, cocok nih," timpal rekan yang lain menanggapi.


“Wa, kesempatan ini. Buang status jomblo bulan ini, No,” goda yang lainnya kepada chef muda yang segera menyunggingkan senyuman malu sudah jadi bahan godaan teman-temannya.


Almira hanya tertawa menanggapi guyonan yang jelas hanya bentuk candaan saja sebagai rekan kerja pada umumnya.

__ADS_1


“Kamu sudah punya pacar apa belum, Almira?” tanya Nino menimpali godaan teman-temannya kepada Almira.


Almira mengernyitkan keningnya sambil tersenyum tidak menjawab, karena jujur saja dirinya sendiri juga bingung antara jujur atau tidak. Dia takut tidak jadi diterima kerja saat tahu dia satu kerjaan dengan suaminya.


“Kalau pacar sih jelas Almira tidak punya,” sahut Ihsan segera diberi derai tawa.


“Huuuuu … Nino, ayo pepet terus, jangan kasih lepas,” seru mereka semua menggoda Nino dan Almira. Keduanya hanya tertawa geli menanggapi guyonan itu.


Suasana resto yang belum memasuki jam makan siang memang terlihat lebih lengang, apalagi resto yang hanya disinggahi para tamu hotel dan juga tamu yang sengaja mencari tempat yang sepi dan romantis untuk melakukan pertemuan dan makan bersama. Para karyawan masih bisa bersenda gurau.


“Pak Wisnu akan ke sini?” tanya Ihsan yang belum menutup panggilan segera berbicara kembali dengan lawan bicaranya di telepon.


“Tidak sampai lima menit aku sampai,” jawab Wisnu sambil memutus sambungan telepon.


Ihsan merasa semangat sekali, apa kira-kira yang bisa dia lakukan untuk menghibur bos yang sedang marah itu. Terasa sekali perubahan suara bos-nya menandakan saat ini dia sedang cemburu. Ihsan menyukainya.


Almira masih saja meladeni guyonan sambil duduk dan menerima satu botol air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang kering akibat terlalu banyak tertawa.


“Minta nomor ponsel Almira sana ?” goda Ihsan mendorong Nino yang tampak malu-malu menatap rekan kerjanya satu persatu.


“Tidak minta nomorku saja?” Suara Wisnu dari arah belakang membuat semua menoleh dan segera panik membubarkan diri.


"Pak Wisnu," sapa mereka canggung bergantian.


Mereka menatap dan menunduk menyapa kedatangan Wisnu sambil mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. Almira memutar kepalanya mengamati para rekannya dengan bingung.


Suara yang tadinya riuh ramai kini harus terhenti dan suasana kembali normal seperti semula. Almira masih berdiri mematung di samping Ihsan. Ia belum paham apa yang akan menjadi tugasnya.


“Pak Ihsan, kenapa saat mas Inu datang semua malah bubar?” bisik Almira kepada Ihsan yang malah menyandarkan punggungnya santai di dinding.


“Dia ketus, tidak punya teman,” jawab Ihsan juga berbisik.


Wisnu berdehem melihat interaksi istri dan Assisten-nya.


Wisnu yang hanya memakai kemeja putih polos dengan dasi tanpa jas menatap Ihsan segera memberi isyarat kepada Assisten ituagar mencairkan suasana canggung yang malah tercipta. Wisnu bingung sendiri bagaimana cara menyapa istrinya di sana.


“Mas kesini?” bisik Almira kepada Wisnu tanpa mendekat.


“Bersih-bersih pikiranmu?” bisik Wisnu dengan gigi gemerutuk.


Ihsan malah tertawa menanggapi kekesalan itu. Dengan gaya sok pemimpin, Ihsan segera berjalan mengamati satu persatu karyawan. Mencari celah bagian apa yang bisa ia lakukan untuk menghukum atas bohongnya tentang pekerjaan. Setidaknya walau tidak mendapat mobil tapi ia bisa membalas bosnya dengan telak.


“Kamu kerja di bagian ini?” tanya Wisnu kepada Almira. Ia mendekat dan pura-pura tidak tahu. Ia mengamati suasana pantry restoran, memandang beberapa karyawan yang sedang menyiapkan menu untuk siang nanti.


“Iya, Mas. Kalau Mas Inu?” tanya Almira merasa penasaran.


“Tempatku dimana-mana pokoknya. Kalau ada perlu pasti aku usahakan datang.”


“Bersih-bersih kenapa memakai jas dan kemeja?” ledek Almira memandang remeh.


“Ini trend masa sekarang,” sahut Wisnu tersenyum bangga. Almira menggeleng pelan merasa suaminya sudah terlalu banyak bergaya.


Wisnu melangkah ke arah Chef Nino dan Kepala chef yang berada di tempatnya. Dengan langkah tegas ia mendekat dan bermaksud melihat bagaimana cara Chef andalannya dalam bekerja mengolah bahan makanan menjadi seni makanan bercita rasa tinggi.


“Mau dibantu apa?” tanya Wisnu membuat semua orang menatapnya bingung. Begitu juga dengan Ihsan yang menggeleng tidak percaya pada tingkah lucu bosnya.


“Bantu apa ya,” jawab kepala Chef bingung. Ia mengamati bahan makanan yang ada dihadapannya.


Chef itu merasa aneh dengan apa yang Wisnu lakukan. Bosnya itu tidak pernah datang ke tempat kerjanya seperti ini.


“Aku apa saja bisa,” jawab Wisnu membuat Almira mendekat ke arah Wisnu dan berdiri berjajar dengan pria tak lain suaminya itu.


“Ini, eh … Anda tidak perlu membantu, Pak," jawab chef itu kemudian karena merasa tidak enak dengan Wisnu sebagai pemilik dari tempatnya bekerja.


“Kenapa Pak Wisnu tidak membantu mencuci ikan saja?” celetuk Almira membuat semua orang yang ada di sana tercengang menatap karyawan baru itu dengan batin khawatir.


“Iya, bukankah itu bantuan yang sangat dinantikan para chef, mengingat Pak Wisnu berbakat mengerjakan tugas apa saja," timpal Ihsan terkekeh berhasil mengerjai, ia menatap ke arah Wisnu yang merasa kaget juga dengan ucapan Almira untuknya.


“Oh, tidak masalah,” jawab Wisnu segera berjalan menuju bak penampungan, dimana banyak ikan masih hidup dan siap dijadikan menu makanan nantinya.

__ADS_1


Semua orang menahan napas memandang Almira juga Wisnu. Mereka berharap Almira tidak mendapat masalah karena ketidaktahuan Almira mengenai jabatan Wisnu di Hotel itu.


Wisnu memandang ikan itu dengan perasaan geli, mencoba meraih ikan yang masih berenang bebas di bak penampung dengan perasaan sukar dijelaskan. Beberapa kali ia gagal hingga menghentak kaki kesal sendiri.


Sungguh pemandangan yang belum pernah terjadi selama ini, mengingat Wisnu bukanlah sosok bos yang suka menyapa para karyawannya. Semua merasa terhibur dengan kedatangan Wisnu ke resto itu.


“Susah sekali ya?” keluhnya kesal sendiri.


“Harusnya kamu bisa,” ejek Almira mendekat dan ikut melihat tangan Wisnu mengaduk bak.


“Sulit, kamu pikir ikannya tidak menghindar?” desisnya memandang Almira kesal.


“Bukannya ikan itu menghindar, tapi tanganmu yang payah," ejek Almira ikut merasa kesal.


“Payah kamu bilang?” decak Wisnu memandang Almira dengan gigi gemerutuk.


Bagaimana bisa istrinya itu mempermalukannya dihadapan para karyawannya. Ingin sekali dia meremas gemas pipi Almira.


“Kalau tidak payah kamu pasti sudah berhasil dari tadi,” sahut Almira jengkel sendiri.


Sambil menghembuskan nafasnya, Wisnu mengabaikan cibiran Almira dan mulai mencoba menangkap ikan kakap itu dari dalam bak dengan kedua tangannya.


Semua orang malah berhenti dan melihat kekonyolan yang terjadi dihadapan mereka. Pemandangan yang sangat langka, bosnya dikatai payah oleh karyawan baru. Mereka semua menahan diri agar tidak tertawa.


“Wow keren, kamu berhasil," seru Almira bertepuk tangan melihat Wisnu berhasil menangkapnya.


Dengan cepat Wisnu mengangkat ikan itu ke atas dan melempar senyuman bangga kepada Almira. Almira menyambutnya dengan jempol dua ke arahnya.


Gerakan gelepar ikan yang licin juga sisiknya menyakiti telapak tangannya, akhirnya Wisnu terkejut dan melepaskan dengan cepat ikan itu hingga terjatuh dan meluncur ke lantai, semua orang tercengang melihatnya.


“Hoi! Kenapa kalian semua diam saja. Jangan biarkan ikannya kabur!" teriak Wisnu merasa jengkel karena dibiarkan dirinya berjuang sendirian.


Sontak semua yang berada di dalam pantry berlarian menangkap ikan yang tergelincir dan menggelepar menjauh mencari sumber kehidupannya.


"Awas, jangan sampai ikannya kehabisan nafas dan mati," ancam Wisnu merasa kesal sendiri.


“Beri nafas buatan kalau perlu,” celetuk Ihsan menahan tawa sambil melirik ke arah Wisnu yang menatap dirinya dengan tajam.


Ihsan segera melengos dan pura-pura memandang para karyawan yang saling dorong mencoba menghindari tugas mengambil ikan di lantai.


***


Hidup itu sederhana, saat canda tawa tercipta dan kita menikmatinya.


Hidup itu sederhana, saat kita tidak sendirian dan kebersamaan dengan para sahabat begitu berarti.


Pelipur hati bukan melulu bersama sang pujaan hati, bahkan saat ledekan, ejekan untuk menggodamu saling timpal bermaksud untuk menguraikan kesepianmu.


Sudahkah kamu menyapa sahabatmu hari ini?


Ada yang mengatakan bahwa "Lebih baik punya barisan para mantan pacar daripada barisan mantan sahabat. Serese apa pun kamu pasti lebih memilih sahabat 'kan daripada seorang kekasih yang bisa datang menggoda silih berganti?"


By. Syala Yaya.


Bersambung …


❤️Hai semuanya …


Terimakasih ya untuk waktu juga dukungan kalian semua untuk Wisnu&Almira.


Like, komentar positif yang tidak bisa aku balas satu persatu, pokoknya makasihhhh banget😍😍.


Baca juga ya novel sahabat baikku kak Tya Gunawan, dijamin ketagihan



Juga kak Fitri Rahayu dengan novel bikin baper


__ADS_1


Salam tos persahabatan dariku ~ IG. @Syalayaya


__ADS_2