Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 84 Extra Part Somplak Berkumpul bag. 2


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


Tawa riuh segera terdengar bersamaan. Dhepe, Anggen, Tya, Nafasal, Ihsan dan Almira terlihat sangat akrab dan nyaman saat saling menggoda. Wisnu yang menyimak obrolan dari jauh segera membalik badan kembali ke dalam rumah. Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu daripada mengganggu suasana.


"Jam berapa ini?" tanya Almira menyadari hari sudah gelap.


Area taman terbuka secara sempurna memvisualkan pemandangan malam dengan sempurna. Almira segera bangkit sambil memandang semua tamu satu persatu.


"Asyik banget, ya, sampai nggak sadar udah malam," sahut Nafa tersenyum lebar.


"Kalian lanjutkan dulu, ya. Aku mau ngecek, apa Mas Inu udah pulang," pamit Almira sambil mengayun langkah meninggalkan meja.


"Ok," jawab Dhepe menipiskan bibir. "Cepetan balik," pesannya seraya memandang punggung Almira.


Almira meninggalkan keramaian itu menuju ke dalam rumah. Melewati pintu samping dapur yang lampunya sudah menyala terang. Ia yakin suaminya sudah pulang karena keadaan rumah sudah bermandikan cahaya semua.


"Mas," panggil Almira berjalan menyusuri tangga.


Rasanya kepayahan, menahan bobotnya yang melonjak hingga mencapai dua puluh tiga kilogram membuatnya sudah seperti bola. Sesuatu yang pasti menjadi perdebatan lucu dengan suaminya. Bagi Wisnu, naiknya berat badan Almira adalah bukti cintanya terhadap anak dan suami.


Lucu bukan? Almira menggeleng setiap mengingat hal tersebut.


Almira menarik napas lebih dalam ketika sudah mencapai barisan anak tangga yang terakhir, membelok ke kanan menuju kamar sambil mengelus perutnya penuh kelembutan.


"Sayang, apa ayahmu sudah pulang?" ocehnya berbicara dengan calon baby.


Setelah membuka pintu kamar, Almira melihat jas suaminya tersampir di sofa. Suara gemericik dari dalam kamar mandi sudah tentu menjadi jawaban atas pertanyaannya. Dengan penuh senyuman Almira segera merapikan jas dengan menggantungnya di sebelah lemari untuk di dry clean besok. Tangannya dengan cekatan segera mengambil satu style pakaian dan meletakkan di ujung kasur. Sambil menunggu, ia pun memilih untuk mengecek pesan yang masuk ke ponselnya.


"Kok udah ke kamar? Tamunya udah pulang?" tanya Wisnu ketika keluar dari kamar mandi mendapati istrinya duduk di tepi ranjang.


Seperti dugaan Almira, pria itu hanya memakai handuk piyama.


"Oh, belum. Aku nyiapin keperluan Mas Inu dulu," jawab Almira segera meletakkan ponsel di kasur.


Almira segera menghampiri suaminya sembari meraih pakaian ganti, berjalan ke arah meja rias tempat Wisnu menghentikan langkah.


"Aku nggak nyangka teman-temanku bakal ke sini. Apa merepotkan?" Wisnu meraih kedua pipi Almira sembari mengendurkan punggung agar bisa mengecup kening wanita hamil itu.


"Nggak repot. Mereka bawa bekal masakan sendiri, kok." Almira meraih handuk dari tangan suaminya seraya menarik lengan kokoh itu agar menurutinya untuk duduk di depan meja rias.


"Kalau capek istirahat aja, nggak usah pedulikan barisan para Somplakers itu," ucap Wisnu duduk membiarkan Almira mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


"Nggak capek, malah seru." Almira meletakkan pakaian ganti di ujung meja sementara tangan satunya masih mengusap rambut Wisnu yang basah.

__ADS_1


"Empat minggu lagi, aku nggak sabar ketemu sama calon baby," lontar Wisnu segera meraih pinggang istrinya dengan gerakan lembut. Kini mereka berdua saling berhadapan dengan posisi Almira berdiri sementara Wisnu duduk. Kepalanya mendongak menatap istrinya penuh syukur.


"Kamu nggak mau aku kasih tahu, cowok apa cewek?" tanya Almira membalas senyum.


Wisnu menggeleng pelan. Itu akan menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan. Ia membayangkan saat dokter yang mengatakan jenis kelamin anaknya nanti pas sudah lahir.


Bahkan Wisnu telah membeli semua perlengkapan bayinya dengan warna yang random. Tidak hanya pink dan biru saja.


Bagi Wisnu, anaknya kelak harus memiliki barang sejuta warna. Bisa memandang sesuatu dari sejuta sudut pandang. Bukan lagi dua sisi warna saja, terutama hitam. Bagi Wisnu, yang seumur hidup hanya memandang warna gelap hingga kedatangan Almira yang sederhana ternyata malah memberinya warna baru dalam menjalani kehidupannya.


"Dia kalau cantik pasti miripnya sama kamu, kalau ganteng mirip aku," celoteh Almira mampu membuat sudut bibir Wisnu berkedut.


"Kok, bisa gitu?" tanya pria itu merasa geli dengan pemikiran istrinya.


"Memang seperti itu, kok. Anak perempuan cenderung mirip sama ayahnya," jelas Almira kembali mengeringkan rambut Wisnu.


Wisnu hanya mengangguk, memandang bulatan perut istinya yang membawa sebuah nyawa kehidupan di dalam sana. Rona kebahagiaan itu jelas terpancar dari mata Wisnu.


Almira sampai tersentak kaget saat Wisnu membenamkan wajahnya menempel di perut, menghujaninya dengan ciuman lembut.


"Jangan Ge-eR, ya, Bun. Aku lagi nyium Dedek," ledek Wisnu membuat Almira menjambak gemas rambutnya.


"Apa, sih? Buruan ganti baju. Temen-temen kamu pada nungguin," balas Almira merona tersipu setiap suaminya berhasil menggoda.


"Jangan jadi perayu gitu, ah. Bukan Wisnu banget." Almira mengusap gemas rambut itu sembari mundur menghindar. Mau tak mau Wisnu pun hanya bisa terkekeh dengan sikap Almira yang selalu bersikap malu-malu terhadapnya.


"Memangnya, Wisnu itu seperti apa?" ledeknya lagi.


"Yang Stundere itu, lho. Kaku,dingin sok cuek, tapi aslinya baik banget," tandas Almira sengaja memuji setinggi langit hingga membuat suaminya tertawa.


"Oh, itu aku?" tanya Wisnu seolah terus memancing kekesalan Almira.


"Iyess, Tuan. Buruan pakai baju!" ketusnya.


Wisnu terkekeh sambil meraih pakaian ganti yang sudah disiapkan Almira untuknya, membiarkan Almira melangkah ke kamar mandi untuk membereskan sisa air di bak mandi.


Lelah protes, begitulah Wisnu. Almira selalu menjaga kebersihan, bahkan apa pun yang dikerjakan Wisnu tidak pernah luput dari pengamatannya. Wisnu hanya bisa menggeleng dan membiarkan istrinya melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaan.


"Teman Mas Inu besok ada yang mau main," ucap Almira masih berada di kamar mandi. Suara gemericik air keran dan benturan gayung terdengar dari luar.


"Siapa?" tanya Wisnu selesai berpakaian kini berjalan menuju ke ruangan di kamar mandi tempat menjemur handuk.


"Yashna," jawab Almira belum menoleh dari fokusnya menguras bak.

__ADS_1


"Biar aku saja." Wisnu segera membantu Almira menguras bak, mendorong pelan tubuh istrinya agar menjauh.


"Dia mau menikah dengan cowok yang kamu omongin waktu itu, lho," sahut Wisnu pelan.


"Alan?" tanya Almira berjalan menjauh, wanita itu keluar dari kamar mandi.


"Ho'oh," jawab Wisnu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk memastikan apa yang dilakukan Almira di kamar.


Hening, tidak ada suara. Wisnu lama-lama menjadi cemas. Setelah membilas bak dan mematikan keran, membiarkan penampung air itu kosong akhirnya Wisnu memilih untuk keluar dari sana. Kebisuan Almira membuatnya tidak nyaman.


"Kok diam?" Wisnu memandang Almira yang berdiri di depan jendela dengan pandangan kosong.


"Hem? Memangnya mau ngomong apa lagi?" tanya Almira balik memandang.


"Apa Yashna ngomong sesuatu yang nggak enak?" Wajah Wisnu menjadi muram saat mengatakannya.


"Enggak, cuma bilang mau berkunjung ke sini sama calon suaminya, keponakan Mas Inu," jawab Almira berjalan mendekat. Tangannya segera meraih pinggang Wisnu sembari memeluk erat.


Wisnu membalas pelukan hangat itu dengan pikiran bercabang, mencoba untuk mengenyahkan pikiran tidak sehat yang kadang timbul setiap wajah istrinya tiba-tiba berubah memucat.


"Kita keluar sekarang, temen-temen kamu udah nungguin lama," ucap Almira kemudian sambil mendongak.


"Kalau capek ngomong, aku gendong," goda Wisnu membuat bibir Almira segera mengerucut kesal.


"Empat bulan lagi, liat aja,aku bakal sexy lagi kayak belum pernah gendhut kayak gini," celotehnya bersungut melepaskan pelukannya.


"Gendhut terus juga nggak apa-apa."


"Nggak bisa, dong. Temen-temen kamu aja sexy semua, kok. Masa aku gendhut sendiri. Ogah!" tegasnya sambil berjalan di susul Wisnu di belakangnya.


"Gendhut malah bagus," adu Wisnu lagi masih menggoda.


"Bagus itu mantanku," desis Almira menoleh ke arah Wisnu dengan lirikan mata jengkel.


"Hanya wanita bertubuh gendhut kalau jalan sexy, itu pinggulnya menari-nari," celoteh Wisnu menahan tawa.


"Mas!" teriak Almira penuh kekesalan.


"Apa, sih, cantik? Yuk, buruan kita keluar. Ntar yang ada kita malah disangka ngapain di kamar lama. 'Kan malu, dikiranya kita lagi gelud adu ketangkasan, ehh ternyata adu perdebatan," ucap Wisnu sukses mendapat cubitan nan gemas dari istrinya tanpa ampun.


❤️❤️


See you next Extra Part Somplak Kumpul part 3.

__ADS_1


Salam Manis dari Syala Yaya 🌻


__ADS_2